Introspeksi

Sedikit tentang #introspeksi diri.
Kemarin malam saya berkicau tentang introspeksi ini, dan lucunya kata yang saya gunakan salah.

Dengan PD-nya saya menulis ‘instropeksi’ sedangkan yang benar adalah ‘introspeksi’. The words if flying over my head 😀

Ok, jadi untuk menebus keteledoran, saya tuangkan juga mengenai introspeksi disini. Mohon dikoreksi kalau ada kata yang kepeleset lagi ya.

Begini versi lengkapnya.

Tidak dapat dipungkiri, Ramadhan adalah bulan yang paling indah dan produktif. Apa saja yang kita kerjakan jadi lebih bernilai dan rasanya tidak ada kesia-siaan.

Selepas dari Ramadhan, saya berusaha untuk disiplin pada diri sendiri untuk tetap melaksanakan amalan yang biasa saya lakukan di bulan Ramadhan. Namun, 3 hari yang saya lalui kemarin benar-benar merupakan tamparan bagi saya. Karena ada beberapa hal yang menganggu.

Saya dihadapkan pada sebuah kondisi yang secara reflek memicu emosi saya keluar. Jujur, saya menyesal. Hari pertama saya meledak. Hari kedua saya berkoar-koar. Hari ketiga, saya berusaha untuk tidak se-rude hari-hari sebelumnya.

Saya mencoba untuk menge-rem mulut saya dari kalimat-kalimat negatif.

Teman saya mengatakan bahwa, sesungguhnya amalan yang kita lakukan itu bermanfaat bagi kita sendiri. Allah SWT tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari ibadah yang kita lakukan.

Ini membuat saya sadar, Oh benar! dengan sholat tepat waktu, melengkapinya dengan solat rawatib, tilawah, semua hal tersebut membantu kita untuk bersikap baik, juga menjaga lisan kita.

Ujian keimanan itu meningkat.
Harusnya tidak ada sikap reaktif dari dalam diri saya ketika mendapatkan kondisi yang buruk. Karena in everytime we get lost, we can always pray and look for peace to Allah.

Katakanlah saya failed disini.

Dan akhirnya saya menemukan satu kata tersebut, introspeksi. Mungkin saja kenapa ada orang bersikap kurang baik di sekitar kita, karena kita juga secara tidak sadar masih menunjukkan sikap kurang baik.

Seperti peribahasa, gajah di pelupuk mata tidak tampak, namun semut di seberang jalan terlihat.

Melihat kesalahan orang lain dan memberikan justifikasi terhadap orang lain terasa lebih mudah ketika merasa sudah lebih baik atau berada di kondisi yang lebih ‘safe’ dari orang yang tidak kita sukai atau orang yang bersikap kurang baik pada kita.

Oleh karena itu sering dikatakan bahwa ujian yang lebih sulit adalah ketika kita dalam kondisi yang baik. Karena dalam kondisi melarat kita akan lebih mudah memohon ampun dan menangis-nangis meminta rahmat dari Allah SWT.

Ini tantangan yang cukup tricky menurut saya.

Butuh kendali diri dan lingkungan yang kondusif untuk membuat kita istiqomah dalam kebaikan. Banyak berdzikir, membaca Qur’an dan berdoa insya Allah membantu kita menjaga lisan kita.

Sebelum berceloteh tentang orang lain, cobalah untuk take a look inside of yourself. Fokus pada perbaikan diri dulu, jangan rusak amalan yang sudah kita tabung seharian dengan berkomentar negatif kepada orang lain.

Beware, your words might not only hurt others but also yourself.
Bisa saja suatu saat kata-kata yang kita lontarkan menjadi bumerang untuk diri kita sendiri.

Dear friends!
Mari kita senantiasa saling mengingatkan dan tak jemu ber-instrokpesi.

Advertisements

Sweet 25!

Dan ingatlah ketika Tuhan-Mu memaklumkan, ” Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari  (nikmat-Ku), maka pasti azabku sangat berat”.
[QS. Ibrahim: 7]

“Ibaratnya nih ya, kita kasih uang ke pengemis. Pengemis yang kita kasih itu terus ngomel-ngomel karena cuma kita kasih dikit. Lalu kita kasih dengan jumlah yang sama ke pengemis yang lain, dan dia jadi sangat berterimakasih. Gimana perasaan kita?”, tanya teman saya.

“Pasti kan kita merasa seneng sama pengemis yang berterimakasih itu meski ga seberapa yang kita kasih bahkan kita pengen ngasih yang lebih, kan?”, ia melahap jawabannya sendiri.

“Begitu juga Tuhan. Kalau kita bersyukur, Tuhan akan memberikan yang lebih lagi pada kita. So, kalau jalan yang kamu lalui sekarang agak ber-aral. Just do it. Toh track-nya sudah mudah”, saya manggut-manggut mendengarkan.

“Gak mungkinlah, semudah itu mendapatkan impian. Pasti bakal ada gesekan-gesekan kecil”, ucapannya merasuk jiwa.

*credit for Delima 😉

Ya benar, dunia barangkali menawarkan persaingan yang ketat pada kita. Jika kita turuti, semakin kalap dan silau-lah kita, hingga life style yang dibangun bisa membuat kita tercekik, saking tidak pernah cukup-nya tuntutan dalam hidup.

Lihat orang lain sekolah, pengen sekolah. Lihat orang lain jadi pengusaha, pengen jadi pengusaha, lihat orang lain good looking, jadi pengen permak diri. Lihat orang lain berkeluarga, pengen nikah, punya anak dan seterusnya.

