The Marriage is TODAY

The Marriage is TODAY

“Ndari, theme of the month-nya lagi tentang marriage, ya?”, tanya temanku. Hmm, bagaimana menjawabnya, ya? Bukan karena aku sedang ngebet pengen nikah atau gimana sih, namun, beberapa kejadian yang kualami beberapa hari lampau berkorelasi dengan munakahat. Jadi ya, tulis saja! Hehe.. Karena sedang belajar membuat laporan, tulisan ini pun akan agak-agak mirip reportase. Hanya detail ringan kok.

“The Marriage is Today”, begitu status facebook-ku tanggal 17 Mei lalu. Not my Marriage sure!

Buta jalan, aku & seorang panitia akad yang lain, memakai taksi untuk mencapai rumah rekan kami tersebut. Agak sulit memang, supir taksinya pun sampai bingung dimanakah letak alamat yang kami tuju.

“Saha nu bade nikah the, Neng?”, supir taksinya bertanya. Dan temanku menjawab, “Kakak kelas,Pak. Tapi udah deket banget. Jadi kayak kakak sendiri. Aduh punteun-nya pak, jadi muter-muter gini..”.

“Ah, sawios, Neng!”, jawab pak supir. Setelah menempuh sekitar 1 jam lebih perjalanan, Alhamdulillah kami sampai ke rumah Sang teteh.

Menunggu hingga pukul 13.00, dan prosesi akad pun dimulai. S

ang calon mempelai wanita duduk menunggu di samping kanan Masjid tempat akad, sementara dua orang petugas KUA, ayah sang calon mempelai wanita dan sang calon mempelai pria tengah duduk mengitari sebuah meja cokelat mungil, mematuhi panduan MC yang menginstruksikan detail demi detail rangkaian acara akad tersebut.

‘Lama kali pun!’, batinku yang saat itu memegangi IXY DIGITAL 1000, batrenya hampir habis, dan aku ingin mengabadikan saat Ijab Qabul. Pikirku, ‘orang mau nikah kok dilama-lamain!’.

Namun saat khotib sedang memberikan ceramah nikah, aku sampai ternangis-nangis disamping Ibu calon mempelai wanita. KEREN!! Sayang yang kupegang saat itu bukan buku diary-ku, melainkan kamera, dan kemampuanku merekam sesuatu tanpa menulis kurang baik, sehingga aku tidak merekam kalimat-kalimat yang diucapkan dengan ustadz dengan lengkap, jadi hanya sedikit yang teringat.

Menuju proses Ijab Qabul, petugas KUA meminta kami yang hadir di Masjid untuk sama-sama berdo’a dulu. Saatnya pun tiba, Ijab Qabul terlaksana, sesudahnya adalah penandatanganan surat-surat nikah. Masing-masing mempelai mempunyai satu buku nikah yang berisi pasal-pasal berisi hukum-hukum pernikahan. Lucunya ada piagam juga. Hehe, baru tau loh aku!

Setelah urusan surat-menyurat ini rampung, acara lanjut ke prosesi sungkeman. Dimulai dengan sungkem pada ibu kandung, kemudian pengantin bergantian sungkem pada Ibu mertua. Begitu juga kepada para Bapak-bapaknya. Saat sungkeman ini pengantin dan orang tua keduanya sama-sama menangis. Hiks! Hiks!

Melihat hal tersebut, aku jadi sadar, pasti berat untuk keduanya lepas dari orang tua, inget salah, inget kebaikan-kebaikan orang tua yang ingin kita balas namun tak terbalas. Dan kini, akan pergi dari rumah, tinggal dengan orang baru. Hiiks!

Sang orang tua juga pasti merasa haru, anak yang dilahirkan, ditimang, dibesarkan dengan penuh suka cita, akan memulai bahtera hidup yang baru, terpisah dari asuhan kedua orang tua yang selama ini menyertai. Hanya orang tua yang istimewa yang mampu berlaku secara bijak untuk merasai tanggungjawab menikahkan anaknya. Subhanallah!

Selanjutnya, pengantin dan keluarga pun bersalaman dan berfoto bersama. Prosesi akad ini pun diakhiri dengan ramah tamah, yaitu: makan-makan! Horray! Hehe. Sekian liputannya.!.

[Reported by: Kartini Aisya, 18 Mei 2009, pukul 18:05 WIB]

Advertisements

Kampus NETRAL Harga Mati.

spandukBismillahirrohmaanirrohiim.

Sabtu, 16 Mei 2009

 

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat-sahabat mahasiswa ITB, Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono beserta Pak Boediono, Gubernur Bank Indonesia, mendeklarasikan diri sebagai calon Presiden dan calon Wakil Presiden RI pada Jum’at malam, 15 Mei 2009 di Sabuga, Bandung.

Dalam pidatonya, Pak SBY mengatakan, “5 tahun ke depan, kami akan menghadapi tantangan yang kompleks, disebabkan oleh krisis ekonomi global, yang tidak dapat dengan cepat diselesaikan”. Oleh karena itu, pak SBY mempercayai pak Budiono selaku Gubernur Bank Indonesia untuk membantu Indonesia keluar dari krisis ekonomi tersebut.

