Munakahat a.k.a Marriage

Senin, 11 Mei 2009

Menunggui angkot di jalanan yang macet, dibawah payung orange-ku, kembali terngiang ungkapan Sang Murrobi.

“Cinta itu fitrah, ketertarikan itu manusiawi, namun, ketika kita belum mampu bertanggungjawab atas perasaan kita, sebaiknya kita tidak mengeluarkan sikap-sikap yang tidak mampu kita pertanggungjawabkan”.

“Kalau kita belum bisa bertanggungjawab, jangan sekali-kali bermain dengan perasaan. Jangan menikmati hal-hal yang tidak halal, dan satu-satunya cara dalam Islam adalah menikah”.

“Karena solusinya menikah, mari kita bicarakn soal kesiapan menikah”.

Lagi, kuresapi tuturnya, “ peran seorang wanita yang utama adalah, menjadi penentram hati suami dan mendidik anak”.

—————————————————————————————————————————————————-

Hujan kembali mengguyur kota Bandung, mewarnai hari-hari lincahku yang girang ketika rintiknya menyentuh wajah dan tangan mungilku. Yang menyanyikan ritme ketenangan dan hawa menyejukkan,  membiarkan bumi  tersirami hingga tumbuh darinya hijau, memberiku atmosfer kesegaran. Yaa Allah! Alhamdulillah.

Siang itu, Sabtu, 9 Mei 2009, aku membawa Si Orange yang sudah agak mbladus, dan kumasukkan ke dalam tas biru bergambar beruang, tas  Si cilik Arum yang sedang kurampok entah sampai kapan! Hehe.

Walk under the rain, with my Orange umbrella. To the house where I invited to.

Rumah yang kusinggahi itu, indah. Hijau, halamannya agak luas, begitu tampak bagian depan. Kiri kanan banyak tanaman yang ditata cantik. Hm, ’could be one of my alternative’ , batinku.

And here the discussion began.

Marriage

Sahabat, aku dan beberapa temanku sedang berada dalam Quiz Rapid Fire Round. Yaitu kuis jawab cepat, apa yang terbesit dalam benak sahabat-sahabat ketika mendengar kata, “NIKAH?”.

She pointed me out! Dan dengan kecepatan dengan percepatan yang mempercepat, [Halah],

Satu kata yang terlintas di benakku adalah, “ANAK!”, jawabku semangat.

Stop sampai aku saja, karena jika kata tersebut dilontarkan pada temanku yang lain, mereka akan sudah mereka-reka, What would be the answer.

“Benar, Ai”, ujar Sang teteh lembut, sambil membuka-buka halaman buku, entah apa judulnya, ada dua buku yang tebalnya sama, [dan aku agak kurang minat mbacanya juga, hehehe], sembari mengurusi tiga anaknya, yang bungsu menyusu, yang agak besar bertengger di motor dan terus-terus ‘mengerjai’ ibunya, dan paling besar, Alhamdulillah tidur.

“O My GOD!”, I said. Aku belum bisa sesabar beliau dalam mengurusi anak kecil, padahal aku merasa aku sudah cukup baik menjaga Arum-ku, namun, For Your Information, anak-anak dari teteh ini, WoW kaka WoW! KETERLALUAN kubilang! Manjanya, sikap menantangnya, meminta ini itu-nya, rengeknya. Sesekali aku tarik nafas dan memandang Sang anak tengah, dan mengambilkan apa yang ia mau. Tapi Sang Ibu, SABAR BANGET PUN!!

Ucap beliau, padaku, “Jangan ngaku sabar kalau belum bisa ngurus anak”, lekat dengan senyumnya.

Dan mulutku terngangga.

He Loves me?He Loves me not?


Sedikit  ingin berbagi, jadi kalau aku agak sok tau, komen-komenlah ya! Peace!

