Loud voices

“Mba, ini kenapa ya? masa honor seorang Dosen di Perguruan Tinggi ini segini juta? padahal dosen-dosen disana itu lulusan S1 lho dan PD 2-nya saja adik kelas saya. Ini entah gajinya terhitung dobel atau ada yang salah dengan rinciannya”, seorang Dokter mengajak saya bicara.

Mengatasi ketidaktahuan saya, saya letakkan tangan di dagu saya dan menggeser laptop beliau. Jujur, saya tidak mampu meng-identifikasi apa yang sedang saya kerjakan sedalam itu. Pengen teriak, “Woi! ini bukan tupoksi gue!”. Saya belum mampu menganalisis Unit Cost di sebuah Satker sebegitu detailnya. Apa yang biasa saya lakukan adalah dengan minim pengetahun dan suara sok memeriksa bertanya, “Pak/Bu, rate gaji dosen disana memang berapa ya? tunjangan struktural dan fungsionalnya sudah dipisah belum? nanti gaji dosen pure dan manajerialnya di pisah ya”.

“Trus, ini mbak, Daftar Aktivitasnya kacau. Harusnya kan, semua praktikumnya di daftarkan. Kalau di Fakultas Kedokteran itu kan praktikumnya beda-beda, Bahan habis pakai-nya juga beragam. Untuk BHP ini dihitung per pertemuan (frekuensi), bukan per jam kuliah”, celetuknya lagi.

Saya nyengir ūüėÄ

Do you feel like you need a time alone sometime?
Yes. As for me, it is when I’m blogging.

Here is what happen.
For some people, 15-18 November 2012 in Indonesia might be a holiday.
But for  me, its time to work.

I, even though already working for a year and more, still try to understand what is it with my job? what’s the scheme, the non-understandable schedule, was wondering, whats going on with this month when suddenly my boss drag me into this super ‘vacation’. Being locked in a hotel for 4 days, and fyi, I also spent the last 4 days in Yogyakarta before continue working in Bogor without, wait for it, BREAK.

Good?
Bad.

What so bad about working and get more money?
I do love the fact that I will have more saving but, the thing is, I miss my family the most.

Is that wrong to missing my family back home?

Dan inilah saya, di sela waktu kerja, kabur untuk nge-blog sebentar. Sudah mencoba menghubungi sahabat tempat saya curhat, tapi nampaknya beliau sedang sibuk mendaki semeru, Telepon pun berdering tulalit.

Lembur saya kali ini (alhamdulillah) tidak dikerjakan oleh tim Dikti saja, namun melibatkan beberapa tim ahli, dosen, dokter dan akuntan dari beberapa universitas. Dengan segala kebaikan bos Kumis, begitu nama tenarnya, beliau membolehkan kami membawa keluarga ke tengah hutan ini. Rekan-rekan saya membawa suami, istri dan anaknya. Konsep kerja yang baik. Kalau saya? mau bawa siapa.

Agak tertohok sedikit sih ketika tau bahwa kami dikasih jatah boleh off sehari. Sore ini partner in crime saya pulang, karena besok dia ada fitting baju akad. Well, my insecurities grow. Takut bo, ama bos galak.

“Bos kamu itu, punya keluarga ngga sih?”, pertanyaan cerdas menggelitik lidah saya untuk berkomentar. Bagaimana tidak? itu adalah bahasan bulan-bulanan yang tidak pernah membosankan. Tapi saya menahan lidah saya.

“Ai, ntar malem aku pulang ya. Harus nyuci popok anakku. Kasian istriku sendirian di rumah”, kata rekan saya yang anaknya baru saja berusia 3 minggu.
“Aku gak mau keluarga aku berakhir seperti keluarga bos Kumis”, tambahnya.

“Bos Kumis itu, kalau dateng jam 9 pagi. Pulangnya jam 12 malem”, cerita rekan saya yang lain pada orang Satker.
“Dan, makin jago kami di suatu hal, makin diberdayakan, pulang makin malam, tapi tidak dihargai”, celotehnya.

“Ya, bisa dibilang, keluarganya bos Kumis itu staff-staff-nya di kantor”, simpulnya.
Hwedew! gue sih ogah bener. Sudi!

