Segelas Air

Hari ini adalah Jum’at, hari batik sedunia. Kutilik-tilik lagi di kaca lift.
Aku senyum asam manis gula jawa. Bagaimana tidak? Ini adalah Jum’at,
hari kadir menyambut weekend!

“Lan, tolong kamu fotokopi ini dong”, pinta Sang Bos.
Di mejanya bertumpuk lembaran disposisi. Aku menyambar 2 kertas A4 tersebut
dan say hi to dearest mesin photocopy.

Mesin fotokopi raksasa itu berada di sebelah mesin fax.
Agak geli rasanya ketika mengirim fax pertama kali, atau biarlah dikatakan katro.
Aku tidak tahu bagaimana caranya, hanya melototi tombol-tombol bergagang telepon.

Beruntung sekretaris bos-ku lewat, “Bu Neni, ini gimana sih caranya? Saya mau kirim fax”,
tanyaku polos.

“Oh, simpen aja kertasnya disini, Neng. Ada tulisannya put the paper here, terus kamu pijit tombol monitor dan ketika nomer yang dituju. Kalo disana sudah kasih sinyal, kamu pencet tombol send copy, udah deeeh!”, ucap Mba Neni ramah sekali.

Sama hal-nya dengan mesin fotokopi, “Mas Slamet, ini mau difotokopi 10 kali, gimana dong caranya?”, aku bertanya pada office boy di kantor.

“Gini, mbak, tekan jumlah yang mau dikopi, lalu pencet tombol yang besar”, katanya.

“Sini mana? Saya kopiin”, dia menawari bantuan, dan aku memperhatikan cara kerjanya.

Sekarang, Alhamdulillah, tentunya aku sudah khatam dengan sekelumit tugas administrasi itu, dari mengkonsep surat, print surat, merancang amplop, mencari database alamat surat, bergaul dengan faximile, mesin fotokopi, scanner, paper clip, binder clip, pembolong kertas jumbo, apa aku buka usaha percetakan saja yah? Hihihi, semua alat yang pernah kulihat di usaha printing ada, bedanya, disini self service.

Ow, I know what to do next, pasti setelah ini, kertas-kertas ini harus di cap.

Belum selesai aku bengong, terdengar bunyi, “Tak tok tak tok”.

‘Pasti mba Neni’, batinku.

“Heeeiii say! Lagi ngapain?”, tanyanya riang. Aku cuma mengacungkan stempel ke udara.

“Cam, tolong buat surat tugas segera dong, nih ada rapat dadakan malem ini”, ucap mba Neni.

Bagaikan makan salak keselek sampe biji-bijinya.
Aku yang sedang menuangkan air panas ke dispenser pun kaget, walhasil jemari kananku merah-merah.

‘Ya Tuhan! Lembur lagi?’, keluhku tidak rela.

Akhirnya malam itu, kami terpaksa ke Bogor, meeting disana. Semua bahan dan bentakkan sudah kenyang dituangkan dalam power point.

Di tempat pertemuan, Mbak Neni sudah siap dengan gaun malamnya.
“Tak tok tak tok”,  langkahnya menyambut kami.

“Tak tok tak tok”, aku mendekatinya.

“Ya ampuuun! Lani! Lu sama-sama aja ah ama Mbak Neni, ikut-ikutan bunyi sepatunya!”, aku menggigit lidah, Mbak Cami ngomel lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s