A story about OASIS!

 

Assalamu’alaykum. Sebelum saya menulis sepotong kisah tentang OASIS saya ingin memperkenalkan diri saya dulu. Mera naam Sundari (artinya nama saya Sundari, ni bahasa India). Saya adalah bendahara MSDA GAMAIS kepengurusan 2005/2006. Dengan bergantinya kepengurusan, saya juga undur diri dari GAMAIS, kembali ke kampung, kalo teman-teman bilang, yah ke HIMPUNAN-ku.

 

Here the story goes,,,

 

OASIS merupakan singkatan dari Olah Ukhuwah Keluarga Mahasiswa Islam. Acara ini semacam OSKM, atau OS-nya untuk masuk GAMAIS, tapi ngga’ serem ko. Acara ini terlaksana pada`dari 21 Agustus-24 September 2006.

 

Tentu saja, dalam setiap acara ada yang namanya panitia inti, nah, di OASIS pun ada, 3 ikhwan dan 2 akhowat, begitulah proposinya, sama seperti perbandingan penguin (pengurus inti)GAMAIS. Dan untuk panitia yang benar-benar memgang acara ada 5 ikhwan dan 6 akhowat. Dan untuk total panitia, minimal diperlukan 27 orang, sedikit ya? Karena panitia OASIS tau diri (hehe,,), banyak acara GAMAIS lainnya, jadi sumber daya manusianya memang terbatas, nah orang-orang yang ada di OASIS ini memang orang-orang yang mau berkomitmen, kalo kata Yusuf (kepala GAMAIS sekarang) kita harus siap berdarah-darah bahkan bernanah-nanah di OASIS ini.

 

Apa pentingnya OASIS? Targetnya itu lho! Merekrut 1001 mahasiswa baru ITB. PedE pisan,nya? Ya harus donk!!. Urgensi lain dari OASIS adalah karena di ITB sendiri, rektorat tidak mengizinlan adanya OSKM, atau apa pun itu namanya, penerimaan mahasiswa baru, begitulah di tahun tersebut, padahal bagi saya sendiri, OSKM memberi banyak manfaat, contohnya, saya terekrut di OSKM (ehm,,).1=P

 

Jadi OASIS mau merekrut banyak mahasiswa baru, mengakder awal mereka dengan nuansa Islam yang di dalamnya juga mencakup beberapa materi OSKM. Rencananya adalah, sebanyak 500-an orang dari peserta OASIS ini akan dikader lebih lanjut di GAMAIS (menjadi anggota GAMAIS) dan sisanya akan ditransfer ke LDF dan LDPS untuk menjadi batu bara di sana (kader yang bergerak di LDPS).

 

Perkenalkan, ketuanya  bernama Dimas Taha M, anak Teknik Perminyakan 2005. Beliau yah, tentu saja yang selalu memompa semangat untuk optimis mendapatkan target ini. Tidak sedikit orang yang meremehkan acara ini, namun kami harus semangat, ya ngga’?

 

Pada awalnya pun, namanya bukan OASIS tapi C.U in G (Cahaya Ukhuwah in Gamais), maksa ngga’ sih?, bagus, mudah diingat ”cuing!”, namun karena panitia ingin membuat grand image GAMAIS, karena sebelum-sebelumnya namanya OASIS, maka kami pun menggunakan nama OASIS.

 

Hal pertama untuk mendapat peserta, tentu saja dibukanya pendaftaran, supaya banyak yang daftar, gimana caranya? Tentunya dengan promosi edan-edan-nan! Uups,,!Memang dulu edan ya?

 

Caranya adalah panitia memanfaatkan masa OHU, mahasiswa baru yang datang ke stand GAMAIS langsung diperkenalkan mengenai OASIS, ada semacam paket yang akan diberikan pada mereka yang berkunjung jika mereka tertarik dengan OASIS dan membayar sejumlah uang untuk mengikuti serangkaian OASIS. Apakah mereka mau dan mampu membayar? Ya!

