Loud voices

“Mba, ini kenapa ya? masa honor seorang Dosen di Perguruan Tinggi ini segini juta? padahal dosen-dosen disana itu lulusan S1 lho dan PD 2-nya saja adik kelas saya. Ini entah gajinya terhitung dobel atau ada yang salah dengan rinciannya”, seorang Dokter mengajak saya bicara.

Mengatasi ketidaktahuan saya, saya letakkan tangan di dagu saya dan menggeser laptop beliau. Jujur, saya tidak mampu meng-identifikasi apa yang sedang saya kerjakan sedalam itu. Pengen teriak, “Woi! ini bukan tupoksi gue!”. Saya belum mampu menganalisis Unit Cost di sebuah Satker sebegitu detailnya. Apa yang biasa saya lakukan adalah dengan minim pengetahun dan suara sok memeriksa bertanya, “Pak/Bu, rate gaji dosen disana memang berapa ya? tunjangan struktural dan fungsionalnya sudah dipisah belum? nanti gaji dosen pure dan manajerialnya di pisah ya”.

“Trus, ini mbak, Daftar Aktivitasnya kacau. Harusnya kan, semua praktikumnya di daftarkan. Kalau di Fakultas Kedokteran itu kan praktikumnya beda-beda, Bahan habis pakai-nya juga beragam. Untuk BHP ini dihitung per pertemuan (frekuensi), bukan per jam kuliah”, celetuknya lagi.

Saya nyengir 😀

Do you feel like you need a time alone sometime?
Yes. As for me, it is when I’m blogging.

Here is what happen.
For some people, 15-18 November 2012 in Indonesia might be a holiday.
But for  me, its time to work.

I, even though already working for a year and more, still try to understand what is it with my job? what’s the scheme, the non-understandable schedule, was wondering, whats going on with this month when suddenly my boss drag me into this super ‘vacation’. Being locked in a hotel for 4 days, and fyi, I also spent the last 4 days in Yogyakarta before continue working in Bogor without, wait for it, BREAK.

Good?
Bad.

What so bad about working and get more money?
I do love the fact that I will have more saving but, the thing is, I miss my family the most.

Is that wrong to missing my family back home?

Dan inilah saya, di sela waktu kerja, kabur untuk nge-blog sebentar. Sudah mencoba menghubungi sahabat tempat saya curhat, tapi nampaknya beliau sedang sibuk mendaki semeru, Telepon pun berdering tulalit.

Lembur saya kali ini (alhamdulillah) tidak dikerjakan oleh tim Dikti saja, namun melibatkan beberapa tim ahli, dosen, dokter dan akuntan dari beberapa universitas. Dengan segala kebaikan bos Kumis, begitu nama tenarnya, beliau membolehkan kami membawa keluarga ke tengah hutan ini. Rekan-rekan saya membawa suami, istri dan anaknya. Konsep kerja yang baik. Kalau saya? mau bawa siapa.

Agak tertohok sedikit sih ketika tau bahwa kami dikasih jatah boleh off sehari. Sore ini partner in crime saya pulang, karena besok dia ada fitting baju akad. Well, my insecurities grow. Takut bo, ama bos galak.

“Bos kamu itu, punya keluarga ngga sih?”, pertanyaan cerdas menggelitik lidah saya untuk berkomentar. Bagaimana tidak? itu adalah bahasan bulan-bulanan yang tidak pernah membosankan. Tapi saya menahan lidah saya.

“Ai, ntar malem aku pulang ya. Harus nyuci popok anakku. Kasian istriku sendirian di rumah”, kata rekan saya yang anaknya baru saja berusia 3 minggu.
“Aku gak mau keluarga aku berakhir seperti keluarga bos Kumis”, tambahnya.

“Bos Kumis itu, kalau dateng jam 9 pagi. Pulangnya jam 12 malem”, cerita rekan saya yang lain pada orang Satker.
“Dan, makin jago kami di suatu hal, makin diberdayakan, pulang makin malam, tapi tidak dihargai”, celotehnya.

