Donut

“Mba, aku cape nih!”, rengekku.

“Ya ampun Lani, baru segitu doang! Yaudah duduk dimana kek! blom beres nih window shopping-nya!” kata mba Cami.

“Malu deh eike! Semua toko dijabanin, baju-baju dicobain, tapi kagak ada yang dibeli!”, cetus Oksar.

“Mending kita capcus yok? Nongkrong tuh di corner donut”, Oksar meraih tanganku ke tempat yang dia tunjuk.

See you there yah guys! Ntar kita nyusul!”, mba Cami bergerak ke toko selanjutnya sambil sedikit berteriak.

“Wah, aku ikut-ikut jadi anak gahul Jekate nih! Mana barang-barang disini bikin aku alergi lagi! Minimal sejutaan ciiiiiyn! Gak nahan deh eike!” aku nyeletuk dengan gaya Oksar.

“Barang-barang disini buat dipajang doang Lan, bukan untuk dibeli!”,  Oksar pasang tampang flat.

Haus sekaligus lapar mulai menjalar kala aku dan Oksar celingak-celinguk dari tempat duduk di padatnya corner donut. Emang salah jalan-jalan waktu weekend. Seat are fully book!

Darl, di sono, noh!”, mulut Oksar monyong-monyong mengarah ke sofa gede, di kanan ada keluarga yang sedang berkumpul, dua wanita dan satu anak beralis dan bermata arab. Di kiri, orangnya siap beranjak dari meja. Hm, cukup nyaman pikirku.

Dengan uang yang tersisa, aku yang sudah cukup kalap belanja hanya mampu memesan yoghurt double. Slurp! Sekali suap saja, sudah mampu menstimulus lambungku untuk memasukkan lebih banyak. Duh, nampaknya hasil fermentasi low fat ini tidak mampu membendung keroncongnya perutku!

Aku melirik ke meja sebelah, ada 1 donut yang tersisa! Semakin memicingkan mata, aku tahu ia belum tersentuh sama sekali!

Oksar masih lahap dengan Hot Choco pesanannya ketika seorang mba-mba hebring menyapa, “Mba, disini ada orang nggak?”, tanyanya sopan. Aku menggeleng ragu, takut mereka duduk disebelah.

“Kosong kok mbak, duduk ajah disitu”, tiba-tiba Oksar menjawab.

“Oksar!”, aku menyenggol sikutnya.

“Kok, lu ngomong gitu sih? Itu kan ada donut di meja sebelah, gw mupeng!”, aku berbisik tak rela.

“Habis kasian, kan? Kalau gak dapet tempat duduk gimana? Tadi ajah kita susah cari-cari”, jelasnya.

“Ah elu! Ama cewe cantik aja! Ambil tuh donut-nya”, paksaku.

Bak seorang deketktif, Oksar mengendap-endap menyeret donut di meja sebelah. Peduli deh orang ngomong apa. Lapeeer beraaatt! Dan benar saja, semenit kemudian, mbak-mbak hebring tersebut sudah meminta pramusaji membersihkan mejanya. Huff!

“Sekali-kali mungkin kita perlu merasakan guilty pleasure kali yah”, aku mengedikkan mata pada Oksar, padahal jantungku berdebar kencang.

Oksar cuma manyun.

Akhirnya mbak Cami dan mbak Neni bergabung dengan kami.
Mbak Cami menenteng sebuah tas, hmm, sepertinya aku tahu apa isinya.

We’ll see.

Advertisements