Renggandis

“Aku tidak mengerti mengapa kau terus menerus berkata, bahwa kau inferior complex, Renggandis! Aku tidak mau mendengarnya lagi!”, bentaknya.

Renggandis meraung-raung.

“I don’t understand, what is it with inferior complex, Cia! She keep saying it. If she knows what she feel, why didn’t she fix it up?”, Raga mempercepat langkahnya, meninggalkan rumah sakit.

“At least, why me? Why me?”, Raga menuntut haknya.

“Call me, back, Cia!”, Raga memutus pesan mailbox itu.

***

Daun-daun berguguran, dan seorang anak kecil berayun mengikuti angin, badannya yang ringan menghempas ke udara, tak lama ia pun terjatuh ke tanah. Kepalanya terpukul bangku dari batang pisang yang menggantung di halaman sekolah.

Sekelompok anak laki-laki menggusurnya, dan memenuhi pipinya dengan tamparan. Badan yang lunglai dibawa pulang, kakinya sakit ditendang-tendang.

“Renggandis! Mana penghapusmu? Kenapa sudah kau hilangkan lagi! HAH!”, sebuah suara menggeretaknya.

“Kau pikir, mudah mencari uang, nak?”, gertak suara yang mencengkeram lengannya kasar.

“Renggandis!”, dan sebuah kaki menendang kepalanya. Ia terdiam, menangis.

“Dis! Renggandis! Bangun sayang!”, kali ini suara yang lain mengguncang tubuhnya. Lebih nyata.

“Dis, bangun”, sapuan tangan wanita itu merangsang otaknya untuk bicara.

“Cia,,”, ucapnya penuh harap. Mereka berpelukan.

“Raga called. He complained about you”, ucap Cia.

“I know”, lirih, Renggandis mengangguk lemah.
“Where its hurt?, tanya wanita dewasa tersebut.

Renggandis hanya menunjuk kepalanya. Cia menelusuri telinga Renggandis, dan menemukan bejolan di balik daun telinganya.

“Has the docter said any?”, Cia bertanya kembali.

Renggandis menggeleng.

“Oke, you are tired. Take a rest”, ucap Cia bingung.

“I don’t want to sleep. I am gonna wake in the middle of the night. The pain will come”, Renggandis pasrah.

Dengan gerakan yang kuat tapi sigap, Cia menelungkupkan badan Renggandis hingga tengkurap, tanpa membuat selang infusnya menyedot banyat darah Renggandis keluar karena banyak gesekan. Cia menggenggam tangan Renggandis yang kadang-kadang menegang, sambil merintih.

Sudah dua hari Renggandis terbaring di rumah sakit. Awalnya badanya panas tinggi, lalu di malam hari menggigil. Malam itu, ibundanya sempat marah dan mengunci pintu dari luar. Beruntung, di pagi hari, Renggandis yang lemah, bisa diseret ke ruang Unit Gawat Darurat.

“Panasnya 41 derajat celcius”, kata suster. Dan Renggandis pun tak bisa menolak ketika disuntik. Jangan suntik, obat pun ia sangat anti.

Wanita yang menemani Renggandis sejak malam pertama ia dirawat bukanlah Ibundanya, bukan pula sepupu atau saudara Renggandis. Namun, ia adalah seseorang yang sangat menyayangi Renggandis. Cia memandang lembut wajah Renggandis, sambil terkadang melirik jam. Untuk mengingatkan Renggandis minum obat. Ia harus terjaga sepanjang malam. Karena seperti malam sebelumnya, Cia terlelap karena lelah. Lalu didengarnya tangisan keras. Renggandis menahan sakit sambil memegang tiang ranjang, setengah berteriak dan berurai air mata.

“I don’t want to see you like this”, Cia ikut menangis.

“What can I do?”, Cia berbisik di telinga Renggandis saat memeluknya.

“Get Raga here”, pinta Renggandis di sela isaknya.

“It’s like, I feel better when Raga here. But he didn’t help. We fought”, Renggandis mengeluhkan kejadian tadi siang pada Cia.

“Hm, what is it, Darla?”, Cia merapatkan badannya pada Renggandis yang terbaring.Sambil memijati sela jari Renggandis.

