B r a V e

This is just a random believe.

Dalam hidup, setiap hari-nya, kita deal with sama yang namanya ketidak-ideal-an.

Hari Ahad kemarin, saya menghabiskan waktu bersama adik yang baru saja naik ke kelas 4 SD. Wow! pretty shocking things I cant tell happened 😀
So we need some kind of ice breaking.

Saya memutuskan untuk mengajak adik saya menonton tayangan untuk semua umur,
berjudul Brave.

Gadis berambut orange tersebut sama sekali bukan penyihir, meski tampangnya misterius. Ia adalah seorang Putri dari Raja Viking.

Konflik yang diangkat cukup classic, yaitu seorang putri raja yang menolak dipaksa menikah, karena menginginkan kebebasan.

Hingga tibalah pertikaian cukup seru antara Putri Merida dengan Sang Ratu.

Ibunda Merida mengatakan, “We cannot always running away from who we are!”.

Kalimat ini, simple namun menusuk.
Saya tersadar, ya benar sekali, terkadang dalam hidup kita menyembunyikan diri kita,
pretending to be someone that everybody will like..

Tentu saja semua orang menyukai orang yang loveable,
namun yang saya tangkap dari kalimat tersebut adalah,
kita harus belajar menerima diri kita sendiri.

We are not perfect.

It’s sucks to be not an option.

Ya! kita tidak perfect, kita tidak seperti orang lain yang lebih kaya, lebih rupawan, lebih mannerful,
lebih soleh..

Kita tidak perfect,
karena itu membandingkan betapa buruknya dan betapa baiknya kehidupan kita dengan orang lain bukanlah ide yang bagus.

Kita tidak bisa terus lari dari who we really are.
Mungkin kita memang tomboy, berambut urakan, suka berkuda dan memanah, seperti Merida.

It’s just not her
, untuk berdandan anggun seperti ibunya, berkata lemah lembut, dan tidak memegang senjata.

There’s nothing inside of her
, yang membuatnya ingin menata rambut, dan berdansa untuk membuat kagum para pria.

Its not in her blood to be the beauty princess.
She is adventurous.

Bukan berarti menjadi putri cantik dan kalem tidak bisa diusahakan.
Tapi salahkan kita untuk mengekspresikan diri kita?

Yang perlu kita ketahui bersama adalah,
we dont have to be the same like others.

Masing-masing manusia memiliki pola hidup sendiri,
jalan hidup yang Tuhan pilihkan berbeda untuk satu dan lainnya.

Tentu saja dalam hidup kita dihadapkan pada banyak pilihan,
namun selalu tersedia option menjadi baik. Bukan berarti harus seragam,
dengan karakter masing-masing dan rasa saling menghargai,
we could become a better us.

Dan, kalau dianalogikan dengan fantasy movie Harry Potter,
bukankah Griffindor seem to be the best?
Siapa yang tidak mengidolakan anak-anak baik dari Griffindor?

But, I have to make a decission
However I push myself to be a good Griffindor or sweet Raveclaw,
or the peaceful Hufflepuf
,
it’s just not me

I’m more like slytherin
I dont know why I’m rude,
I speak loud, I can’t act nice,
maybe it’s just not me

Merida have to accept that she is not some kind of princess who stick to the make up,
and stitching. She use the arrows to lead the people.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. sundariekowati says:

    Ayoooo nonton yul! 🙂 rating film-nya tinggi juga ko

  2. yulijannaini says:

    wahh jadi pengen nonton 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s