Life is Short. So?

“Mei, kamu dapet salam dari Pak Harley”, kata ko Yud.

“Pak Harley?”, saya coba ingat-ingat.

“Iya,  Harley Prayudha, yang dulu General Manager Hard Rock FM dan I-Radio FM Bandung”, dia mencoba memanggil ingatan saya kembali.

“Tapi sekarang dia udah pindah ke Shinta FM”, ucap ko Yud lagi.

“Kenapa?”, tanya saya.

“Ntah, mau ngembangin digital radio 2.0 sepertinya, karena radio Shinta FM dia rubah namanya jadi New Shinta FM”, jelasnya.

“Oo, beliau bilang apa?”, tanya saya.

“Kata beliau, semoga kamu kembali ke passion kamu”, ujar ko Yud.

PASSION?
Ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng. JEDER!

Meskipun saat itu saya terlihat asik dengan blackberry kesayangan yang mau ada message atau tidak akan tetap saya ketak ketik, namun otak saya berpikir.

Dear my passion, wherever you hide,
please show up!

Flash Back. 
Waktu itu, pukul 7 malam, saya bertandang ke Hard Rock FM Bandung di bilangan Sulanjana. Bertemu dengan General Managernya langsung dan berguru soal digital radio.

Tepat setahun saya mengabdi di Antassalam Radio, memegang program English News dan Antassalam Harmoni, program favorit saya dimana saya bisa bercerita banyak tentang hidup dan mengangkat telepon, mendengarkan Ibu-ibu/Bapak-bapak/remaja curhat soal problema mereka.

Mulai jenuh dengan sistem manajerial yang ada, saya pun resign. Sebetulnya, saya pikir, Antassalam harusnya bisa lebih sukses secara finansial karena genre-nya ‘megang’ banget. Lagunya Indonesia abis, dangdut. Dan diperuntukkan untuk masyarakat menengah ke bawah, which is kondisi tersebut yang paling besar jumlahnya di Bandung.

Setelah hengkang dari Antassalam radio, saya diprovokasi oleh Koko Yudha, bahu membahu merintis sebuah radio digital, bernama Salman Radio. Orang di belakang radio ini adalah Kang Budhiana, Pimpinan Redaksi Koran PR. Koran nomer wahid di Jawa Barat.

Saya dan ko Yud, berdiskusi, membuat program dan mempresentasikannya di depan Kang Budhi. Belajar membuat managemen radio dari STIKOM Bandung dan berguru soal apa sih digital radio 2.0 dari ahlinya, yaitu Pak Harley Prayudha.

Ketika saya mengunjungi ruang kerjanya, dia sedang memutar radio digital 2.0 miliknya sendiri. Recording sendiri, taping sendiri, masukin jingle dan lagu sendiri dan radio berputar otomatis selama 24 jam. Asal kita punya software yang canggih hal ini bisa dipenuhi.

Beliau pun memperagakan alat rekamnya yang almost zero noise dan mengambil sample suara saya untuk dijadikan jingle Salman Radio. Amazing! Dengan  bantuan cool edit tagline Salman Radio pun beres seketika.

Dari situ, saya dan ko Yud mulai semangat mengkonsturksi radio minim budget ini. Dari mulai membeli mixer, membentuk studio sederhana, dan yang terpenting adalah menyusun jadwal program dan mencari, siapa penyiarnya 🙂

Setidaknya, radio amatir membutuhkan direktur, program director, penyiar, dan script writer. Penyiar bisa dilatih untuk mengoperasikan mixer dan komputer sendirian tanpa bantuan operator.

Ko Yud menjadi Direktur.
Saya diamanahi menjadi Program Director.

Galak.
Begitu komentar orang-orang tentang saya.
Disiplin dan selalu mengingatkan penyiar tentang jadwal siarannya.
Datang ketika mereka siaran dan melihat keberjalanan materi. Dan tentunya saya juga masih memegang beberapa program siaran. Talkshow adalah program yang paling saya suka.

