Pola Asuh Anak

Sedang hujan di Bandung, tepatnya gerimis di sekitaran rumah saya saat ini. Saya penyuka hujan, bahkan hanya untuk menikmati rintiknya melalui jendela rumah saya. Rasaya ingin mengatakan, “Jangan berhenti. Tetaplah menari di hadapanku”. 🙂

Lalu tak lama terdengar suara tukang baso. Menyeruak kesunyian menembus hujan. Ya baginya mungkin ini peluang emas. Paling nikmat memang melahap semangkuk hangat bakso atau mie, cuanki dan lainnya di waktu-waktu dingin begini.

“Ga di tutup pintunya? Ngga dingin, mba?”, ucap khadimat saya.

Saya menggeleng. Bagi bumil, trimester 3 merupakan saat-saat tubuh merasa gerah. Sehingga kalau kata Ibu saya, “Lama-lama nanti kamu pasti ingin pakai baju robek”. Aha, Ibu hapal betul rupanya rasa fase kehamilan menjelang persalinan.

“Mulai hareudang ya bu?”, begitu ucap seorang bidan pada saya 🙂

Namun di rumah lain, yg juga tampak sepi di kompleks ini, mungkin justru ada yg menggerutu karena jemurannnya belum kering. Bisa jadi jg ada pengendara motor yg terpaksa berhenti sejenak, melindungi diri dari kuyupnya hujan. Syukur-syukur kalau membawa jas huja, jika tidak, terpaksa telat ke tempat yg dituju karena berteduh dulu.

Dan.. di jalanan tiba-tiba ada yg asik hujan-hujanan sambil mengasongkan payung.

Ya. Cara masing-masing diri menyikapi hujan memang berbeda-beda. Tergantung pada situasi yg sedang dihadapi dan kondisi sekitar.

Sama hal-nya dengan cara orang tua menyikapi/bersikap pada anak. Pasti berbeda-beda. Faktor yg mempengaruhinya sangat beragam.

Sebelum hujan makin reda, saya ingin melanjutkan tulisan ini. Boleh ya 😉

Sebagai seseorang yg baru akan menjadi seorang Ibu, secara naluriah, saya mulai sensitif memperhatikan bagaimana keluarga-keluarga yg saya temui dalam mendidik anak-anaknya.

image

Masing-masing keluarga pasti memiliki nilai yg akan ditransfer pada anaknya kelak. Nilai yg dipertahankan dan disepakati oleh ortunya, baik sadar maupun tidak, yg nantinya akan diserap oleh sang anak, dg harapan anak tersebut mampu mengaplikasikan nilai yg sudah ditanamkan sejak kecil tersebut.

Contoh kecil dari penerapan nilai ini adalah, ada keluarga yg saya temui, dimana makanan sang anak harus sangat terjaga. Tidak boleh ada gula dan garam terlalu banyak sebelum usia 2 tahun. Sehingga ortunya lebih sering membuatkan camilan sehat untuk sang anak yg sudah mulai MPASI.

Ada jg keluarga yg santai dlm memberi asupan makanan pada anaknya. Pernah saya temui, ortu yg menyuapi kue wafer pada bayinya yg berusia 4 bulan. Padahal berdasarkan pakem ilmu kedokteran, bayi baru boleh mengkonsumsi makanan selain ASI di atas usia 6 bulan.

Inilah nilai dlm sebuah keluarga yg tidak bisa orang luar ganggu gugat. Sebuah sikap prinsipil atas pola asuh anak. Kita bisa saja mengkritisi atau memberikan penilaian yg salah. Namun zona keluarga lain adl zona yg tidak bisa kita masuki dg leluasa.

Oleh karena itu ketika bertemu dg beberapa anak, sekarang saya sering bertanya, “Apakah di rumah anak ini diajari menyanyi?”, misalnya.

Atau, “Bagaimana cara Ibu mengapresiasi anak Ibu ketika dia menunjukkan sebuah prestasi?”.

Hal ini saya lakukan agar tidak terjadi salah persepsi dan dapat memberikan sikap yg nyaman pada anak yg sy ajak berinteraksi.

Suatu hari, saya mengajak anak teman saya bermain, saya sudah akan bernyanyi ketika akhirnya sy melihat gesture sang anak yg tampak tenang dan diam. Saya langsung terbesit sebuah pemikiran, mungkin anak ini tidak diajari bernyanyi di rumahnya.