 

Selain itu, setiap anggota GAMAIS yang aktif harus memegang 4 buah surat pertanyaan kesediaan mengikuti OASIS, tugas per-orangan anggota aktif GAMAIS ini, atau siapa pun yang care dengan GAMAIS adalah melakukan semacam DS (Direct Selling) pada mahasiswa baru yang mereka temui, mempromosikan GAMAIS dan OASIS, meyakinkan mereka mengenai acara ini, menuntun mereka menuju stand GAMAIS dan tentunya membuat mereka membubuhkan tanda tangan tanda setujunya mereka untuk mengikuti serangkaian acara OASIS. Masing-masing kertas disertai dengan nama orang yang mengiring mereka menuju OASIS, jadi tidak mungkin satu orang mahasiswa baru, namanya tertulis dua kali. Dan tentunya saat mereka mendaftar, panitia mencatat no. kontak mereka, siapa yang sudah membayar, siapa yang baru DP, siapa yang baru say Hello saja.

 

Pendaftaran, tidak hanya saat OHU saja, namun terus berlangsung sampai beberapa minggu OASIS berjalan.

 

Coba tebak, acara OASIS ini seperti apa saja betuknya? Karena mirip OSKM, apakah ada push-up-nya? Iya sih, tapi untuk panitia, karena acara ini tidaklah mudah dan bukanlah main-main semata, ini pengkaderan awal, maka MOU panitia pun, beraaat!!!

Ikhwan saja sih yang push-up kalo ngga’ dateng rapat trus ngga’ izin pula, kalo akhowat setor hadist arba’in. Dan untuk beliau yahng baru datang 30 menit kemudian, harap pulang saja. Kejam, bukan?

 

Ya, kembali ke ”coba tebak!”. Terus terang saja ya! Acara OASIS ini terdiri atas tutorial Kalkulus, Fisika, Kimia, untuk acara tutorial ini panitia OASIS bekerjasama dengan ISC GAMAIS. Jadi kami menitipkan masa saja, supaya kader da’wah pun akademisnya jempolan! Ada acara`ke-akhwatan, acara yang khusus untuk akhowat, biasanya saat ikhwan sedang jum’atan, karena ada`materi yang berkaitan dengan ke-akhwatan yang tidak dapat dibahas secara terbuka di depan ikhwan. Ada`launching dan pra-launching OASIS, tempat peresmian dan berkoar-koar tentang OASIS, iya iyalah,,! Ada pameran TAS SPIRIT, Studium General (diisi oleh President KM ITB, perwakilan dari beberapa pejabat di himpunan, ketua beberapa unit di Salman, fungsinya untuk memperkenalkan berbagai wajihah di ITB), SDLT, Out Bond, Seminar Ekonomi Syari’ah, Gamasiana (perkenalan mengenai GAMAIS lebih dalam lagi), Ta’lim yang diisi oleh ustaz-ustaz kampus, juga ada stadium general yang diisi oleh Pak Amin Rais and finally Pelantikan Kader 2006 di kawasan masjid Al-ukhuwah. Oya, OASIS banyak mengambil tempat di kampus, cari tempat yang aman dari pengawasan rektorat juga efisien.

 

Cara mengikat kader di OASIS ini tidak hanya dengan acara-acara instant namun yang lebih ditekankan adalah adanya usroh GAMAIS 2006. Semacam mentoring awal, diusahakan intesif tiap minggunya. Juga ada usroh terpusat, di satu tempat, namun dengan kelompok masing-masing. Jadi kader juga mendapat feed disini, setiap usroh ada teklap-nya, materi tertulisnya dan ada pelaporan tertulisnya.

 

Well, saya memiliki kesan sendiri terhadap OASIS 2006 ini. Saya memegang 3 amanah di kepanitiaan ini, bukan rakus namun, karena pantianya ada`yang menghilang, jadi saya merasa bertanggung jawab untuk menambal, ada efek buruknya sih, saya jadi agak stress dan bermuka masam. Saya jadi bendahara, korwat, sekaligus Danus, Subhanallah-nya di danus pun, mas’ulnya agak ngga’ nyambung dengan saya dan anggota akhowat yang lain pun ternyata memiliki amanah lain. Saya harus cari dana, dana masuk ke saya karena saya bendahara, sedangkan acara OASIS terus berjalan membutuhkan banyak dana, seolah-olah saya kerja sendiri!

