Simple Joy

Not anymore.
Ya. Tidak lagi.
Saya tidak lagi ingin meletakan perasaan saya di atas logika.

Karena apa?
Karena kebahagiaan itu datang dari dalam diri kita sendiri.
Happiness comes from within.

“Dung!”,
Tuh, kan benar, kebahagiaan datang dari dalam 🙂 bayi bunda nendang-nendang lagi di rahim, hehe.

Simple Joy.
Bahagia itu bentuknya macam-macam.
Orang-orang mengekspresikan dan merasakan kebahagiaan dg cara yg beragam. Ada yg harus dg spending much money, ada yg sesederhana berkumpul berasama keluarga dan makan ikan asin bersama.

Ada saya dan tendangan sang bayi 🙂
Simple joy.

Beberapa hari yg lalu, ketika saya pulang ke rumah dan agak lelah karena melakukan aktivitas di luar yg cukup banyak, saya disambut oleh adik saya yg masih berseragam sekolah, padahal waktu menunjukkan pukul 17.35 WIB.

Langsung saja saya memintanya segera mandi, karena orang tua kami akan datang sekitar pukul 18.00 WIB. Kenapa saya memintanya segera mandi? Hal ini untuk mencegah bentrokan penggunaan toilet di waktu magrib.

Wadoooh segitunya yak 😀
But rules are rules.

“Ka, ayo mandi. Udah pulang dari tadi, kan? Bapak Ibu sebentar lagi pulang. Ayo dandan cantik supaya mereka senang”, rayu saya.

What happen next?
“Ini lagi! Kaka yg satu ini. Ngajak berantem mulu. Aku tuh ngerasa pengen marah tau sama semua orang di rumah ini”, responnya.

Sontak, saya kaget.
Detik itu juga, saya yg sedang hamil 30 minggu dan kelelahan, ingin menjawab, “Ayo kalau mau berantem”.

Hahaaa
Pasalnya, jika menuruti ego, bumil di trimester 3 memang dikatakan menjadi lebih sensitif dan emosional, karena pengaruh hormon juga. Sehingga, saya merasa yg paling berhak bersikap reaktif terhadap segala sesuatu ya saya…

Tapi.. rem mulut sejenak, saya ingat kemarin malam baru menemaninya membeli perlengkapan datang bulannya.

Ow Ow Oow.. saya tersadar, adik saya sedang PMS rupanya, pengaruh hormon juga mungkin yg membuatnya jadi mudah tersinggung.

Akhirnya si kecil beranjak remaja juga 🙂

Walhasil, saya pun cuma senyum dan tidak jadi merespon adik saya dengan kemarahan juga. Hanya sedikit teasing, “Mandi ya kaaa..”, dan beranjak ke kamar saya.

Lumrahnya, atau saya tidak bisa memungkir, memang saya ingin banyak dimaklumi dan di mengerti dg kondisi kehamilan saya. Namun, begitulah, tidak semua orang paham psikologi ibu hamil.

Dan lebih lagi, di saat kita menuntut orang lain untuk memahami kita, biasanya bumeranglah yg terjadi. So, its best to be there for other..

Meski sulit, saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa, apa-apa yg tersaji di hadapan kita merupakan kondisi terbaik. Siapa sih bumil yg tidak membutuhkan perhatian lebih?

Namun, disinilah letak pembelajarannya. Persiapan menjadi seorang Ibu, dimana pastinya saat menjadi seorang Ibu, kita tidak lagi bisa selfish.

Ada suami dan anak yg harus dilayani. Apalagi mungkin saja, sedang hamil pula, sudah ada anak juga dan suami. Latihan, untuk tantangan yg lebih besar.

Pada kajian parenting, saya menangkap apa yg nara sumbernya sampaikan.

“Tidak ada Ibu yg sempurna, yg cantik, bisa segala macam, mahir melayani suami & anak, serta berpenghasilan puluhan juta per bulan”,

“Tidak ada Ibu yg sempurna. Tapi, kita bisa berusaha menjadi Ibu yg baik”.

Begitu katanya.
Sekali lagi, “BERUSAHA, jadi Ibu yg baik”. 🙂

Dan satu hal lagi yg terpatri dalam ruang dengar saya, beliau mengatakan..

