Don’t You Remember?

Gara-gara nonton Regina “Indonesian Idol’ nyanyiin lagu “Don’t You Remember”-nya Adele, jadi cekidot lagu ini deh. Kira-kira begini liriknya…

When will I see you again?
You left with no goodbye,
Not a single word was said,
No final kiss to seal any scene,
I had no idea of the state we were in,

I know I have a fickle heart and a bitterness,
And a wandering eye, and heaviness in my head,

But don’t you remember?
Don’t you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more..

..hmm..
Saya paham apa yang dituliskan di lirik tersebut
Dan selepas baca lirik itu, saya buka twitter

Ada..

@Felixsiauw yang sedang berkicau tentang #MoveOn:
* belajar melupakan itu sama seperti belajar mencinta
| sama-sama haruskan waktu yg berjalan, sama-sama perlukan kesabaran

* jangan pikirkan kenikmatan maksiat yg ditinggal dibelakang
| bayangkan kenikmatan yang dijanjikan Allah yang bakal dijelang

* sibukkan diri di masjid Allah, kumpulkan diri dengan pejuang dakwah
| agar tak banyak pikiran salah, pikiran harus terus diarah

* awalnya mungkin terasa susah, kedepan semua akan baik-baik saja
| satu hari semua akan indah, saat hati terpaut Allah sahaja

Dan saya hanya bisa membaca, merenung dan nyengir.. 😀

Tu Sera Bien

Actually, thanks God Im being hurt. Coz then I grow strong.

Its a long way to go to understand ourselves.

There were days when the sun was so cruel
That all the tears turned to dust
And I just knew my eyes were
Drying up forever
* Its all coming back

Tu Sera Bien ♥

Tak Tok

Weekend ini, ketika menginap di hotel, mbak Cami dan mbak Neni berbagi cerita. Di awali dengan obrolan tidak penting seputar sepatu hingga akhirnya mereka berbagi tentang kerjaan.

“Mungkin lo pikir, kerjaan lo remeh, Lan. Tapi asal lo tau, semua orang mulai dari situ. Gw aja pas pertama kali masuk cumin ngurusin penomeran. Nah! Intinya adalah, kalau seseorang gak mau ngerjain hal-hal kecil, gimana dia bisa dipercaya untuk ngerjain hal-hal besar? Sedangkan orang besar itu harus merasakan pekerjaan yang simpel dulu, supaya nanti ketika jadi bos, kita bisa tau porsi-porsinya kalau menyuruh orang mengerjakan sesuatu, jadi kita nggak menganggap remeh orang lain”, ucap mba Cami tanpa busa.

Oleh karena itu, Senin pagi, ketika mentari menyembul malu, meski dengan sisa pegalnya kaki, ada sejumput semangat yang mewarnai langkah hari ini.

“Ah, rempong dah belanje ama lu pade! Gak lagi-lagi deh eike! Pake acara lu nyomot donut orang lagi! Gimana eike gak sport jantung bo!” cerocosnya.

“Hmm, Sar, setelah aku renungkan, bener juga sih kamu. Do guilty pleasure emang bikin ngerasa bersalah. Aku juga pernah tuh nyebrang di jalanan Jakarta tanpa lewat tangga. Aku ngikutin orang nekat. Terus  pas nengok ke sebelah kiri, ternyata ada busway yang siap melintas dan nglakson-nglakson! Eet dah! Aku langsung sprint aja gitu. Untung gak ketabrak! Alhamdulillah! Seru tapi menegangkan!”, begitu curhatku.

“Astajiiim dah, eike punya temen kayak yey! Semoga gak ketularan!”, ucapnya sambil mengusap wajah.

Aku dan Oksar berebut memencet tombol lift, sepatuku berbunyi lagi, “Tak tok tak tok!”.

Sambil menunggu, terdengar lagi bunyi “Tak tok tak tok!”.

“Berisik ah lu!”, umpat Oksar.

“Tak tok tak tok!”, sekali lagi bunyi itu terdengar. Oksar bingung karena aku diam di tempat, dia pun ikut-ikut menengok ke belakang.

Laksana protokoler menteri, mbak Cami dan mbak Neni berjalan ke arah kami dengan model sepatu yang sama.

“Ya Allah! Mbak Cami! Ngapain ikut-ikut pake sepatu kek gtu? Lani ama Neni ajah udah bikin berisik tau ngga?”, Oksar melotot.

“Makannya ikutan pake sepatu tak tok yuk? Ini trend baru di kantor kita”, ajak mbak Cami.

“Iiih, ogah bo! Dasar generasi tak tok!”, umpat Oksar, ngacir ke pintu lift yang terbuka.

Lalu aku, Mbak Cami dan Mbak Neni berlarian menubruk badan Oksar yang tambun. Bunyi sepatu  membahana di koridor kantor yang masih sepi.