Bukan, bukan karena tupoksi kerjaan yang ngga sesuai. Bukan juga soal saya yang shock diperlakukan kaya babu di ting-tong-ting-tong, itu sih sudah lagu lama. Bukan juga karena kerjaan yang kadang remeh kadang heboh. Apakah saya bekerja dengan orang biasa? Oh no! Saya bertemu dengan banyak orang hebat disini. Duduk bersama, bersanding bersama, saya bisa berlagak sok pintar di depan mereka, sok kece. Kadang jadi dirijen di depan Menteri dan memandu acara di depan para Eselon II. Bukan karena itu semua saya ngga betah kerja disini, tapi lebih karena, sorry to say, beliau bukan pemimpin yang baik.

Okelah, kalau orang bilang, “Galaknya beliau itu akan membuat kamu jadi lebih baik. Justru kamu harus menganggap itu sebagai tantangan”.

Simpelnya, boleh ngga sih, saya kasih kritik dikit yang membangun buat beliau? Ngga bakal didengar? Okey saya tulis saja.

Pemimpin yang baik.
Sebelum saya ngoceh, saya istigfar sebanyak-banyaknya akan apa yang mungkin saya tulis.

Well, I should say, “I don’t want to grow up and become like my boss”.

Entah karena masalah keluarga, dan tidak tahu siapa yang memulai, ada apa atau bagaimana meski saya sering dengar selentingan tentang beliau dari mulai anaknya bermasalah, dia jarang di rumah, istrinya jabatannya lebih tinggi sampai dia pun affair, si bos Kumis ini, sudah sangat famous atas gila kerjanya dan sifat tanpa ampunnya. Semua harus bisa, kuat dan cerdas seperti dia, hanya yang lain itu harus direndam ke-famous-annya sehingga semua hal yang kami kerjakan akan berakhir dengan,
“Saya sudah buat ini. Ini saya yang mengerjakan”.

Kenapa tidak mengatas namakan kerja tim?
Merasa ga level duduk bersama kamu dan coba mengeksekusi?
Kalau ada problem coba cari solusi, bukan marah-marah sama kami.
Perempuan okey cerewet, kalau laki-laki?
Lupa pakai bedak kali.

I don’t know whats wrong with him?
Yang membuat dia memilih untuk duduk bersama kami di ruang sidang dan bukannya membantu malah menambah masalah, terkadang diam dan nambahin tugas lagi. Sombong sedikit karena berhasil menyetel settinngan wifi, lalu bertampang manis di depan Satker tapi menguras tenaga kami, ketimbang duduk di rumah menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya. Hei! ini long weekend lho! And I desperately want to go home.

Saya punya ayah yang merindukan saya, saya punya Ibu yang menunggu saya, saya punya adik yang ingin bermain dengan saya. Dan Bapak, tiap saya perhatikan jadwal Bapak, weekdays sudah sampai larut di kantor dan weekend selalu ada acara keluar kota. Saya jadi mikir, kapan waktu Bapak bercengkrama dengan keluarga?

Dan bukan itu saja, ketika siang ini dia datang dari rumahnya. Dia datang bukan dengan fisik segar. Namun dengan mata memaksakan untuk melek, berkantung hitam dengan seduhan secangkir kopi dan rokok yang sekali-kali dihisap. Kenapa Bapak tidak memilih untuk beristirahat ketimbang memaksakan diri untuk tetap ‘sadar’?

Ada apa dengan hidup Bapak?
Yang bukan merupakan tanggungjawab saya untuk mengorek lebih dalam karena saya bukan wartawan infotainment yang bisa menjatuhkan Bapak dengan artikel saya.

Tapi dampaknya itu lho, tidak baik menggunakan diri sendiri sebagai standar kinerja orang lain. Masing-masing manusia punya batas kelelahan dan dunia sendiri. Punya keluarga untuk ditengok dna disayangi. Punya teman-teman untuk hang-out. Punya kosan yang harus dibereskan dan baju yang harus dicuci. Kami harus pulang, Pak.

Kalau dengan menjadi pemimpin kemudian powernya itu digunakan untuk pengkarbitan masa, dimana anak buah nggak bisa protes karena masih mikirin perut, dimana demokrasinya? Mungkin Bapak sisa jaman orde lama. Saya tahu. Tapi sayang, saya produk masa kini, yang bentar-bentar senang mengkritisi, daripada direndahkan harga dirinya. Okelah, kami mencari nafkah, tapi ngga dengan cara di bego-bego-in dan dibentak-bentak kan? Bapak punya istri dan anak, pikir saja kalau istri dan anak Bapak diperlakukan seperti apa yang Bapak lakukan pada kami? apakah tidak sakit hati?