Kedatangan SBY ke Bandung menyebabkan kemacetan lalu lintas di beberapa tempat, terutama di sekitar Jl. Ganeca dan Jl. Juanda,  karena beberapa jalur kendaraan umum diblokir, sehingga sebagian besar angkot yang biasa melalui jalur umum tersebut, tidak beroperasi.

Akibatnya, terdapat mahasiswa yang kesulitan dalam hal transportasi.

Jalan di depan Gerbang utama kampus ITB dipenuhi oleh antrian mobil akibat pemblokiran beberapa jalur ini.

Menyambut kedatangan SBY ke Sabuga, sejumlah mahasiswa ITB melakukan aksi, dengan menggunakan dua buah spanduk panjang, bertuliskan “KAMPUS NETRAL HARGA MATI”, dan “Tolak capres cawapres yang tidak pro rakyat”, dan satu kain yang dipenuhi bubuhan tanda aspirasi beberapa mahasiswa ITB.

Pernyataan sikap yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa ITB ini bertujuan untuk mengklarifikasi bahwa kedatangan SBY ke Sabuga bukan berarti ITB memihak SBY dalam pilipres kali ini, karena bagi mahasiswa ITB, kampus adalah area bebas politik.

Pernyataan sikap, “KAMPUS NETRAL HARGA MATI”, yang dimulai dengan orasi dari perwakilan mahasiswa ini, berlangsung dari pukul 16.00 hingga pukul 19.00.

Setelah orasi di Gerbang utama kampus ITB dilakukan, mahasiswa-mahasiswa ini pun berjalan hingga gerbang belakang sambil menyanyikan lagu-lagu kampus.

Aksi pernyataan sikap ini berakhir statis, di gerbang belakang ITB di depan Jl. Taman Sari.

Munakahat a.k.a Marriage

Senin, 11 Mei 2009

Menunggui angkot di jalanan yang macet, dibawah payung orange-ku, kembali terngiang ungkapan Sang Murrobi.

“Cinta itu fitrah, ketertarikan itu manusiawi, namun, ketika kita belum mampu bertanggungjawab atas perasaan kita, sebaiknya kita tidak mengeluarkan sikap-sikap yang tidak mampu kita pertanggungjawabkan”.

“Kalau kita belum bisa bertanggungjawab, jangan sekali-kali bermain dengan perasaan. Jangan menikmati hal-hal yang tidak halal, dan satu-satunya cara dalam Islam adalah menikah”.

“Karena solusinya menikah, mari kita bicarakn soal kesiapan menikah”.

Lagi, kuresapi tuturnya, “ peran seorang wanita yang utama adalah, menjadi penentram hati suami dan mendidik anak”.

—————————————————————————————————————————————————-

Hujan kembali mengguyur kota Bandung, mewarnai hari-hari lincahku yang girang ketika rintiknya menyentuh wajah dan tangan mungilku. Yang menyanyikan ritme ketenangan dan hawa menyejukkan,  membiarkan bumi  tersirami hingga tumbuh darinya hijau, memberiku atmosfer kesegaran. Yaa Allah! Alhamdulillah.

Siang itu, Sabtu, 9 Mei 2009, aku membawa Si Orange yang sudah agak mbladus, dan kumasukkan ke dalam tas biru bergambar beruang, tas  Si cilik Arum yang sedang kurampok entah sampai kapan! Hehe.

Walk under the rain, with my Orange umbrella. To the house where I invited to.

Rumah yang kusinggahi itu, indah. Hijau, halamannya agak luas, begitu tampak bagian depan. Kiri kanan banyak tanaman yang ditata cantik. Hm, ’could be one of my alternative’ , batinku.

And here the discussion began.

Marriage

Sahabat, aku dan beberapa temanku sedang berada dalam Quiz Rapid Fire Round. Yaitu kuis jawab cepat, apa yang terbesit dalam benak sahabat-sahabat ketika mendengar kata, “NIKAH?”.

She pointed me out! Dan dengan kecepatan dengan percepatan yang mempercepat, [Halah],

Satu kata yang terlintas di benakku adalah, “ANAK!”, jawabku semangat.

Stop sampai aku saja, karena jika kata tersebut dilontarkan pada temanku yang lain, mereka akan sudah mereka-reka, What would be the answer.

“Benar, Ai”, ujar Sang teteh lembut, sambil membuka-buka halaman buku, entah apa judulnya, ada dua buku yang tebalnya sama, [dan aku agak kurang minat mbacanya juga, hehehe], sembari mengurusi tiga anaknya, yang bungsu menyusu, yang agak besar bertengger di motor dan terus-terus ‘mengerjai’ ibunya, dan paling besar, Alhamdulillah tidur.

“O My GOD!”, I said. Aku belum bisa sesabar beliau dalam mengurusi anak kecil, padahal aku merasa aku sudah cukup baik menjaga Arum-ku, namun, For Your Information, anak-anak dari teteh ini, WoW kaka WoW! KETERLALUAN kubilang! Manjanya, sikap menantangnya, meminta ini itu-nya, rengeknya. Sesekali aku tarik nafas dan memandang Sang anak tengah, dan mengambilkan apa yang ia mau. Tapi Sang Ibu, SABAR BANGET PUN!!