Kami mencoba mengundang beberapa enterprener dan unit-unit serta orang-orang berprestasi di sekitar Salman untuk hadir dan mengisi acara. Beberapa penyiar sudah mulai menemukan warnanya ketika..

“Ko, gw disuruh kerja di Jakarta sama bokap gw”, ucap saya.

Berat hati, dengan segala nego, akhirnya saya pamit dari Salman Radio. Dan posisi Program Director dipegang oleh salah satu penyiar yang sudah memiliki pengalaman siaran di Bandung FM.

“Gw benci sama orang-orang yang pindah ke Jakarta”, komentar ko Yud.

“Mereka berubah”, tambahnya.

Saya? ya saya berubah.
Seorang pejuang yang termakan realitas hidup.
Menjadi seonggok daging yang beraktivitas seperti robot.
Kemana perginya adrenalin itu? bukankah skill leadership saya  begitu kental dulu?

“Ko, gimana radio?”, saya tanya, beberapa bulan setelah saya meninggalkan Bandung.

“Vakum, mei. Belum nemu lagi yang semangatnya seperti kamu”, jawabannya membuat saya kaget.

“Ko gitu? PD-nya kemana?”, selidik saya.

“Dia sibuk. Nggak ada penggeraknya. Aku sendiri ngga sanggup. Ya mending vakum aja”, jelasnya. O my God!

Setelah pertemuan dengan Ko Yud itu, saya merenung dan terus merenung. Inikah hidup yang saya harapkan? terjebak dalam rutinitas yang setiap pagi membuat saya ketar ketir nggak jelas. Karena apa? toh kerjaan saya suppose to ngga berat. Hanya duduk di depan komputer. Dipanggil bos galak sekali-kali. Kena semprot beberapa kali. Cuma tinggal dateng jam 9 pagi, telat dikit boleh, telat banget ya muka tebel. Pulang sebelum kemacetan Jakarta dimulai dan gaji safe.

This is a kind of job that some family woman wanna have.

Lalu ada masalah apa dengan saya sehingga sering sakit-sakitan?

“Itu, suruh Ai aja yang ngerjain”,
kata-kata seseorang nyamber ke telinga saya.

What did that person said?
“Suruh Ai aja?”
“Suruh?”

Okey. Suruh.

Yes, that’s me.
Saya tidak sanggup membayangkan betapa sabarnya para office boy/girl dan para pembantu rumah tangga yang pride-nya diinjak-injak oleh majikannya. Saya baru tahu, dibutuhkan hati yang AMAT lapang untuk diperlakukan seperti, maaf, babu.

Saya merasa, saya kurang berbakat menjadi karyawan.

“What will u do 10 years from now?”

Pertanyaan itu muncul pukul 23.53, saat saya hampir terlelap.

Saya jawab, “I don’t know“.

“What will u do 10 years from now?”

Saya mencermati kalimat itu kembali. Tak tahu.
Bagaimana saya tahu apa yang akan saya lakukan sepuluh tahun lagi?

Tapi jika saya memejamkan mata dan berpikir apa yang akan saya alami sekitar 5 tahun yang akan datang adalah:

1. Bisnis kerudung saya sukses, means @zalfascarf sudah go international
2.
Saya sudah menikah dan memiliki 3 orang anak
3. Sedang S2/S3 di luar negeri dan travelling all over the world
4. Saya menjadi super mom yang jago masak dan mengantar-jemput anak
5. Sudah menghaji/umrohkan orang tua
6. Menjadi penulis lepas
7. Mulai siaran di radio lagi
8. Membangun production house
9. Thank You Label aktif kembali dan sukses
10. Memberikan sepersekian tanggungjawab atas bisnis yang saya jalani untuk adik

Saya baru sadar, dari semua poin di atas, tak ada satu pun gambaran bahwa saya akan berkutat dibalik kubikel sepanjang hidup saya, baik tetap menjadi karyawati biasa maupun sudah naik pangkat. Dan bahwa sepersekian adrenalin dalam diri saya merindukan dunia broadcasting.