Saya saja, wanti-wanti sama adik saya, supaya kalau ada yang nge-bully, dia harus balas tonjok. Buat apa? Supaya menunjukkan kita juga punya taring.

Saya tahu betul. Menjadi pemimpin yang ramah dan adil itu sulit. Apalagi untuk seseorang yang prefeksionis dan emosional. Pasti spaneng kalau berhadapan dengan kondisi tidak ideal. Saya berusaha memahami. Namun di hati kecil saya, saya ingin bilang kalau, menurut saya pemimpin yang baik itu justru mencontohkan, melayani dan mengayomi. Mampu menciptakan suasana kerja yang nyaman dan memperhatikan kesejahteraan hati tim-nya. Banyak model kerja yang sudah berkembang sekarang dimana bawahan-atasan saling membutuhkan dan melengkapi. Bukan lagu ndoro-babu. Namun kerja tim.

Toh, seharusnya seorang konseptor yang handal bekerjasama dengan eksekutor yang cekatan, kan?

“Bos kamu kerja buat hidup apa hidup buat kerja sih?”, tanya seorang akuntan.

“Dua-duanya”, timbal yang lain.

Could you imagine, what’s gonna happen when some people gathering in a place together for a couple of days in pressure?

Domino effect

“Keren ya dia pintar, pasti karirnya cepet naik deh dan bos-nya suka dia”, komentar seseorang lagi.

“Ya kali. Kalau disini mah yang ada, makin pintar, makin rajin, kerjaan ditambah, over time dan semakin deket sama bos, makin dimarah-marahin. Jujur, aku senang dengan finansial yang aku terima, tapi kaya ngga sesuai aja gitu dengan capai hati yang didapat. Kerjaan kita tuh ngga dihargai”, jawab rekan saya yang lain.

Well, dari potongan kalimat tersebut saja sudah terlihat kan, bahwa bos yang galak membuat pekerjanya malas-malasan, ditambah kalau kita ulet dan pandai, beliau malah akan makin ‘memakai’ jasa kita, makin malam untuk pulang, belum dimarah-marahinnya. Sehingga yang terjadi adalah bawahan bermain petak umpet dengan atasan, pulang lewat tangga karena takut pas-pasan dengan bos di lift. Dan untuk yang kurang gesit untuk kabur, maaf-maaf saja, orang tersebut bisa ke gap dan menghabiskan waktu lebih lama di kantor. Ngeri.

Menurut saya, sikap bawahan yang terkesan kurang berdedikasi ini tidak bisa disalahkan juga meskipun tidak benar. Tepatnya tidak adil pada rekan lain yang ‘ditumbalkan’ secara tidak langsung. Mau bagaimana lagi? siapa yang tahan dimaki mentah-mentah oleh orang lain (meski dia atasannya kita) setiap hari.

I always think that there’s always a better way in leading.
Remember this, however you want it, don’t speak loud and be rude.
U don’t know how many people that feel comfortable with your soft wise voice.

Dan, fine.
Tidak ada faedahnya mengeluh tanpa ada solusi.
So, resign?

Advertisements

Key.

“Teh, cowo itu ganteng deh. Mas, asalnya darimana?” | “Kuala lumpur” | “Masa?” | “Bener. Lumpur Lapindo” | “Haha. Oh, trus ko bisa nyasar ke Bengkulu?” | “Ngikut istri, mbak”.

Mendadak si Mas menjadi TIDAK ganteng.
ūüėÄ

So long, I’ve been looking too hard,
I’ve been waiting too long

Sometimes I don’t know what I will find,
I only know it’s a matter of time

When you love someone.

Maybe I’m wrong,
won’t you tell me if I’m coming on too strong

This heart of mine has been hurt before,
this time I wanna be sure
Foreigner : Waiting On a Girl Like you

Me, 18:33
Sebenernya saya tidak tahu apa yang menyebabkan Allah menikahkan dua orang manusia. Apakah karena waktu, kapasitas dirinya atau sudah jodohnya?

AV, 18:36
Apakah Allah nunggu manusia takwa dulu baru ngasi rizki atau rizki membuat orang semakin dekat pada Allah? mana yang tepat menurutmu?