“Hmm,,”, Renggandis bergumam ragu.
“He don’t understand me. He is the one who make me sick”, hanya itu yang terdengar dari mulut Renggandis.

Cia memandang jendela kamar, kemudian tiang peyangga tirai, dan pandangannya berlabuh diantara jempol dan telunjuk Renggandis.

“U think too much, u know?”, kata Cia hati-hati.

“Not everything in life you can carry. We could try as best as we can. But for the future, something you don’t know, release it to the God. Let Him take care of our worries”, ucap Cia pelan.

“Let Allah keep your worries”, Cia berbisik lebih dekat ke telinga Renggandis.

Mata Renggandis memantulkan cahaya lampu malam. Air hangat meleleh dari sudut matanya.

“I love you”, ucapnya, kemudian Renggandis memejamkan matanya.

Sudah hampir 8 tahun Renggandis mengenal Cia. Pertama kali mereka berjumpa, Cia mencium kening Renggandis tanpa alasan yang mudah dijelaskan. Cia sangat menyayangi Renggandis.

Saat itu, Renggandis masih berseragam putih abu-abu, dan Cia sering kali bermain ke sekolah Renggandis di jam-jam istirahat, bahkan menunggu hingga sekolah usai. Saking bahagianya, kadang Renggandis keluar kelas dan bercanda bersama Cia di balik pagar. Ketika bel pulang berbunyi, mereka akan bermain ke tempat yang mereka suka. Kadang hanya berjalan, menyusuri taman-taman atau mengikuti pohon yang akan membawa mereka ke suatu tempat, untuk duduk bercerita.

Mereka akan tertawa kencang, mengundang perhatian orang. Mereka akan berjalan tidak seimbang, Renggandis akan berdiri di pagar batu yang tinggi, Cia menuntunnya dari samping, seperti sedang menari balet. Renggandis memang ballerina di masa kecilnya.

Atau, mereka akan menyanyi di jalanan, berbincang dengan keras. Apa saja, yang membuat mereka bisa menikmati hari. Berbagi. Berdua.
“AaaaaHHhhhh!!”, teriakan membuat Cia terbangun dari tidurnya. Arloginya menunjukkan sekarang pukul 1 pagi. Waktunya Renggandis meraung-raung. Ia menyangga punggung Renggandis dengan bantal agar Renggandis tidak terus menerus memukulkan kepalanya ke tembok.

Cia memencet bel, kemudian menggenggam tangan Renggandis. Tak lama suster datang.

“Sakitnya di bagian mana?”, tanya suster.

Renggandis yang sudah tidak tahan akan nyerinya hanya mampu menunduk sambil menunjuk ke otak kecil di bagian belakang kepalanya.

“Saya ambilkan obatnya”, suster pamit sebentar kemudian kembali dengan cepat.

Renggandis meneguk pain killer tersebut kemudian merebahkan kepala di bahu Cia. Mereka berpelukan erat. Tangan Renggandis mencengkeram besi peyangga tempat tidurnya kencang-kencang. Semua tekanan akan membantu melawan nyerinya. Renggandis meronta-ronta.

***

Sinar mentari pagi menelusup ke dinding kamar Rumah Sakit, memberi nyawa bagi semua kehidupan yang ada. Renggandis sudah dilap (dimandikan) oleh suster-suster yang ramah.
Ia merasa lebih nyaman. Jam 8 pagi, akan nada bruder yang menyuntikkan jarum untuk mengambil sampel darah Renggandis untuk diperiksa di laboratorium. Itu adalah hal yang cukup menakutkan bagi Renggandis, sikut bagian dalamnya sudah mulai berwarna kehijauan.
Namun ia bisa apa.

Ini adalah hari ketiga Renggandis dirawat di rumah sakit. Ia memandang jam dinding, menunggu jam 9, dimana bubur kacang favoritnya akan dihidangkan. Kala pagi tiba, nyeri di kepalanya tidak terlalu menjadi-jadi.

Ia sempat melihat ke sekeliling. Di depannya ada seorang wanita. Meski matanya silindris, ia masih bisa membaca, namanya Sara. Sara tidak pernah menangis seperti dirinya. Justru Renggandis malu karena selalu berisik di malam hari. Renggandis tidak tahu Sara sakit apa karena jenis infuse mereka pun berbeda, sepertinya wanita cantik itu sangat lemah. Renggandis hanya sesekali tersenyum.