Ucap beliau, padaku, “Jangan ngaku sabar kalau belum bisa ngurus anak”, lekat dengan senyumnya.

Dan mulutku terngangga.

He Loves me?He Loves me not?


Sedikit  ingin berbagi, jadi kalau aku agak sok tau, komen-komenlah ya! Peace!

Sahabat, muslimah pada zaman ini, dipersiapkan untuk memiliki skill ilmu terapan namun tidak dipersiapkan untuk menjadi ibu dan istri. Sedangkan, u know what? ternyata, tanggungjawab dan letak peran kehidupan perempuan yang utama ADALAH ketika menjadi istri. Nah tugas utama sebagai seorang istri ini, terbagi ke dalam dua hal, yakni: (1) Sebagai Ibu, yang berkaitan langsung dengan pemenuhan fungsi reproduksi serta fungsi edukasi; (2) sebagai pengatur rumah tangga, yang berkaitan dengan fungsi-fungsi yang lainnya.

Untuk membuat kita yakin akan peran muslimah, yuk kita lihat hadist ini..

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، اْلإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Masing-masing kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya(HR al-Bukhari dan Muslim)

Sahabat-sahabat, pernah suka ama seseorang, ga? Merasa deg-deg-an, puanas dingin [iya gituh?], laksana ada butterfly in our stomach, nervous ketika harus bertemu seorang mahluk?

Ga pernah?OW! yawda, bukan suka deh, TERTARIK. Pernah, ga?kagum, senang memperhatikan, there’s something about that person lah! [warning: bukan sesame jenis ya!].

Ga pernah?wow! tenanglah, bukan berarti dikau ada ‘gangguan’,  [hehe]. Allah sangat menjagamu, bro, sis, nanti kau akan merasakan jua di saat yang sangat tepat. Cheers!

Nah, untuk kita-kita yang pernah merasakan gejolak hasrat muda macam ni [cieh! Prikitiw!],, kalian tahu tidak?

BahwaaaaaAAAAA: PERASAAN itu NORMAL!

Now, SMILE UP! Nothing to be worry. Everything is Okay now. [Lebay]

Moreover, guys!, mempunyai perasaan seperti ini, TIDAK SALAH! Jadi? Boleh dooOng!!

Ya boleh aja suka sama seseorang, namun ketika kita belum mampu mempertanggungjawabkan perasaan kita pada orang yang kita suka, sebaiknya kita tidak membuka ‘file’ lawan jenis kita tersebut lebih jauh, kalo our feeling semakin berkembang, WAH! Kita juga yang repot!

Tapi sih, dikembalikan ke masing-masing orang, kan cara orang memanaje rasa suka berbeda-beda.

Nah, guys! Kita mau apa, sih?ngerumpiin kecengan-kecengan, kita?oh, hayu! Tapi jangan disini, hehe..

Offline aja ya, ndak via on air.

Kira-kira hikmah apa yang bisa kita ambil nih?berangkat dari kondisi menyukai seseorang yang tidak terelakkan ini, Islam memfasilitasi kita-kita dalam satu wadah yang bernama: NIKAH.

[Set dah! Ganasssssssssssssssssss!]

Pernahkah sahabat bertanya pada ayahbunda sahabat, “Pih! Mih! Gimana sih kalian bisa berjumpa?”.

Atau kalo tak pernah, bayangkan saja, suatu saat, putra dan putri sahabat bertanya, “Bagaimana caranya Abi dan Ummi bertemu?”. Hm, kira-kira jawaban apa yang akan kita berikan, ya?

Saya sendiri, sungguh ingin memberikan jawaban yang terbaik, jawaban yang mampu memberikan teladan, karena sungguh dalam lubuk hati yang terdalam, saya ingin anak-anak yang saya lahirkan adalah anak-anak terbaik, dan konsekuensi dari cita-cita ini adalah saya perlu menjadi Ibu yang Terbaik juga.

Dan sahabat, ada banyak kendaraan untuk meraih drajad orang tua yang baik.

Tidakkah sahabat-sahabat pernah menjadi seorang anak, ber-ibu dan ber-ayah, apa yang sahabat rasakan ketika menjadi anak? Sukakah dengan cara ayahbunda kita mendidik?yakinilah, kelak kita akan menggantikan posisi mamih papih kita, mengendong-gendong anak, menuntunnya di taman bermain, membelikannya balon ketika dia merengek, me-lap muntahannya, terbangun malam karena tangisnya. Bagaimanakah sikap kita?selaku parent wanna be?

Sanggupkah kita bersabar dan menjadi teladan yang baik untuk anak-anak kita?sehingga putra-putri kita tanpa ragu akan berkata, “I proud to have a mother like you. Saya bangga pada ayah saya! Ummi, Abi, I love you”. [ya Robb! Air mataku..!!]

Kesiapan Menikah

“Nikah?haduh, kapan, ya? Mbesok masih bisa, ga?yo mbesok mbesok meneh lah ya! Hahaha..”, kadang jawaban ini saya berikan pada teman-teman yang iseng [atau serius,ya?] bertanya, “Ai, kapan nikah?”.