“Ya, bisa dibilang, keluarganya bos Kumis itu staff-staff-nya di kantor”, simpulnya.
Hwedew! gue sih ogah bener. Sudi!

Bukan, bukan karena tupoksi kerjaan yang ngga sesuai. Bukan juga soal saya yang shock diperlakukan kaya babu di ting-tong-ting-tong, itu sih sudah lagu lama. Bukan juga karena kerjaan yang kadang remeh kadang heboh. Apakah saya bekerja dengan orang biasa? Oh no! Saya bertemu dengan banyak orang hebat disini. Duduk bersama, bersanding bersama, saya bisa berlagak sok pintar di depan mereka, sok kece. Kadang jadi dirijen di depan Menteri dan memandu acara di depan para Eselon II. Bukan karena itu semua saya ngga betah kerja disini, tapi lebih karena, sorry to say, beliau bukan pemimpin yang baik.

Okelah, kalau orang bilang, “Galaknya beliau itu akan membuat kamu jadi lebih baik. Justru kamu harus menganggap itu sebagai tantangan”.

Simpelnya, boleh ngga sih, saya kasih kritik dikit yang membangun buat beliau? Ngga bakal didengar? Okey saya tulis saja.

Pemimpin yang baik.
Sebelum saya ngoceh, saya istigfar sebanyak-banyaknya akan apa yang mungkin saya tulis.

Well, I should say, “I don’t want to grow up and become like my boss”.

Entah karena masalah keluarga, dan tidak tahu siapa yang memulai, ada apa atau bagaimana meski saya sering dengar selentingan tentang beliau dari mulai anaknya bermasalah, dia jarang di rumah, istrinya jabatannya lebih tinggi sampai dia pun affair, si bos Kumis ini, sudah sangat famous atas gila kerjanya dan sifat tanpa ampunnya. Semua harus bisa, kuat dan cerdas seperti dia, hanya yang lain itu harus direndam ke-famous-annya sehingga semua hal yang kami kerjakan akan berakhir dengan,
“Saya sudah buat ini. Ini saya yang mengerjakan”.

Kenapa tidak mengatas namakan kerja tim?
Merasa ga level duduk bersama kamu dan coba mengeksekusi?
Kalau ada problem coba cari solusi, bukan marah-marah sama kami.
Perempuan okey cerewet, kalau laki-laki?
Lupa pakai bedak kali.

I don’t know whats wrong with him?
Yang membuat dia memilih untuk duduk bersama kami di ruang sidang dan bukannya membantu malah menambah masalah, terkadang diam dan nambahin tugas lagi. Sombong sedikit karena berhasil menyetel settinngan wifi, lalu bertampang manis di depan Satker tapi menguras tenaga kami, ketimbang duduk di rumah menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya. Hei! ini long weekend lho! And I desperately want to go home.

Saya punya ayah yang merindukan saya, saya punya Ibu yang menunggu saya, saya punya adik yang ingin bermain dengan saya. Dan Bapak, tiap saya perhatikan jadwal Bapak, weekdays sudah sampai larut di kantor dan weekend selalu ada acara keluar kota. Saya jadi mikir, kapan waktu Bapak bercengkrama dengan keluarga?

Dan bukan itu saja, ketika siang ini dia datang dari rumahnya. Dia datang bukan dengan fisik segar. Namun dengan mata memaksakan untuk melek, berkantung hitam dengan seduhan secangkir kopi dan rokok yang sekali-kali dihisap. Kenapa Bapak tidak memilih untuk beristirahat ketimbang memaksakan diri untuk tetap ‘sadar’?

Ada apa dengan hidup Bapak?
Yang bukan merupakan tanggungjawab saya untuk mengorek lebih dalam karena saya bukan wartawan infotainment yang bisa menjatuhkan Bapak dengan artikel saya.

Tapi dampaknya itu lho, tidak baik menggunakan diri sendiri sebagai standar kinerja orang lain. Masing-masing manusia punya batas kelelahan dan dunia sendiri. Punya keluarga untuk ditengok dna disayangi. Punya teman-teman untuk hang-out. Punya kosan yang harus dibereskan dan baju yang harus dicuci. Kami harus pulang, Pak.

