ADAPTASI II

Senin, 11 Mei 2009

Its rainy and no internet connection. HuU,,

And I bring my laptop along with me so, I cant run under the rain like I always. Hiiks!

“Esensi dari adaptasi adalah mengerti

& memahami orang lain”.

“Gimana?”, tanyanya padaku.

“Gimana?”, tanyanya lagi.

“Gimana, aku gak paham..”, ada paksa dalam tanya.

“Gimana caranya supaya bisa peka? Gimana caranya, aku gak tau..”, ia menyelesaikan kalimatnya.

Diiringi gemericik rintik hujan yang menghadangku untuk pulang.
Mendengar tanyanya, menyimak tuturnya dan aku agak tercengang.

“Gimana, teh, caranya supaya jadi peka. Ajari akuU….”, pintanya agak rengek.

Tercengang untuk beberapa saat. Apakah pertanyaannya sama dengan do’aku pada Tuhan?yang sering kupanjatkan, “Ya Robb! Lembutkanlah hatiku dan izinkanlah aku mencintai-Mu!”, karena begitu sulit jiwa ini memahabbah kepada-Nya. Jika ya, kuncinya do’a. Jika bukan?

Hati-hati kupilah kata, khawatir salah persepsi, “Sebentar ya sayang, maksudnya bagaimana?kurang peka dalam hal apa kalo Ai boleh tau?”, selidikku.

“Dalam hal bersosial, dalam hal membaca raut wajah seseorang..”, jawabnya tak sabar.

‘Hoo’, batinku, Alhamdulillah, karena hampir saja kudoktrin dia materi ‘Sense of Crisis’. Hehehe…

“Ayolah kita cari tau, Ai. Kita telurusi, basic background permata hatimu ini”, ajakku pada ego ini.

Mengatur nafas, lembut. Merasai rongga, dingin. Suaraku harus menyaingi desir angin untuk menghangatkannya.

Dan mulailah Sang permata hati bertutur..

Di masa-masa sebelum saat ini, lingkungan yang dia hadapi adalah lingkungan yang sangat terbuka. Tak satu pun diantara temannya yang menyembunyikan sesuatu, tanpa harus menunggu, dengan lugas, teman-temannya ini akan bercerita.

Sehingga, ia tak terbiasa membaca raut wajah.

Dan di keluarga pun, Alhamdulillah hidupnya cukup. Dengan komunikasi emphaty-ku, well, aku menemukan bahwa berbeda denganku [dasar gue egosentris], lawan bicaraku ini, mengalami hidup yang monoton. Sehingga, kawanku yang satu ini, agak sulit memahami orang lain, apalagi membaca raut wajah ketika seseorang sedang bête, kesel, marah. Terbiasa mendengar langsung dari yang merasakan gejolak emosi.

Subhanallah ya! Ternyata, “Esensi dari adaptasi adalah mengerti & memahami orang lain”.

Ketika Sang Inferior Complex, betapa ingin dimengerti oleh lingkungan, selalu ingin dibaca ekspresinya dan berharap orang lain langsung memberikan rangkulan hangat padanya. Di sisi lain, ada Sang Sulit Peka yang sedang berusaha untuk memahami orang lain.

Oh, memang ternyata, manusia yang satu dan lain saling melengkapi.

Wahai jiwa yang inferior complex, sambutlah tangan saudaramu yang kering akan rasa peka ini, mari belajar bersama untuk saling mengerti dan memahami.

Ternyata merasa luka dan sakit, membantuku untuk dapat merasakan hati seseorang, ternyata hidupku tak sekelabu yang kukotakkan selama ini, ternyata selalu ada hikmah yang dapat kupetik dari manis asin kehidupan. Ternyata, Allah memang memperisaiku untuk menjadi seseorang yang lebih tangguh.

Karena bukan untukku, namun hidupku, untuk ummatku.

Yaa Muqaalibal Quluub Tsabit Qalbi ‘alaa dinika! Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s