Me, 18:45
Keduanya berlangsung paralel

AV, 18:46
Hidup itu asalnya dari Allah dan akan kembali menuju Allah. Jadi mestinya setiap proses, keputusan, dan pencapaian dalam hidup kita adalah jalan setapak menuju Allah

AV, 18:47
Apakah ilmu yang kita miliki membuat kita semakin dekat atau semakin jauh dari Allah?

AV, 18:48
Apakah rizki yang kita dapat membuat kita semakin bersyukur atau kufur?

AV, 18:49
Apakah jabatan/wewenang/kekuasaan membuat kita semakin rendah hati atau semakin sombong?

AV, 18:50
Jodoh kita, bagaimana pun keadaannya, apakah membuat kita semakin dekat pada Allah atau semakin jauh?

AV, 18:54
Jadi esensinya bukan pada kondisi/keadaannya, tapi apakah kondisi/keadaan itu menjadi jalan setapak untuk semakin dekat dengan Allah atau tidak.

AV, 18:55
Yakin aja bahwa rencana Allah pastilah baik. Mustahil Allah menetapkan sesuatu yang buruk bagi hamba-Nya. Hanya kitalah yang memaknainya.

Me, 18:56
Masalahnya kalau jodohnya ngga ketemu-ketemu bikin galau, haha.
I keep thinking whats wrong with me?

AV, 19:03
Kalau kehilangan kunci di dalam rumah yang gelap, jangan mencarinya di luar, meskipun kondisi di luar rumah lebih terang daripada di dalam. Nyalahkanlah sebatang lilin dan mulailah mencari di dalam rumah.

Life is Short. So?

“Mei, kamu dapet salam dari Pak Harley”, kata ko Yud.

“Pak Harley?”, saya coba ingat-ingat.

“Iya,¬† Harley Prayudha, yang dulu General Manager Hard Rock FM dan I-Radio FM Bandung”, dia mencoba memanggil ingatan saya kembali.

“Tapi sekarang dia udah pindah ke Shinta FM”, ucap ko Yud¬†lagi.

“Kenapa?”, tanya saya.

“Ntah, mau ngembangin digital radio 2.0 sepertinya, karena radio Shinta FM dia rubah namanya jadi New Shinta FM”, jelasnya.

“Oo, beliau bilang apa?”, tanya saya.

“Kata beliau, semoga kamu kembali ke passion kamu”,¬†ujar ko Yud.

PASSION?
Ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng. JEDER!

Meskipun saat itu saya terlihat asik dengan blackberry kesayangan yang mau ada message atau tidak akan tetap saya ketak ketik, namun otak saya berpikir.

Dear my passion, wherever you hide,
please show up!

Flash Back. 
Waktu itu, pukul 7 malam, saya bertandang ke Hard Rock FM Bandung di bilangan Sulanjana. Bertemu dengan General Managernya langsung dan berguru soal digital radio.

Tepat setahun saya mengabdi di Antassalam Radio, memegang program English News dan Antassalam Harmoni, program favorit saya dimana saya bisa bercerita banyak tentang hidup dan mengangkat telepon, mendengarkan Ibu-ibu/Bapak-bapak/remaja curhat soal problema mereka.

Mulai jenuh dengan sistem manajerial yang ada, saya pun resign. Sebetulnya, saya pikir, Antassalam harusnya bisa lebih sukses secara finansial karena genre-nya ‘megang’ banget. Lagunya Indonesia abis, dangdut. Dan diperuntukkan untuk masyarakat menengah ke bawah, which is kondisi tersebut yang paling besar jumlahnya di Bandung.

Setelah hengkang dari Antassalam radio, saya diprovokasi oleh Koko Yudha, bahu membahu merintis sebuah radio digital, bernama Salman Radio. Orang di belakang radio ini adalah Kang Budhiana, Pimpinan Redaksi Koran PR. Koran nomer wahid di Jawa Barat.

Saya dan ko Yud, berdiskusi, membuat program dan mempresentasikannya di depan Kang Budhi. Belajar membuat managemen radio dari STIKOM Bandung dan berguru soal apa sih digital radio 2.0 dari ahlinya, yaitu Pak Harley Prayudha.