“TAK TOK TAK TOK!”.

Donut

“Mba, aku cape nih!”, rengekku.

“Ya ampun Lani, baru segitu doang! Yaudah duduk dimana kek! blom beres nih window shopping-nya!” kata mba Cami.

“Malu deh eike! Semua toko dijabanin, baju-baju dicobain, tapi kagak ada yang dibeli!”, cetus Oksar.

“Mending kita capcus yok? Nongkrong tuh di corner donut”, Oksar meraih tanganku ke tempat yang dia tunjuk.

See you there yah guys! Ntar kita nyusul!”, mba Cami bergerak ke toko selanjutnya sambil sedikit berteriak.

“Wah, aku ikut-ikut jadi anak gahul Jekate nih! Mana barang-barang disini bikin aku alergi lagi! Minimal sejutaan ciiiiiyn! Gak nahan deh eike!” aku nyeletuk dengan gaya Oksar.

“Barang-barang disini buat dipajang doang Lan, bukan untuk dibeli!”,  Oksar pasang tampang flat.

Haus sekaligus lapar mulai menjalar kala aku dan Oksar celingak-celinguk dari tempat duduk di padatnya corner donut. Emang salah jalan-jalan waktu weekend. Seat are fully book!

Darl, di sono, noh!”, mulut Oksar monyong-monyong mengarah ke sofa gede, di kanan ada keluarga yang sedang berkumpul, dua wanita dan satu anak beralis dan bermata arab. Di kiri, orangnya siap beranjak dari meja. Hm, cukup nyaman pikirku.

Dengan uang yang tersisa, aku yang sudah cukup kalap belanja hanya mampu memesan yoghurt double. Slurp! Sekali suap saja, sudah mampu menstimulus lambungku untuk memasukkan lebih banyak. Duh, nampaknya hasil fermentasi low fat ini tidak mampu membendung keroncongnya perutku!

Aku melirik ke meja sebelah, ada 1 donut yang tersisa! Semakin memicingkan mata, aku tahu ia belum tersentuh sama sekali!

Oksar masih lahap dengan Hot Choco pesanannya ketika seorang mba-mba hebring menyapa, “Mba, disini ada orang nggak?”, tanyanya sopan. Aku menggeleng ragu, takut mereka duduk disebelah.

“Kosong kok mbak, duduk ajah disitu”, tiba-tiba Oksar menjawab.

“Oksar!”, aku menyenggol sikutnya.

“Kok, lu ngomong gitu sih? Itu kan ada donut di meja sebelah, gw mupeng!”, aku berbisik tak rela.

“Habis kasian, kan? Kalau gak dapet tempat duduk gimana? Tadi ajah kita susah cari-cari”, jelasnya.

“Ah elu! Ama cewe cantik aja! Ambil tuh donut-nya”, paksaku.

Bak seorang deketktif, Oksar mengendap-endap menyeret donut di meja sebelah. Peduli deh orang ngomong apa. Lapeeer beraaatt! Dan benar saja, semenit kemudian, mbak-mbak hebring tersebut sudah meminta pramusaji membersihkan mejanya. Huff!

“Sekali-kali mungkin kita perlu merasakan guilty pleasure kali yah”, aku mengedikkan mata pada Oksar, padahal jantungku berdebar kencang.

Oksar cuma manyun.

Akhirnya mbak Cami dan mbak Neni bergabung dengan kami.
Mbak Cami menenteng sebuah tas, hmm, sepertinya aku tahu apa isinya.

We’ll see.

Segelas Air

Hari ini adalah Jum’at, hari batik sedunia. Kutilik-tilik lagi di kaca lift.
Aku senyum asam manis gula jawa. Bagaimana tidak? Ini adalah Jum’at,
hari kadir menyambut weekend!

“Lan, tolong kamu fotokopi ini dong”, pinta Sang Bos.
Di mejanya bertumpuk lembaran disposisi. Aku menyambar 2 kertas A4 tersebut
dan say hi to dearest mesin photocopy.

Mesin fotokopi raksasa itu berada di sebelah mesin fax.
Agak geli rasanya ketika mengirim fax pertama kali, atau biarlah dikatakan katro.
Aku tidak tahu bagaimana caranya, hanya melototi tombol-tombol bergagang telepon.

Beruntung sekretaris bos-ku lewat, “Bu Neni, ini gimana sih caranya? Saya mau kirim fax”,
tanyaku polos.

“Oh, simpen aja kertasnya disini, Neng. Ada tulisannya put the paper here, terus kamu pijit tombol monitor dan ketika nomer yang dituju. Kalo disana sudah kasih sinyal, kamu pencet tombol send copy, udah deeeh!”, ucap Mba Neni ramah sekali.

