My baby, Zalfa!

Terpacu dari banyaknya sahabat-sahabat saya yang akan dan sudah melahirkan di bulan ini, maka saya pun ingin melahirkan. Bukan dalam arti harfiah tentunya. ๐Ÿ™‚

Pada bulan ini, Alhamdulillah saya ‘melahirkan’ sebuah ide bersama rekan saya.

Ingin sekali mengatakan:

Ladies & gentleman, our baby Zalfa is just launched!
Zalfa, a scarf line by Fine Resyalia and Sundari Eko Wati (me), is inspired by classic elegant muslim women.

Berkaca kepada perintah Allah SWT,

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanitaโ€ฆโ€

[QS. An-Nur:31]

Zalfa hadir sebagai penyedia kerudung yang memenuhi ketentuan standar ke-syar’i-an. Bahan yang kami pilih adalah Double Hicon, serat kainnya padat, tidak transparan, lembut, halus, jatuh, tidak mudah kusut dan tidak panas ketika dipakai.

Zalfa sendiri berarti kulit mutiara.
Jika kita menelurusi relung laut, maka deep down kita dapat menemukan cangkang mutiara. Tanpa sang cangkang, sebuah mutiara tak mungkin menjadi mutiara yang indah.

Ibaratkan tubuh wanita adalah mutiara, maka keindahannya akan semakin terjaga dan terpancar ketika dibalut oleh kulit mutiara. Itulah Zalfa. ๐Ÿ™‚

Produk Zalfa di batch ke-2 ini hadir dalam 36 pilihan warna, antara lain:

Untuk teman-teman yang ingin mengetahui lebih lengkap lagi mengenai produk Zalfa, bisa mengunjungi blog-nya, yaitu:

http://zalfascarf.blogspot.com/search/label/Products

Kami juga memiliki masa promo, yang bisa teman-teman cek di:

http://zalfascarf.blogspot.com/2012/09/10-days-only-20-off-all-items.html

Follow juga twitter kami untuk mendapatkan berita terbaru di @zalfascarf

Happy online shopping gals! ๐Ÿ˜‰
Don’t forget to leave a comment and order some.
Thank you.

Zalfa Scarf
@Zalfascarf
http://zalfascarf.blogspot.com/

Advertisements

Nikah

“Ndar, bentar ya. Aku mau bangunin suami dulu”, ujar seorang wanita .

“Okey”, saya menusukkan garpu ke buah mangga yang ia suguhkan.

Tak lama ia datang lagi.

“Gimana, udah bangun?”, tanya saya.

“Belum, Ndar”, jawabanya.

“Hah? kenapa? dia bilang apa pas kamu bangunin?”, saya penasaran.

“Katanya, mau direbusin air anget dulu baru bangun”, ucapnya sambil menyalakan kompor.

Saya melongo.

Pria macam apa yang tega meminta istrinya yang sedang hamil 6 bulan untuk merebus air. Mengangkat panci berisi air saja sudah berat, apalagi dengan perut buncit. Pasti tambah berat.

Belum lagi ketika saya ikut berwudlu di kamar mandinya, ada sejolang besar berisi kemeja.

“Baju siapa itu?”, tanya saya lagi.

“Baju kami!”, dia menunjuk batang hidungnya.

Wah! saya pikir itu baju rendaman pekerjanya.

“Ngga pakai mesin cuci aja?”, saya mencoba menyarankan.

“Hm, engga”, ia menjawab sambil lalu.

Saya hampir-hampir bertanya, “Apakah kamu bahagia, dalam pernikahanmu?”, melihatnya begitu lelah. Namun saya yakin ada banyak hal yang membuatnya bahagia di keluarga kecilnya.

Rumah mereka terbilang jauh. Saya mengujunginya dalam rangka bersilaturahim. Sudah lama saya tidak berjumpa dengan salah satu sahabat terbaik saya ini.

Ia tidak ingin menikah, kala itu. Dia memandang pernikahan adalah perbudakan bagi wanita, dimana ketaatan seorang istri sepenuhnya ditujukan untuk suaminya.

Ia sempat bertanya, “Ya Allah tidak cukupkah saya beribadah kepada Engkau saja? kenapa harus menikah?”.