Kemudian wanita di sebelahnya adalah wanita tua yang sering batuk-batuk, sejak menginap di kamar ini, Renggandis hanya pernah satu kali saja mendengar wanita tersebut mengigau. Selebihnya tidak. Infusnya pun sudah dicabut, mungkin sebentar lagi pulang. Karena anak-anaknya sudah hadir membawa beberapa tas.

Lain lagi dengan Ibu-ibu yang ada di sudut ruangan, dekat pintu. Dari pakaian yang dikenakan ketika pertama kali masuk, sepertinya ia adalah seorang polisi wanita atau sejenisnya. Ia tahu betul dengan sakit yang dideritanya, sehingga ia mampu berbicara dan setiap orang yang membesuknya. Dan lucunya, orang tuanya datang dari kampung ketika mendengarnya sakit. Sang Ibu tidur di lantai beralaskan selimut. Jelas saja petugas rumah sakit segera mengusirnya, karena hal tersebut dapat menyebabkan penularan penyakit.

Renggandis mengedipkan mata, mengalihkan pandangannya ke televisi di depannya. Ia tidak menangkap jelas siaran apa itu. Digenggamnya mangkuk berisi bubur kacang pukul 9 pagi, dan menyeruput isinya hingga habis.

Kepalanya mulai nyut-nyut, “Waktunya tidur”, Renggandis mengajak sel-sel dalam tubuhnya untuk rileks. Bukannya ia tidak tahu, ia tahu bahwa ada semacam pengobatan dengan mengucapkan hal-hal positif pada diri sendiri. Namun sakitnya kali ini amatlah sangat. Terlebih ia bingung karena dokter belum juga memberi kabar apa nama sakit yang dideritanya. Jika ia tahu, tentu tidak akan se-khawatir ini.

“At least, there is something I can do, if I know the desease”, katanya pada suster-suster yang memandikannya tadi pagi. Dan suster meyakinkan Renggandis bahwa darahnya masih diperiksa di laboratorium.

Oh, sudahlah, jarum suntik, obat, sedot darah, “I suck it off”, umpatnya.

Dua bantal ditumpuk, Renggandis menghela nafas dengan hati-hati, sedikit guncangan saja, akan membuat nyeri di kepalanya kambuh lagi. Mudah sekali mengantuk setelah menelan obat. Obat yang bukan sirup rasa orange lagi. Ia ingat, sewaktu kecil, ia berlari-lari menghindari sendok berisi sirup obat yang akan dicekokan ke mulut oleh ibunya.

She hates drugs. Any drugs.
Bagi Renggandis, meminum obat seolah memasukkan racun ke dalam tubuh.

Say no to every drugs.

Ia memang sering sakit sejak kecil, dari mulai muntaber ketika masih di bangku SD, dengan toilet yang tidak tertata baik, ia harus menangis di kamar mandi, muntah-muntah, dan diare. Petugas sekolah akan membawanya ke rumah mereka yang terletak di belakang sekolah, memberinya teh manis hangat dan sup. Teh manis hangat dan sup memang membangkitkan kembali kesadarannya untuk belajar sampai sekolah usai.
Dan Renggandis punya masalah lain, kandung kemihnya turun, sehingga ia sering buang air kecil, dan lambungnya tidak dapat menampung banyak makanan pada satu waktu. Kadar lemak dalam tubuhnya lebih kecil dari standar kadar lemak dalam tubuh manusia normal, sehinnga penyerapan makanan dalam tubuhnya kurang sempurna. Sebanyak apa pun dia menyuapkan sayuran dan buah ke mulutnya, kulitnya tak kunjung bersinar apalagi mulus.

“Yeah, that’s pretty much ackward”, katanya, ketika ia pertama kali bertemu Raga.

“That’s okay”, balas Raga, ia malah menadahkan tangannya, bila Renggandis muntah tiba-tiba. Sudah bukan hal aneh bagi Raga, jika mereka jalan terlalu malam, maka wanita yang makan malam bersamanya itu akan memuntahkan sebagian makanan yang sudah dicerna.

“I cannot eat too much”, ucap Renggandis.