“Jadi Ibu itu harus sabar. Kalau anak tidak belajar sabar dari Ibunya, maka dari siapa lagi?”,

Mungkin kata SABAR itu, untuk yg belum mempunyai 4 anak dg keunikan masing-masing terdengar “Oh, ok. Saya bisa”. Namun, setelah bercakap-cakap dg teman saya yg anaknya sudah akan berjumlah dua, ternyata.. “Sampai sekarang, itu doa wajib saya, yaitu jadi Ibu yg sabar”.

Nah, korelasinya dg apa yg saya alami adalah, tidak mungkin seseorang bisa meraih kesuksesan tanpa usaha.

Untuk menjadi pribadi yg sabar, saya perlu latihan. Latihan itu ya dari sekarang. Berusaha untuk mengerti orang di sekitar saya..

Hm.. saya mungkin sedikit banyak terbayang, kesabaran seperti apa sih yg nanti diperlukan setelah bayi lahir.

Yang tergambar di benak saya saat ini adalah ya tadi. Saat menjadi seorang Ibu, kita tidak lagi bisa semau gue. Egois, selfish. Ada kepentingan anak yg harus kita dahulukan.

Well, seperti sekarang..
Saya tidak bisa mengabaikan tendangan-tendangan bersejarah di rahim saya.

Adek mau apa? Mau bunda makan? Mau bunda elus-elus? Mau dibacain asmaul-husna? Atau pengen bunda olahraga? 😀

Ektrimnya, ketika sedang tidur malam, ia menendang agar saya ke toilet karena ruang geraknya semakin sempit akibat kandung kemih yg penuh dan menekan-nekan zona ketuban huniannya.

OK. Bunda bangun nak..
Latihan terjaga malam hari saat baby harus diberi ASI 2 jam sekali 😀

Di atas semua latihan kesabaran ini, bunda ingin bilang.. “Thanks for giving me happiness, and make me a better I am, mija. Mommy loves you”.

:*

image

Advertisements

Afternoon Coffee

Monday noon, any one with a cup of coffee? 😉

Ya. Coffee. Bahasa indonesianya, kopi, adalah sejenis minuman ber-kafein yg banyak digemari masyarakat, termasuk beberapa teman saya.

Saya bukan penyuka kopi, I would prefer drink milk or tea to energize the day. Dan saya pernah bertanya kepada teman yg suka menyeruput kopi.

“Why do u like coffee?”
“It’s bittersweet”, jawabnya.

“Kopi itu seperti rasa kehidupan. Bittersweet. Awalnya pahit, tapi kalau lama-lama dinikmati jd enak juga”.

What a taste! 😀

image

OK. Meski sy tidak begitu menikmati kopi dan belum menemukan ‘rasa’ sedalam itu di minuman/makanan lain, saya tertarik dengan filosofi bittersweet-nya.

Well yes. Hidup itu bittersweet rasanya 🙂 kita tidak berada di atas atau di bawah selamanya. Sad & happiness datang silih berganti, agar kita semakin paham rasa hidup.

Kalau saya merefleksikan terhadap my own life, hm.. bisa dikatakan, 7 bulan ini (pasca married) banyak sekali hal yg berubah dalam hidup saya. Fase dimana saya belum pernah alami, terjadi. Dan sy semakin merasakan bahwa hidup itu memang berisi rasa kopi tadi, ada kepahitan, namun ada kenikmatan. Ada sensasi rasa disana.

Ahaha.

7 months.
Ya. Ada banyak perubahan terjadi. Asumsi, visi, imaginasi dan fakta yg terjadi nampaknya terus saling beradaptasi. Sisi bitter dan si sweety beradu. Menimbulkan keseimbangan, buah pikiran, perenungan dan kedewasaan.

Yang ingin saya refleksikan disini adalah.. bahwa saat terjadi perubahan fase dalam hidup, ada baiknya kita memandangnya sebagai sebuah proses belajar.

Sehingga, kita tidak menuntut diri kita terlalu keras atau menyalahkan keadaan. Suatu hal yg lumrah, suatu fase membutuhkan proses adaptasi. Penciptaan manusia saja memakan waktu hingga 9 bulan (masa ideal).

Fase ketika saya akhirnya berkeinginan untuk hidup bebas, tidak terikat kerjaan yg mengharuskan saya berada pada jam kantor dari senin-jum’at ditambah kadang lembur. Money come fast, true. But im not comfortable with it.

Ketika saya resign kemudian menikah. Mulai berimajinasi bahwa hidup yg enak itu adalah seperti yg awalnya saya jalani. Saya tidak dituntut untuk bekerja dan bisa melakukan apa yg saya mau. Seperti berjalan-jalan di jam-jam orang lain bekerja. Bertemu teman. Bersosialisasi. Melakukan tindakan tindakan yg tidak ada hubungannya dengan menghasilkan uang, namun kesenangan hati.