Wuidih deh! Masih kacrut macam awak ni saje mau berkahwin. Cam betul! Apa kata dunia??? [Jangan ketawain loh ya!]

Guys, pengen nikah,kan?yuk kita siap-siap! Lanjutkan!

Persiapan nikah ada beberapa nih:

  1. Fisik [uda pada baligh, blom?]
  2. Ruhiyah [soal kedekatan kita pada Yang Maha Menciptakan]
  3. Ilmu [segala teori yang membantu kita untuk menghadapi hidup pasca ijab-Qabul. Seperti pernak pernik kehidupan rumah tangga, memahami psikologi laki-laki dan perempuan untuk tahu cara bersikap yang baik pada pasangan, cara mendidik anak yang baik dan benar, tentang sex, melayani mertua, tentang kesehatan reproduksi, fase-fase perkembangan anak berdasarkan range usia, dan masih banyak lagi].
  4. Mental [siap, identitas diri kita diketahui oleh seseorang yang awalnya asing bagi kita dan melihat wajah kita saat bangun tidur, tahu berapa lama kita di WC, jatuh miskin bersama, merintis bisnis bareng, ampun MaAk! hehe]
  5. Materi [lebih ditekankan kepada kaum laki-laki yang akan menghidupi istri, tapi kalau sang muslimah hendak mencari uang juga tak apa].

File Diri>>File Keluarga>>File Sang Calon Pendamping

Mari kita sebut 5 poin persiapan di atas sebagai FILE DIRI.

Setelah kita memastikan file diri kita sudah cukup matang, saatnya kita mempersiapkan keluarga kita. File Keluarga mode: ON.

Gurlz, boyz! apakah orang tua kita masih agak-agak phobia dengan kata ‘nikah’? asing dan sama sekali tidak pernah terceletuk dari mulut orang tua kita tentang nikah. Bagi Mamah dan Papah, kita adalah anak mereka dari hingga kapan pun dan akan bersama dengan mereka selamanya!  [Wow! Lebay!]

File diri beres, tertarik sama seseorang udah, pas mengenalkan calon ke keluarga, ternyata: LO, ‘LEK? KAMU SUDAH BESAR TOH? Haduh malu kali pun!

Jangan-jangan kenapa orang tua kita tidak pernah menyebutkan satu kata ini adalah karena kita pun belum pernah mencoba menyinggung hal ini secara halus.

Maka dari itu guys! Sebelum menembak-nembak jitu dengan siapa kita kan menikah, kita siapkan keluarga kita dulu yuk!

Bagi dirimu dan keluargamu yang agak phobia dengan NIKAH, saatnya kamu memulai pembicaraan ini. Dapat dimulai dengan, “Ayah dulu ketemu sama Ibu gimana, sih?”. Atau “Yah, Bunda, yang kemarin nikah tuh anaknya teman Ayah Bunda, ya? Umurnya berapa?”. Bisa juga dicoba, “Pih, Mih, kalo ntar aku nikah, Papih sama Mamih pengennya suamiku kayak apa, sih?”. [Deu, ini pasti yang nanya akhwat deh, hehehe, kalo ikhwan,,pertanyaannya,,atur-aturlah ya! Kurang tau juga soalnya. OK!].

Setelah singgung-menyinggung ini mulai kita lakukan, jika respon dari keluarga kita cukup positif, mulailah singgung mengenai konsep pernikahan yang kita inginkan, proses menuju pernikahan tersebut, misal, “Mom, Dad, anaknya tetangga kita kan pacaran tuh, udah 8 tahun pacaran, eh malah gak nikah. Hmm, gimana ya, Mom, Dad, apa aku juga pacaran aja supaya cepet dapet suami?”, bisa aja, kan, bokap nyokap kita menjawab, “Engga ah! Pokoknya kalo ada laki-laki baik melamar kamu, langsung nikah aja, nggak pake pacaran dulu!”. Atau mungkin juga ada yang responnya, “Kami sudah menjodohkanmu dari kecil, nak, maka dari itu, kamu akan menikah dengan rekan bisnis Papap, dan suamimu itu yang kelak akan menjadi penerus dari bisnis keluarga ini”. Atau mungkin, “nikah? Haduh! Kamu S2 dan S3 dulu lah sana! Trus kerja! Udah bisa balik modal ke Ema sama Babeh lo ini, baru lo nikah sana!”. Ehehehehe…

Lihat sikon dulu, lobby-lobby pantang menyerah, do’a yang banyak, yakinkan orang kita, untuk siap melepas kita yang selama ini menjadi tanggung jawab mereka untuk mencapai sesi baru dikehidupan kita: membina rumah tangga sendiri.

Cara meyakinkan orang tua kita juga dengan ahsan ya, dengan bukti bukan janji!

Jika File Keluarga sudah rebes. Saatnyalah Jeng Jeng Jeng Jeng..

Saatnya kita menemukan, mencari, Sang pendamping. Hah! Siapakah orang yang beruntung menjadi pasangan hidup kita?atau bahkan merugi untuk menikah dengan kita?karena kita gembel belaka? Haha!

