Float Above

I will always float above, arent I?

Waktu itu, ortu saya dipanggil oleh wali kelas,
“Bu, anak Ibu harusnya tidak naik kelas”, begitu ucap beliau.

Air mata langsung meleleh di pipi saya.
Yes I do. Saya tidak suka kelas, belajar.
I just dont get it.

Lalu saya diberi masa percobaan, jika saya berkelakukan baik selama caturwulan pertama, saya boleh meneruskan status saya sebagai siswa di kelas 3 SMA.

Saya dan teman-teman pun mengambil foto bertema piknik di jalanan Dago, untuk persembahan karya terakhir di buku kenangan. Catatan kelulusantahun 2005.

I have no idea.
Ortu saya ingin saya masuk ke Perguruan Tinggi Negeri.
Bukan hanya yang terbaik di Jawa Barat, namun se-Indonesia!

Akhirnya saya ikut bimbel, dan entah ada energi dari mana,
saya belajar hingga larut malam, mengerjakan soal-soal.

Saya sudah membayangkan, akan berkuliah di pilihan kedua.
Dan keinginan mengambil sastra Inggris pun pupus. Di IPC, saya kalah telak.

I get in.
Tau-tau saya sudah duduk di bangku.
Disebelah kiri-kanan saya anak-anak Olympiade.
Juara umum di sekolah. Mahasiswa berprestasi.

Sedangkan saya?
hanya segelintir dari SMA saya yang menembus SPMB ke PTN ini.
Saya membaca spanduk itu , “Selamat datang putra-putri terbaik bangsa”.
Ospek yang sangat berkesan untuk saya.

Dan bangku kuliah membuat saya tidak nyaman.
Rasanya ingin lari. Setiap mau ujian panas dingin.

Akhirnya tingkat 3, IP saya hanya 1,8.

“Melihat kamu, saya rasanya ingin bunuh diri!
anak saya yang pintar tidak bisa masuk kesini!
tapi kamu masuk dan menyia-nyiakan kesempatan ini!”.
Begitu ucap dosen yang care pada saya.

Membuat saya, merasa tidak pantas berada disini.
Apakah sudah terlambat untuk keluar?

Do it for your parents!“, ucap beliau lagi.

“Bukan kamu yang paling sedih kalau Drop Out! tapi orang tua kamu!
Coba banyangkan, berapa uang yang mereka keluarkan buat kamu?”,
tanya beliau.

“Bukan kamu yang paling senang kalau diwisuda.
Tapi orang tua kamu!”, bentak beliau, melelehkan air mata saya.

Yes it is.
Its true.

Dan akhirnya, masa-masa mengulang mata kuliah itu saya lewati.
Bersama adik kelas, menginap bersama, belajar bersama, mengerjakan TA bersama, berbagi, saling menyemangati, bergaul dengan yang muda.

Alhamdulillah.
Tidak tahu bagaimana cara Allah menolong saya.
Hari sidang pun tiba.

Saya dinyatakan lulus sidang, dan akan diwisuda pada bulan April.
Semua teman karib yang seangkatan datang untuk merayakan kelulusan.
Thanks all, for your love.

I have been through that all.
Without I know how.
The God guide my step.

Thanks Dear Lord,
thanks all of my friends.

Gonna continue making my parent proud.

I will always float above, arent I?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s