Dan Raga akan berkata, “Kalau tahu gak akan habis, prosinya minta setengah aja”.

Kepala Renggandis mulai bereaksi ketika bayangan Raga muncul. Gadis itu mengingat semua pertengkaran mereka, hal-hal tidak beres dalam hubungan mereka, yang sejujurnya membuat Renggandis meringkuk di rumah sakit kali ini.

“But he don’t understand. Even if I say it, he won’t understand. It’s because of him”, keluhnya pada Cia.

“If he is not that worth it, why not u just break up with him? You are beautiful, talented, you can get any guy u want. Why do u end up with such a guy like that? Who doesn’t even know how to treat a lady!”, Cia kesal.

“Lemme call him, and tell him not to come to you anymore!”, Cia bersikap reaktif.

“Don’t”, Renggandis memohon.

Cia mengambil sebantang rokok dari saku celananya dan bergegas menyalakan lighter. Pembicaraan itu sudah berlangsung cukup lama. Entah mengapa, at some point, tepatnya setelah Renggandis resmi menjadi mahasiswa, hubungan mereka menjadi renggang. Mungkin saat itulah Renggandis mulai merasa, relung hatinya membutuhkan kasih sayang yang berbeda.

“He is the one, Cia. He is the only man who cried when he said he love me. I looked into his eyes, it feels like I am his dream. He told me he has never had a dream before, and when he look at me, he said that he find the reason to live. He is the only man who truly loving me!”, Renggandis memberontak.

“If he love you, he will be here when you need him”, Cia membantah teori Renggandis.

“Our love is just different..”, kilah Renggandis.

Wake up!”, gretak Cia.

***

“Mai”, itu adalah nama kecil Renggandis. Hanya orang tuanya yang memanggilnya begitu. Renggandis Maila, ya itu namanya.

“Mai”, panggil sebuah suara.

Renggandis tidak yakin, mata sembabnya terbuka, belum sadar penuh, siapa yang memanggilnya? Mungkin itu kerabat orang tuanya. Karena papa mama tidak mungkin ada disini.

“Mai”, panggilan lembut yang ia rindukan.

“How could you know my name?”, Renggandis hampir tidak percaya, karena yang memanggilnya Mai adalah psikiater di rumah sakit tempat ia dirawat. Bapak tua itu hanya tersenyum.

“Hai, nama saya, Albertus. Let’s get to know each other”, sapanya ramah.

“How do u feel?”, tanya Albertus, membuat Renggandis ragu. Ia tidak pernah bisa mengungkapkan perasaan terdalamnya pada orang yang tidak benar-benar ia percaya. Selama ini, ia hanya berbagi pada Cia.

“Kenapa kamu sering menangis kalau malam hari?”, ini adalah pertanyaan ketiga yang membuat Renggandis terkejut.

“Do u hear it?”, Renggandis balik bertanya.

“No, but people say. So tell me where its hurt so bad?”, pria berseragam biru muda ini mulai menggelitik rongga mulut Renggandis untuk mengeluarkan suara.

“Its in the back of my head”, kata Renggandis.

“Hmmm, where exactly?”, Albertus menanyakan detail posisi sakitnya. Dan Renggandis menggunakan tangan kanannya yang bebas dari infus untuk menunjuk bagian sakitnya.

“Hmm, waktu kecil kamu pernah jatuh atau kebentur sesuatu ngga?”, selidik psikiater tersebut.

Bola mata Renggandis menyudut ke kiri atas, ia tidak mungkin mengarang cerita. Kemudian pupil matanya membulat, “My dad kicked me in the head when I was a child, bibir Renggandis bergetar.

“In what age?”, sekarang Albertus mengumpulkan data.

“Umm, around…, I don’t remember. I already have younger brother that time. Around 7 maybe”, Renggandis menghitung-hitung selisih usia dia dan adiknya.

“Oke, kamu punya kenangan buruk di masa lalu, yang bahkan mungkin kamu tidak ingat. But it still there, di alam bawah sadar kamu. Saat kamu sakit, ia akan menyerang titik terlemah kamu”, Albertus mencoba menjelaskan korelasi sakit kepala yang diderita Renggandis.

“But I forgive him. I cried, and he cried to. And after he kicked me, we hug. I know, he didn’t mean it”, ucap Renggandis panik.

