Positif, solutif.

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.
[Al-Imran:14]

Salah besar jika orang mengira, saya sering update status berisi ayat karena saya hafal atau ingin menggurui. Tidak. Saya lebih ingin mengingatkan diri saya sendiri.

Tanpa mempelajari Al-Qur’an, Hadist dan Islam dengan lebih dalam, saya tidak akan mampu bertahan dalam hidup ini. Bukan himpitan ekonomi. Namun lagi-lagi masalah psikologis, trauma masa lalu dan kebencian yang tersisa.

Bukan saya tidak mencoba meng-hipnotis diri untuk menjauhkan energi negatif, bahkan saya sampai mengalami stress bawah sadar dan menderita tidak bisa gemuk (efek samping yang menguntungkan) karena berusaha untuk ‘sembuh’.

Malam ini, malam long weekend menuju tahun baru. Sedang ada tabligh akbar di RT/RW saya. Dimana penceramahnya bercerita tentang kunci kesuksesan: IKHTIAR-DO’A-TAWAKAL.
Which is very true.

Saya hanya mendengar dari rumah, menemani adik kecil saya yang asik sendiri dengan miniatur Rumah Gadang khas Sumatera Barat, oleh-oleh perjalanannya dari Bukittinggi dan teman kosan yang ikut menginap di rumah saya karena besok akan ikut seminar “Menikah Itu Mudah”, dan dia terlelap di sebelah saya. Haha. Kadang, pengen deh pelor. Ga insomnia mulu.

Fyi, di rumah saya tidak ada hiburan dari TV. TV off. Ada namun tidak berfungsi. Oleh karena itu kalau ada buffer time begini, suka geje. Biasanya saya killing the time dengan main game. Namun malam ini saya memilh untuk melihat-lihat timeline teman-teman di twitter.

Well, well.
Saya perhatikan, ada pasangan yang baru menikah dan show off mengenai kemesraan mereka.
Kemudian ada yang sedang nyicil KPR. Lalu ada yang sedang heboh kultwit tentang True Passion. Curhat soal naskah tulisan dan kemacetan lalu lintas Bandung saat weekend. Many more.

When I read all that.
You know what I have in my mind?
I want to say..

“STOP lecturing me about all that crap!”.

Semua. Berhentilah mengesankan pernikahan yang so sweet atau motivasi untuk menjalankan passion kita. Mau nyicil rumah kek, mau bikin buku kek. I don’t care. Life is more real that just all that tweet!

But wait!
Bukankah at the time saya berpandangan picik artinya saya memunculkan energi negatif pada diri saya sendiri? Sedangkan salah satu kunci sukses menurut @ipphoright adalah: RIDHO dengan kebahagiaan dan pencapaian orang lain.

Puh! Puh!

Seminggu ini bisa dikatakan mood saya merosot turun. Ada yang salah dengan diri saya. Mungkin karena saya mulai lalai solat dhuha dan beberapa kali tidak bersemangat untuk solat di awal waktu. Merasa aman, merasa cukup. Padahal harusnya manusia itu bertambah baik tiap harinya, bukan menurun kualitasnya. Oh life!

Dimulai dari, rasa kaget saya ketika ayah dan ibu saya memaparkan rencana yang mereka buat untuk saya. Saya menangis dan berteriak kepada mereka, “When will u give me my freedom?”. I was set up a shelter to hide. But there’s no shelter to hide. Saya pikir di tahun ini, ketika salah satu plan saya berhasil dicapai, saya diperbolehkan untuk melakukan dan menjadi yang saya mau. Saya salah besar. They won’t give up to tell me what to do.

Yang mengenaskan adalah, biasanya ayah saya yang take side dan memberikan banyak penjelasan. Tidak disangka, Ibu saya memilih untuk menjelaskan duduk perkaranya, “Kita itu hidup bermasyarakat, Ndari. Apakah kamu sudah terbayang kalau sudah resign mau ngapain? Jujur, dengan kamu bekerja Bapak dan Ibu jadi lega ketika orang-orang bertanya, dimana kamu setelah kuliah. Ada prestige. Kesannya kalau wanita di rumah itu dan tidak jadi apa-apa  malah buruk. Dan dulu Bapak sama Ibu meminta Ndari kerja di Jakarta itu karena takut kamu bosen di rumah. Sambil cari-cari pengalaman kan tidak masalah. Wanita itu harus punya bekal, jangan hanya meminta dari suami nantinya. Bisa-bisa kamu mudah direndahkan kalau begitu”.

Air mata yang saya keluarkan tidak berhenti, namun dengan tangisan lain. Saya melihat, no pressure disini. Bahwa orang tua saya meminta saya bekerja bukan untuk menopang kehidupan mereka, melainkan untuk kebaikan bagi saya sendiri.

Dan akhirnya, OK. Ada orang yang beruntung bisa menjalani passion mereka dan ada pula orang yang malah tidak dapat menyebutkan impiannya karena hidup mereka dimiliki oleh orang lain seperti para budak. Mungkin saya ada di tengah-tengah. Saya tahu passion saya kemana, namun saya membuat pilihan untuk melakukan apa yang orang tua saya kehendaki. Semarah apa pun, saya tidak dapat membantah mereka. Kebahagiaan kedua orang tua saya adalah yang terpenting.

Oleh karena itu, Ya Allah, saya ridho dengan segala ketentuan yang Engkau beri pada saya. Baik Engkau menetapkan saya menjadi seorang pegawai kantoran maupun business-woman, saya terima takdir saya. You know what’s best.

Sesederhana itu, langkah saya menjadi lebih ringan dan memiliki sedikit keberanian untuk tetap melanjutkan pekerjaan saya di bagian perencanaan dan penganggaran. Ridho atas ketetapan Allah membuat hidup saya lebih mudah.

Ketika mood saya baik, ketika saya berusaha menjaga iman saya sebaik-baiknya. Saya akan lebih lapang dalam mentolerir kejadian-kejadian non-ideal. Pada dasarnya saya emosional. Seperti malam kemarin. Saya baru beres dari kerjaan saya sekitar pukul 23.00, lelah rasanya. Ingin mendapat simpati dari keluarga. Saya hubungi orang tua saya namun saya tidak mendapatkan perhatian yang saya inginkan. Pun begitu teman lain yang saya hubungi, hanya memberi support dengan datar.

Kekewaan meliputi diri saya. Menjadikan saya menyesal dengan sikap saya yang reaktif. Kesimpulannya, memang hidup ini harus positif. Jadilah seperti avatar Aang yang mampu menguasai angin, udara, tanah dan air. Solutif. Dan bukan seorang pengemis cinta yang haus perhatian. Jadilah center of solution. Positif, solutif.

Mungkin alasan kenapa sekarang saya mendapat sedikit perhatian dari rekan-rekan dan keluarga saya adalah karena saya kurang memberikan perhatian pada mereka. Give more, so you’ll get more.

Ridho akan kebahagiaan orang lain, ridho untuk mengesampingkan ego pribadi dan being someone else backbone serta menjadi pribadi yang solutif akan membuat hidup kita lebih positif. Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s