Berusaha untuk mencoba bereksperimen dengan berbagai masakan, karena saya punya impian untuk bisa menghidangkan makanan seperti apa pun untuk suami dan anak-anak saya.

Saya juga tidak terpikir untuk memiliki ART, apalagi menitipkan anak-anak saya di Day Care. Dalam benak saya, “I’ll raise them by myself”.

Spend time with my kids, watch them grow up.

Namun, beginilah hidup.
Bitter in sweet. Bahkan setelah saya mendefinisikan hidup enak yg saya mau, ternyata ada orang-orang yg justru memandang..

“Oh how shame you are for completely jobless”

“Kasian banget.. jd IRT”

And else..

Ugh.. tidak bisa tidak, saya jd terpengaruh. Oh God.. Oh God.. should I work again..

Seharusnya kita memang merasa nyaman dan sangat percaya diri atas keputusan yg kita buat.

Menjadi full time stay at home mom, working mom, mommypreneur. Well, put up your face, held high & say hai to people. Being friendly.

Ini adalah hal yg sedang sy konstruksi saat ini. Being confident with the way that I choose. Karena itu penting. Jika tidak, kita akan terus berubah-rubah mengikuti pandangan orang.

It would be hard. Unless we being really sure and trust ourselves that we will be succeed, doing the life that we think best & suitable for us.

Same thing. Even if a wife is working there are still many talks behind..

Banyak di antara ibu-ibu se usia saya yg sudah punya baby mengakui bahwa, di fase setelah menikah dan apalagi setelah melahirkan, ada idealisme yg perlu diluruhkan. Ada kepentingan lain yg harus diutamakan. Dan para new mom ini pun mulai mencari jati dirinya lagi.

What I want to be? Whats my passion?

Re-invent ourselves.

Dan sekali lagi, bagi saya. Ini adalah sebentuk fase yg wajar. Yg dialami banyak orang, married woman khususnya. Dan fase ini tidak terjadi seumur hidup.

Pada satu titik. Entah titik jenuh maupun titik cerah. Kita akan, baik secara terpaksa maupun tidak, akan menemukan apa yg sebenarnya kita mau. We’ll find our way back. Dan mulai mengenali diri kita kembali. Diri kita yg mungkin memang berbeda dg saat kita masih single. Impian-impian yg berubah drastis namun mendefinisikan diri kita saat ini.

Re-invent ourselves adalah fase yg akan terjadi pada beberapa masa. Oleh karena itu, as i said above, saya pribadi lebih nyaman memandang fase ini sebagai proses belajar.

Belajar beradaptasi lagi.
Belajar mengenali diri lagi.
Belajar hidup..
Dengan segala bittersweetnya.

So, it is. U get to feel the bitter and the sweet in every process 🙂

Selamat berproses para ibu dan calon ibu..

Usaha

Berusalah. Pasti kamu bisa.
Coba tuk lebih kenali diri dan potensimu.

Berusaha untuk melepaskan hal-hal negatif dan mengkonstruksi diri.

Berusalah untuk lebih banyak memberi.
Mengalahkan ego diri.

Give it a shot, babe.
One small step wont hurt you 🙂

Baby bump!

As for my baby, my belly is a playground. Lucky me, my baby keep moving at night and in some other time.

Mostly when adzan come, the baby will bump actively, like asking me to pray on time. Thank u dear 🙂

Doctor said, it probably a girl, though she is not sure yet. Well, let’s pray for the best.

image

On our visit to the clinic, the doctor deliver some information, they are:

1. The baby is healthy
2. Its weight is proportional for a 29 weeks, which is 1,29 kg.
3. The head is on the right place
4. Last, she ask, “Any question?”

And I answered, “No”.
😀

Knowing that everything is fine, already makes me HAPPY. Thanks, Doc!

Pola Asuh Anak

Sedang hujan di Bandung, tepatnya gerimis di sekitaran rumah saya saat ini. Saya penyuka hujan, bahkan hanya untuk menikmati rintiknya melalui jendela rumah saya. Rasaya ingin mengatakan, “Jangan berhenti. Tetaplah menari di hadapanku”. 🙂

Lalu tak lama terdengar suara tukang baso. Menyeruak kesunyian menembus hujan. Ya baginya mungkin ini peluang emas. Paling nikmat memang melahap semangkuk hangat bakso atau mie, cuanki dan lainnya di waktu-waktu dingin begini.

