Sebut saja ‘Puspa’

Hari itu, aku pulang kantor lebih awal. Begitu sampai kos, ada yang menyambut, “Mbake, wes mulih? Aku bikinin teh anget yah?”

Sebut saja Puspa (nama sebenarnya 😀 ), wajahnya manis, badannya tinggi semampai, ayu tenan khas Semarang (lho? emangnya oleh-oleh?).

“Hmmm, boleh”, jawabku heran.
Aku mendekatinya yang asik di dekat kompor, “Kamu lagi apa, Pus?”, selidikku penasaran.

“Aku lagi masak mba’e, tadi beli sayuran di supermarket, perutku gak penak mba’e, dari kemarin belum ma’em sayuran, jadi aku mau buat cah kangkung sekarang”, jelasnya.

Aku tercekik sebentar.
Kemudian dia mengeluarkan senjata-senjatanya dari Tupperware mungil.
Ada garam, merica, bawang putih, gula putih, pala. Hwow! Ruaarrr biasa!

Bau bawang putih yang disangrai pun menggoda hati dan lidah, ada yang aneh dengan dia, sebelum dimasukkan ke wajan, Puspa menekan-nekan bawang putih dengan pisau, dan memotongnya.

“Kok gitu, Pus caranya?”, tanyakku pura-pura bloon.

“Iya mbake, ini diajari tanteku lho, mamaku kan chinesse, jadi kalo di keluarga mama, kalo motong-motong bawang tuh kayak gini mbake, supaya lebih meresap bawangnya”, jelasnya lagi, dan aku ber-Oooo lebar.

Ya, semua tahu yang rajin bangun jam 5 dan menanak nasi cuma Puspa, dia tidak hanya gemar masak, namun juga bersih-bersih, dari mulai rajin mandi, sampai pakai lotion, membersih wajah, parfum, sering dia bilang, “Mbake wes adus rung? Wong wedho itu harus tangi subuh-subuh, adus opo mbarang, bersih-bersih, biar enteng jodoh“, selorohnya.

Dan, “kakinya udah dicuci belum? kalau pulang itu cuci kaki biar setan yang ketemu di jalan ilang”, begitu ujarnya. A very javanese believe.

Kalau weekend tiba, saat yang lain sibuk tidur dan bermain keluar kost, Puspa akan mencuci seprai, selimutnya, menelanjangi sarung bantal dan gulingnya, lalu menjemur. Dia juga akan mengumpulkan rambut-rambutnya yang berjatuhan di lantai, menyapu serta mengepel lantainya.

Tidak hanya itu, sepatu pun ia sikat, tidak lupa, setelah ruangan bersih, ia semprotkan pewangi ruangan agar kamarnya semerbak kemanggi.

Pernah  dia menyodorkan lap pel basah ke depan kamarku,
“Udah 3 bulan nggak di pel tho lantainya? Ntar daki-dakinya nempel di lantai, mbake”, katanya.

Dia pun prihatin dengan sepatu cream bladusku, “Dulu warnanya putih”, kataku nyengir.

“Beli semir putih, mbake, biar warnanya bagus lagi”, saran jitunya.

Dan sembari mengingat semua kegiatan yang dia lakukan, teh manis hangat pun sudah tersedia di tangaku.

“Diminum mbake, tapi masih panas, kalau mau teh-nya dingin, aku masukkin kulkas dulu. Trus kita makan sama-sama ya, aku udah masih ada nasi, dan tadi juga beli telor sama sosis, bisa kita goreng, yah mbake?”, tawarnya.

Aku tak sanggup menahan lagi dan nyeplos, “HAHAHAHA! beruntung banget yah, yang jadi suami kamu!”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s