Tak Tok

Weekend ini, ketika menginap di hotel, mbak Cami dan mbak Neni berbagi cerita. Di awali dengan obrolan tidak penting seputar sepatu hingga akhirnya mereka berbagi tentang kerjaan.

“Mungkin lo pikir, kerjaan lo remeh, Lan. Tapi asal lo tau, semua orang mulai dari situ. Gw aja pas pertama kali masuk cumin ngurusin penomeran. Nah! Intinya adalah, kalau seseorang gak mau ngerjain hal-hal kecil, gimana dia bisa dipercaya untuk ngerjain hal-hal besar? Sedangkan orang besar itu harus merasakan pekerjaan yang simpel dulu, supaya nanti ketika jadi bos, kita bisa tau porsi-porsinya kalau menyuruh orang mengerjakan sesuatu, jadi kita nggak menganggap remeh orang lain”, ucap mba Cami tanpa busa.

Oleh karena itu, Senin pagi, ketika mentari menyembul malu, meski dengan sisa pegalnya kaki, ada sejumput semangat yang mewarnai langkah hari ini.

“Ah, rempong dah belanje ama lu pade! Gak lagi-lagi deh eike! Pake acara lu nyomot donut orang lagi! Gimana eike gak sport jantung bo!” cerocosnya.

“Hmm, Sar, setelah aku renungkan, bener juga sih kamu. Do guilty pleasure emang bikin ngerasa bersalah. Aku juga pernah tuh nyebrang di jalanan Jakarta tanpa lewat tangga. Aku ngikutin orang nekat. Terus  pas nengok ke sebelah kiri, ternyata ada busway yang siap melintas dan nglakson-nglakson! Eet dah! Aku langsung sprint aja gitu. Untung gak ketabrak! Alhamdulillah! Seru tapi menegangkan!”, begitu curhatku.

“Astajiiim dah, eike punya temen kayak yey! Semoga gak ketularan!”, ucapnya sambil mengusap wajah.

Aku dan Oksar berebut memencet tombol lift, sepatuku berbunyi lagi, “Tak tok tak tok!”.

Sambil menunggu, terdengar lagi bunyi “Tak tok tak tok!”.

“Berisik ah lu!”, umpat Oksar.

“Tak tok tak tok!”, sekali lagi bunyi itu terdengar. Oksar bingung karena aku diam di tempat, dia pun ikut-ikut menengok ke belakang.

Laksana protokoler menteri, mbak Cami dan mbak Neni berjalan ke arah kami dengan model sepatu yang sama.

“Ya Allah! Mbak Cami! Ngapain ikut-ikut pake sepatu kek gtu? Lani ama Neni ajah udah bikin berisik tau ngga?”, Oksar melotot.

“Makannya ikutan pake sepatu tak tok yuk? Ini trend baru di kantor kita”, ajak mbak Cami.

“Iiih, ogah bo! Dasar generasi tak tok!”, umpat Oksar, ngacir ke pintu lift yang terbuka.

Lalu aku, Mbak Cami dan Mbak Neni berlarian menubruk badan Oksar yang tambun. Bunyi sepatu  membahana di koridor kantor yang masih sepi.

“TAK TOK TAK TOK!”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s