 

Nah, dari sinilah saya belajar betapa pentingnya tabayun, jadi masing-masing diri kita tidak bersuudzon kepada orang lain. Dan betapa pentingnya komunikasi yang intens dalam sebuah kepanitiaan, meski sebentar namun efektif, untuk membicarakan tiap langkah yang akan diperbuat setelah satu pekerjaan selesai.

 

Saya cukup concern di danus. Cara panitia mengumpulkan dana adalah dengan meminta sumbangan, sponsor, kas dan usaha mandiri. Dalam hal ini saya bantu-bantu di usaha mandiri, yaitu berjualan kue dan berjualan pin. Untung paling besar tentu saja di dapat dari pin (sekali jual saja, baru DP-pun sudah mengeruk dana Rp. 800.000,00!!, gimana ngga’ ngiler tuh?,,astagfirullah).

 

Waktu saya mengurusi perihal pencarian dana ini, mas’ul saya pulang kampung, setelah beliau balik ke Bandung, kok beliau-nya malah tampak kurang peduli, jadi istilahnya saya pundung, dan saya lebih memilih mengurusi masalah dana sendiri, belum lagi panitia lain meminta dana dari saya, dan selaku korwat saya harus menghubungi banyak orang. I felt so lonely.

 

Kesalahan saya adalah saya terlalu memikirkannya, bukan just do! mungkin saat itulah keihklasan saya diuji. Akhirnya karena masalahnya jadi lebar, panitia pun dipertemukan untuk tidak membicarakan progress jobdesc, namun merapikan benang kusut. Pertemuan itu dihadiri oleh kakek kami, eh, ketua MSDA sebelumnya, Ka Agus Rendy, anak minyak juga angkatan 2002. Dan beliau memaparkan, ”dari sekian masalah yang ada, bukankah sudah jelas solusinya? Semuanya bergantung pada Qiyadah. Intinya Qiyadah harus memberi perhatian pada jundinya, bukan hanya memberikan tugas saja, namun memberinya semangat, memberi sms tausyiah atau sekedar bertanya mengenai kabar dan menawarkan bantuan”. Perhatian, cukuplah perhatian dan koordinasi yang baik. Seperti yang saya katakan, meski hanya satu jam sehari, namun koordinasi itu penting. Perhatian mas’ul itu penting lo! Karena jundi itu bukan pesuruh belaka, jundi juga manusia (eleuh,,).

 

Dan Subhanallah efeknya, sejak diberi tausyiah seperti itu, kekuatan kami pun puilh, mas’ulnya pun jadi sering memberi sms penyemangat dan tentu saja perhatian yang sifatnya positif, kita perlu energi, begitulah, dan koordinasi pun mulai disambung kembali.

 

Kata seorang akhi, ”Jika seorang mas’ul meninggalkan jundinya, selama ia tidak pergi untuk maksiat, maka tsiqohlah padanya, let him go, karena mas’ul antum itu, tidak meninggalkan antum untuk melakukan maksiat, so do ur duty and think positif”. (Thank you for ur statement, akh!).

 

But it is not the end of my story, bermasalah lagi nih, di ke-bendahara-an. Karena selama OASIS berlangsung, banyak dana panitia dan non-panitia yang dipinjam untuk kebutuhan dana instant, maka istilah ada hutang yang harus dibayar. Dan tentu saja penghitungan dana jadi agak runyam juga. Harus LPJ, dan harus membayar`hutang, namun uangnya tidak ada, saat itu pun, urusan penjualan pin tidak saya hentikan, dan saya di bantu oleh sekjend GAMAIS sekarang. Saya benar-benar bingung, saya sudah berusaha me-match-kan anggaran pemasukkan dan pengeluaran, namun tetap ada`kekurangan. Ketika dihadapkan pada kepala GAMAIS, yang ada saya malah nangis, ngga’ tahan dipojokkan,,maaf ya Kang Aji dan Ka Rendy.

