ADAPTASI

Sabtu, 9 Mei 2009

Prolog:

Rabu, 6 Mei 2009. Bertemu dengan seseorang, mengisahkanku tentangnya, membuat duniaku terbuka, mengingatkanku akan impianku yang yang terkadang kurasakan pesimis untuk dapat mencapainya.

“What’s not Kill You

Make you STRONGER!”.

Pernah mendengar sebuah judul: kekerasan dalam rumah tangga?

Apa sih yang terbayang oleh teman-teman berkenaan dengan kekerasan dalam rumah tangga?

Pernahkah orang tua Anda menyeret Anda dari tempat tidur karena satu alasan tak logis?Pernahkah hanya karena Anda berebut mainan dengan adik, lantas orang tua Anda menendang kepala Anda?pernahkah karena nilai ulangan yang buruk, orang tua Anda menjabak rambut Anda?ketika Anda mengepel, kemudian orang tua kita melihat satu ubin yang masih berdebu, lantas kita diberi title ‘GOBLOG’?Dikatai bahwa Anda adalah ‘anak sial’, ‘berengsek’, hingga akhirnya dikatai, “Bapak/Ibu malu mempunyai anak macam KAMU!”.

Saat itu, sang anak masih amat belia. Ketika seharusnya hal-hal positif masuk ke otaknya, ketika seharusnya jaringan kreativitasnya berkembang, ketika anak0anak lain bermain dengan riangnya, anak ini, sudah mendapat banyak tekanan dari orang tuanya. Tentu saja, hal seperti ini akan memberikan efek bagi sang anak. Yang terkadang, orang tua tidak menyadari dampak ini.

Dari beberapa orang yang pernah saya temui, saya mendapati bahwa beberapa orang pernah mengalami apa yang disebut kekerasan fisik dan psikis di keluarga mereka. Saya pun juga mempunyai masalah psikologi, namun tidak seberapa berbahaya.

Sebutlah satu kata yang menggambarkan kondisi kami: inferior complex, dari yang tingkatnya rendah hingga parah. Namun sebenarnya masalah psikologi ini dapat diatasi, jika yang mengalami mau belajar keluar dari zona “Inferior Complex”.

Kita ketahui di dunia ini, ada banyak tipe-tipe orang tua yang memungkinkan variatifnya  ungkapan cinta dari orang tua pada anak. Ada yang saking sayangnya, orang tua akan menjadi sangat protektif dan serba mengatur, sehingga sang anak kurang diberikan kebebasan, dan kata yang paling sering didengar oleh sang anak adalah “JANGAN!”.

Ketika sang anak sedang belajar beradaptasi dengan lingkungannya dan menghadapi hal baru di luar rumah, terkadang seorang anak menjadi labil dan timbul kemanjaan dan kebutuhan untuk dilindungi oleh orang tuanya, namun pada beberapa kasus, ada orang tua yang ketika menghadapi  anak yang labil dan membuat kesalahan-kesalahan kecil, keluarlah reaksi: marah, sehingga tanpa menyadari bahwa mereka menyakiti dan sedikit ‘mematikan’ potensi sang anak, beberapa orang tua mengeluarkan kata-kata yang kasar, sehingga  kesan yang tertangkap oleh sang anak adalah: KEJAM.

Ingin sekali saya berkata pada para orang tua yang sering membentak, memukuli, mengatai anaknya sendiri, bahwa: Jika Bapak dan Ibu ingin mengajarkan hal yang baik. MULAILAH dengan menunjukkan KEBAIKAN itu dari diri Bapak dan Ibu, dengan mencontohkan hal-hal yang mulia.

Pernah dengar semboyan: Guru kencing BERDIRI, murid kencing BERLARI.

Sesungguhnya, saling menuntut orang lain, meski orang lain itu darah daging sendiri, adalah tidak mendewasakan sang aktor [baca:anak]. Dengan pushing up yang berlebihan, mengikutkan les ini dan itu, memaksakan kehendak, mengharuskan sang anak rangking satu di sekolah,jika tidak maka anak dimarahi habis-habis-an seperangkat dengan mengungkit kesalahan-kesalahan sang anak sedari kecil yang tiada berjubel bahkan hanya ketika SD sang anak menghilangkan penghapus yang harganya tidak seberapa, yang hanya sebentuk persegi empat wangi itu saja.