“Itu imajinasi atau plan?”,
tanya teman saya lagi.

It’s a plan“,
I’m doing it step by step“,
jawab saya.

“Jadi, kalau itu plan, harus dibuat proposal-nya”,
“17 Agustus-an aja ada proposalnya, masa hidup kita engga?”,
ucapnya.

“Proposal gimana?”,
saya tanya lagi.

“Ya kaya proposal kegiatan gitu”,
“Harus jelas tanggalnya dan bagaimana teknis pelaksanaanya”,
jawabnya.

Saya tidak segera merespon balik. Sepertinya ribet dan susah ya bikin proposal hidup diri sendiri. Tapi seru juga tuh untuk bikin proposal hidup. Lagian saya kan kalau malam nganggur, ya hitung-hitung nga-gawe-keun diri sendiri lah. Meski yang bakal baca proposal saya yang probably saya sendiri 😀 

But the good point is mungkin ketika sedang menyusun proposal tersebut malah terbuka jalan-jalan yang sebelumnya tidak terpikir. Biasanya kan kalau udah ngulik sesuatu kita jadi lebih penasaran dan males berhenti kalau belum tercapai apa yang kita mau tau.

So, its pretty challenging 🙂

Ok. I think I can do that“,
timpal saya.

Life is short, and opportunities are rare.
So?

Di bawah Pohon Rindang

Melototin angka demi angka, sheet to sheet, mempelajari rumus- rumus, dan menelusuri link sepanjang pagi sampai siang telah membuat mata saya jereng. Well, meski udah silindris tapi ya kalau terlalu lama mantengin, lama-lama kabur juga tuh angka-angkanya.

Mudah? muntah!

Okey, so, namanya Unit Cost.
Sebulan ini akan berkutat dengan yang namanya Uang Kuliah Tunggal Perguruan Tinggi atau nama kece-nya unit cost yang tidak lain adalah beban uang yang dibutuhkan oleh 1 orang mahasiswa per semester untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi selama masa studi. Kalau S1 ya 4 tahun, kalau D3 ya 3 tahun.

Ini kerjaan anak akuntansi banget sih!

Ciyus? miapah?

Salah satu bagian tubuh saya mulai berontak, kebelet men! Saya pun meninggalkan ruang kecil tempat saya nebeng mengerjakan unit cost dan berkeliling mencari toilet. Celingak celinguk, seisi ruangan instrumen berat dan besar semua.

Baru kali pertama ini saya berpijak di laboratorium rada bawah tanah, berdebu dan penuh alat entah apa itu. Luas, bergema, spooky. Laboratorium Teknik Mesin ITB. Serem juga.

Setelah meliuk-liuk di ruangan yang luas itu, saya tidak juga menemukan toilet dan akhirnya saya memilih untuk mencari keluar lab. Kebetulan teman saya yang sedang lanjut S2 Teknik Mesin sedang ada training software, sehingga saya ditinggal sendirian di ruang kerjanya.

Keluar dari lab, menghirup udara segar ITB di hari Sabtu, dan bergegas mencari toilet.

Ah! mungkin di Prodi Biologi wc-nya terbuka. Dulu sewaktu saya mengambil kuliah Oseanografi di Labtek Biru yang ada tangga Double Helix-nya, saya suka turun dan numpang ke wc Prodi Biologi yang ada di lantai 1.

Ada beberapa anak Nymphea (himpunan Biologi) sedang LKO nampaknya, mereka duduk melingkar dekat kantin Kebab. Kantin dimana saya sering membeli roti isi tuna yang lezat. Saya pun sampai di depan wc, namun pintunya terkunci.

“OK! coba ke wc IF deh”, pikir saya. Saya ingat betul di wc ini saya pernah merapikan lipstik saat persiapan ng-MC di International Retro Night-nya mahasiswa Internasional ITB.

