Di bawah Pohon Rindang

Melototin angka demi angka, sheet to sheet, mempelajari rumus- rumus, dan menelusuri link sepanjang pagi sampai siang telah membuat mata saya jereng. Well, meski udah silindris tapi ya kalau terlalu lama mantengin, lama-lama kabur juga tuh angka-angkanya.

Mudah? muntah!

Okey, so, namanya Unit Cost.
Sebulan ini akan berkutat dengan yang namanya Uang Kuliah Tunggal Perguruan Tinggi atau nama kece-nya unit cost yang tidak lain adalah beban uang yang dibutuhkan oleh 1 orang mahasiswa per semester untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi selama masa studi. Kalau S1 ya 4 tahun, kalau D3 ya 3 tahun.

Ini kerjaan anak akuntansi banget sih!

Ciyus? miapah?

Salah satu bagian tubuh saya mulai berontak, kebelet men! Saya pun meninggalkan ruang kecil tempat saya nebeng mengerjakan unit cost dan berkeliling mencari toilet. Celingak celinguk, seisi ruangan instrumen berat dan besar semua.

Baru kali pertama ini saya berpijak di laboratorium rada bawah tanah, berdebu dan penuh alat entah apa itu. Luas, bergema, spooky. Laboratorium Teknik Mesin ITB. Serem juga.

Setelah meliuk-liuk di ruangan yang luas itu, saya tidak juga menemukan toilet dan akhirnya saya memilih untuk mencari keluar lab. Kebetulan teman saya yang sedang lanjut S2 Teknik Mesin sedang ada training software, sehingga saya ditinggal sendirian di ruang kerjanya.

Keluar dari lab, menghirup udara segar ITB di hari Sabtu, dan bergegas mencari toilet.

Ah! mungkin di Prodi Biologi wc-nya terbuka. Dulu sewaktu saya mengambil kuliah Oseanografi di Labtek Biru yang ada tangga Double Helix-nya, saya suka turun dan numpang ke wc Prodi Biologi yang ada di lantai 1.

Ada beberapa anak Nymphea (himpunan Biologi) sedang LKO nampaknya, mereka duduk melingkar dekat kantin Kebab. Kantin dimana saya sering membeli roti isi tuna yang lezat. Saya pun sampai di depan wc, namun pintunya terkunci.

“OK! coba ke wc IF deh”, pikir saya. Saya ingat betul di wc ini saya pernah merapikan lipstik saat persiapan ng-MC di International Retro Night-nya mahasiswa Internasional ITB.

Alhamdulillah terbuka. Suasana dekat himpunan mahasiswa Informatka lebih ramai lagi. Ada permainan anak sederhana dan prasmanan. Sedang ada temu alumni IF rupanya.

Setelah beres dengan urusan per-wc-an saya kembali ke lab Mesin, membereskan laptop yang saya pinjam dan pamit pada teman saya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Saya ada agenda lain. 

Tidak  terburu-buru pergi, saya melepaskan rindu sejenak.
Kalau boleh jujur, kampus ini meninggalkan trauma, kenangan manis, arogansi dan kebanggaan juga. Kampusku Rumahku, begitu jargonnya.

“Mentari menyala di sini
Disini, di dalam hatiku
Gemuruhnya sampai di sini
Disini, di urat darahku”
-Mentari

Ah! selalu menangis kalau ingat lagu ini.
Kampus ini kampus perjuangan. Kampus yang tidak hanya membentuk manusianya menjadi secerdas mungkin namun juga mengajari bagaimana caranya bergaul, berpolitisi, berdebat, bertoleransi, menangis, tertawa, berjuang bersama.GKU Barat, dan tangga-tangganya yang memutar. Sangat bersejarah membuat saya mengulang mata kuliah Analisis berkali-kali. Duduk bersama adik kelas, sekaligus saksi dimana kegiatan kemahasiswaan digaungkan di dekat mushola di lantai dasarnya. Wudlu dengan selang, berbagi makanan saat kelaparan. GKU Timur yang rasanya ruang-ruangnya lebih luas, meninggalkan kenangan indah dimana saya terlibat di Asean Universities Debate Championship dan berkenalan dengan banyak orang asing. They are great speaker.

Sambil melamun, saya pun tiba di depan TVST.
Gedung yang lebih banyak saya singgahi saat tingkat akhir. Menyesal sih, dulu kenapa saya tidak lebih giat di kelas Geometri-nya Pak Wono. Karena sepertinya perhitungan unit cost tidak seberapa sulit ketimbang Geometri, minimal logikanyalah. Haha.

Dan.. DPR 🙂
Ada sebuah tempat di kampus ini yang sejuk yang di depannya ada semacam titik zona bulat yang kalau kita berteriak disana maka bunyinya akan menggema, sebutan tempat itu: Di bawah Pohon Rindang (DPR). Hehehe.

Anak-anak Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB) suka berkumpul disana, apalagi saat PEMIRA (Pemilu Raya ITB). Banyak anak akan duduk melingkar membicarakan strategi marketing calon yang diusung. Kotak suara. Rancang spanduk. Posko Bolang. Usung Baligho.

Oh! how much I miss this place!!!

ces.. ces..
Air mata takkan sanggup menerjemahkannya.
Betapa banyak suka dan duka saya lewati selama 5 tahun bersekolah di Kampus cap Gadjah duduk ini. Kampus yang lebih banyak menorehkan ilmu sosial-organisasi-komunikasi dan ‘perjuangan’ akademik dalam hidup saya. Dimana life skill dan pandangan hidup saya mulai berubah. Idealis, namun kurang realistis. Hehe.

Lalu, saya ingat hari itu. Hari dimana saya menjalani masa orientasi sebagai mahasiswa baru dan membaca “Selamat datang mahasiswa/i Institut Terbaik Bangsa”. Sebuah moment yang membuat saya hampir pingsan karena sesak nafas akibat berdesakan dengan 3000-an mahasiswa lainnya. Berlari dari Sabuga menempus terowongan bawah tanah yang tersambung ke Sunken Court lalu ke Plaza Widya, lalu berhenti di depan Indonesia Tenggelam dan meneriakan..

“Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater! Merdeka!”

..Dan mentari kan tetap menyala
Disini, di urat darahku..

Yes.
I’ve graduated.
And I didn’t regret for being here.
Thank you, ITB.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Finni says:

    Huwe pengen ke ITB deh gegara baca tulisan ini. T_T DPR itu dimana? plawid dimana? mulai amnesia ama kampus sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s