File Sang Calon Pendamping

Perlu kita sadari bahwa, jalan orang menempuh pernikahan ada banyak, ada yang M.B. A, Married by accident, jadi pas nikah perut sang pengantin wanita agak ndut, ada yang pacaran dulu, ada yang dijodohkan, ada yang kayak di AYAT-AYAT CINTA, nah! ada juga yang melalui murrobi.

Hehe, yang jelas cara kita mencari dan atau menemukan pasangan hidup kita variatif banget! Kembali lagi pada saya, saya akan memilih cara yang saya pandang terbaik. Seperti yang sudah saya paparkan di awal,saya ingin mempunyai kisah yang awesome mengenai bagaimana saya dan suami saya bertemu, yang bisa saya ceritakan pada anak-anak saya, sehingga kisah tersebut dapat menginspirasi mereka untuk juga memilih jalan yang terbaik dalam mengarungi hidup mereka ke depannya.

Saya ingin memilih cara yang paling ahsan untuk diceritakan pada anak saya kelak! Seperti apa ya kisahnya? Hm, saya akan sambung chapter ini setelah saya menikah, Insya Allah.

Ada satu catatan kecil dari Sang teteh, beliau menyampaikan: “Tiga file ini, sebaiknya tidak dibuka [baca:dieksekusi] dalam waktu bersamaan, karena ketika kita membuka sekaligus, maka kita juga yang akan repot.

————————————————————————————————————————————————–

Adzan magrib berkumandang, ah Ai, dimanakah kau letakkan Tuhan?apakah disudut-sudut waktu solat?

Lalu, kesadaran itu, telah merasuki otakku, dan aku pun berucap :

Sesuatu yang baik, tidak dapat dicapai dengan cara yang salah.

ADAPTASI II

Senin, 11 Mei 2009

Its rainy and no internet connection. HuU,,

And I bring my laptop along with me so, I cant run under the rain like I always. Hiiks!

“Esensi dari adaptasi adalah mengerti

& memahami orang lain”.

“Gimana?”, tanyanya padaku.

“Gimana?”, tanyanya lagi.

“Gimana, aku gak paham..”, ada paksa dalam tanya.

“Gimana caranya supaya bisa peka? Gimana caranya, aku gak tau..”, ia menyelesaikan kalimatnya.

Diiringi gemericik rintik hujan yang menghadangku untuk pulang.
Mendengar tanyanya, menyimak tuturnya dan aku agak tercengang.

“Gimana, teh, caranya supaya jadi peka. Ajari akuU….”, pintanya agak rengek.

Tercengang untuk beberapa saat. Apakah pertanyaannya sama dengan do’aku pada Tuhan?yang sering kupanjatkan, “Ya Robb! Lembutkanlah hatiku dan izinkanlah aku mencintai-Mu!”, karena begitu sulit jiwa ini memahabbah kepada-Nya. Jika ya, kuncinya do’a. Jika bukan?

Hati-hati kupilah kata, khawatir salah persepsi, “Sebentar ya sayang, maksudnya bagaimana?kurang peka dalam hal apa kalo Ai boleh tau?”, selidikku.

“Dalam hal bersosial, dalam hal membaca raut wajah seseorang..”, jawabnya tak sabar.

‘Hoo’, batinku, Alhamdulillah, karena hampir saja kudoktrin dia materi ‘Sense of Crisis’. Hehehe…

“Ayolah kita cari tau, Ai. Kita telurusi, basic background permata hatimu ini”, ajakku pada ego ini.

Mengatur nafas, lembut. Merasai rongga, dingin. Suaraku harus menyaingi desir angin untuk menghangatkannya.

Dan mulailah Sang permata hati bertutur..

Di masa-masa sebelum saat ini, lingkungan yang dia hadapi adalah lingkungan yang sangat terbuka. Tak satu pun diantara temannya yang menyembunyikan sesuatu, tanpa harus menunggu, dengan lugas, teman-temannya ini akan bercerita.

Sehingga, ia tak terbiasa membaca raut wajah.

Dan di keluarga pun, Alhamdulillah hidupnya cukup. Dengan komunikasi emphaty-ku, well, aku menemukan bahwa berbeda denganku [dasar gue egosentris], lawan bicaraku ini, mengalami hidup yang monoton. Sehingga, kawanku yang satu ini, agak sulit memahami orang lain, apalagi membaca raut wajah ketika seseorang sedang bête, kesel, marah. Terbiasa mendengar langsung dari yang merasakan gejolak emosi.

Subhanallah ya! Ternyata, “Esensi dari adaptasi adalah mengerti & memahami orang lain”.

Ketika Sang Inferior Complex, betapa ingin dimengerti oleh lingkungan, selalu ingin dibaca ekspresinya dan berharap orang lain langsung memberikan rangkulan hangat padanya. Di sisi lain, ada Sang Sulit Peka yang sedang berusaha untuk memahami orang lain.

Oh, memang ternyata, manusia yang satu dan lain saling melengkapi.