Ketika saya mengunjungi ruang kerjanya, dia sedang memutar radio digital 2.0 miliknya sendiri. Recording sendiri, taping sendiri, masukin jingle dan lagu sendiri dan radio berputar otomatis selama 24 jam. Asal kita punya software yang canggih hal ini bisa dipenuhi.

Beliau pun memperagakan alat rekamnya yang almost zero noise dan mengambil sample suara saya untuk dijadikan jingle Salman Radio. Amazing! Dengan  bantuan cool edit tagline Salman Radio pun beres seketika.

Dari situ, saya dan ko Yud mulai semangat mengkonsturksi radio minim budget ini. Dari mulai membeli mixer,¬†membentuk studio sederhana, dan yang terpenting adalah menyusun jadwal program dan mencari, siapa penyiarnya ūüôā

Setidaknya, radio amatir membutuhkan direktur, program director, penyiar, dan script writer. Penyiar bisa dilatih untuk mengoperasikan mixer dan komputer sendirian tanpa bantuan operator.

Ko Yud menjadi Direktur.
Saya diamanahi menjadi Program Director.

Galak.
Begitu komentar orang-orang tentang saya.
Disiplin dan selalu mengingatkan penyiar tentang jadwal siarannya.
Datang ketika mereka siaran dan melihat keberjalanan materi. Dan tentunya saya juga masih memegang beberapa program siaran. Talkshow adalah program yang paling saya suka.

Kami mencoba mengundang beberapa enterprener dan unit-unit serta orang-orang berprestasi di sekitar Salman untuk hadir dan mengisi acara. Beberapa penyiar sudah mulai menemukan warnanya ketika..

“Ko, gw disuruh kerja di Jakarta sama bokap gw”, ucap saya.

Berat hati, dengan segala nego, akhirnya saya pamit dari Salman Radio. Dan posisi Program Director dipegang oleh salah satu penyiar yang sudah memiliki pengalaman siaran di Bandung FM.

“Gw benci sama orang-orang yang pindah ke Jakarta”, komentar ko Yud.

“Mereka berubah”, tambahnya.

Saya? ya saya berubah.
Seorang pejuang yang termakan realitas hidup.
Menjadi seonggok daging yang beraktivitas seperti robot.
Kemana perginya adrenalin itu? bukankah skill leadership saya  begitu kental dulu?

“Ko, gimana radio?”, saya tanya, beberapa bulan setelah saya meninggalkan Bandung.

“Vakum, mei. Belum nemu lagi yang semangatnya seperti kamu”, jawabannya membuat saya kaget.

“Ko gitu? PD-nya kemana?”, selidik saya.

“Dia sibuk. Nggak ada penggeraknya. Aku sendiri ngga sanggup. Ya mending vakum aja”, jelasnya. O my God!

Setelah pertemuan dengan Ko Yud itu, saya merenung dan terus merenung. Inikah hidup yang saya harapkan? terjebak dalam rutinitas yang setiap pagi membuat saya ketar ketir nggak jelas. Karena apa? toh kerjaan saya suppose to ngga berat. Hanya duduk di depan komputer. Dipanggil bos galak sekali-kali. Kena semprot beberapa kali. Cuma tinggal dateng jam 9 pagi, telat dikit boleh, telat banget ya muka tebel. Pulang sebelum kemacetan Jakarta dimulai dan gaji safe.

This is a kind of job that some family woman wanna have.

Lalu ada masalah apa dengan saya sehingga sering sakit-sakitan?

“Itu, suruh Ai aja yang ngerjain”,
kata-kata seseorang nyamber ke telinga saya.

What did that person said?
“Suruh Ai aja?”
“Suruh?”

Okey. Suruh.

Yes, that’s me.
Saya tidak sanggup membayangkan betapa sabarnya para office boy/girl dan para pembantu rumah tangga yang pride-nya diinjak-injak oleh majikannya. Saya baru tahu, dibutuhkan hati yang AMAT lapang untuk diperlakukan seperti, maaf, babu.

Saya merasa, saya kurang berbakat menjadi karyawan.

“What will u do 10 years from now?”

Pertanyaan itu muncul pukul 23.53, saat saya hampir terlelap.

Saya jawab, “I don’t know“.

“What will u do 10 years from now?”

Saya mencermati kalimat itu kembali. Tak tahu.
Bagaimana saya tahu apa yang akan saya lakukan sepuluh tahun lagi?