Sahabat, muslimah pada zaman ini, dipersiapkan untuk memiliki skill ilmu terapan namun tidak dipersiapkan untuk menjadi ibu dan istri. Sedangkan, u know what? ternyata, tanggungjawab dan letak peran kehidupan perempuan yang utama ADALAH ketika menjadi istri. Nah tugas utama sebagai seorang istri ini, terbagi ke dalam dua hal, yakni: (1) Sebagai Ibu, yang berkaitan langsung dengan pemenuhan fungsi reproduksi serta fungsi edukasi; (2) sebagai pengatur rumah tangga, yang berkaitan dengan fungsi-fungsi yang lainnya.

Untuk membuat kita yakin akan peran muslimah, yuk kita lihat hadist ini..

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، اْلإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Masing-masing kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya(HR al-Bukhari dan Muslim)

Sahabat-sahabat, pernah suka ama seseorang, ga? Merasa deg-deg-an, puanas dingin [iya gituh?], laksana ada butterfly in our stomach, nervous ketika harus bertemu seorang mahluk?

Ga pernah?OW! yawda, bukan suka deh, TERTARIK. Pernah, ga?kagum, senang memperhatikan, there’s something about that person lah! [warning: bukan sesame jenis ya!].

Ga pernah?wow! tenanglah, bukan berarti dikau ada ‘gangguan’,  [hehe]. Allah sangat menjagamu, bro, sis, nanti kau akan merasakan jua di saat yang sangat tepat. Cheers!

Nah, untuk kita-kita yang pernah merasakan gejolak hasrat muda macam ni [cieh! Prikitiw!],, kalian tahu tidak?

BahwaaaaaAAAAA: PERASAAN itu NORMAL!

Now, SMILE UP! Nothing to be worry. Everything is Okay now. [Lebay]

Moreover, guys!, mempunyai perasaan seperti ini, TIDAK SALAH! Jadi? Boleh dooOng!!

Ya boleh aja suka sama seseorang, namun ketika kita belum mampu mempertanggungjawabkan perasaan kita pada orang yang kita suka, sebaiknya kita tidak membuka ‘file’ lawan jenis kita tersebut lebih jauh, kalo our feeling semakin berkembang, WAH! Kita juga yang repot!

Tapi sih, dikembalikan ke masing-masing orang, kan cara orang memanaje rasa suka berbeda-beda.

Nah, guys! Kita mau apa, sih?ngerumpiin kecengan-kecengan, kita?oh, hayu! Tapi jangan disini, hehe..

Offline aja ya, ndak via on air.

Kira-kira hikmah apa yang bisa kita ambil nih?berangkat dari kondisi menyukai seseorang yang tidak terelakkan ini, Islam memfasilitasi kita-kita dalam satu wadah yang bernama: NIKAH.

[Set dah! Ganasssssssssssssssssss!]

Pernahkah sahabat bertanya pada ayahbunda sahabat, “Pih! Mih! Gimana sih kalian bisa berjumpa?”.

Atau kalo tak pernah, bayangkan saja, suatu saat, putra dan putri sahabat bertanya, “Bagaimana caranya Abi dan Ummi bertemu?”. Hm, kira-kira jawaban apa yang akan kita berikan, ya?

Saya sendiri, sungguh ingin memberikan jawaban yang terbaik, jawaban yang mampu memberikan teladan, karena sungguh dalam lubuk hati yang terdalam, saya ingin anak-anak yang saya lahirkan adalah anak-anak terbaik, dan konsekuensi dari cita-cita ini adalah saya perlu menjadi Ibu yang Terbaik juga.

Dan sahabat, ada banyak kendaraan untuk meraih drajad orang tua yang baik.

Tidakkah sahabat-sahabat pernah menjadi seorang anak, ber-ibu dan ber-ayah, apa yang sahabat rasakan ketika menjadi anak? Sukakah dengan cara ayahbunda kita mendidik?yakinilah, kelak kita akan menggantikan posisi mamih papih kita, mengendong-gendong anak, menuntunnya di taman bermain, membelikannya balon ketika dia merengek, me-lap muntahannya, terbangun malam karena tangisnya. Bagaimanakah sikap kita?selaku parent wanna be?