Wahai jiwa yang inferior complex, sambutlah tangan saudaramu yang kering akan rasa peka ini, mari belajar bersama untuk saling mengerti dan memahami.

Ternyata merasa luka dan sakit, membantuku untuk dapat merasakan hati seseorang, ternyata hidupku tak sekelabu yang kukotakkan selama ini, ternyata selalu ada hikmah yang dapat kupetik dari manis asin kehidupan. Ternyata, Allah memang memperisaiku untuk menjadi seseorang yang lebih tangguh.

Karena bukan untukku, namun hidupku, untuk ummatku.

Yaa Muqaalibal Quluub Tsabit Qalbi ‘alaa dinika! Amin.

ADAPTASI

Sabtu, 9 Mei 2009

Prolog:

Rabu, 6 Mei 2009. Bertemu dengan seseorang, mengisahkanku tentangnya, membuat duniaku terbuka, mengingatkanku akan impianku yang yang terkadang kurasakan pesimis untuk dapat mencapainya.

“What’s not Kill You

Make you STRONGER!”.

Pernah mendengar sebuah judul: kekerasan dalam rumah tangga?

Apa sih yang terbayang oleh teman-teman berkenaan dengan kekerasan dalam rumah tangga?

Pernahkah orang tua Anda menyeret Anda dari tempat tidur karena satu alasan tak logis?Pernahkah hanya karena Anda berebut mainan dengan adik, lantas orang tua Anda menendang kepala Anda?pernahkah karena nilai ulangan yang buruk, orang tua Anda menjabak rambut Anda?ketika Anda mengepel, kemudian orang tua kita melihat satu ubin yang masih berdebu, lantas kita diberi title ‘GOBLOG’?Dikatai bahwa Anda adalah ‘anak sial’, ‘berengsek’, hingga akhirnya dikatai, “Bapak/Ibu malu mempunyai anak macam KAMU!”.

Saat itu, sang anak masih amat belia. Ketika seharusnya hal-hal positif masuk ke otaknya, ketika seharusnya jaringan kreativitasnya berkembang, ketika anak0anak lain bermain dengan riangnya, anak ini, sudah mendapat banyak tekanan dari orang tuanya. Tentu saja, hal seperti ini akan memberikan efek bagi sang anak. Yang terkadang, orang tua tidak menyadari dampak ini.

Dari beberapa orang yang pernah saya temui, saya mendapati bahwa beberapa orang pernah mengalami apa yang disebut kekerasan fisik dan psikis di keluarga mereka. Saya pun juga mempunyai masalah psikologi, namun tidak seberapa berbahaya.

Sebutlah satu kata yang menggambarkan kondisi kami: inferior complex, dari yang tingkatnya rendah hingga parah. Namun sebenarnya masalah psikologi ini dapat diatasi, jika yang mengalami mau belajar keluar dari zona “Inferior Complex”.

Kita ketahui di dunia ini, ada banyak tipe-tipe orang tua yang memungkinkan variatifnya  ungkapan cinta dari orang tua pada anak. Ada yang saking sayangnya, orang tua akan menjadi sangat protektif dan serba mengatur, sehingga sang anak kurang diberikan kebebasan, dan kata yang paling sering didengar oleh sang anak adalah “JANGAN!”.

Ketika sang anak sedang belajar beradaptasi dengan lingkungannya dan menghadapi hal baru di luar rumah, terkadang seorang anak menjadi labil dan timbul kemanjaan dan kebutuhan untuk dilindungi oleh orang tuanya, namun pada beberapa kasus, ada orang tua yang ketika menghadapi  anak yang labil dan membuat kesalahan-kesalahan kecil, keluarlah reaksi: marah, sehingga tanpa menyadari bahwa mereka menyakiti dan sedikit ‘mematikan’ potensi sang anak, beberapa orang tua mengeluarkan kata-kata yang kasar, sehingga  kesan yang tertangkap oleh sang anak adalah: KEJAM.

Ingin sekali saya berkata pada para orang tua yang sering membentak, memukuli, mengatai anaknya sendiri, bahwa: Jika Bapak dan Ibu ingin mengajarkan hal yang baik. MULAILAH dengan menunjukkan KEBAIKAN itu dari diri Bapak dan Ibu, dengan mencontohkan hal-hal yang mulia.

Pernah dengar semboyan: Guru kencing BERDIRI, murid kencing BERLARI.

Sesungguhnya, saling menuntut orang lain, meski orang lain itu darah daging sendiri, adalah tidak mendewasakan sang aktor [baca:anak]. Dengan pushing up yang berlebihan, mengikutkan les ini dan itu, memaksakan kehendak, mengharuskan sang anak rangking satu di sekolah,jika tidak maka anak dimarahi habis-habis-an seperangkat dengan mengungkit kesalahan-kesalahan sang anak sedari kecil yang tiada berjubel bahkan hanya ketika SD sang anak menghilangkan penghapus yang harganya tidak seberapa, yang hanya sebentuk persegi empat wangi itu saja.

Satu kata yang mampu menggambarkan kondisi sang anak: SAKIT! Hatinya sakit.