Sama hal-nya dengan mesin fotokopi, “Mas Slamet, ini mau difotokopi 10 kali, gimana dong caranya?”, aku bertanya pada office boy di kantor.

“Gini, mbak, tekan jumlah yang mau dikopi, lalu pencet tombol yang besar”, katanya.

“Sini mana? Saya kopiin”, dia menawari bantuan, dan aku memperhatikan cara kerjanya.

Sekarang, Alhamdulillah, tentunya aku sudah khatam dengan sekelumit tugas administrasi itu, dari mengkonsep surat, print surat, merancang amplop, mencari database alamat surat, bergaul dengan faximile, mesin fotokopi, scanner, paper clip, binder clip, pembolong kertas jumbo, apa aku buka usaha percetakan saja yah? Hihihi, semua alat yang pernah kulihat di usaha printing ada, bedanya, disini self service.

Ow, I know what to do next, pasti setelah ini, kertas-kertas ini harus di cap.

Belum selesai aku bengong, terdengar bunyi, “Tak tok tak tok”.

‘Pasti mba Neni’, batinku.

“Heeeiii say! Lagi ngapain?”, tanyanya riang. Aku cuma mengacungkan stempel ke udara.

“Cam, tolong buat surat tugas segera dong, nih ada rapat dadakan malem ini”, ucap mba Neni.

Bagaikan makan salak keselek sampe biji-bijinya.
Aku yang sedang menuangkan air panas ke dispenser pun kaget, walhasil jemari kananku merah-merah.

‘Ya Tuhan! Lembur lagi?’, keluhku tidak rela.

Akhirnya malam itu, kami terpaksa ke Bogor, meeting disana. Semua bahan dan bentakkan sudah kenyang dituangkan dalam power point.

Di tempat pertemuan, Mbak Neni sudah siap dengan gaun malamnya.
“Tak tok tak tok”,  langkahnya menyambut kami.

“Tak tok tak tok”, aku mendekatinya.

“Ya ampuuun! Lani! Lu sama-sama aja ah ama Mbak Neni, ikut-ikutan bunyi sepatunya!”, aku menggigit lidah, Mbak Cami ngomel lagi.

Office Hour

Arsip-arsip masih berserakan di meja kerja.
Namun jemariku, sudah lelah mengetik.

Email sent!, maka pekerjaan hari ini kunyatakan selesai!

Subhanallah, lelahnya.

Benar tidak salah Ibuku sering berteriak dulu,
“Kamu kira cari uang gampang? Beli mainan mulu!”.

Yah, ternyata bekerja memang menguras tenaga.

Masih dengan perasaan tidak bersalah, hanya kupandangi lembar demi lembar,
map demi map, arsip-arsip kantor.

‘Besok saja’, batinku.

‘Aku butuh istirahat’, mantap, aku berkilah. Sementara rekan-rekan seperjuanganku masih bercanda ria dengan stamina tinggi, berkelakar tentang berbagai hal yang lucu hingga yang jorok. Yah, hiburan ringan pereda stress.

Dan kenapa oh kenapa?
Pria di depanku ini merokok, heh? Sudah tahu ini ruangan ber-AC.
Tapi biarlah, toh dia tampan dan sangat pintar. Jadi seharusnya dia tahu konsekuensinya.

Kalau boleh kutambahkan komentarku, rokok dan kopi yang sering dihisapnya, membuat suaranya serak-serak bass. Membuat renyah suaranya ketika memanggil, “Lan, tolong carikan surat nomor ini dimana? Thank you!”.

Dan dengan sigap sedikit gagap, aku akan melesat membongkar box arsip surat.

Sudah hampir waktu pulang, saat tamu untuk pria di depanku ini hadir dengan bika Ambon-nya. Lapar entah kemana, hanya pikiran akan kasur di kost yang terbayang.

Menghitung menit, kurapikan tas dengan jengah.
Melangkah dengan polah, “Mba Cami, aku duluan yaaah!”, pamit pada seniorku.

Dia manyun-manyun, disposisinya masih buanyak!
Ahaha, selamat menikmati, cucianku sudah menanti!

Aku pun melangkah dengan girang, “TAK TOK TAK TOK”.

“Berisiiiiiiiiiiiikkk!!!”, omel mbak Cami.

Kalih

Open battle“, ucap Libby.

“Tapi aku gak mau bersaing sama temanku sendiri”, jawab Kalih.

Do u like him or not? If u want him, u have to be ready for an open battle“,
Libby menggretak.

Kening Kalih mengerut.

“Kamu yakin, dia ngedatengin rumah kamu aja?”, Libby mengajak Kalih berpikir logis.

“Iya sih, dia juga suka mengantar Tia pulang”, respon Kalih.

Libby mengangkat dagu ke atas.

U know what kind of man, he is!”, pungkas Libby, kembali berkonsentrasi pada notulensi rapat yang harus segera dikirim.