Satu kata yang mampu menggambarkan kondisi sang anak: SAKIT! Hatinya sakit.

Rasa sakit ini sangat! Dan kebanyakan anak tidak mempunyai keberanian atau kesadaran bahwa yang dilakukan orang tua-nya itu salah, pun jika sang anak tahu, akan sangat berat untuk mengingatkan orang tuanya, karena pemegang keuasaan di rumah adalah orang tua.

Yang terjadi pada sebagian anak adalah mengalami: LUKA HATI , ada pula yang sampai timbul rasa dendam. Meski dendam ini tidak melulu identik dengan kekerasan.

Ada beberapa anak yang mengalami perlakuan yang keras dari orang tua yang tidak menyadari bahwa perlakuan orang tuanya ini salah. Berbagai perlakuan yang terekam di kepalanya, membuat ia akan mengulang perlakuan yang sama saat ia berinteraksi di luar rumah. Kepada teman dan mungkin kepada keluarganya nanti saat dia sudah berumahtangga.

Atau terjadi juga anomali, jika perilaku kasar orang tua sudah sangat berlebihan, jika di rumah tangga tersebut Sang Ayahlah ‘monster’nya, apalagi victim-nya adalah pasangan hidup plus anak-anaknya, maka sang anak laki-laki dapat menjadi agak kewanita-wanitaan. Dan sang anak perempuan dapat menjadi kelaki-lakian, karena timbul simpati pada Sang Ibu dan sifat pelindung akan timbul, semacam muncul azam, “Aku gak mau jadi laki-laki seperti ayah”, diungkapkan oleh anak laki-laki dan “Aku bisa menjadi laki-laki yang lebih baik dari ayah”, dilontarkan oleh anak perempuan.

Dampak lainnya adalah INFERIOR COMPLEX. Orang yang Inferior  Complex cenderung menyakiti dirinya sendiri, baik secara psikis maupun fisik jika ada hal buruk yang terjadi di luar dirinya, yang berhubungan dengan dirinya, bahkan hanya karena hal kecil. Dari mulai mengiris pergelangan tangan dengan silet, membenturkan kepala ke dinding, menangis histeris, menyalahkan diri sendiri, berpandangan selalu negatif dan tidak mudah percaya dengan orang lain. Yang terburuk adalah bunuh diri.

Menganggap tidak ada orang yang dapat mengerti dia, dan timbul curiga ketika ada yang memperhatikannya. Orang seperti ini sesungguhnya ingin tahu bahwa ada yang mencintainya secara tulus, namun sekaligus tidak ingin percaya karena hal tersebut mendekati mustahil, akibat, selama ini, anak tersebut telah direndahkan eksistensi keberhargaan hidupnya oleh orang yang melahirkannya, oleh orang yang telah membesarkannya, pikirnya “Orang yang melahirkan aku/orang yang menghidupi aku selama in saja menganggap aku anak sial, apalagi orang lain”. Yang terkadang membuat ia merasa, bahwa ia tidak layak untuk punya teman, tidak layak disayang, tidak layak dicintai, tidak layak untuk hidup dan orang seperti dia sebaiknya lenyap saja dari dunia ini.

Anak ini, sangat ingin disayang oleh lingkungan, tapi Ia tidak tahu cara memberitahu yang ahsan, cara yang tidak juga mengganggu wilayah privacy orang lain, sehingga output sikapnya terkadang menyebalkan. Ada yang tampak over acting, selalu bermuka masam, meledak-ledak orangnya, terlihat berbeda gaya bahasa dan style berpakainnya, ‘nyentrik’, indifferent, weird, freak, begitulah julukannya, namun orang yang berpikir terbuka, akan menyebutnya, ‘unik’.

Sangat ingin diterima oleh orang lain, namun sangat takut untuk dapat bercerita secara terbuka, apa yang melatarbelakangi sikapnya, dan toh, terkadang ia melihat, orang lain sudah berkoloni dan jarang yang mau masuk, mengetuk dunianya.