“Ga di tutup pintunya? Ngga dingin, mba?”, ucap khadimat saya.

Saya menggeleng. Bagi bumil, trimester 3 merupakan saat-saat tubuh merasa gerah. Sehingga kalau kata Ibu saya, “Lama-lama nanti kamu pasti ingin pakai baju robek”. Aha, Ibu hapal betul rupanya rasa fase kehamilan menjelang persalinan.

“Mulai hareudang ya bu?”, begitu ucap seorang bidan pada saya 🙂

Namun di rumah lain, yg juga tampak sepi di kompleks ini, mungkin justru ada yg menggerutu karena jemurannnya belum kering. Bisa jadi jg ada pengendara motor yg terpaksa berhenti sejenak, melindungi diri dari kuyupnya hujan. Syukur-syukur kalau membawa jas huja, jika tidak, terpaksa telat ke tempat yg dituju karena berteduh dulu.

Dan.. di jalanan tiba-tiba ada yg asik hujan-hujanan sambil mengasongkan payung.

Ya. Cara masing-masing diri menyikapi hujan memang berbeda-beda. Tergantung pada situasi yg sedang dihadapi dan kondisi sekitar.

Sama hal-nya dengan cara orang tua menyikapi/bersikap pada anak. Pasti berbeda-beda. Faktor yg mempengaruhinya sangat beragam.

Sebelum hujan makin reda, saya ingin melanjutkan tulisan ini. Boleh ya 😉

Sebagai seseorang yg baru akan menjadi seorang Ibu, secara naluriah, saya mulai sensitif memperhatikan bagaimana keluarga-keluarga yg saya temui dalam mendidik anak-anaknya.

image

Masing-masing keluarga pasti memiliki nilai yg akan ditransfer pada anaknya kelak. Nilai yg dipertahankan dan disepakati oleh ortunya, baik sadar maupun tidak, yg nantinya akan diserap oleh sang anak, dg harapan anak tersebut mampu mengaplikasikan nilai yg sudah ditanamkan sejak kecil tersebut.

Contoh kecil dari penerapan nilai ini adalah, ada keluarga yg saya temui, dimana makanan sang anak harus sangat terjaga. Tidak boleh ada gula dan garam terlalu banyak sebelum usia 2 tahun. Sehingga ortunya lebih sering membuatkan camilan sehat untuk sang anak yg sudah mulai MPASI.

Ada jg keluarga yg santai dlm memberi asupan makanan pada anaknya. Pernah saya temui, ortu yg menyuapi kue wafer pada bayinya yg berusia 4 bulan. Padahal berdasarkan pakem ilmu kedokteran, bayi baru boleh mengkonsumsi makanan selain ASI di atas usia 6 bulan.

Inilah nilai dlm sebuah keluarga yg tidak bisa orang luar ganggu gugat. Sebuah sikap prinsipil atas pola asuh anak. Kita bisa saja mengkritisi atau memberikan penilaian yg salah. Namun zona keluarga lain adl zona yg tidak bisa kita masuki dg leluasa.

Oleh karena itu ketika bertemu dg beberapa anak, sekarang saya sering bertanya, “Apakah di rumah anak ini diajari menyanyi?”, misalnya.

Atau, “Bagaimana cara Ibu mengapresiasi anak Ibu ketika dia menunjukkan sebuah prestasi?”.

Hal ini saya lakukan agar tidak terjadi salah persepsi dan dapat memberikan sikap yg nyaman pada anak yg sy ajak berinteraksi.

Suatu hari, saya mengajak anak teman saya bermain, saya sudah akan bernyanyi ketika akhirnya sy melihat gesture sang anak yg tampak tenang dan diam. Saya langsung terbesit sebuah pemikiran, mungkin anak ini tidak diajari bernyanyi di rumahnya.

Ternyata benar. Anak ini hanya diperdengarkan ayat suci Al-Qur’an dan bukan musik. Juga sedikit-sedikit diperkenalkan bahasa Arab oleh ibunya.

OK. Itu adalah nilai yg ada pada keluarga tsb. Sy pun urung bernyanyi dan menanyakan, surat apa saja yg sudah dihapal? Hehe.

Ada lagi, ketika anak teman saya menggambar dan ditunjukkan pada saya. Saya reflek bertepuk tangan. Namun sang anak bersikap datar. Setelah saya tanyakan pada Ibunya, oh ternyata anak ini tidak diajari tepuk tangan. Namun ketika sang anak melakukan sesuatu, apresiasinya diberikan dalam bentuk ciuman dan pelukan.