Namun tampaknya jawaban-jawaban dari istikharahnya mengacu pada suatu akad yang mengikat mereka dalam sebuah mitsaqan ghalizรฅ.

Barakallah sahabatku. ๐Ÿ™‚

Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang melimpah (yaitu : Surga)
(Qs. An Nuur (24) : 26)

Pelajaran yang saya ambil dari kunjungan ini adalah, ternyata pernikahan tidak seperti yang diperbincangkan banyak orang. Pernikahan bukanlah sebuah kamuflase dan kumpulan hal-hal manis belaka.

Pernikahan adalah perjuangan.

Kita tidak bisa serta merta menikah hanya karena menyukai seseorang. Tapi lebih dari itu, pernikahan membutuhkan komitmen, pengorbanan dan keikhlasan hati untuk memberikan sebagian diri kita kepada orang yang kita nikahi.

Ya.
Ternyata inti dari pernikahan bukanlah ada seseorang yang meringankan beban kita, melainkan kesiapan diri kita untuk meringankan beban orang lain.

โ€œMereka (para istri) itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian
adalah pakaian bagi mereka.โ€

[Al-Baqarah: 187]

Saya percaya, ada sesuatu dibalik pernikahan. Ada pahala yang begitu besar dibalik meleburnya dua jiwa. Namun, sebaiknya kita juga menyiapkan mental, mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk berumahtangga. Untuk berjuang dalam rumah tangga kita.

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(An-Nuur:๏ผ“๏ผ’)

The Power of Kepepet

“Gue jualan kerudung. Lo mau beli ngga?”, tanya saya angkuh.

“Engga”, jawabanya.

“Kenapa?”, saya sewot.

“Nawarinnya aja kayak gitu. Jelas saya ngga mau”, protesnya.

*saya manggut-manggut*

Berbisnis atau berjualan adalah hal yang nggak banget dalam keluarga saya. Pokoknya itu jangan sampai ada yang dagang di keluarga saya, karena dipandang sebelah mata.

Oleh karena itu, saya malu ketika nge-danus selama kuliah, karena harus jualan donat. Tahukah teman-teman apa yang saya lakukan? Saya taruh itu kotak donat di kelas, dan tanpa bersuara donat itu sudah habis sendirinya dan uang pembeli terkumpul begitu saja di atas kotaknya. Alhamdulillah.

Lucky me ๐Ÿ˜€

Saya pernah bertanya kepada seorang teman yang terlihat sukses usahanya, mengenai, “apa rahasianya?”

The power of kepepet”, begitu jawabnya.

Sepertinya The Power of Kepepet ini very powerful ya, haha.
Somehow, it’s true.

Lalu saya membaca sebuah buku yang mengupas tentang kehidupan Rasulullah dan Siti Khadijah. Hei! jangan salah! mereka berNIAGA loh! Bahkan pasar marketing Rasulullah saat itu mencapai 3 Negara di luar Arab. Bahasa kerennya, Rasulullah berhasil meng-ekspor barang sampai ke luar negeri.

How cool is that ๐Ÿ™‚

Kalau Rasulullah saja mencontohkan mencari penghasilan dengan cara berdagang, artinya dagang bukan hal yang memalukan dong?

Dan lagi, dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda:
โ€œ9 dari 10 Pintuย Rezeki itu berasal dari perniagaan (perdagangan)โ€ [HR.ย Tirmidzi].

So, there is nothing wrong with, say, “Berjualan”.
Right or left? ๐Ÿ˜‰

Nah, berangkat dari pengetahuan ini dan The spirit of kepepet, saya pun memberanikan diri memulai sebuah usaha kecil-kecilan bersama rekan saya @liebefine.

Sholat saja lebih utama yang berjamaah, mengapa tidak kita sukses bersama? Allah SWT lebih menyukai keberhasilan ummat-nya secara berjamaah dibanding individualisme yang berubah menjadi komunisme.

Saya merasa, partnership, meski selama 2 minggu ini sudah banyak pedih perihnya, namun insya Allah untuk ke depannya, saya yakin akan ada banyak manfaat untuk kami berdua.

