Gulai Rasa Kari

Setelah ber-eksperimen dengan Kangkung Cah Ayu, hari ini, dalam rangka ber-lebaran haji or also known as Idul Adha, dimana setiap rumah akan kebagian daging qurban berupa daging Moo (sapi), Mbee (kambing/domba), kalau daging onta kurang lazim di Indonesia, di Jazirah Arab mungkin saat ini orang-orang disana sedang bersantap daging onta (gimana ya rasanya?) 😀

Okey, berbekal resep-resep yang saya search di internet dan bertanya-tanya pada kawan-kawan yang sudah fasih masak, saya pun menyiapkan:
1. Bawang merah
2. Bawang putih
3. Jahe
4. Lengkuas/laos
5. Serai
6. Daun salam
7. Kemiri
9. Merica bubuk
10. Garam
11. Gula
12. Kunyit
13. Cabai
14. Santan
15. Tentunya daging sapi

Kenapa saya memilih daging sapi instead of yang lainnya? karena sesungguhnya saya kurang bisa menelan daging, kecuali daging yang sangat lunak. Dont know why ya, dari kecil soalnya.

Daging sapi yang sudah dibersihkan, terlebih dahulu dikulub/digodok/direbus sampai dagingnya agak empuk. Lalu tiriskan dan potong kecil-kecil.

Semua bumbu tadi bisa diulek/diblender. Saya memilih diulek. Kenapa? hemat listrik, takut blendernya rusak dan bikin berisik, maklum di rumah suka suasana tenang. Meskipun proses mengulek membuat air mata saya mengalir akibat peures-nya pesona bawang merah, dan memakan waktu yang cukup lama untuk menghaluskan semua bumbu, namun dengan semangat sumpah pemuda (today, 28th Oct) saya rendos itu semua!

Walhasil, bumbu pun siap dimasukkan ke campuran air dan santan yang sudah mendidih di panci.

Eeh tapi! ko kuahnya ga berubah jadi kemerahan sih? ko kuning? mulai puter otak. Icip-icip ko rasanya agak melenceng ya dari apa yang saya idamkan? 😀

“Ini mah rasa kari”, komentar ibu saya.
“Tapi gak apa-apa, ayah kamu kan kolestrolnya tinggi, jadi jangan gurih-gurih ntar tensinya naik lagi”, ucap beliau.

“Udah, hidangkan aja Ndar. Bapak suka wanginya. Ntar habis solat dzuhur Bapak mau makan”, kata Bapak saya.

Wokey, setelah daging melunak, dan bumbu mulai meresap, saya pun menuangkan Gulai rasa kari tersebut ke mangkok besar, tak lupa ditaburi dengan bawang goreng.

Karena so much hungry, saya pun mengambil sepiring nasi dan mengguyurkan gulai rasa kari tersebut ke piring saya. Dan mulai melahapnya. Wow! it taste really delicious for me! 😀 tumben, biasanya saya ga kuat makan daging, tapi kali ini sepiring tak bersisa. Ayah saya bahkan pengen nambah lagi, tapi Ibu saya mencegah beliau, “Nanti darah tingginya jadi lagi!”, omelnya.

So, mari bersantap Gulai rasa kari!
or should I say Gulai Rasa Cinta?
hahaha…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s