I’m about to Sail

Your time will come.
You’ll soon become a backbone.

Remember, you are a fighter.

Kamu itu siapa Ai?
Ketika kamu dilahirkan
Ketika kamu dibesarkan
Ketika kamu menghadapi masalah-masalah dalam hidupmu
Ketika kamu ditempa menjadi sesuatu
Ketika kamu berhasil melewati rintangan
Ketika kamu bertasbih menyebut asma Tuhanmu

Siapakah kamu?

Ishadu Bi Anna Muslimun
Saya muslim sebelum yang lainnya

Ya, sebelum menjadi segala sesuatu yang saya miliki saat ini,
saya adalah seorang muslim. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika saya kembalikan semua ketaatan kepada Allah, begitu pula dengan niatan menikah..

Sebelum adzan magrib berkumandang, saya sudah di rumah
Suasana ceria tadi siang berganti dengan getaran hati yang berdegup lebih kencang

Ya Allah..
Selepas halaqah sore ini, saya bertanya pada seorang sahabat, “Kamu kenapa?”
Auranya blue.

“Saya rindu hidup single”, jawabnya.

Sontak, hati saya membelalak.

Ya Allah..

“Suami kamu kemana?”,

“Lagi ke mall sama anak saya. Saudara pada dateng jadi jalan-jalan. Ntar saya nyusul”,

“Apa yang kamu rasakan sekarang?”,

“Ya, kamu tahu, dalam pernikahan ada yang disebut tantangan menikah 1 tahun, dan tahun-tahun berikutnya. Sekarang mulai terasa timbulnya perbedaan-perbedaan antara saya dan suami saya. Apalagi sudah ada anak. Meskipun ketika menikah saya tidak punya harapan yang gimana-gimana terhadap suami saya, namun namanya juga perempuan ada kalanya kita memiliki ekspektasi pada pasangan kita..”

Cukup.

“Tapi, dijalani saja ya..”, saya mengelus punggugnya.

“Iya”, dia tersenyum.

Hati saya terguncang.

Saya tahu benar akan apa yang akan saya hadapi.
Rasa takut berkecamuk dengan semangat. Dan saya ingin tetap maju.

Dalam hidup, kalau kita urung melangkah karena khawatir akan apa yang orang katakan tentang kita, maka kita sudah kalah.

I know that, every time I’m about to sail, there will be a storm.

Riak- riak yang saya rasakan sekarang belum seberapa dibandingkan ombak yang akan datang di saat saya sudah berumahtangga nanti. Jujur, saya tidak ingin mendengarkan lebih lanjut ke-gloomy-an sahabat saya tadi. Karena mendengar kalimat awalnya saja sudah sedih.

Menikah, sejatinya adalah perjuangan setiap hari.
Perjuangan untuk menurunkan ego kita, belajar mendengar, memperhatikan dan memberikan pengertian. Menikah adalah memahami, sebelum meminta dipahami.

Menikah adalah mengakomodasi semua kepentingan, dari diri sendiri, pasangan, keluarga kita sendiri dan keluarga pasangan. Mencari solusi terbaik dari semua tantangan yang ada, dan mengesampingkan perasaan-perasaan kita.

Melihat skema besar dengan tidak mengungkit-ungkit masalah kecil.
Berbuat untuk pasangan, anak, orang tua, mertua dan masyarakat di sekitar kita.
Karena dengan menikah, akan ada konsekuensi sosial juga, selain mengharmoniskan keluarga sendiri.

Behind every great man, there is a great woman. And I’ll be that great woman.

I’m a Rabatul Bait to be.

Dan mendadak, saya melihat semua terlalu jelas.
Saya yang belum berbakti dengan maksimal terhadap orang tua saya.
Ke-islaman saya yang masih tertatih-tatih.

Ya Allah, saya akan berlayar dengan bekal apa?
Sebaik apa pun pasangan kita, setidak percaya apa pun kita akan kemampuan diri kita, kita sejatinya adalah manusia yang lemah. Kita bukan sesiapa dan bukan apa-apa tanpa iman.

Kerupawanan wajah, kepiawaan dalam bertingkah laku, kekayaan yang menggelegar, pendidikan yang dijunjung tinggi, tidak akan ada harganya ketika Allah mengambil semua amanat tersebut.

Begitu juga menikah.
Tanpa iman, bahtera kita bisa tenggelam.

Kita tak bisa sepenuhnya mempercayai pasangan kita, karena ia pun memiliki hati yang dikendalikan Tuhannya, dan dia memiliki keterbatasan untuk memenuhi pengharapan kita. Pilihlah menjadi jiwa yang kuat yang menggantungkan harapan-harapan kita pada Allah semata. Karena ia Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Mengatur akan segala sesuatu. Dia yang menguatkan kita, dan Dia yang memilihkan apa yang terbaik bagi kita. Dia yang menyatukan hati-hati manusia agar berpadu dalam tautan iman.

Iman, is the only thing that will make us survive in this life.

Beberapa hari lalu, saya sempat kehilangan diri saya dan bermanja pada manusia. Mungkin akan menyebabkan Allah cemburu. Terlalu percaya dan bahagia atas plan-plan yang sudah dibuat dan mengesampingkan esensi dari doa.

Ya Allah..

Hari ini saya sadar, kekuatan sebuah rumah tangga, bukanlah terletak pada siapa dan bagaimana pasangan kita. Namun selurus dan sekuat apakah iman kita dalam mempercayai takdir-Nya. Menjalani apa yang sudah dipilihkan oleh-Nya. Bukan juga terletak pada sikap-sikap manis kita pada Sang pasangan.

Jauh di atas itu.
Ada akar yang melandasi gerak gerik kita dalam segala hal.
Saya baru tersadarkan kembali.

It’s all about IMAN.

So, have an iman.
Be strong.
You are a fighter,

And you shall be safe,sailing darling..


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s