Oya, dan amazingly, teman saya di kost kerap kali mem-boost up spirit saya, dan kindly meminjamkan kameranya untuk memfoto barang dagangan saya. Thank you so much @elvidelima.

Dalam 2 minggu ini, saya berkonsultasi pada banyak coach mengenai bagaimana berbisnis itu sih? hehehe.

Menawarkan barang dagangan, rasanya seperti mau sidang TA dengan penguji yang galak. Takut setengah mati, dengan keberanian yang ditunda-tunda. Dan lucunya selalu minta teman-teman saya berpura-pura jualan, dan saya bertingkah “Saya cuma bawain barang”. Haha.

Saya selalu mengatakan pada diri saya, “Ayo, kapan kamu mau berani?”. Dan meski exactly berjualan door to door, person to person itu bukan cara yang efektif memarketkan sesuatu, namun ada rasa puas ketika orang yang saya tawari barang akhirnya membeli. Saat itu juga pipi saya akan merekah dan tersenyum sendiri.

Okey, dengan bakat yang minim dan sok gengsi besar, begitulah awalnya cara saya menawarkan sesuatu, “Lo mau beli ga?”, seolah butuh ngga butuh.

Sampai akhirnya saya mendapatkan feed back di atas. Saya lalu hening.

“Gue ngomongnya kasar ya?”, saya sadar diri.

“Hm, nggak kok. Dulu juga saya kaya kamu. Tapi lama-lama saya belajar dan akhirnya bisa berbahasa dengan lebih baik lagi”, ucap pengusaha jamur tersebut.

Dagang.
Ya! ternyata berdagang adalah perihal berbahasa dan kepercayaan, trust.
Jika orang yang kita percayai, dan orang yang berakhlak baik berjualan, meski penawarannya tidak membombardir, insya Allah kita tidak ragu untuk membeli dagangannya dengan alasan apa pun.

Dagang adalah bersabar.
Bersabar mendengarkan masukan-masukan dari pembeli dan dagangan kita belum memberikan untung yang ruah.

What easy doesn’t last. What last doesn’t easy“.
[Muhammad Assad]

Kita harus curiga jika kita mendadak sukses secara instan. Jangan-jangan sebentar lagi kita rugi. Ingatlah kesuksesan butuh proses. Pilih! kita mau membangun bisnis yang sustainable dan berkelanjutan atau ingin jadi OKB (orang kaya baru)?

Oleh karena itu, bersabarlah dengan pundi-pundi usaha yang sedang kita lakukan.

Bisnis adalah mengalah untuk menang. Merendahkan hati kita, bertutur kata yang lembut, menawarkan kepercayaan dan tentunya produk unggulan. Kita harus tau keistimewaan dari barang yang kita jual. Kita perlu untuk mampu menjelaskan sebaik-baiknya mengenai apa yang kita tawarkan.

“Mba, saya jual kerudung, bahannya bagus, halus, jatuh, ngebentuk di wajah jadi cakep, tidak panas, dan ngga transparan. Pakai 1 lembar saja sudah cukup”, promo saya.

“Hm, saya biasa pakai Paris sih”, responnya.

Dalam hati ingin ber-argumen, ” Tapi paris kan tipis, mba. Nerawang. Harus di double“. Namun saya me-rem mulut saya.

Betul! Dagang adalah soal pasar.
Pedagang boleh idealis terhadap produknya, namun seorang pedagang TIDAK bisa meMAKSA seseorang untuk membeli dagangan kita.

Konsumen yang paling tau kebutuhannya masing-masing, mereka yang bisa merasakan nyaman tidaknya memakai sesuatu. Pedagang bukanlah penentu apa yang terbaik untuk calon pembelinya.

Pedagang adalah seorang penyedia.
Penyedia variatifnya produk, jenis, bentuk dan kebutuhan lainnya.

Baiklah, rekan-rekan, demikian sharing perdana dari seorang new bee.
Saya mohon do’anya agar usaha saya bisa istiqomah dan Allah senantiasa menolong saya.

Dagang, jualan dan bisnis juga tentang kekuatan do’a. Tentang seberapa dekat hubngan kita dengan Allah SWT. Tentang sejauh mana keimanan kita.

