Nikah

“Ndar, bentar ya. Aku mau bangunin suami dulu”, ujar seorang wanita .

“Okey”, saya menusukkan garpu ke buah mangga yang ia suguhkan.

Tak lama ia datang lagi.

“Gimana, udah bangun?”, tanya saya.

“Belum, Ndar”, jawabanya.

“Hah? kenapa? dia bilang apa pas kamu bangunin?”, saya penasaran.

“Katanya, mau direbusin air anget dulu baru bangun”, ucapnya sambil menyalakan kompor.

Saya melongo.

Pria macam apa yang tega meminta istrinya yang sedang hamil 6 bulan untuk merebus air. Mengangkat panci berisi air saja sudah berat, apalagi dengan perut buncit. Pasti tambah berat.

Belum lagi ketika saya ikut berwudlu di kamar mandinya, ada sejolang besar berisi kemeja.

“Baju siapa itu?”, tanya saya lagi.

“Baju kami!”, dia menunjuk batang hidungnya.

Wah! saya pikir itu baju rendaman pekerjanya.

“Ngga pakai mesin cuci aja?”, saya mencoba menyarankan.

“Hm, engga”, ia menjawab sambil lalu.

Saya hampir-hampir bertanya, “Apakah kamu bahagia, dalam pernikahanmu?”, melihatnya begitu lelah. Namun saya yakin ada banyak hal yang membuatnya bahagia di keluarga kecilnya.

Rumah mereka terbilang jauh. Saya mengujunginya dalam rangka bersilaturahim. Sudah lama saya tidak berjumpa dengan salah satu sahabat terbaik saya ini.

Ia tidak ingin menikah, kala itu. Dia memandang pernikahan adalah perbudakan bagi wanita, dimana ketaatan seorang istri sepenuhnya ditujukan untuk suaminya.

Ia sempat bertanya, “Ya Allah tidak cukupkah saya beribadah kepada Engkau saja? kenapa harus menikah?”.

Namun tampaknya jawaban-jawaban dari istikharahnya mengacu pada suatu akad yang mengikat mereka dalam sebuah mitsaqan ghalizå.

Barakallah sahabatku. 🙂

Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang melimpah (yaitu : Surga)
(Qs. An Nuur (24) : 26)

Pelajaran yang saya ambil dari kunjungan ini adalah, ternyata pernikahan tidak seperti yang diperbincangkan banyak orang. Pernikahan bukanlah sebuah kamuflase dan kumpulan hal-hal manis belaka.

Pernikahan adalah perjuangan.

Kita tidak bisa serta merta menikah hanya karena menyukai seseorang. Tapi lebih dari itu, pernikahan membutuhkan komitmen, pengorbanan dan keikhlasan hati untuk memberikan sebagian diri kita kepada orang yang kita nikahi.

Ya.
Ternyata inti dari pernikahan bukanlah ada seseorang yang meringankan beban kita, melainkan kesiapan diri kita untuk meringankan beban orang lain.

“Mereka (para istri) itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian
adalah pakaian bagi mereka.”

[Al-Baqarah: 187]

Saya percaya, ada sesuatu dibalik pernikahan. Ada pahala yang begitu besar dibalik meleburnya dua jiwa. Namun, sebaiknya kita juga menyiapkan mental, mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk berumahtangga. Untuk berjuang dalam rumah tangga kita.

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(An-Nuur:32)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s