Langit Biru

“Hidup ini, bukan hanya tuk sendiri.
Ada kalanya kita harus berbagi”.
-Saykoji

Tapi, saya agak kurang yakin sih mengenai potongan liriknya.
I’m not very into Saykoji tapi lagu tersebut menjadi soundtrack
dari film Langit Biru.

Karena musiknya mengalir dengan cepat,
jadi hanya segitu yang teringat, dengan tingkat error sekitar 70%.
Hahaha.

Langit Biru

Film ini mengingatkan saya pada film Petualangan Sherina
yang antrinya sepanjang jalan kenangan,
mungkin karena 14 tahun lalu, ketika saya masih SD,
ketersediaan bioskop masih terbatas.

Saya masih ingat, dari bawah eskalator,
orang-orang sudah antri dari pukul 10 pagi,
bahkan yang di ujung depan sudah duduk menggelar tikar dan membawa bekal.

Sambil sebentar-sebentar meneriaki loket yang tidak merespon,
“Buka! buka! buka!”.

Mungkin 3 jam ada untuk berpegel-pegel ria.

Saya pribadi merasa, film Petualangan Sherina benar-benar fenomenal.
Sampai sekarang saja masih suka memutar fim tersebut kalau ada kesempatan, dengan adik yang masih kecil.

Terutama, saya suka musiknya.
Mengena.

Bila kita dapat memahami
Matahari menemani
Kita dalam kehangatan
Hingga sang rembulan bersenandung

Menina bobokan seisi dunia
Dalam lelap setia
Tanpa terpaksa

Bila kau dapat mengerti
Sahabat adalah setia
Dalam suka dan duka
Kau ‘kan dapat berbagi rasa
Untuknya

Begitulah seharusnya
Jalani kehidupan
Setia….setia…setia
Dan tanpa terpaksa

Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar

Lihat sgalanya
Lebih dekat
Dan kau akan mengerti
-Sherina

*sigh
Memang, sahabat adalah setia.
Dan lihat segalanya lebih dekat, kita akan mengerti.

Ini juga merupakan tema yang diangkat di film Langit Biru.
Begitu melihat trailer berlatarkan keremajaan anak-anak SD ini,
saya langsung menggandeng adik saya, untuk menikmati film ini di Bioskop.

Biru yang merupakan anak tunggal dari ayah seorang pilot dan ibu seorang penari (alm), tumbuh menjadi gadis pemberani.

Biru, Amanda, dan Tom Tim adalah tiga sahabat akrab.

Setiap kali Tom Tim diganggu oleh Bruno,
cowo yang suka mem-buly di sekolah,  Biru akan melabrak Bruno.
Meski Biru seorang perempuan, ia tidak takut
pada pria bertubuh tinggi yang sudah beberapa kali tidak naik kelas tersebut.

Nge-fans banget deh sama sosok Biru ini.
Salut sama orang-orang yang berani melawan ketika ditindas.

Uniknya, ketika mengantar Brandon, adik Amanda yang kursus dance,
Biru, mendapati Bruno dari sisi yang berbeda. Ia menjadi pelatih gerakan dance  anak-anak kecil.

Bahkan Brandon memberikan testimoni,
bahwa Bruno sangat sabar dalam mengajar.

Mulailah dari situ, ketika diberikan school project tentang social issue,
Biru, Tomtim dan Amanda, berburu identitas Bruno yang sebenarnya.
Dari mulai menguntit hingga rumah dan mewawancari beberapa orang seputar keseharian Bruno.

Mereka memberi judul “Don’t Judge a Person By It’s Cover“,
pada video presentasi mereka.

Dari video tersebut terkuaklah siapa Bruno sebenarnya.

Di akhir presentasi mereka berteriak, “Stop bulying! Kawan bukan Lawan!”.

Yak! film ini cukup melepaskan rindu pada drama musikal.
Mau terus perfilm-an Indonesia!

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Reva Enoch says:

    mau request dong, saya mau lagunya langit biru yang sobat sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s