Laa Taghdob

Sebelum berangkat ke Ancol untuk memenuhi undangan evaluasi kerja, saya dan teman-teman berkelakar mengenai bagaimana menyikapi bos kami yang super galak ketika marah-marah.

Kami sudah memikirkan beberapa strategi, salah satunya dengan membumbui tindakan kami dengan kalimat yang santun.

Dan, pertanyaan itu terlontar, “Bahasa arab-nya jangan marah apa sih?”.

Saya berusaha mengingat-ingat, karena jaman kuliah pernah belajar kata tersebut. Namun ingatan saya yang terbatas membuat saya mengeluarkan informasi yang kurang sempurna. Lalu saya bertanya pada teman saya yang berkuliah bahasa Arab.

Ia menjawab, “Laa Taghdob“.

“Jangan marah”, begitu simpel-nya.

Berikut bunyi hadist-nya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

[رواه البخاري]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : “(Ya Rasulullah) nasihatilah saya”.

Beliau bersabda : “Jangan kamu marah”.

Beliau menanyakan hal itu berkali-kali.

Maka beliau bersabda : “Jangan engkau marah”.

[Riwayat Bukhori]
Hadits Arba’in No 16

Subhanallah ya, Rasulullah SAW saja sampai berkali-kali berpesan ‘jangan marah’, artinya ‘kemarahan’ adalah hal yang sangat ‘menantang’ untuk dikendalikan.

Dalam Qur’an pun Allah SWT menyinggung tentang ‘menahan amarah’ ini:

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhamu yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan,

dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”.

[QS. Ali-Imran: 133-135]

Di ayat tersebut, dikatakan bahwa, orang-orang yang bertakwa, termasuk di dalamnya adalah orang yang menahan amarah.

Nah! Jika kedudukan ‘menahan amarah’ ini begitu spesial di sisi Allah, alangkah baiknya kita berlatih untuk mengendalikan emosi. 😉

So, guys, “Laa taghdob“!.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Fanni Suyuti says:

    hooo… teh ai suka nulis juga ternyata… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s