Sangat ingin mengungkapkan apa yang ia rasa dan ia butuhkan, namun sangat takut orang lain menjauhinya jika tahu kondisi aslinya, dikarenakan kasus-kasus luar biasa yang ia alami, dikarenakan kondisi keluarga yang tidak ideal yang membuat ia malu.

Antara ingin mencari solusi dan ditolong, namun tidak juga mau membuka aib keluarga.

Merasa bingung dan sendirian. Beginilah kondisi orang-orang inferior complex.

Ada yang dapat membantu orang-orang inferior complex ini, yaitu lingkungan. Apalagi ketika orang-orang inferior complex ini telah cukup dewasa dan sudah mulai longgar dari pengawasan orang tua yang pada awalnya sangat strict.

Namun lingkungan ini juga tidak dapat dituntut untuk mengerti, karena dalam lingkungan terdapat banyak orang dengan background beragam, ada kebutuhan saling mengerti disini. Ada kebutuhan adaptasi timbal balik, antar si Inferior Complex & Si-non inferior complex.

Sang inferior complex yang cukup matang dan pernah mendapatkan lingkungan yang hangat dan menerima kondisnya yang ‘agak berbeda’, dengan terbuka, meski hanya sebentar, akan menyadari bahwa, ‘Ternyata ada orang-orang  baik di dunia ini’. Yang membuat dia mempunyai alternative lain, selain menjiplak, mengcopy-paste sikap orang tuanya. Muncul satu keyakinan dan impian, suatu saat, dia ingin menjadi ORANG BAIK di kehidupan selajutnya.

Namun proses ini juga tidak mudah, karena masa lalu yang buruk telah merongrongi dia selama ini. Semuanya bertahap, alangkah baiknya jika sang inferior complex dan lingkungan bersabar.

Sang inferior complex sangat membutuhkan asupan kata-kata yang baik, sikap yang lembut, dan kesabaran. Dari sifat-sifat baik yang dia lihat inilah, dia akan belajar untuk menemukan sisi baik dalam dirinya.

Terkadang ada masa dimana ke-inferior-complex-an ini mendominasi pada satu waktu, faktor utamanya adalah karena sang penderita belum dapat merelakan kejadian-kejadian yang pernah menimpa dia dan membandingkan masa lalunya dengan kondisi teman-temannya, yang dalam pandangannya, seolah, hidup dia-lah yang terberat.

Semakin tekanan itu kuat, maka gaya yang keluar akan sebanding. PV=NRT.

Maka sikap SABAR dapat menjadi aternatif utama bagi kita dalam menghadapi Si-inferior Complex ini.

To be continued to: Esensi Adaptasi II

Advertisements

One Comment Add yours

  1. andreas says:

    Merenungkan dampak kekerasan, praktek dan lingkungan yang penuh kekerasan terhadap anak-anak melalui karya perupa Haris Purnomo dan budayawan Sindhunata

    Menunggu Aba-aba : Bayi Bertato, Kepompong dan Pisau Sangkur

    Bagi saya karya-karya Haris Purnomo dalam pameran Kaum Bayi : Alegori Tubuh-tubuh yang Patuh ini merupakan kritik atas peradaban, kekerasan dunia orang dewasa, kekerasan tatanan masyarakat baik di lapangan politik, ekonomi, budaya, teknologi terhadap alam dan sesama manusia. Bumi air tanah tumbuh bayi-bayi mungil dengan tato sekujur tubuh, dalam bedong ber-pisau sangkur. Hangat kepompong dalam proses metamorfosis menjadi bentuk lain, kepribadian lain.

    Mereka Menunggu Aba-aba!!!!

    grekgrek, grekgrek, grengkek, grekgek atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

    grek grek suara motor penggerak pisau sangkur menghipnotis ruang bentara budaya yang temaram mencabik kenyamanan, membuat ngeri, seperti dengkur pasukan perang, tentara pembunuh …… alien, mutan, monster…

    atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

    Mereka Menunggu Aba-aba!!!

    bayi-bayi lelap dan jaga yang menimbulkan sayang dan haru itu, menyembul harap dan bahagia dan kengerian di sekitarnya, kontradiksi pedih, kemanusiaan abad ini….

    silah kunjung ….

    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/menunggu-aba-aba-bayi-bertato-kepompong.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s