Alhamdulillah terbuka. Suasana dekat himpunan mahasiswa Informatka lebih ramai lagi. Ada permainan anak sederhana dan prasmanan. Sedang ada temu alumni IF rupanya.

Setelah beres dengan urusan per-wc-an saya kembali ke lab Mesin, membereskan laptop yang saya pinjam dan pamit pada teman saya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Saya ada agenda lain. 

Tidak  terburu-buru pergi, saya melepaskan rindu sejenak.
Kalau boleh jujur, kampus ini meninggalkan trauma, kenangan manis, arogansi dan kebanggaan juga. Kampusku Rumahku, begitu jargonnya.

“Mentari menyala di sini
Disini, di dalam hatiku
Gemuruhnya sampai di sini
Disini, di urat darahku”
-Mentari

Ah! selalu menangis kalau ingat lagu ini.
Kampus ini kampus perjuangan. Kampus yang tidak hanya membentuk manusianya menjadi secerdas mungkin namun juga mengajari bagaimana caranya bergaul, berpolitisi, berdebat, bertoleransi, menangis, tertawa, berjuang bersama.GKU Barat, dan tangga-tangganya yang memutar. Sangat bersejarah membuat saya mengulang mata kuliah Analisis berkali-kali. Duduk bersama adik kelas, sekaligus saksi dimana kegiatan kemahasiswaan digaungkan di dekat mushola di lantai dasarnya. Wudlu dengan selang, berbagi makanan saat kelaparan. GKU Timur yang rasanya ruang-ruangnya lebih luas, meninggalkan kenangan indah dimana saya terlibat di Asean Universities Debate Championship dan berkenalan dengan banyak orang asing. They are great speaker.

Sambil melamun, saya pun tiba di depan TVST.
Gedung yang lebih banyak saya singgahi saat tingkat akhir. Menyesal sih, dulu kenapa saya tidak lebih giat di kelas Geometri-nya Pak Wono. Karena sepertinya perhitungan unit cost tidak seberapa sulit ketimbang Geometri, minimal logikanyalah. Haha.

Dan.. DPR 🙂
Ada sebuah tempat di kampus ini yang sejuk yang di depannya ada semacam titik zona bulat yang kalau kita berteriak disana maka bunyinya akan menggema, sebutan tempat itu: Di bawah Pohon Rindang (DPR). Hehehe.

Anak-anak Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB) suka berkumpul disana, apalagi saat PEMIRA (Pemilu Raya ITB). Banyak anak akan duduk melingkar membicarakan strategi marketing calon yang diusung. Kotak suara. Rancang spanduk. Posko Bolang. Usung Baligho.

Oh! how much I miss this place!!!

ces.. ces..
Air mata takkan sanggup menerjemahkannya.
Betapa banyak suka dan duka saya lewati selama 5 tahun bersekolah di Kampus cap Gadjah duduk ini. Kampus yang lebih banyak menorehkan ilmu sosial-organisasi-komunikasi dan ‘perjuangan’ akademik dalam hidup saya. Dimana life skill dan pandangan hidup saya mulai berubah. Idealis, namun kurang realistis. Hehe.

Lalu, saya ingat hari itu. Hari dimana saya menjalani masa orientasi sebagai mahasiswa baru dan membaca “Selamat datang mahasiswa/i Institut Terbaik Bangsa”. Sebuah moment yang membuat saya hampir pingsan karena sesak nafas akibat berdesakan dengan 3000-an mahasiswa lainnya. Berlari dari Sabuga menempus terowongan bawah tanah yang tersambung ke Sunken Court lalu ke Plaza Widya, lalu berhenti di depan Indonesia Tenggelam dan meneriakan..

“Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater! Merdeka!”

..Dan mentari kan tetap menyala
Disini, di urat darahku..

Yes.
I’ve graduated.
And I didn’t regret for being here.
Thank you, ITB.