Buah Si Naga

Darimana datangnya, hati nan mulia, bersenandung warna Illahi.
Ketuhanannya yang melindungi.

***

“Teh, pacaran yuk!”, tanyanya.

Saya puk-puk tungkai kakinya.
I have been waiting for that question for so long! and now u asked!“,
lalu tertawa.

If I were a boy
I think I could understand
How it feels to love a girl
I swear I’d be a better man
-If I were a boy: Beyonce

Gadis itu bernama Delima. Pipinya kadang memerah, tidak tahu karena kepanasan atau efek facial. Di beberapa pose, kadang ia melabeli diri dengan, “Kaya bencong banget!!!”, jelas bukan saya yang komentar.

Hari-hari Delima diisi dengan nyanyian di pagi hari dan puji-pujian di malam hari. Saya salah seorang tetangga sebelah kamar yang sering diuntungkan oleh berisik playlist-nya ketika beranjak mandi. Itu seperti alarm pribadi pertanda, “Hari sudah siang, Ay. Bangun!”, ucap saya yang tertidur habis solat subuh.

Delima, pada awalnya seem to be anak super tajir yang selalu menghabiskan uang di mall untuk membeli baju dan makanan enak. Konon katanya dia juga punya mobil hasil bisnisnya. Lebih lagi dia seroang auditor!

Pakaiannya classy. Seleranya vintage dengan lace dan kemeja serta blazer semi transparan yang pasti membuatnya tampak seperti seorang cewe metropolitan.

Ketika hang out, teman kantor saya berkata, “Dia cantik ya. Tinggi dan modis. Pasti banyak cowo yang suka”. Saya tengok Delima. Apakah ia menyadarinya?

Saya banyak berasumsi tentang dia, hingga suatu saat entah kenapa kost-an terasa sepi tanpanya. Ya! ada yang kurang tanpa dia.

Kurang ramai.

Biasanya ketika malam tiba ia akan asik sendiri, baik itu membaca, bermain gitar maupun bernyanyi. Setidaknya itu menghibur saya. Silence kills me.

Saya jadi berpikir, kenapa saya harus mengandalkan orang lain untuk mengusir keheningan? Lain dengan Delima. Ia bisa menciptakan berbagai kegiatan untuk mengisi waktu luangnya. Cukup dengan dirinya sendiri, ia bisa menceriakan dunia. Sedangkan saya harus menunggu trigger atau partner untuk memulai sesuatu.

Bak buah Delima, ia menyegarkan.

Suatu malam itu saya menumpahkan sebagian (besar) kegalauan hidup saya padanya. Bercerita hingga menitikan air mata. Tentang hidup, tentang segala.

“Ya kalau mau sukses kaya orang lain, coba lakukan usaha sebesar mereka. Jangan cengeng! kalau mau gampang aja sih ya hasilnya biasa-biasa saja. Jangan dengan usaha segini terus pengen berhasil kaya orang lain”, tuturnya.

“Kenapa penilaian orang lain jadi penting? Mereka nggak tau apa yang benar-benar kita alami. Kita yang merasakan perubahan dalam diri kita, dan Tuhan Maha Tahu”, ucapnya.

“Jangan sombong jadi manusia, itu saja. Manusia perlu kembali ingat ia diciptakan dengan bahan baku dasar yang sama dengan semua makhluk di atas bumi”, kutipnya.

Baru kali pertama, ia menyeringai tajam.
Sekarang saya akui, ia berdarah Sinaga.

Dia lembut, dia ceria, dia keras, dia mau ditempa, dia tidak menunjukkan kesedihannya. Ia kuat dan akan menjadi semakin kuat.
Sebuah peran yang tidak mudah untuk dilakoni.

Darimana datangnya, hati nan mulia, bersenandung warna Illahi.
Ketuhanannya yang melindungi.

Setiap malam, ia akan bernyanyi.
Lagu-lagu rohani. Saat teduh-nya.

Bagaimana mungkin seseorang yang masih belia memiliki kepasrahan sebegitunya pada Tuhan? itu adalah bentuk keimanan yang tinggi.

Sebagai seorang muslim, saya sampai malu sendiri atas kedislipinan an ketaatannya dalam beribadah. Saya perlu mencontoh ketawakalannya ini.

Satu lagi.
Dia tidak melulu fokus pada dirinya.
Gayanya cuek namun perhatian pada teman-temannya. Sekedar berteriak memanggil nama, atau bertanya “Training hari ini?”, “Tuh ada makanan di meja”, “Awas kalau jalan lihat-lihat nanti jatoh”, dan lainnya.

Dia tidak egois.
Dan dia manusia biasa 🙂
Delima melewati masa-masa sulit yang tidak seluruhnya saya ketahui.
Bukan anak orang kaya apalagi suka menghamburkan harta.

Dia pekerja keras dengan tingkat kesadaran yang cerdas bahwa semua orang tumbuh berkembang menjadi sesuatu dengan proses yang terkadang rumit.

Ia dewasa.

Setiap pulang, saya akan menunggu ulahnya. Hanya mendengar dari kamar sebelah saja, saya sudah merasa ditemani. Dia dan segala aktivitasnya yang menerangi sepi.

Sungguh beruntung saya mengenalnya. Ia yang menginspirasi.

Hei, Delima Sinaga, saya mengagumimu.
Jadi, tolong pegangi hidungmu ya 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s