Satu lagi, berbisnis erat hubungannya dengan sedekah.
So, semangat dagang! ๐Ÿ˜‰

An Exit Door

Beyond all the certainty.
I hope Allah SWT at least, give me one answer.

Have you ever be colonized?

Maybe this is the moment of growing up and become nothing.
It is not only scary but also leave me with tears every night.
I should say, this life would be a lot more easier if we get some support.
From family, friends or others.

I’m 25. And I haven’t create any master piece. Not like my other friends do. I envy them the most who doing their passion. Cause I’m stuck in the plan that are made for me. And I don’t brave enough to make a breakthrough.

I just worrying myself.

Is the reason I haven’t been succeed all this time is because I haven’t tried so hard?

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
[Ar-Raad:11]

Maybe this is how it feels to be colonized.
You listen to order, while your heart couldn’t accept it.
Some would say, “Quit!”.
But things are not that easy.

Let say we trapped in a building.
The lift is off. Electricity blackout.
We will be lead to an emergency door.

Life doesn’t have an EXIT door.
It has, but it’s death.

No easy way out.
I heard that a lot when I was in college.
Now I know how it feels.

It’s true.
We have to struggle for what we want.
Bleeding, crying, climbing, screaming to reach what we pursue.
Otherwise, we’ll end up just like this.

It all need sacrifice.
There’s NO EASY WAY OUT.

I believe that the God give all the people in this world the same portion of being in a chance to taste a ‘battle’. A battle that let us understand more about ourselves and life.

A battle that will make us a better us.
In the offing.

Buah Si Naga

Darimana datangnya, hati nan mulia, bersenandung warna Illahi.
Ketuhanannya yang melindungi.

***

“Teh, pacaran yuk!”, tanyanya.

Saya puk-puk tungkai kakinya.
I have been waiting for that question for so long! and now u asked!“,
lalu tertawa.

If I were a boy
I think I could understand
How it feels to love a girl
I swear I’d be a better man
-If I were a boy: Beyonce

Gadis itu bernama Delima. Pipinya kadang memerah, tidak tahu karena kepanasan atau efek facial. Di beberapa pose, kadang ia melabeli diri dengan, “Kaya bencong banget!!!”, jelas bukan saya yang komentar.

Hari-hari Delima diisi dengan nyanyian di pagi hari dan puji-pujian di malam hari. Saya salah seorang tetangga sebelah kamar yang sering diuntungkan oleh berisik playlist-nya ketika beranjak mandi. Itu seperti alarm pribadi pertanda, “Hari sudah siang, Ay. Bangun!”, ucap saya yang tertidur habis solat subuh.

Delima, pada awalnya seem to be anak super tajir yang selalu menghabiskan uang di mall untuk membeli baju dan makanan enak. Konon katanya dia juga punya mobil hasil bisnisnya. Lebih lagi dia seroang auditor!

Pakaiannya classy. Seleranya vintage dengan lace dan kemeja serta blazer semi transparan yang pasti membuatnya tampak seperti seorang cewe metropolitan.

Ketika hang out, teman kantor saya berkata, “Dia cantik ya. Tinggi dan modis. Pasti banyak cowo yang suka”. Saya tengok Delima. Apakah ia menyadarinya?

Saya banyak berasumsi tentang dia, hingga suatu saat entah kenapa kost-an terasa sepi tanpanya. Ya! ada yang kurang tanpa dia.

Kurang ramai.

Biasanya ketika malam tiba ia akan asik sendiri, baik itu membaca, bermain gitar maupun bernyanyi. Setidaknya itu menghibur saya. Silence kills me.

Saya jadi berpikir, kenapa saya harus mengandalkan orang lain untuk mengusir keheningan? Lain dengan Delima. Ia bisa menciptakan berbagai kegiatan untuk mengisi waktu luangnya. Cukup dengan dirinya sendiri, ia bisa menceriakan dunia. Sedangkan saya harus menunggu trigger atau partner untuk memulai sesuatu.

Bak buah Delima, ia menyegarkan.

Suatu malam itu saya menumpahkan sebagian (besar) kegalauan hidup saya padanya. Bercerita hingga menitikan air mata. Tentang hidup, tentang segala.

