Stroller

“Ini antara kita aja ya”, bisiknya.

“Sebenarnya, aku agak risih”, ia diam sejenak.

“Kalau lagi kerja, contohnya waktu kemarin ada rapat, handphoneku berdering”, sambungnya.

“Terkadang kalau sibuk banget kan lupa di silent”, keluhnya.

“Pimpinan rapat dengar dan mempersilakan aku mengangkat telepon”, lanjutnya.

“Aku tanyalah, ‘Kenapa, mas’?”, wanita di depan Kalih memainkan alisnya.

“Suamiku tidak pernah berubah. Dulu kamu pernah bilang kan, bahwa pria grafiknya menurun. Ketika mendekati ia menggebu-gebu, ketika sudah menikah hilang arus. Tapi itu tidak terjadi di pernikahanku. Dia tetap posesif”, ucapnya sambil sesekali memperhatikan bayi-nya yang sedang menyusui.

“Tadi baby-ku nangis. Lagi tidur dia pup. Trus aku ganti deh. Eh, dia kaget lalu nangis keras”, curhatnya.

Wanita tersebut merapikan gendongannya. Ternyata bayi-nya sudah kenyang minum ASI.

“Halo cantik! Udah mimi-nya? Mau main sama ateu? Tuh ada ateu Kalih”, ia mengajak ngobrol putri pertamanya tersebut.

Kalih agak kikuk, namun memberanikan diri mengulurkan tangannya untuk menggendong sang bayi.

“Dia paling suka digendong dengan gaya seperti ini”, Ibunya sigap menelungkupkan badan si cantik di bahu Kalih.

Kalih menggoyang-goyangkan badannya. Berusaha membuat anak berusia 3 bulan tersebut tidak menangis.

“Sama tante dulu yah, mama mau makan dulu”, ucap ibu muda tersebut.

Kalih mengajak bayi tersebut menghirup udara segar. Pipi mereka bersentuhan. Ada aroma alami yang membuat Kalih tergiru untuk menciumi pelipis mahluk mungil tersebut.

Di teras, ada dua anak sedang berebut ayunan.
Satu orang anak laki-laki dan anak perempuan yang saling mengantri.

Bukan ayunan lazim yang mereka tunggui.
Ayunan vertikal, dengan satu sumbu.

Harusnya berlaku untuk satu kali luncuran, namun ia akan berbalik ke belakang akibat daya tolak di ujung tiang. Ini yang menyebabkan, anak lain yang antri harus rela menunggu setengah kali luncuran.

“Adek,, tuh liat ada dede bayi lebih kecil dari kamu”, ujar seorang ayah menunjuk pada bayi yang digendong Kalih. Pengunjung kafe keluarga juga, memangku putranya, entah yang keberapa.

Kalih hanya tersenyum.

“Sebentar lagi suamiku jemput”, sebuah suara menyusulnya. Pipi kalih beradu dengan kepala si mungil.

“Dulu, aku sempat pingsan waktu melahirkan”, sang bunda mulai bercerita lagi.

“Tadinya habis wisuda mau persiapan, fokus belajar buat tau tata cara mengurus bayi. Kasih makan apa, dan baca-baca soal gesture bayi. Kalau dia bersikap gini, tandanya apa. Kalau begitu harus ngapain. Bayi kan belom bisa ngomong ya. Jadi kita harus pinter-pinter menangkap sinyal”, tuturnya.

“Tapi, hari ini wisuda, eeh, besoknya perutku muleees banget. Akhirnya dilarikan ke rumah sakitlah. Dan ternyata air ketubannya udah pecah. Hijau dong warnanya”, ia menambahkan kronologisnya.

“Aku push push push! Karena sudah waktunya keluar” ia mengelus perutnya.

“Ga kuat. Aku pingsan, dan akhirnya di caesar”, ada penyesalan di wajahnya.

“Jadinya anak kedua harus diprogram deh”, senyumnya membesarkan hati.

“Oaa”, bayi yang digendong Kalih mulai gelisah.

“Dia ngantuk itu”, ibunya menangkap kebingungan Kalih.

“Bayi itu, kalau mau tidur ngga bisa kaya kita. Kalau kita kan langsung merem yah. Mereka itu harus nangis dulu, goler sana goler sini dulu. Di ayun-ayun dulu, baru tidur”, sang Ibu berusaha meraih bayinya dari tangan Kalih.

“Aku masih ingin gendong”, Kalih mundur.

“Oh! Aku kira kamu cape, Kalih”, mata wanita tersebut memancarkan kekhawatiran.

Kalih masih ingin menantang dirinya sendiri untuk meredakan tangisan bayi yang digendongnya.

Kalih mencoba beberapa gaya. Si cantik yang gemar melomoti jari kanannya itu sempat tenang ketika dibaringkan di sofa. Namun tangisannya menjadi-jadi dan Kalih pun kelabakan.

“Kamu penyanyang ya Kalih. Biasanya yang lain langsung nyerah”, puji wanita itu ketika Kalih mengembalikan si pipi gembil.

Dan sang ibu pun mengeluarkan senjatanya. Bayi tersebut langsung nyaman di pangkuan ibunya.

“Ayo sayang!”, ternyata suaminya sudah datang.

Sambil mengalungkan gendongan, wanita tersebut sigap menarik kereta bayi.

“Kami mau ke toko perlengkapan bayi. Ada yang mau dibeli. Kamu mau ikut?”, ia menawari Kalih ramah.

Tanpa berpikir, Kalih menggeleng.

“Siapa tau kamu mau cuci mata. Lihat barang-barang bayi”, rayunya.
Kalih mantap menolak.

“Oke, kalau gitu, kami pamit ya. Thanks, Kalih”, ucap suaminya sambil mendorong stroller.

“Mba!”, panggilan Kalih menghentikan langkah wanita tersebut.

“Mengurus anak itu repot ya?”, kening Kalih berkerut.

“Iya lelah”, jawab wanita tersebut.

“Tapi membahagiakan ko. Anak itu pelipur lara. Setiap harinya jadi semangat berkaya”, ia memandanga Kalih.

“Itu seperti, semua yang kamu lakukan jadi lebih berarti. Untuk anakmu”, ringkasnya, tersenyum sarat makna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s