Ternyata benar. Anak ini hanya diperdengarkan ayat suci Al-Qur’an dan bukan musik. Juga sedikit-sedikit diperkenalkan bahasa Arab oleh ibunya.

OK. Itu adalah nilai yg ada pada keluarga tsb. Sy pun urung bernyanyi dan menanyakan, surat apa saja yg sudah dihapal? Hehe.

Ada lagi, ketika anak teman saya menggambar dan ditunjukkan pada saya. Saya reflek bertepuk tangan. Namun sang anak bersikap datar. Setelah saya tanyakan pada Ibunya, oh ternyata anak ini tidak diajari tepuk tangan. Namun ketika sang anak melakukan sesuatu, apresiasinya diberikan dalam bentuk ciuman dan pelukan.

Subhanallah.

Begitulah perbedaan nilai yg dipegang dlm sebuah keluarga.

Ada ibu yg panik hanya karena anaknya memakan kue dan segera minta dimuntahkan. Ada yg santai saja ketika balitanya minum es limun. Ada yg tidak memperkenalkan chiki dan permen pada anaknya.

Ada anak yg tidak diajari kiss bye yg umumnya anak lain bisa, tau kan? Itu lho sun jauh dadah dadah sebelum pulang. Ada juga yg tidak dipertontonkan TV sama sekali. Dan ada pula yg memilihkan video-video tertentu melalui gadget orang tuanya.

Ada yg memakaikan baju yg lucu dan girlie pada anak perempuannya. Ada juga yg geli sendiri dg baju anak ala cinderella. Ada anak yg wangi, ada yg biasa saja.

Banyak lagi contohnya jika disebutkan satu-satu 🙂 yg jelas, saya belajar banyak dari berbedaan nilai di tiap keluarga yg sy temui.

Ketika kita tidak mengetahui nilai yg ortu ajarkan pada anaknya, sangat mungkin kita memberikan justifikasi pada anak yg kita temui, seperti ,”Wah, tepuk tangan saja anak ini gabisa. Kan itu mudah”, atau “Usia segini belum bisa nyanyi yaa kecerdasan musiknya kurang”.

Padahal bukan sang anak kurang cerdas atau lambat. Namun ada proteksi dari ortunya yg membuat sang anak membuat barier yg cukup kuat terhadap hal-hal yg diperkenalkan orang lain.

Inilah mengapa pendidikan anak usia dini menjadi tanggungjawab penuh ortunya. Agar nilai-nilai dlm keluarga tersebut sampai ke anak dan anak mampu mem-filter pengaruh dari luar.

Nilai-nilai dlm sebuah keluarga ini tentunya bebas, bergantung pada keinginan, harapan dan pemahaman keluarga masing-masing. Karena orang tua pasti ingin membangun anak menjadi mini version ortunya, namun lebih baik 🙂

Yang menjadi masalah adalah saat nilai sikap yg ortu tanamkan pada anak malah mengacu pada KDRT atau bullying toward kids. Untuk pola asuh anak dg kekerasan seperti ini (baik fisik maupun psikis) memang perlu sedikit dibenahi. Ada baiknya ortu terus belajar dan terbuka terhadap ilmu-ilmu pendidikan serta psikologi anak yg masih berkembang hingga kini.

Harapannya agar ortu dan anak dapat mencapai nilai yg disepakati dg cara yg aman dan nyaman bagi kedua belah pihak. Sikap yg kurang tepat dapat menyebabkan penyerapan nilai bergeser pada sang anak.

Hmm..
Memang butuh usaha dalam menanamkan nilai-nilai pada anak.

Setelah saya memperhatikan pola asuh ortu pada anak-anak yg saya temui. Saya juga jadi berpikir, sy perlu menentukkan sikap dlm mendidik anak saya nanti. Mau bagaimana? Yg jelas bagaimana pun cara kita mendidik anak, pasti ada orang luar yg punya pandangan berbeda dg kita. Disinilah pentingnya nilai dlm sebuah keluarga.

Nilai yg tentunya kita anggap baik untuk keberlangsungan keluarga kita ke depannya. Namun juga tidak menutup telinga dari informasi positif dari luar yg dapat mengkonstruksi perkembangan anak.

Akhir kata.. mari kita berusaha menjadi orang tua yg baik, yg mampu bersikap sebaik-baiknya pada anak kita. Aamiin.

Semangat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s