“Okey, else?”, Albert terus berusaha menggali lebih dalam tentang pasiennya itu.

Renggandis menggeleng,

“That’s good. And thank you for talking to me this day. Get well soon”, begitu pamit Albertus ketika meninggalkan ruangan. Dada Renggandis bergemuruh, ia merasa bersalah dengan membuka lukanya pada orang yang tidak ia kenal. Namun pria tua itu memanggilkan dengan lembut, Renggandis merasa ia bersama orang-orang terdekatnya.

“In psychology, we call it, inferiority complex”, ucap Albert.

“I help her to talk what she has been through, and give her some advice. But she is the one who could heal it by herself. The environment could help, but won’t be as strong as if she fight it back. She needs a will to fight the inferiority”, paparnya.

Cia mendengarkan.

“This might help you to understand what’s going on with your her”, Albert memberikan Cia print out sebuah link. Ia melangkah pergi dari ruang konsultasi.

Di bangku taman, Cia membaca paper tersebut.

INFERIOR COMPLEX
http://www.bsmi.org/download/lin/InferiorityComplex.pdf

“The man was suffering from feelings of inferiority and inadequacy; when such feelings control the behavior to that extent, it is then called inferiority complex.
The cause of that man’s inferiority complex is deeply rooted in his childhood“.

SYMPTOMS:
“Symptoms of inferior feelings are of two general types:
withdrawal tactics, including self-consciousness, sensitiveness, and withdrawal from social contacts;and aggressive tactics, including excessive seeking for attention, criticism of others,overly dutiful obedience, and worry”.

“Their sensitivity to criticism, produces resentment to unfavorable comparisons, offense at friendly jests, rebellion at correction, defense of their self-chosen course of action, desire for praise, and an excessive attention to little things.
It always suspects personal injustice and is ever ready to make a defense”

“Withdrawal from social contacts shows fear of people and lack of self-confidence, sometimes resulting in daydreaming about being the conquering hero or the suffering martyr type”.

“Although aggressive tactics are used less frequently than are withdrawal strategies, the former are more violent in nature. Excessive seeking for attention and popularity often leads to the sacrifice of principle in order to gain the favor of others”

***

“Aku masih ingat, Raga, its like 5 years ago, waktu dia masih di highschool. Aku sama dia lagi berenang, haha, dan dia nangis-nangis bilang sama aku, kalo dia mau mati aja”, Cia tersenyum kecut.

“Dan aku bilang sama dia, mungkin itu ladang amal yang Tuhan sediakan buat dia, dengan semua problem yang dia alami. She is coming from a broken home family, just like I did, and she is being bullied at school. She has been through hard times, Raga”, akhirnya Cia menatap mata Raga, menyampaikan empati-nya.

But she cannot always, blame the things around her, Cia. Dia harus berusaha dewasa dong. Bullshit dengan inferiotiy complex-nya, semua orang juga punya sisi inferior. Masa kecilku juga buruk, jadi aku memilih untuk melupakannya. Not telling everyone about my stories”,Raga berargumen.

Darah Cia serasa mendidih, “You don’t know anything about her! Just stay away, and never hurt her anymore!”, Cia meledak.

“What have I done wrong, Cia?”, Raga gusar.

“Semua. Semuanya sok tahu, tapi nggak ada yang mau instrokpesi”, Cia membentak Raga.

“Mungkin gue juga bikin salah sama dia, Raga. But at least, I think about her”, Cia menyeka air matanya yang mulai meleleh, ia tidak mau terlihat cemen di depan Raga.

“Im gonna get in”, katanya, masuk ke ruangan Renggandis kembali.

Mata Cia berkaca-kaca, seraya mengelus kepala Renggandis.

“You have to fight against the desease, Darla. If not, u will not only damaging yourself, but also others. I believe in you, that you are strong enough to survive.”, bisiknya.

“You have to fight against your desease”, Cia mengeraskan bisikannya.

“You have to fight against the desease”, bisiknya lagi.

“Life awaits for you, Darla”, Cia mengecup kening Renggandis. Berdoa untuk kesembuhannya.

Dan Cia dapat merasakan gerak jemari Renggandis melingkari pergelangan tangannya.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s