Subhanallah.

Begitulah perbedaan nilai yg dipegang dlm sebuah keluarga.

Ada ibu yg panik hanya karena anaknya memakan kue dan segera minta dimuntahkan. Ada yg santai saja ketika balitanya minum es limun. Ada yg tidak memperkenalkan chiki dan permen pada anaknya.

Ada anak yg tidak diajari kiss bye yg umumnya anak lain bisa, tau kan? Itu lho sun jauh dadah dadah sebelum pulang. Ada juga yg tidak dipertontonkan TV sama sekali. Dan ada pula yg memilihkan video-video tertentu melalui gadget orang tuanya.

Ada yg memakaikan baju yg lucu dan girlie pada anak perempuannya. Ada juga yg geli sendiri dg baju anak ala cinderella. Ada anak yg wangi, ada yg biasa saja.

Banyak lagi contohnya jika disebutkan satu-satu 🙂 yg jelas, saya belajar banyak dari berbedaan nilai di tiap keluarga yg sy temui.

Ketika kita tidak mengetahui nilai yg ortu ajarkan pada anaknya, sangat mungkin kita memberikan justifikasi pada anak yg kita temui, seperti ,”Wah, tepuk tangan saja anak ini gabisa. Kan itu mudah”, atau “Usia segini belum bisa nyanyi yaa kecerdasan musiknya kurang”.

Padahal bukan sang anak kurang cerdas atau lambat. Namun ada proteksi dari ortunya yg membuat sang anak membuat barier yg cukup kuat terhadap hal-hal yg diperkenalkan orang lain.

Inilah mengapa pendidikan anak usia dini menjadi tanggungjawab penuh ortunya. Agar nilai-nilai dlm keluarga tersebut sampai ke anak dan anak mampu mem-filter pengaruh dari luar.

Nilai-nilai dlm sebuah keluarga ini tentunya bebas, bergantung pada keinginan, harapan dan pemahaman keluarga masing-masing. Karena orang tua pasti ingin membangun anak menjadi mini version ortunya, namun lebih baik 🙂

Yang menjadi masalah adalah saat nilai sikap yg ortu tanamkan pada anak malah mengacu pada KDRT atau bullying toward kids. Untuk pola asuh anak dg kekerasan seperti ini (baik fisik maupun psikis) memang perlu sedikit dibenahi. Ada baiknya ortu terus belajar dan terbuka terhadap ilmu-ilmu pendidikan serta psikologi anak yg masih berkembang hingga kini.

Harapannya agar ortu dan anak dapat mencapai nilai yg disepakati dg cara yg aman dan nyaman bagi kedua belah pihak. Sikap yg kurang tepat dapat menyebabkan penyerapan nilai bergeser pada sang anak.

Hmm..
Memang butuh usaha dalam menanamkan nilai-nilai pada anak.

Setelah saya memperhatikan pola asuh ortu pada anak-anak yg saya temui. Saya juga jadi berpikir, sy perlu menentukkan sikap dlm mendidik anak saya nanti. Mau bagaimana? Yg jelas bagaimana pun cara kita mendidik anak, pasti ada orang luar yg punya pandangan berbeda dg kita. Disinilah pentingnya nilai dlm sebuah keluarga.

Nilai yg tentunya kita anggap baik untuk keberlangsungan keluarga kita ke depannya. Namun juga tidak menutup telinga dari informasi positif dari luar yg dapat mengkonstruksi perkembangan anak.

Akhir kata.. mari kita berusaha menjadi orang tua yg baik, yg mampu bersikap sebaik-baiknya pada anak kita. Aamiin.

Semangat!

my Mija

Halo halooo
Di blog itu boleh menuliskan apa saja kan ya? Hehe..

So, setelah lama vakum dari dunia perbisnisan, saya kembali ingin belajar lebih banyak tentang bisnis dan akhirnya mencoba untuk membuat scarf-line baru, yaitu : Mija.

image

Variannya belum begitu banyak untuk saat ini. Masih ingin melihat respon pasar dulu. Sekarang ada produk baru yg sebelumnya belum saya produksi.

Kali ini saya memberanikan diri untuk memilih beberapa kain chiffon yg lucu (polkadot pattern) dg bentuk pashmina berukuran 75 x 115 cm.