“Ya kalau mau sukses kaya orang lain, coba lakukan usaha sebesar mereka. Jangan cengeng! kalau mau gampang aja sih ya hasilnya biasa-biasa saja. Jangan dengan usaha segini terus pengen berhasil kaya orang lain”, tuturnya.

“Kenapa penilaian orang lain jadi penting? Mereka nggak tau apa yang benar-benar kita alami. Kita yang merasakan perubahan dalam diri kita, dan Tuhan Maha Tahu”, ucapnya.

“Jangan sombong jadi manusia, itu saja. Manusia perlu kembali ingat ia diciptakan dengan bahan baku dasar yang sama dengan semua makhluk di atas bumi”, kutipnya.

Baru kali pertama, ia menyeringai tajam.
Sekarang saya akui, ia berdarah Sinaga.

Dia lembut, dia ceria, dia keras, dia mau ditempa, dia tidak menunjukkan kesedihannya. Ia kuat dan akan menjadi semakin kuat.
Sebuah peran yang tidak mudah untuk dilakoni.

Darimana datangnya, hati nan mulia, bersenandung warna Illahi.
Ketuhanannya yang melindungi.

Setiap malam, ia akan bernyanyi.
Lagu-lagu rohani. Saat teduh-nya.

Bagaimana mungkin seseorang yang masih belia memiliki kepasrahan sebegitunya pada Tuhan? itu adalah bentuk keimanan yang tinggi.

Sebagai seorang muslim, saya sampai malu sendiri atas kedislipinan an ketaatannya dalam beribadah. Saya perlu mencontoh ketawakalannya ini.

Satu lagi.
Dia tidak melulu fokus pada dirinya.
Gayanya cuek namun perhatian pada teman-temannya. Sekedar berteriak memanggil nama, atau bertanya “Training hari ini?”, “Tuh ada makanan di meja”, “Awas kalau jalan lihat-lihat nanti jatoh”, dan lainnya.

Dia tidak egois.
Dan dia manusia biasa ๐Ÿ™‚
Delima melewati masa-masa sulit yang tidak seluruhnya saya ketahui.
Bukan anak orang kaya apalagi suka menghamburkan harta.

Dia pekerja keras dengan tingkat kesadaran yang cerdas bahwa semua orang tumbuh berkembang menjadi sesuatu dengan proses yang terkadang rumit.

Ia dewasa.

Setiap pulang, saya akan menunggu ulahnya. Hanya mendengar dari kamar sebelah saja, saya sudah merasa ditemani. Dia dan segala aktivitasnya yang menerangi sepi.

Sungguh beruntung saya mengenalnya. Ia yang menginspirasi.

Hei, Delima Sinaga, saya mengagumimu.
Jadi, tolong pegangi hidungmu ya ๐Ÿ˜‰

Istikharah

Do’a Istikharah:

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฅูู†ูู‘ู‰ ุฃูŽุณู’ุชูŽุฎููŠุฑููƒูŽ ุจูุนูู„ู’ู…ููƒ ูˆูŽุฃูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุฏูุฑููƒูŽ ุจูู‚ูุฏู’ุฑูŽุชููƒูŽ ุŒ ูˆูŽุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู…ู ุŒ ููŽุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุชูŽู‚ู’ุฏูุฑู ูˆูŽู„ุงูŽ ุฃูŽู‚ู’ุฏูุฑู ูˆูŽุชูŽุนู’ู„ูŽู…ู ูˆูŽู„ุงูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุนูŽู„ุงูŽู‘ู…ู ุงู„ู’ุบููŠููˆุจู ุŒ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู†ูŽู‘ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุฃูŽู…ู’ุฑูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูู‰ ููู‰ ุฏููŠู†ูู‰ ูˆูŽู…ูŽุนูŽุงุดูู‰ ูˆูŽุนูŽุงู‚ูุจูŽุฉู ุฃูŽู…ู’ุฑูู‰ ููŽุงู‚ู’ุฏูุฑู’ู‡ู ู„ูู‰ ูˆูŽูŠูŽุณูู‘ุฑู’ู‡ู ู„ูู‰ ุซูู…ูŽู‘ ุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูู‰ ูููŠู‡ู ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู†ูŽู‘ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุฃูŽู…ู’ุฑูŽ ุดูŽุฑูŒู‘ ู„ูู‰ ููู‰ ุฏููŠู†ูู‰ ูˆูŽู…ูŽุนูŽุงุดูู‰ ูˆูŽุนูŽุงู‚ูุจูŽุฉู ุฃูŽู…ู’ุฑูู‰ ููŽุงุตู’ุฑููู’ู‡ู ุนูŽู†ูู‘ู‰ ูˆูŽุงุตู’ุฑููู’ู†ูู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽุงู‚ู’ุฏูุฑู’ ู„ูู‰ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุญูŽูŠู’ุซู
ูƒูŽุงู†ูŽ ุซูู…ูŽู‘ ุฃูŽุฑู’ุถูู†ูู‰