Perlombaan untuk memenuhi kebutuhan duniawi idan prestige untuk membuktikan bahwa kita ‘lebih’ dari yang lain tidak akan pernah usai. Dan hal tersebut melelahkan.

Seadainya kita melabuhkan semua impian kita pada Allah SWT, tentu semua jadi lebih bermakna, dan lebih indah. Lebih tenang, lebih ringan.

Well, tentu saja kita boleh menggantungkan impian setinggi langit, maupun di atasnya langit, atasnya, dan atasnya lagi. Tuh kan, langit aja ada beberapa lapisan.

Sedikit refleksi, saya juga kadang berharap saya begini dan begitu seperti orang-orang lain yang terlihat keren di mata saya. Dan tuntutan terhadap diri ini terus melunjak.

At some point I’m tired.
But somehow at our lowest point, Allah SWT send us the little angles.

Two days ago is happened to be my Birthday.
I even forget it!

When my friends asked me to gathered in a restaurant, I was thinking that my kost friend just want to have a reunion since we were split apart. But then, they came with a birthday cheesecake!

How sweet 🙂


Nah, kan di gersangnya dunia ini masih ada kebaikan yang tidak terduga-duga. Hal-hal seperti ini terkadang luput untuk kita syukuri. Teman-teman yang menyanyangi kita, kesehatan, keimanan adalah hadiah yang jauh lebih berharga dari Allah SWT ketimbang harta, dan yang lainnya.

Ada hal-hal kecil yang bisa kita syukuri dalam hidup kita, kalau kita mau menaruh perhatian pada hal kecil dan hal-hal rutin yang terjadi pada hidup kita.

Saya pribadi merasa diingatkan untuk bersyukur, Alhamdulillah Allah menyampaikan saya pada usia 25 tahun, dan masih diizinkan untuk memperbaiki diri.

Thanks Ya Allah.
I love YOU the most! 😉

To all my good friends:
I’m so grateful to be surrounded by u guys.
U are all a true inspiration for me!

Today’s Quotte

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu
yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku
dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai;
dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu
ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

[QS. An-Naml:19]

Jilbab

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 kurang dan perut keroncongan. Saya dan teman-teman pun memberondong sebuah tempat makan.

Duduk berhadapan, baik pria dan wanita.

Setelah memesan berbagai hidangan, kami pun mengobrol soal beberapa hal. dan teman-teman pria mulai berkelakar.

“Itu kenapa sih, bajunya bagian atasnya ga dikancingin aja?”, tanya seorang pria.

Mendengar pertanyaan seperti itu saya bergidik dan langsung memegang baju saya. Oiya! saya lupa, saya mengenakan jilbab jadi bagian depan badan saya tertutupi.

Fyuh! lega.
Its not me.

Candaan teman-teman pria tersebut sontak membuat saya panik dan sadar seketika, bahwa pilihan berkerudung adalah solusi tepat untuk melindungan kehormatan seorang wanita.

Kaum wanita akan lebih aman dari pandangan pria. Dan juga membuat pria sangat hati-hati memandang kita.

Let’s take a look this ayat:

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…”

[QS. An-Nur:31]

Ya, jangan lupa untuk mengulurkan kain kerudung ke dada.

Dan agar lebih leluasa dalam beraktivitas, marilah kita memakai pakaian yang juga tidak membatasi ruang gerak kita, yaitu: berjilbab.

Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ahzab: 59,

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”.

Jilbab disini didefinisikan sebagai sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutupi kepala, wajah dan dada. Ada juga yang mengartikan jilbab adalah pakaian yang menutupi tubuh wanita, dan hanya ditampakkan bagian tubuh yang biasa terlihat, yaitu wajah dan telapak tangan.

Manfaat dari berjilbab ini, antara lain, seperti yang sudah disebutkan di atas, adalah untuk melindungi diri kita, dan membuat kita merasa lebih aman dalam beraktivitas.

Saya pribadi merasakan manfaatnya, bagaimana dengan Anda? 🙂

6 Pertanyaan Imam Al-Ghazali

Hari ini saya membaca twit yang luar biasa dari seorang teman, dan oleh karena itu, saya ingin merekapnya disini agar dapat dibaca ulang oleh saya pribadi, dan juga teman-teman lainnya.

Begini ceritanya:

Pada suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Kemudian beliau bertanya tentang 6 hal kepada murid-muridnya.

1. Pertanyaan pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
2. Pertanyaan kedua, “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”
3. Pertanyaan ketiga, “apa yang paling besar di dunia ini?”
4. Pertanyaan keempat, “apa yang paling berat di dunia ini?”
5. Pertanyaan kelima, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”
6. Pertanyaan keenam, “Apa yang paling tajam di dunia ini?”

Berikut jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut:

1. Jawaban pertama, “Yang paling dekat dengan kita adalah KEMATIAN, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati”.
2. Jawaban kedua, “Yg paling jauh adalah MASA LALU, krn masa lalu tidak akan pernah kembali”.
3. Jawaban ketiga, “Yg paling besar di dunia adalah NAFSU, krn kita srg tdk sanggup menahan nafsu diri”.
4. Jawaban keempat, “Yg paling berat di dunia adalah memegang AMANAH, byk orang tdk mampu melakukannya”.
5. Jawaban kelima, “Yg paling ringan di dunia adalah MENINGGALKAN SHALAT. Manusia sering melakukannya”.
6. Jawaban keenam, “Yg paling tajam di dunia adalah LIDAH MANUSIA, krn bs lebih tajam dr sebilah pedang”.

source: @MuhammadAssad