…my bestfriend wedding…

It is called denial
Yes it is

My bestfriend wedding

Aku tidak ingat kapan ia menikah
Yang jelas, pernikahan sahabatku ini bukan menjadi
hal yang paling membahagiakan dalam hidupku

Malah bisa dikatakan, meskipun aku menjadi pengurus acara akad dan resepsi,
ketika hari-H, aku merasa blank

I don’t believe it
or, it’s hard to believe

Rasanya sulit untuk percaya, dia sudah menikah
Orang yang selalu kemana-mana bersamaku,
menelepon hampir setiap malam untuk curhat

Balapan menghabiskan ice cream,
mojok di kafe berjam-jam, hunting kemeja untuk sidang,
nangis-nangis karena dikejar cowo yang physco

Now, she is dissapear

Apa mungkin aku menggenggamnya tidak terlalu erat?

Sekarang jarang sekali sekedar duduk ngobrol berjam-jam
Seperti ada timer berupa mobil yang menunggui di luar kafe ketika kami bertemu, dan dering teleponnya yang berbunyi berkali-kali, tanda suaminya sudah menyuruhnya pulang

Singkat saja waktu kami

Lalu, dia akan bercerita tentang suaminya yang tidak konsisten menilai bagus tidaknya pakaian yang ia pilih, kerudung yang ia pakai, dan bros yang disematkan

Dan sang suami akan meredakan kemanjaannya
dengan membantu ia mengenakan semua baju dan perhiasan

Aku tertawa, aku ikut bicara tapi sesudahnya aku merasa ada yang hilang

Apakah aku iri dengan kebahagiaannya?

Lalu kehamilannya menginjak usia 4 bulan
Dan aku masih tidak percaya
Ada rasa segan untuk bertemu
Dan kata-kata kami menjadi kaku

“Aku masih aku yang dulu”, katamu

“Masih aku yang rapuh, manja dan suka ice cream“, mendengarnya aku tertawa kecut

“Sini, bagi keripik pedasnya”, kamu mencoba mencomot makanan kaya msg kesukaanku

“Nggak! ga boleh makan yang kek gini! nanti dede-nya sakit”, aku mengatakannya setengah sadar

Perutnya membuncit
Kalau berpelukkan, secara ada yang mengganjal
Dan aku takut akan momok keguguran

“Maaf ya, selama ini aku menghindar”, ucapku

“Aku nggak percaya kamu sudah menikah”, tuturku jujur

“Sama, Ai, aku juga nggak percaya kok, kalau aku sudah menikah”, jawabmu

Dan kita tersenyum

Aku sadar betul
sekarang bukan saatnya lagi aku menangis-nangis di pundakmu
mengeluhkan semua masalah cemenku

Sekarang aku harus siap menjadi tempat bersandarmu
mendengar cerita yang belum aku alami
tentang perkembangan janin
dan bertukar pikiran mengenai ‘menu masakan untuk suami

“Nu, ntar kalau kamu melahirkan, aku bersedia ada di samping kamu ya”,
dan kamu pun mengangguk mendengarkan penawaranku tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s