 

perihal dana ini pun awalnya saya sembunyikan dari panitia OASIS, saya tidak ingin merepotkan mereka, istilahnya begini, hutang pasti saya lunasi, namun butuh waktu. Namun akhirnya saya ceritakan juga, dan tanggapan mereka, Subhanallah, positif. Mereka bersedia membantu, dan bukan menyalahkan ketidak-becusan saya dalam bekerja, karena masalah OASIS adalah masalah kita bersama. Namun saya berusaha meyakinkan panitia lain bahwa pencarian dana ini tidak sulit, namun butuh waktu, itu saja.

 

Yang dibutuhkan kepala GAMAIS dan GAMAIS itu sendiri adalah LPJ, pertanggungjawaban dari saya, selaku bendahara. Akhirnya saya hanya diminta untuk merapikan pemasukkan dan pengeluaran dalam format yang baik!

 

Disini pun saya belajar ternyata pencatatan keuangan itu tidaklah mudah, bahkan dari situ pun dianjurkan ada training membuat pencatatan dana, Alhamdulillah saya menyanggupi perapian laporan keuangan tersebut, dan Subhanallah, hutang-nya pun dilunasi oleh kas GAMAIS. What an amazing experiance!! Subhanallah,,ya, itulah, mereka ngga’ butuh uangnya, namun kita diuji mengenai keprofesionalan kita dalam amanah yang kita emban.

 

Pesan saya untuk teman-teman yang akan melaksanakan suatu kepanitiaan yang besar,  adalah, Ya!

 

1)Segala sesuatunya, konsep awal, materi harus dipersiapkan beberapa bulan sebelum acara dimulai, OASIS sendiri mulai dirancang 6 bulan sebelum pra-launching, namun tetap saja, karena hanya konsep acara saja yang dipikirkan, tidak dipikirkan bagaimana pelaksanaannya, jadinya pun di lapangan menghadapi beberapa kesulitan. Jadi ketika mempersiapkan konsep acara juga, sebaiknya sudah ada`pembagian tugas yang jelas dan job desc-nya.

 

2)Sebaiknya, bendahara dan danus dipisah karena jika disatukan akan terjadi kebingungan. Danus itu fokusnya mencari dana, dan menyetorkan uangnya ke bendahara, nah bendahara yang merapikan.

 

3)Ketika kita ada`perlu dengan salah satu panitia, maka jangan terus menuntut, namun perhatikan juga apa kendala yang dihadapinya dan lihat apa yang dibutuhkannya. Seseorang tidak butuh dituntut saja, namun juga diberi perhatian, yang membangun tentunya.

 

4)Jangan lupa sering koordinasi dan saling bertabayun. Jika ada uneq-uneq maka sampaikanlah secara terbuka, jangan disimpan saja tanpa di ungkapkan pada orang yang bersangkutan dan malah mengeluhkannya kepada orang lain. Straight to the point, karena, terutama akhowat, jika masalahnya dipendam, maka jika timbul masalah baru, ia dapat meledak! Jadi sebaiknya terbuka saja, disampaikan dengan baik-baik, dan tentunya ada`penengah, karena memang terkadang suka ngga’ nyambung, tergantung dari sensifitas masing-masing orang.

 

5) Luruskan niat, ikhlaslah di jalan Allah ini. Ketika sudah mengambil sebuah amanah, take all it risk!

 

Hmm, mengenai peserta, sungguhkah 1001 orang? Ternyata tidak, namun impian itu, janganlah dikubur, kita harus punya target besar, dan berusaha mewujudkannya. Bukankah justru dari impian itu kita hidup?

 

Karena yang Allah lihat bukan hasil namun proses.

Segitu saja ya ceritanya, silakan diambil hikmahnya.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Ovit wibowo says:

    Salam buat

    1. sundariekowati says:

      Salam buat?
      buat siapa, ni?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s