Rasa sakit ini sangat! Dan kebanyakan anak tidak mempunyai keberanian atau kesadaran bahwa yang dilakukan orang tua-nya itu salah, pun jika sang anak tahu, akan sangat berat untuk mengingatkan orang tuanya, karena pemegang keuasaan di rumah adalah orang tua.

Yang terjadi pada sebagian anak adalah mengalami: LUKA HATI , ada pula yang sampai timbul rasa dendam. Meski dendam ini tidak melulu identik dengan kekerasan.

Ada beberapa anak yang mengalami perlakuan yang keras dari orang tua yang tidak menyadari bahwa perlakuan orang tuanya ini salah. Berbagai perlakuan yang terekam di kepalanya, membuat ia akan mengulang perlakuan yang sama saat ia berinteraksi di luar rumah. Kepada teman dan mungkin kepada keluarganya nanti saat dia sudah berumahtangga.

Atau terjadi juga anomali, jika perilaku kasar orang tua sudah sangat berlebihan, jika di rumah tangga tersebut Sang Ayahlah ‘monster’nya, apalagi victim-nya adalah pasangan hidup plus anak-anaknya, maka sang anak laki-laki dapat menjadi agak kewanita-wanitaan. Dan sang anak perempuan dapat menjadi kelaki-lakian, karena timbul simpati pada Sang Ibu dan sifat pelindung akan timbul, semacam muncul azam, “Aku gak mau jadi laki-laki seperti ayah”, diungkapkan oleh anak laki-laki dan “Aku bisa menjadi laki-laki yang lebih baik dari ayah”, dilontarkan oleh anak perempuan.

Dampak lainnya adalah INFERIOR COMPLEX. Orang yang Inferior  Complex cenderung menyakiti dirinya sendiri, baik secara psikis maupun fisik jika ada hal buruk yang terjadi di luar dirinya, yang berhubungan dengan dirinya, bahkan hanya karena hal kecil. Dari mulai mengiris pergelangan tangan dengan silet, membenturkan kepala ke dinding, menangis histeris, menyalahkan diri sendiri, berpandangan selalu negatif dan tidak mudah percaya dengan orang lain. Yang terburuk adalah bunuh diri.

Menganggap tidak ada orang yang dapat mengerti dia, dan timbul curiga ketika ada yang memperhatikannya. Orang seperti ini sesungguhnya ingin tahu bahwa ada yang mencintainya secara tulus, namun sekaligus tidak ingin percaya karena hal tersebut mendekati mustahil, akibat, selama ini, anak tersebut telah direndahkan eksistensi keberhargaan hidupnya oleh orang yang melahirkannya, oleh orang yang telah membesarkannya, pikirnya “Orang yang melahirkan aku/orang yang menghidupi aku selama in saja menganggap aku anak sial, apalagi orang lain”. Yang terkadang membuat ia merasa, bahwa ia tidak layak untuk punya teman, tidak layak disayang, tidak layak dicintai, tidak layak untuk hidup dan orang seperti dia sebaiknya lenyap saja dari dunia ini.

Anak ini, sangat ingin disayang oleh lingkungan, tapi Ia tidak tahu cara memberitahu yang ahsan, cara yang tidak juga mengganggu wilayah privacy orang lain, sehingga output sikapnya terkadang menyebalkan. Ada yang tampak over acting, selalu bermuka masam, meledak-ledak orangnya, terlihat berbeda gaya bahasa dan style berpakainnya, ‘nyentrik’, indifferent, weird, freak, begitulah julukannya, namun orang yang berpikir terbuka, akan menyebutnya, ‘unik’.

Sangat ingin diterima oleh orang lain, namun sangat takut untuk dapat bercerita secara terbuka, apa yang melatarbelakangi sikapnya, dan toh, terkadang ia melihat, orang lain sudah berkoloni dan jarang yang mau masuk, mengetuk dunianya.

Sangat ingin mengungkapkan apa yang ia rasa dan ia butuhkan, namun sangat takut orang lain menjauhinya jika tahu kondisi aslinya, dikarenakan kasus-kasus luar biasa yang ia alami, dikarenakan kondisi keluarga yang tidak ideal yang membuat ia malu.

Antara ingin mencari solusi dan ditolong, namun tidak juga mau membuka aib keluarga.

Merasa bingung dan sendirian. Beginilah kondisi orang-orang inferior complex.

Ada yang dapat membantu orang-orang inferior complex ini, yaitu lingkungan. Apalagi ketika orang-orang inferior complex ini telah cukup dewasa dan sudah mulai longgar dari pengawasan orang tua yang pada awalnya sangat strict.

Namun lingkungan ini juga tidak dapat dituntut untuk mengerti, karena dalam lingkungan terdapat banyak orang dengan background beragam, ada kebutuhan saling mengerti disini. Ada kebutuhan adaptasi timbal balik, antar si Inferior Complex & Si-non inferior complex.

Sang inferior complex yang cukup matang dan pernah mendapatkan lingkungan yang hangat dan menerima kondisnya yang ‘agak berbeda’, dengan terbuka, meski hanya sebentar, akan menyadari bahwa, ‘Ternyata ada orang-orang  baik di dunia ini’. Yang membuat dia mempunyai alternative lain, selain menjiplak, mengcopy-paste sikap orang tuanya. Muncul satu keyakinan dan impian, suatu saat, dia ingin menjadi ORANG BAIK di kehidupan selajutnya.