Sanggupkah kita bersabar dan menjadi teladan yang baik untuk anak-anak kita?sehingga putra-putri kita tanpa ragu akan berkata, “I proud to have a mother like you. Saya bangga pada ayah saya! Ummi, Abi, I love you”. [ya Robb! Air mataku..!!]

Kesiapan Menikah

“Nikah?haduh, kapan, ya? Mbesok masih bisa, ga?yo mbesok mbesok meneh lah ya! Hahaha..”, kadang jawaban ini saya berikan pada teman-teman yang iseng [atau serius,ya?] bertanya, “Ai, kapan nikah?”.

Wuidih deh! Masih kacrut macam awak ni saje mau berkahwin. Cam betul! Apa kata dunia??? [Jangan ketawain loh ya!]

Guys, pengen nikah,kan?yuk kita siap-siap! Lanjutkan!

Persiapan nikah ada beberapa nih:

  1. Fisik [uda pada baligh, blom?]
  2. Ruhiyah [soal kedekatan kita pada Yang Maha Menciptakan]
  3. Ilmu [segala teori yang membantu kita untuk menghadapi hidup pasca ijab-Qabul. Seperti pernak pernik kehidupan rumah tangga, memahami psikologi laki-laki dan perempuan untuk tahu cara bersikap yang baik pada pasangan, cara mendidik anak yang baik dan benar, tentang sex, melayani mertua, tentang kesehatan reproduksi, fase-fase perkembangan anak berdasarkan range usia, dan masih banyak lagi].
  4. Mental [siap, identitas diri kita diketahui oleh seseorang yang awalnya asing bagi kita dan melihat wajah kita saat bangun tidur, tahu berapa lama kita di WC, jatuh miskin bersama, merintis bisnis bareng, ampun MaAk! hehe]
  5. Materi [lebih ditekankan kepada kaum laki-laki yang akan menghidupi istri, tapi kalau sang muslimah hendak mencari uang juga tak apa].

File Diri>>File Keluarga>>File Sang Calon Pendamping

Mari kita sebut 5 poin persiapan di atas sebagai FILE DIRI.

Setelah kita memastikan file diri kita sudah cukup matang, saatnya kita mempersiapkan keluarga kita. File Keluarga mode: ON.

Gurlz, boyz! apakah orang tua kita masih agak-agak phobia dengan kata ‘nikah’? asing dan sama sekali tidak pernah terceletuk dari mulut orang tua kita tentang nikah. Bagi Mamah dan Papah, kita adalah anak mereka dari hingga kapan pun dan akan bersama dengan mereka selamanya!  [Wow! Lebay!]

File diri beres, tertarik sama seseorang udah, pas mengenalkan calon ke keluarga, ternyata: LO, ‘LEK? KAMU SUDAH BESAR TOH? Haduh malu kali pun!

Jangan-jangan kenapa orang tua kita tidak pernah menyebutkan satu kata ini adalah karena kita pun belum pernah mencoba menyinggung hal ini secara halus.

Maka dari itu guys! Sebelum menembak-nembak jitu dengan siapa kita kan menikah, kita siapkan keluarga kita dulu yuk!

Bagi dirimu dan keluargamu yang agak phobia dengan NIKAH, saatnya kamu memulai pembicaraan ini. Dapat dimulai dengan, “Ayah dulu ketemu sama Ibu gimana, sih?”. Atau “Yah, Bunda, yang kemarin nikah tuh anaknya teman Ayah Bunda, ya? Umurnya berapa?”. Bisa juga dicoba, “Pih, Mih, kalo ntar aku nikah, Papih sama Mamih pengennya suamiku kayak apa, sih?”. [Deu, ini pasti yang nanya akhwat deh, hehehe, kalo ikhwan,,pertanyaannya,,atur-aturlah ya! Kurang tau juga soalnya. OK!].

