Afternoon Coffee

Monday noon, any one with a cup of coffee? πŸ˜‰

Ya. Coffee. Bahasa indonesianya, kopi, adalah sejenis minuman ber-kafein yg banyak digemari masyarakat, termasuk beberapa teman saya.

Saya bukan penyuka kopi, I would prefer drink milk or tea to energize the day. Dan saya pernah bertanya kepada teman yg suka menyeruput kopi.

“Why do u like coffee?”
“It’s bittersweet”, jawabnya.

“Kopi itu seperti rasa kehidupan. Bittersweet. Awalnya pahit, tapi kalau lama-lama dinikmati jd enak juga”.

What a taste! πŸ˜€

image

OK. Meski sy tidak begitu menikmati kopi dan belum menemukan ‘rasa’ sedalam itu di minuman/makanan lain, saya tertarik dengan filosofi bittersweet-nya.

Well yes. Hidup itu bittersweet rasanya πŸ™‚ kita tidak berada di atas atau di bawah selamanya. Sad & happiness datang silih berganti, agar kita semakin paham rasa hidup.

Kalau saya merefleksikan terhadap my own life, hm.. bisa dikatakan, 7 bulan ini (pasca married) banyak sekali hal yg berubah dalam hidup saya. Fase dimana saya belum pernah alami, terjadi. Dan sy semakin merasakan bahwa hidup itu memang berisi rasa kopi tadi, ada kepahitan, namun ada kenikmatan. Ada sensasi rasa disana.

Ahaha.

7 months.
Ya. Ada banyak perubahan terjadi. Asumsi, visi, imaginasi dan fakta yg terjadi nampaknya terus saling beradaptasi. Sisi bitter dan si sweety beradu. Menimbulkan keseimbangan, buah pikiran, perenungan dan kedewasaan.

Yang ingin saya refleksikan disini adalah.. bahwa saat terjadi perubahan fase dalam hidup, ada baiknya kita memandangnya sebagai sebuah proses belajar.

Sehingga, kita tidak menuntut diri kita terlalu keras atau menyalahkan keadaan. Suatu hal yg lumrah, suatu fase membutuhkan proses adaptasi. Penciptaan manusia saja memakan waktu hingga 9 bulan (masa ideal).

Fase ketika saya akhirnya berkeinginan untuk hidup bebas, tidak terikat kerjaan yg mengharuskan saya berada pada jam kantor dari senin-jum’at ditambah kadang lembur. Money come fast, true. But im not comfortable with it.

Ketika saya resign kemudian menikah. Mulai berimajinasi bahwa hidup yg enak itu adalah seperti yg awalnya saya jalani. Saya tidak dituntut untuk bekerja dan bisa melakukan apa yg saya mau. Seperti berjalan-jalan di jam-jam orang lain bekerja. Bertemu teman. Bersosialisasi. Melakukan tindakan tindakan yg tidak ada hubungannya dengan menghasilkan uang, namun kesenangan hati.

Berusaha untuk mencoba bereksperimen dengan berbagai masakan, karena saya punya impian untuk bisa menghidangkan makanan seperti apa pun untuk suami dan anak-anak saya.

Saya juga tidak terpikir untuk memiliki ART, apalagi menitipkan anak-anak saya di Day Care. Dalam benak saya, “I’ll raise them by myself”.

Spend time with my kids, watch them grow up.

Namun, beginilah hidup.
Bitter in sweet. Bahkan setelah saya mendefinisikan hidup enak yg saya mau, ternyata ada orang-orang yg justru memandang..

“Oh how shame you are for completely jobless”

“Kasian banget.. jd IRT”

And else..

Ugh.. tidak bisa tidak, saya jd terpengaruh. Oh God.. Oh God.. should I work again..

Seharusnya kita memang merasa nyaman dan sangat percaya diri atas keputusan yg kita buat.

Menjadi full time stay at home mom, working mom, mommypreneur. Well, put up your face, held high & say hai to people. Being friendly.

Ini adalah hal yg sedang sy konstruksi saat ini. Being confident with the way that I choose. Karena itu penting. Jika tidak, kita akan terus berubah-rubah mengikuti pandangan orang.

It would be hard. Unless we being really sure and trust ourselves that we will be succeed, doing the life that we think best & suitable for us.

Same thing. Even if a wife is working there are still many talks behind..

Banyak di antara ibu-ibu se usia saya yg sudah punya baby mengakui bahwa, di fase setelah menikah dan apalagi setelah melahirkan, ada idealisme yg perlu diluruhkan. Ada kepentingan lain yg harus diutamakan. Dan para new mom ini pun mulai mencari jati dirinya lagi.

What I want to be? Whats my passion?

Re-invent ourselves.

Dan sekali lagi, bagi saya. Ini adalah sebentuk fase yg wajar. Yg dialami banyak orang, married woman khususnya. Dan fase ini tidak terjadi seumur hidup.

Pada satu titik. Entah titik jenuh maupun titik cerah. Kita akan, baik secara terpaksa maupun tidak, akan menemukan apa yg sebenarnya kita mau. We’ll find our way back. Dan mulai mengenali diri kita kembali. Diri kita yg mungkin memang berbeda dg saat kita masih single. Impian-impian yg berubah drastis namun mendefinisikan diri kita saat ini.

Re-invent ourselves adalah fase yg akan terjadi pada beberapa masa. Oleh karena itu, as i said above, saya pribadi lebih nyaman memandang fase ini sebagai proses belajar.

Belajar beradaptasi lagi.
Belajar mengenali diri lagi.
Belajar hidup..
Dengan segala bittersweetnya.

So, it is. U get to feel the bitter and the sweet in every process πŸ™‚

Selamat berproses para ibu dan calon ibu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s