Namun proses ini juga tidak mudah, karena masa lalu yang buruk telah merongrongi dia selama ini. Semuanya bertahap, alangkah baiknya jika sang inferior complex dan lingkungan bersabar.

Sang inferior complex sangat membutuhkan asupan kata-kata yang baik, sikap yang lembut, dan kesabaran. Dari sifat-sifat baik yang dia lihat inilah, dia akan belajar untuk menemukan sisi baik dalam dirinya.

Terkadang ada masa dimana ke-inferior-complex-an ini mendominasi pada satu waktu, faktor utamanya adalah karena sang penderita belum dapat merelakan kejadian-kejadian yang pernah menimpa dia dan membandingkan masa lalunya dengan kondisi teman-temannya, yang dalam pandangannya, seolah, hidup dia-lah yang terberat.

Semakin tekanan itu kuat, maka gaya yang keluar akan sebanding. PV=NRT.

Maka sikap SABAR dapat menjadi aternatif utama bagi kita dalam menghadapi Si-inferior Complex ini.

To be continued to: Esensi Adaptasi II

Dingin

Daun kenangan berguguran,
Aku ingin berteriak jangan!
namun ia segera terhempas angin.

Tangis yang sama, kah?
Bukankah ini hanya sungai kecil?
Yang tersapu dengan satu kedipan mata saja.

Arah angin sama.
Dan aku harus beranjak, dari tempat dingin ini.

Marriage is….

Marriage is ‘pengorbanan’.

Yesterday I met my Beautiful Lady, she is one of a girl in my life that so kind to me. I feel peace if im next to her, moreover , I feel that she is loving me, the way she always kiss my forehead, touching my hand, if we meet. Tetehku dalam masa 7 minggu-nya yang bertabur bintang di langit-langit hati,,J

This girl is, is the most beautiful akhwat I have ever met. That’s why I called her, my beautiful Lady. And she just married, a couple of months ago. I’ve planned to talk to her after along time we didn’t chit chat.

And here’s ‘oleh-oleh’ dari pembicaraan kita. Enjoy!

My beautiful Lady said: ketika menikah, banyak yang ingin dikatakan pada suami, dan terkadang emosi juga, karena suami kita banyak sekali ketidaksamaannya dengan kita atau dengan kata lain, kita punya ekspektasi pada Sang suami, dan suami pun punya ekspektasi pada kita. Dan kalau kita ga pandai memanage emosi kita, bisa-bisa dalam rumah tangga tuh ngamuk-ngamuk  mulu. Makannya sekarang perceraian lagi ngetop. Hehe,,

Moreover, she said, ketika sudah hamil sih, beliau lebih tenang, karena ketika sudah menikah, ternyata yang terpenting bukanlah menikah dengan orang yang mengerti kita dan mampu menerima kita apa adanya, sesuai dengan background kita. Dalam kasus tetehku ini, beliau live with single parent yang ekonominya empot-empot-an, jadi ya punya ekspektasi sendiri sama calon pendamping hidup.

Setelah hamil, yang terpenting bagi My Beautiful Lady ini adalah:

Yang terbaik buat anak, juga ayah yang terbaik buat anak.

Jadi segala ego yang pernah ada itu tersingkirkan. Karena fokus utamanya adalah masa depan anak. Subhanallah.

Baru saja berlayar di samudra kehidupan yang ganas, terhempas segala badai, begitu berlabuh, harus segera menghibahkan hidup untuk sang buah hati. Sedikit waktu untuk bermanja diri.

Nah, yang aku renungi dari hal ini adalah, alasan mengapa sangat utama bagi kita untuk memahami orang lain, adalah karena, akan datang masa bagi kita untuk hidup dengan seseorang yang tidak kita kenali dengan sangat sebelumnya, yang akan mengetahui cara tidur kita, lamanya kita di kamar mandi, kondisi kita saat bangun tidur, kebiasaan buruk kita, sakit yang kita derita, dan hal-hal memalukan lainnya. Kita harus siap hidup dengan orang, tiap hari kita temui hingga tak bosan, yang mana orang tersebut juga berekspektasi pada kita, maka jalan terbaik adalah, menurutku, ya kita yang harus mengalah untuk mengerti orang tersebut.

Its ourself, the one that we could control. Let’s move and be more mature. Ini tentang mengambil poin kehidupan, siapakah yang hendak lebih dahulu dewasa? Kitakah atau siapa lagi jika pioneer-nya bukan kita.

Maka memahami orang lain menjadi poin yang sangat penting. Ketika kita hidup bersama The Stranger yang bertitle Husband/Wife itu, pada awalnya kita pun tak tahu aslinya bagaimana, toh? Safe-nya sih, kita siap-siap dengan segala kemungkinan.

Pray for the best, prepare for the worst.

So since now, let us learn to be stronger and stronger.

Ambil yang positive-nya dari hidup. Santai aja. Life is only a game!

Play it well!

🙂

Alhamdulillah