Setelah singgung-menyinggung ini mulai kita lakukan, jika respon dari keluarga kita cukup positif, mulailah singgung mengenai konsep pernikahan yang kita inginkan, proses menuju pernikahan tersebut, misal, “Mom, Dad, anaknya tetangga kita kan pacaran tuh, udah 8 tahun pacaran, eh malah gak nikah. Hmm, gimana ya, Mom, Dad, apa aku juga pacaran aja supaya cepet dapet suami?”, bisa aja, kan, bokap nyokap kita menjawab, “Engga ah! Pokoknya kalo ada laki-laki baik melamar kamu, langsung nikah aja, nggak pake pacaran dulu!”. Atau mungkin juga ada yang responnya, “Kami sudah menjodohkanmu dari kecil, nak, maka dari itu, kamu akan menikah dengan rekan bisnis Papap, dan suamimu itu yang kelak akan menjadi penerus dari bisnis keluarga ini”. Atau mungkin, “nikah? Haduh! Kamu S2 dan S3 dulu lah sana! Trus kerja! Udah bisa balik modal ke Ema sama Babeh lo ini, baru lo nikah sana!”. Ehehehehe…

Lihat sikon dulu, lobby-lobby pantang menyerah, do’a yang banyak, yakinkan orang kita, untuk siap melepas kita yang selama ini menjadi tanggung jawab mereka untuk mencapai sesi baru dikehidupan kita: membina rumah tangga sendiri.

Cara meyakinkan orang tua kita juga dengan ahsan ya, dengan bukti bukan janji!

Jika File Keluarga sudah rebes. Saatnyalah Jeng Jeng Jeng Jeng..

Saatnya kita menemukan, mencari, Sang pendamping. Hah! Siapakah orang yang beruntung menjadi pasangan hidup kita?atau bahkan merugi untuk menikah dengan kita?karena kita gembel belaka? Haha!

File Sang Calon Pendamping

Perlu kita sadari bahwa, jalan orang menempuh pernikahan ada banyak, ada yang M.B. A, Married by accident, jadi pas nikah perut sang pengantin wanita agak ndut, ada yang pacaran dulu, ada yang dijodohkan, ada yang kayak di AYAT-AYAT CINTA, nah! ada juga yang melalui murrobi.

Hehe, yang jelas cara kita mencari dan atau menemukan pasangan hidup kita variatif banget! Kembali lagi pada saya, saya akan memilih cara yang saya pandang terbaik. Seperti yang sudah saya paparkan di awal,saya ingin mempunyai kisah yang awesome mengenai bagaimana saya dan suami saya bertemu, yang bisa saya ceritakan pada anak-anak saya, sehingga kisah tersebut dapat menginspirasi mereka untuk juga memilih jalan yang terbaik dalam mengarungi hidup mereka ke depannya.

Saya ingin memilih cara yang paling ahsan untuk diceritakan pada anak saya kelak! Seperti apa ya kisahnya? Hm, saya akan sambung chapter ini setelah saya menikah, Insya Allah.

Ada satu catatan kecil dari Sang teteh, beliau menyampaikan: “Tiga file ini, sebaiknya tidak dibuka [baca:dieksekusi] dalam waktu bersamaan, karena ketika kita membuka sekaligus, maka kita juga yang akan repot.

————————————————————————————————————————————————–

Adzan magrib berkumandang, ah Ai, dimanakah kau letakkan Tuhan?apakah disudut-sudut waktu solat?

Lalu, kesadaran itu, telah merasuki otakku, dan aku pun berucap :

Sesuatu yang baik, tidak dapat dicapai dengan cara yang salah.

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Retno Utami says:

    baru mengunjungi blogmu ai.. hihi keren, asik baca artikelny..
    naiis…
    ga sabar nih, kapan ya chapter 2-nya mucul? hehee…^^

    1. sundariekowati says:

      Chapter 2? Hehehe..
      mungkin sekitar2 atau 3 tahun lagi! mohon do’amu ya! 🙂

  2. qisthi says:

    butterfly in our stomach..?? haha, istilahnya lucu juga..
    is it really a butterfly..??
    well, saya lebih sering menyebutnya ‘sensasi sakit perut’, haha..
    ketauan deh kalo pernah ngerasain,
    but that’s NORMAL, isn’t it??
    just glad knowing i’m normal, still.. hehe.. 😀

  3. anggit says:

    nice article..ditunggu lanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s