Kalau dengan menjadi pemimpin kemudian powernya itu digunakan untuk pengkarbitan masa, dimana anak buah nggak bisa protes karena masih mikirin perut, dimana demokrasinya? Mungkin Bapak sisa jaman orde lama. Saya tahu. Tapi sayang, saya produk masa kini, yang bentar-bentar senang mengkritisi, daripada direndahkan harga dirinya. Okelah, kami mencari nafkah, tapi ngga dengan cara di bego-bego-in dan dibentak-bentak kan? Bapak punya istri dan anak, pikir saja kalau istri dan anak Bapak diperlakukan seperti apa yang Bapak lakukan pada kami? apakah tidak sakit hati?

Saya saja, wanti-wanti sama adik saya, supaya kalau ada yang nge-bully, dia harus balas tonjok. Buat apa? Supaya menunjukkan kita juga punya taring.

Saya tahu betul. Menjadi pemimpin yang ramah dan adil itu sulit. Apalagi untuk seseorang yang prefeksionis dan emosional. Pasti spaneng kalau berhadapan dengan kondisi tidak ideal. Saya berusaha memahami. Namun di hati kecil saya, saya ingin bilang kalau, menurut saya pemimpin yang baik itu justru mencontohkan, melayani dan mengayomi. Mampu menciptakan suasana kerja yang nyaman dan memperhatikan kesejahteraan hati tim-nya. Banyak model kerja yang sudah berkembang sekarang dimana bawahan-atasan saling membutuhkan dan melengkapi. Bukan lagu ndoro-babu. Namun kerja tim.

Toh, seharusnya seorang konseptor yang handal bekerjasama dengan eksekutor yang cekatan, kan?

“Bos kamu kerja buat hidup apa hidup buat kerja sih?”, tanya seorang akuntan.

“Dua-duanya”, timbal yang lain.

Could you imagine, what’s gonna happen when some people gathering in a place together for a couple of days in pressure?

Domino effect

“Keren ya dia pintar, pasti karirnya cepet naik deh dan bos-nya suka dia”, komentar seseorang lagi.

“Ya kali. Kalau disini mah yang ada, makin pintar, makin rajin, kerjaan ditambah, over time dan semakin deket sama bos, makin dimarah-marahin. Jujur, aku senang dengan finansial yang aku terima, tapi kaya ngga sesuai aja gitu dengan capai hati yang didapat. Kerjaan kita tuh ngga dihargai”, jawab rekan saya yang lain.

Well, dari potongan kalimat tersebut saja sudah terlihat kan, bahwa bos yang galak membuat pekerjanya malas-malasan, ditambah kalau kita ulet dan pandai, beliau malah akan makin ‘memakai’ jasa kita, makin malam untuk pulang, belum dimarah-marahinnya. Sehingga yang terjadi adalah bawahan bermain petak umpet dengan atasan, pulang lewat tangga karena takut pas-pasan dengan bos di lift. Dan untuk yang kurang gesit untuk kabur, maaf-maaf saja, orang tersebut bisa ke gap dan menghabiskan waktu lebih lama di kantor. Ngeri.

Menurut saya, sikap bawahan yang terkesan kurang berdedikasi ini tidak bisa disalahkan juga meskipun tidak benar. Tepatnya tidak adil pada rekan lain yang ‘ditumbalkan’ secara tidak langsung. Mau bagaimana lagi? siapa yang tahan dimaki mentah-mentah oleh orang lain (meski dia atasannya kita) setiap hari.

I always think that there’s always a better way in leading.
Remember this, however you want it, don’t speak loud and be rude.
U don’t know how many people that feel comfortable with your soft wise voice.

Dan, fine.
Tidak ada faedahnya mengeluh tanpa ada solusi.
So, resign?

Advertisements

One Comment Add yours

  1. anggawahyudi says:

    Unit cost? Horror brrrrrrrrr

    Salken 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s