Berikut fotonya:

image

Ada 5 pattern dengan warna dasar:
1. Putih
2. Merah
3. Toska
4. Orange
5. Cream

Untuk promo, harganya Rp. 29.000 per kerudungnya. Bahannya enak, jatuh, lembut, mudah dibentuk dan ga panas. Pilihan yg tepat untuk jalan-jalan, acara santai dan formal 🙂

Produk yg kedua masih dipilih berdasarkan kain Double Hicon yg serat kainnya lebih tebal dari chiffon dan cerutti.

Nah kalau kerudung dg bahan Double Hicon ini tersedia dalam bentuk segi 4 ukuran 115 x 115 cm. Lumayan lebar dan ga transparan.

Sehingga buat kita yang males pake kerudung double (kalau paris karena tipis perlu di doble kan ya), kerudung ini pilihan yang pas!

Ini dia variannya:

image

image

Harganya terjangkau banget kok, yaitu Rp. 25.000 per kerudungnya, dengan kualitas yg bagus, kainnya halus, serat kain tebal, tidak panas, mudah dibentuk dan jatuh.

Warna yg available saat ini:
1. Toska tua
2. Toska muda
3. Putih
4. Hitam
5. Pink
6. Marun
7. Ungu
8. Hijau tua
9. Orange

Jujur, saya penyuka bahan ini 🙂

Segitu dulu pengenalan produk bisnis saya yg baru yaa. Untuk yg mau order boleh banget. Mangga, hubungi saya melalui WA 082117564605 atau add pin bb saya 73FCE8B9. Line jg boleh : sundarieko.

OK guys, thanks for reading and waiting for some of your respond 😉

Berdamai dg Diri

Sebagai seorang bumil yang tidak bekerja, seringkali saya salut dengan working mom yang tetap beraktivitas full selama hamil.
Well, tanpa mengesampingkan, bahwa keluhan, gejala kehamilan dari tiap Ibu berbeda-beda. Ada yang tetap fit, tidak mengalami emesis yang parah, bisa makan tanpa kendala dan lancar sampai lahiran. Namun ada juga bumil yang rempong abis.

I’m not saying that I’m the one with a very rempong pregnancy. Ada teman saya bahkan sampai dirawat dan diinfus di rumah sakit karena tidak bisa masuk makanan sama sekali sampai dua hari. Ada juga yang mengalami emesis sampai usia kandungan 4 bulan. Bayi lahir prematur, caesar, dll.

Tentu saja, saya pribadi berharap bisa lahiran dengan normal dan lancar. Aamiin.

Memasuki trimester ketiga, perubahan tubuh dan gejala natural yang saya alami juga berubah. Masih ingin berjalan-jalan, kuat dan beraktivitas dengan produktif, namun apa daya, kehamilan saya bukan tipe yang super prima. Sehingga untuk kebaikan bersama, saya, janin dan sang ayah, saya memilih untuk lebih sering diam di rumah. Khawatir kalau berpergian malah merepotkan.

Ya. Kalau melihat bumil lain yang seem OK dan aktif, pengen juga bisa jadi seperti mereka…
But hei! itu artinya saya kurang mensyukuri apa yang saya alami sekarang.
Kita tidak bisa terus mengeluhkan kondisi kita, karena nobody’s life is ideal.
Mau terlihat seperti apa pun, sebenarnya hidup orang lain ada plus dan minusnya.
🙂

Obatnya adalah berdamai dengan diri sendiri.
Dengan kondisi yang kita alami.

Menerima kondisi kita dengan kelapangan hati yang besar.
Menjadi sahabat terbaik bagi diri kita sendiri.
Kalau kita sudah berteman baik dengan diri sendiri, bagaimana pun kondisi di luar diri kita,
kita akan bisa merasa santai dan tahu bahwa kondisi terbaik untuk kita adalah yang sedang kita alami saat ini.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk saya yang kadang ngiri sama bumil yang terlihat ‘bagja’.
Tapi untuk kondisi-kondisi lain yang dialami oleh teman-teman.

Kalau kita tidak bisa merasa puas dengan kondisi kita saat ini, kita tidak akan pernah puas meskipun taraf hidup kita membaik 🙂
Biasakan merasa cukup, menerima diri sendiri dan berdamai dengan hidup.

Di luar diri kita akan ada banyak orang yang dapat berkata apa pun, mempengaruhi kita.
Namun kita harus kuat, memiliki prinsip. Dengan berdamai dengan diri dan menjadi sahabat terbaik untuk diri kita,
kita akan mampu untuk tetap kuat menghadapi berbagai kondisi.

Peace!