11 Days in Medan

11 Days, in Tanjung Balai, Medan.

Suatu sore yang mendung,

“Eh eh eh, kamu jurusan matematika, pan? geus lulus, pan?”, ujar Irfan Ramdhani.

Jawabannya iya.

“Bisa ngajar olimpiade matematika ngga dek? 9 hari di Medan?”, tanya Mba Jim.

He? Im thinking

1. Belum pernah mengajar (apalagi menghajar) : Check!
2. Belum pernah jauh dari orangtua keluar pulau : Check!
3. Takut naik pesawat : Check!

“Pesawatnya nggak akan meledak ko dek (paling meleduk, eh ngga deng)”, kata mba Jim.

“Hm, oke deh mba, kalo ortu saya mengizinkan, saya pergi”, ucapku.

So here, we go. Medan in a moment!

***

Perjalanan ke Medan diawali dengan melewatkan malam tanpa tidur karena takut ketinggalan pesawat jam 6 pagi. Bersama Azzam Mikrobiologi’06 dan Hafis Teknik Kimia’07, kami bertiga berangkat ke Bandara Soekarno Hatta menggunakan travel pukul 1 pagi.

Masih 1 jam lagi menuju subuh ketika kami sampai di Cengkareng. Ini bukan kali pertamaku ke Airport, tapi terakhir kali naik pesawat itu sekitar 6 tahun yang lalu. Sehingga ketika check in barang, ke-katroan pun dimulai. Poto-potooooo! 😀

Setelah melewati pemeriksaan barang, kami pun masuk ke ruang tunggu Bandara.

Sesampainya di Medan, aku dan Azzam pun berkeliling kota.Transportasi yang kami gunakan, selintas seperti becak yang ditarik oleh kereta (motor) atau sepeda, namun orang Medan cukup menyebutnya Becak. Becak ini bermacam-macam modelnya, bahkan ada yang dilengkapi musik untuk menarik minat pengguna Becak.

Selayang mata memandang, gedung-gedung di Medan mengingatkanku pada bangunan-bagunan di Braga, tua dan ke-belanda-belandaan. Dan kami pun sempat nyasar ke acara  sebuah partai di Lapangan Benteng, hehe.

Setelah puas tidak puas melancong di Ibukota Sumatra Utara, kami pun dijemput menuju Tanjung Balai, tempat kami mengajar, perjalanan pun berlanjut ke wisata kuliner. Hehehe.

Makanan di daerah Tanjung Balai racikannya pedas, berkuah dan berlemak. Wow! kolestrol tinggi. Badan pun mekar di awal jumpa dengan lontong Medan, Soto, Nasi Lemak, Masakan Padang, Mie, Sate.Namun kian kemari,hari kehari alarm tubuh mulai berbunyi, lambung pun menyusut kembali.

Selama di Tanjung Balai, kami menginap di Pasanggrahan Pemprovsu. Aku sekamar dengan ka Maryati, Dosen Fisika Universitas Medan. Kemudian Azzam disatukan dengan Hafis, dan Bang Hendrik menginap bersama Bang Baringin.

Tempat mengajar tidak begitu jauh dari Wisma, biasa ditempuh menggunakan mobil, meski 3 hari terakhir, aku dan Azzam naik Becak untuk mengajar anak-anak SD di Jalan Abadi.

Selepas mengajar, biasanya kami diam di mass, tidak ada TV, jadi paling main game, nonton film di laptop dan ke warnet.

Pernah di suatu hari yang jenuh kami menikmati pesona pantai Tanjung Balai dari tepian Jembatan sambil minum air kelapa. Pantainya adalah pantai nelayan, oleh sebab itu, ikan khas Tanjung Balai adalah Teri.

Ada pengalaman lucu saat mengajar. Agak bingung sewaktu ada guru yang masuk ke kelas dan bertanya, “Anak yang duduk semalam disitu tak masuk ya?”.

Aku diam dan berpikir, ‘Aduh nggak tau siapa yang duduk di kursi itu tadi malam’, hahaha.

Ternyata ‘semalam’ itu artinya ‘kemarin’.

Kemudian waktu menulis soal di papan tulis, aku bertanya, “Pertanyaannya dipahami, kan adik-adik?”.

Lalu ada murid yang menjawab, “Tak nampak, ka, soalnya”.

“Hoo, tak nampak ya?”, kataku, geli sendiri.

Hyaaa, teman-teman, beginilah reportase sederhana saya, tentang 11 hari yang amazing di Medan, hehehe.

Thanks for reading, maaf kalo bahasanya aneh.

Semoga suatu hari nanti, kita bisa bertamasya bersama, keliling dunia. He He He. Peace! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s