The Power of Kepepet

“Gue jualan kerudung. Lo mau beli ngga?”, tanya saya angkuh.

“Engga”, jawabanya.

“Kenapa?”, saya sewot.

“Nawarinnya aja kayak gitu. Jelas saya ngga mau”, protesnya.

*saya manggut-manggut*

Berbisnis atau berjualan adalah hal yang nggak banget dalam keluarga saya. Pokoknya itu jangan sampai ada yang dagang di keluarga saya, karena dipandang sebelah mata.

Oleh karena itu, saya malu ketika nge-danus selama kuliah, karena harus jualan donat. Tahukah teman-teman apa yang saya lakukan? Saya taruh itu kotak donat di kelas, dan tanpa bersuara donat itu sudah habis sendirinya dan uang pembeli terkumpul begitu saja di atas kotaknya. Alhamdulillah.

Lucky me 😀

Saya pernah bertanya kepada seorang teman yang terlihat sukses usahanya, mengenai, “apa rahasianya?”

The power of kepepet”, begitu jawabnya.

Sepertinya The Power of Kepepet ini very powerful ya, haha.
Somehow, it’s true.

Lalu saya membaca sebuah buku yang mengupas tentang kehidupan Rasulullah dan Siti Khadijah. Hei! jangan salah! mereka berNIAGA loh! Bahkan pasar marketing Rasulullah saat itu mencapai 3 Negara di luar Arab. Bahasa kerennya, Rasulullah berhasil meng-ekspor barang sampai ke luar negeri.

How cool is that 🙂

Kalau Rasulullah saja mencontohkan mencari penghasilan dengan cara berdagang, artinya dagang bukan hal yang memalukan dong?

Dan lagi, dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda:
9 dari 10 Pintu Rezeki itu berasal dari perniagaan (perdagangan)” [HR. Tirmidzi].

So, there is nothing wrong with, say, “Berjualan”.
Right or left? 😉

Nah, berangkat dari pengetahuan ini dan The spirit of kepepet, saya pun memberanikan diri memulai sebuah usaha kecil-kecilan bersama rekan saya @liebefine.

Sholat saja lebih utama yang berjamaah, mengapa tidak kita sukses bersama? Allah SWT lebih menyukai keberhasilan ummat-nya secara berjamaah dibanding individualisme yang berubah menjadi komunisme.

Saya merasa, partnership, meski selama 2 minggu ini sudah banyak pedih perihnya, namun insya Allah untuk ke depannya, saya yakin akan ada banyak manfaat untuk kami berdua.

Oya, dan amazingly, teman saya di kost kerap kali mem-boost up spirit saya, dan kindly meminjamkan kameranya untuk memfoto barang dagangan saya. Thank you so much @elvidelima.

Dalam 2 minggu ini, saya berkonsultasi pada banyak coach mengenai bagaimana berbisnis itu sih? hehehe.

Menawarkan barang dagangan, rasanya seperti mau sidang TA dengan penguji yang galak. Takut setengah mati, dengan keberanian yang ditunda-tunda. Dan lucunya selalu minta teman-teman saya berpura-pura jualan, dan saya bertingkah “Saya cuma bawain barang”. Haha.

Saya selalu mengatakan pada diri saya, “Ayo, kapan kamu mau berani?”. Dan meski exactly berjualan door to door, person to person itu bukan cara yang efektif memarketkan sesuatu, namun ada rasa puas ketika orang yang saya tawari barang akhirnya membeli. Saat itu juga pipi saya akan merekah dan tersenyum sendiri.

Okey, dengan bakat yang minim dan sok gengsi besar, begitulah awalnya cara saya menawarkan sesuatu, “Lo mau beli ga?”, seolah butuh ngga butuh.

Sampai akhirnya saya mendapatkan feed back di atas. Saya lalu hening.

“Gue ngomongnya kasar ya?”, saya sadar diri.

“Hm, nggak kok. Dulu juga saya kaya kamu. Tapi lama-lama saya belajar dan akhirnya bisa berbahasa dengan lebih baik lagi”, ucap pengusaha jamur tersebut.

Dagang.
Ya! ternyata berdagang adalah perihal berbahasa dan kepercayaan, trust.
Jika orang yang kita percayai, dan orang yang berakhlak baik berjualan, meski penawarannya tidak membombardir, insya Allah kita tidak ragu untuk membeli dagangannya dengan alasan apa pun.

Dagang adalah bersabar.
Bersabar mendengarkan masukan-masukan dari pembeli dan dagangan kita belum memberikan untung yang ruah.

What easy doesn’t last. What last doesn’t easy“.
[Muhammad Assad]

Kita harus curiga jika kita mendadak sukses secara instan. Jangan-jangan sebentar lagi kita rugi. Ingatlah kesuksesan butuh proses. Pilih! kita mau membangun bisnis yang sustainable dan berkelanjutan atau ingin jadi OKB (orang kaya baru)?

Oleh karena itu, bersabarlah dengan pundi-pundi usaha yang sedang kita lakukan.

Bisnis adalah mengalah untuk menang. Merendahkan hati kita, bertutur kata yang lembut, menawarkan kepercayaan dan tentunya produk unggulan. Kita harus tau keistimewaan dari barang yang kita jual. Kita perlu untuk mampu menjelaskan sebaik-baiknya mengenai apa yang kita tawarkan.

“Mba, saya jual kerudung, bahannya bagus, halus, jatuh, ngebentuk di wajah jadi cakep, tidak panas, dan ngga transparan. Pakai 1 lembar saja sudah cukup”, promo saya.

“Hm, saya biasa pakai Paris sih”, responnya.

Dalam hati ingin ber-argumen, ” Tapi paris kan tipis, mba. Nerawang. Harus di double“. Namun saya me-rem mulut saya.

Betul! Dagang adalah soal pasar.
Pedagang boleh idealis terhadap produknya, namun seorang pedagang TIDAK bisa meMAKSA seseorang untuk membeli dagangan kita.

Konsumen yang paling tau kebutuhannya masing-masing, mereka yang bisa merasakan nyaman tidaknya memakai sesuatu. Pedagang bukanlah penentu apa yang terbaik untuk calon pembelinya.

Pedagang adalah seorang penyedia.
Penyedia variatifnya produk, jenis, bentuk dan kebutuhan lainnya.

Baiklah, rekan-rekan, demikian sharing perdana dari seorang new bee.
Saya mohon do’anya agar usaha saya bisa istiqomah dan Allah senantiasa menolong saya.

Dagang, jualan dan bisnis juga tentang kekuatan do’a. Tentang seberapa dekat hubngan kita dengan Allah SWT. Tentang sejauh mana keimanan kita.

Satu lagi, berbisnis erat hubungannya dengan sedekah.
So, semangat dagang! 😉

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. raini munti says:

    kisah yang menyemangati saya untuk kembali jualan door to door dengan produk yang berbeda, selama 9bulan saya keluar dari perusahaan yang menaungi saya, saat akan kembali mulai gugupnya setengah mati,karena membaca ini saya kembali termotivasi,makasih dek =)

  2. ayo ikut talent mapping
    ngebantu memetakan diri
    dan mengoptimalkan potensi diri
    yah yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s