ON OFF

Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau.
Padahal rumput sendiri lebih subur.
-Puspa

Aah! liat yang hijau-hijau emang seger.
Udah lama nih gak pernah hunting foto lagi.
Hahaha, gak ada waktu apa lupa sama hobi nih? :p

Dari yang awalnya suka sama landscape terus merambat ke human nature.
Hmmm, should spend some time then,,

On OFF

Siang ini, seperti biasa, saya dan rekan sekubikel makan siang bersama.

“Aku tuh pengen jalan ama temen-temen kalo weekend. Kemana gitu. Tapi kemarin, mau nonton bola ke club aja gak boleh sama ortu. Jadinya kan gw main sama adik gw lagi, adik gw lagi. Gimana gw mau dapet cowo kalau gini?”,
salah satu curcol terlontar.

Padahal aku sudah berpikir bawah akulah orang termelarat di dunia, karena (ehem) gak punya (ehem) belom ada maksudnya (ehem) belom nemu (aduh sensitif neh). Hehehe.

“Kalo lu kan enak, bisa jalan-jalan ama anak-anak kos-an. Banyak temen cowo yang bisa diajak ngobrol. Gw mau ngobrol aja bingung, mau nambah temen juga gimana caranya?”, katanya lagi.

Memutar otak.
Okey, I do. I have a little more male friends. But, just friends yah.

“Aku tuh cuma pengen nambah temen, gitu. Bukan ingin diprospek buru-buru juga. Tapi pengen ngobrol ama banyak orang”, dia memperjelas keinginannya.

Still, we are lucky to have home to comeback.
Parent to hold on. Friends to share with.

Trus, jadi inget, waktu ada acara ampe jam 11 malem, kami-kami yang masih single available (cieh), memicingkan mata sama yang udah merit.

“Enak yaaah, kalau udah nikah. Pulang dijemput sama suami”, komentar yang jomblo.

WAIT!
Is that true?

“Mbak, pulangnya dijemput ya?”, tanya saya.

“Keknya enggak deh. Pulang sendiri. Kasian suamiku dah di rumah.
Naik taxi aja”, jawab wanita yang sedang hamil 6 bulan tersebut.

Mata saya yang ngatuk langsung bengkak.
“Naik taxi sendirian? berapa jam mba perjalanan ke rumah?”, tanya saya lagi.

“1 jam lah. Paling 100ribu”, jawab beliau enteng.

Oo My God!
A m a Z e d!

Saya saja, kalau during my period, perut perih, badan lemes, exhausted, kembung dan cape jalan, rasanyaaaa pengen diboyong aja gitu sama orang,
but who? hahaha.

“Tuh, dia gak dijemput! ga sepenuhnya apa yang kita pikir itu benar”, selorohku.

“Ya, tapi at least kan sampe rumah bisa dipijitin kakinya kalau pegel”, kata teman saya lagi.

Lalu, besoknya saya bertanya pada mbak yang satu lagi. “Mbak, sampe rumah, suaminya nyambut ga? atau tidur?”

“Engga, begitu nyampe rumah suami gw nanya, ‘Ko gak bawa makanan‘, gitu”, jawab beliau. Membuat saya tambah ngakak.

“Tuh, kan! apa-apa yang kita pikir mengenai whats after marriage itu nggak selalu benar, say”, kata saya.

Ini mengenai persepsi.

ON OFF

Ceritanya lagi di kamar hotel dan saya penasaran mampus sama yang namanya api unggun. Jadilah saya menyusun korek api yang ada di meja, dan menyulutnya untuk sekedar simulasi api unggun.

Mendadak mbak senior datang mencubit pipi saya, dan mengguyur api yang sedang membara dengan sebotol air mineral.

“Aiiiiiiiii!!! dasar bocah! gw gak jadi ke wc kalau gini! ntar gw lagi di dalem lu bakar-bakaran lagi! gimana kalau apinya nyampe ke atas trus alarm bunyi? keguyur air kita semua deh!”, cecarnya.

Lalu sesudahnya, sikap beliau tetap manis pada saya.

“Mbak, charger laptopnya nggak ada”, laporku. Panik.

Dengan sigan mbak senior menelepon rekannya, “Ini mana chargernya? waktu lo ambil ada chargernya ga? terakhir disimpen dimana?”, selidiknya.

Dan.
Oh No!
setelah diselusupi lagi,,,,

“Mbak, ternyata chargernya ada”, menggigit bibir, saya sodorkan kabel-kabel itu.

“Aiiiii! u are such,,,!”, aku keburu ngacir, menolak mendengar kalimat akhir.

Lalu malamnya, saat tidur bersama, mbak senior ini membolehkan aku menonton tayangan American Next Top Model di TV Kabel.

“Oh My God”, hanya itu komentarnya. Dengan syarat, seusai acara reality show tersebut, saya menemaninya menonton film horor yang beliau bawa.

On Off

Jadi, saya mengira bahwa, marriage itu mengajari on off.
Bagaimana kita deal with problem. Kita boleh marah pada suatu waktu, mengungkapkan kekecewaan, dan mengutarakannya. What to do and what’s not to do.

Tapi, begitu permasalahan itu selesai, gak dibawa berlarut-larut.
Done, next move.

Saya melakukan banyak sekali kesalahan selama bekerja. Lalu ditegur oleh mbak senior, tapi kemudian setelah masalahnya beres dan kami mengerjakan hal lain, maka mbak ini sudah melupakan kesalahan saya yang pertama dan ngobrol seperti biasa. Bahkan terkesan menunjukkan sayang.

Mungkin beliau sudah terbiasa dalam rumah tangganya.
Ketika bertengakr dengan pasangan, atau clash, maka masalahnya diselesaikan saat itu juga, dan ketika sudah ada jalan keluarnya, masalah tersebut tidak dibawa ngedumel sampai tidur atau worse, dibicarakan dengan teman-teman di kantor.

Its not happening.

There’s a cut after a line.
One to another is not connected.
People make mistakes.
Forgive, tell, learn.

Ini yang saya maksud dengan on off.
Bukan lagi seperti anak kecil yang memendam masalah dan memikirkannya hingga keesokan harinya.

Berlatih menginput data yang penting dan membuang yang hanya membuat loading lemot ke trash bin.

Sore itu, bos saya marah dan rekan saya tampak panik, karena ruang rapat di hotel sangat kecil.

Menghadapi situasi ini, mbak senior berkata, “Kita masih beruntung dapat ruangan di last minute. Hotel penuh. Kalau bapak mau acaranya tetap berlangsung ya pakai saja. Kalau tidak bubar jalan!”.

Memang benar. Sikap bijak, tegas dan tepat dibutuhkan di saat kritis.
Bukan mengedepankan ego, namun fokus pada solusi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s