Tapi jika saya memejamkan mata dan berpikir apa yang akan saya alami sekitar 5 tahun yang akan datang adalah:

1. Bisnis kerudung saya sukses, means @zalfascarf sudah go international
2.
Saya sudah menikah dan memiliki 3 orang anak
3. Sedang S2/S3 di luar negeri dan travelling all over the world
4. Saya menjadi super mom yang jago masak dan mengantar-jemput anak
5. Sudah menghaji/umrohkan orang tua
6. Menjadi penulis lepas
7. Mulai siaran di radio lagi
8. Membangun production house
9. Thank You Label aktif kembali dan sukses
10. Memberikan sepersekian tanggungjawab atas bisnis yang saya jalani untuk adik

Saya baru sadar, dari semua poin di atas, tak ada satu pun gambaran bahwa saya akan berkutat dibalik kubikel sepanjang hidup saya, baik tetap menjadi karyawati biasa maupun sudah naik pangkat. Dan bahwa sepersekian adrenalin dalam diri saya merindukan dunia broadcasting.

“Itu imajinasi atau plan?”,
tanya teman saya lagi.

It’s a plan“,
I’m doing it step by step“,
jawab saya.

“Jadi, kalau itu plan, harus dibuat proposal-nya”,
“17 Agustus-an aja ada proposalnya, masa hidup kita engga?”,
ucapnya.

“Proposal gimana?”,
saya tanya lagi.

“Ya kaya proposal kegiatan gitu”,
“Harus jelas tanggalnya dan bagaimana teknis pelaksanaanya”,
jawabnya.

Saya tidak¬†segera merespon balik. Sepertinya ribet dan susah ya bikin proposal hidup diri sendiri. Tapi seru juga tuh untuk bikin proposal hidup. Lagian saya kan kalau malam nganggur, ya hitung-hitung nga-gawe-keun diri sendiri lah. Meski¬†yang bakal baca proposal saya yang probably saya sendiri ūüėĬ†

But the good point is mungkin ketika sedang menyusun proposal tersebut malah terbuka jalan-jalan yang sebelumnya tidak terpikir. Biasanya kan kalau udah ngulik sesuatu kita jadi lebih penasaran dan males berhenti kalau belum tercapai apa yang kita mau tau.

So, its pretty challenging ūüôā

Ok. I think I can do that“,
timpal saya.

Life is short, and opportunities are rare.
So?

Di bawah Pohon Rindang

Melototin angka demi angka, sheet to sheet, mempelajari rumus- rumus, dan menelusuri link sepanjang pagi sampai siang telah membuat mata saya jereng. Well, meski udah silindris tapi ya kalau terlalu lama mantengin, lama-lama kabur juga tuh angka-angkanya.

Mudah? muntah!

Okey, so, namanya Unit Cost.
Sebulan ini akan berkutat dengan yang namanya Uang Kuliah Tunggal Perguruan Tinggi atau nama kece-nya unit cost yang tidak lain adalah beban uang yang dibutuhkan oleh 1 orang mahasiswa per semester untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi selama masa studi. Kalau S1 ya 4 tahun, kalau D3 ya 3 tahun.

Ini kerjaan anak akuntansi banget sih!

Ciyus? miapah?

Salah satu bagian tubuh saya mulai berontak, kebelet men! Saya pun meninggalkan ruang kecil tempat saya nebeng mengerjakan unit cost dan berkeliling mencari toilet. Celingak celinguk, seisi ruangan instrumen berat dan besar semua.

Baru kali pertama ini saya berpijak di laboratorium rada bawah tanah, berdebu dan penuh alat entah apa itu. Luas, bergema, spooky. Laboratorium Teknik Mesin ITB. Serem juga.

Setelah meliuk-liuk di ruangan yang luas itu, saya tidak juga menemukan toilet dan akhirnya saya memilih untuk mencari keluar lab. Kebetulan teman saya yang sedang lanjut S2 Teknik Mesin sedang ada training software, sehingga saya ditinggal sendirian di ruang kerjanya.

Keluar dari lab, menghirup udara segar ITB di hari Sabtu, dan bergegas mencari toilet.

Ah! mungkin di Prodi Biologi wc-nya terbuka. Dulu sewaktu saya mengambil kuliah Oseanografi di Labtek Biru yang ada tangga Double Helix-nya, saya suka turun dan numpang ke wc Prodi Biologi yang ada di lantai 1.