โ€œAllahumma inni astakhii-ruka bi โ€˜ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika,
wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru,
wa taโ€™lamu wa laa aโ€™lamu, wa anta โ€˜allaamul ghuyub.
Allahumma in kunta taโ€™lamu anna hadzal amro khoiron lii fii diinii wa maโ€™aasyi wa โ€˜aqibati amrii faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta taโ€™lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diinii wa maโ€™aasyi wa โ€˜aqibati amrii, fash-rifhu โ€˜annii was-rifnii โ€˜anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih
โ€

Ya Allah,
sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu,
aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu,
aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu.
Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan
dan aku tidaklah mampu melakukannya.
Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu.
Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib.

Ya Allah,
jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku
dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku,
mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku.

Ya Allah,
jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya.
Kemudian dia menyebut keinginanyaโ€.

[HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya].

*taken from:
http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-istikharah/#axzz26sarDkTT

Little Angel

Semasa kuliah, saya mengenal satu orang yang tiap kali bertemu dengannya, hati ini merasa sejuk. Membuat semua masalah terlihat ada solusinya. Wanita yang logis dan optimis, bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Dia tidak memberikan sepatah judegement pun ketika mendengar hal-hal buruk baik tentang diri saya maupun sekaliber pembunuh.

“Allah yang berhak menghukum”, ucapnya.

“Jika ada orang yang menyakiti kita, maafkan. Tetaplah menjadi pribadi yang baik dan ramah. Kita tidak berhak memberikan hukuman kepada mereka”, begitu katanya.

“Tentu saja, hidup kita berat, karena kita adalah mahluk bumi yang harus memegang amanah ‘langit’, yaitu sebagai khalifah di muka bumi”, ujarnya lagi.

Banyak sekali kalimat-kalimat yang membuat saya tenang. Dan jujur, saya merindukannya. Biasanya kami terkadang bercengkaram dan pulang naik kereta ke Bandung. Namun setelah ia menikah, semakin sulit saja dihubungi. Mungkin sedang sibuk dengan kehamilannya.

Akhirnya setelah sms-sms yg tak berbalas, saya beranikan menghubungi suaminya yang juga memakai Blackberry dan menanyakan kabar beliau.

Ternyata dia baru pulang mengajar di salah satu Universitas di Bandung. Dia sedang menyelesaikan studi magisternya, sementara suaminya adalah pengusaha. Dan kabarnya ia akan meneruskan s3 ke Jerman. Subhanallah ya cara suami istri ini saling menerima kondisi masing-masing.

Dan saya yakin, sahabat saya ini adalah kado pernikahan yang besar untuk Sang suami. Bagaimana tidak? suaminya memanggi dia “My little angel“.

Yes, she does.
She is like an angel.

“Ndariiii, ini saudarimu yang hilang, haha”, sapanya usil.

Singkat saja pembicaraan kami, karena sepertinya ia harus beristirahat. Namunย  dengan sekelebat chat saja, saya sudah mendapatkan inspirasi darinya.

Ia mengatakan, “Jangan menutup kemungkinan-kemungkinan yang Allah juga belum tutup. Usaha dulu, semampu kita, dalam ketidaktahuan kita akan apa yang terbaik yang Allah tentukan untuk kita”.

Sejuk, seperti itulah oase.
Memercik hingga jiwa, melegakan dahaga.

Uhibbukifillah, my (also) little angel ๐Ÿ™‚