Ada beberapa anak Nymphea (himpunan Biologi) sedang LKO nampaknya, mereka duduk melingkar dekat kantin Kebab. Kantin dimana saya sering membeli roti isi tuna yang lezat. Saya pun sampai di depan wc, namun pintunya terkunci.

“OK! coba ke wc IF deh”, pikir saya. Saya ingat betul di wc ini saya pernah merapikan lipstik saat¬†persiapan ng-MC di International Retro Night-nya mahasiswa Internasional ITB.

Alhamdulillah terbuka. Suasana dekat himpunan mahasiswa Informatka lebih ramai lagi. Ada permainan anak sederhana dan prasmanan. Sedang ada temu alumni IF rupanya.

Setelah beres dengan urusan per-wc-an saya kembali ke lab Mesin, membereskan laptop yang saya pinjam dan pamit pada teman saya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Saya ada agenda lain. 

Tidak  terburu-buru pergi, saya melepaskan rindu sejenak.
Kalau boleh jujur, kampus ini meninggalkan trauma, kenangan manis, arogansi dan kebanggaan juga. Kampusku Rumahku, begitu jargonnya.

“Mentari menyala di sini
Disini, di dalam hatiku
Gemuruhnya sampai di sini
Disini, di urat darahku”
-Mentari

Ah! selalu menangis kalau ingat lagu ini.
Kampus ini kampus perjuangan. Kampus yang tidak hanya membentuk manusianya menjadi secerdas mungkin namun juga mengajari bagaimana caranya bergaul, berpolitisi, berdebat, bertoleransi, menangis, tertawa, berjuang bersama.GKU Barat, dan tangga-tangganya yang memutar. Sangat bersejarah membuat saya mengulang mata kuliah Analisis berkali-kali. Duduk bersama adik kelas, sekaligus saksi dimana kegiatan kemahasiswaan digaungkan di dekat mushola di lantai dasarnya. Wudlu dengan selang, berbagi makanan saat kelaparan. GKU Timur yang rasanya ruang-ruangnya lebih luas, meninggalkan kenangan indah dimana saya terlibat di Asean Universities Debate Championship dan berkenalan dengan banyak orang asing. They are great speaker.

Sambil melamun, saya pun tiba di depan TVST.
Gedung yang lebih banyak saya singgahi saat tingkat akhir. Menyesal sih, dulu kenapa saya tidak lebih giat di kelas Geometri-nya Pak Wono. Karena sepertinya perhitungan unit cost tidak seberapa sulit ketimbang Geometri, minimal logikanyalah. Haha.

Dan.. DPR ūüôā
Ada sebuah tempat di kampus ini yang sejuk yang di depannya ada semacam titik zona bulat yang kalau kita berteriak disana maka bunyinya akan menggema, sebutan tempat itu: Di bawah Pohon Rindang (DPR). Hehehe.

Anak-anak Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB) suka berkumpul disana, apalagi saat PEMIRA (Pemilu Raya ITB). Banyak anak akan duduk melingkar membicarakan strategi marketing calon yang diusung. Kotak suara. Rancang spanduk. Posko Bolang. Usung Baligho.

Oh! how much I miss this place!!!

ces.. ces..
Air mata takkan sanggup menerjemahkannya.
Betapa banyak suka dan duka saya lewati selama 5 tahun bersekolah di Kampus cap Gadjah duduk¬†ini. Kampus yang lebih banyak menorehkan ilmu sosial-organisasi-komunikasi dan ‘perjuangan’ akademik dalam hidup saya. Dimana life skill dan pandangan hidup saya mulai berubah. Idealis, namun kurang realistis. Hehe.

Lalu, saya ingat hari itu. Hari dimana saya menjalani masa orientasi sebagai mahasiswa baru dan membaca “Selamat datang mahasiswa/i Institut Terbaik Bangsa”. Sebuah moment yang membuat saya hampir pingsan karena sesak nafas akibat berdesakan dengan 3000-an mahasiswa lainnya. Berlari dari Sabuga menempus terowongan bawah tanah yang tersambung ke Sunken Court lalu ke Plaza Widya, lalu berhenti di depan Indonesia Tenggelam dan meneriakan..

“Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater! Merdeka!”

..Dan mentari kan tetap menyala
Disini, di urat darahku..

Yes.
I’ve graduated.
And I didn’t regret for being here.
Thank you, ITB.