Simple Joy

Not anymore.
Ya. Tidak lagi.
Saya tidak lagi ingin meletakan perasaan saya di atas logika.

Karena apa?
Karena kebahagiaan itu datang dari dalam diri kita sendiri.
Happiness comes from within.

“Dung!”,
Tuh, kan benar, kebahagiaan datang dari dalam 🙂 bayi bunda nendang-nendang lagi di rahim, hehe.

Simple Joy.
Bahagia itu bentuknya macam-macam.
Orang-orang mengekspresikan dan merasakan kebahagiaan dg cara yg beragam. Ada yg harus dg spending much money, ada yg sesederhana berkumpul berasama keluarga dan makan ikan asin bersama.

Ada saya dan tendangan sang bayi 🙂
Simple joy.

Beberapa hari yg lalu, ketika saya pulang ke rumah dan agak lelah karena melakukan aktivitas di luar yg cukup banyak, saya disambut oleh adik saya yg masih berseragam sekolah, padahal waktu menunjukkan pukul 17.35 WIB.

Langsung saja saya memintanya segera mandi, karena orang tua kami akan datang sekitar pukul 18.00 WIB. Kenapa saya memintanya segera mandi? Hal ini untuk mencegah bentrokan penggunaan toilet di waktu magrib.

Wadoooh segitunya yak 😀
But rules are rules.

“Ka, ayo mandi. Udah pulang dari tadi, kan? Bapak Ibu sebentar lagi pulang. Ayo dandan cantik supaya mereka senang”, rayu saya.

What happen next?
“Ini lagi! Kaka yg satu ini. Ngajak berantem mulu. Aku tuh ngerasa pengen marah tau sama semua orang di rumah ini”, responnya.

Sontak, saya kaget.
Detik itu juga, saya yg sedang hamil 30 minggu dan kelelahan, ingin menjawab, “Ayo kalau mau berantem”.

Hahaaa
Pasalnya, jika menuruti ego, bumil di trimester 3 memang dikatakan menjadi lebih sensitif dan emosional, karena pengaruh hormon juga. Sehingga, saya merasa yg paling berhak bersikap reaktif terhadap segala sesuatu ya saya…

Tapi.. rem mulut sejenak, saya ingat kemarin malam baru menemaninya membeli perlengkapan datang bulannya.

Ow Ow Oow.. saya tersadar, adik saya sedang PMS rupanya, pengaruh hormon juga mungkin yg membuatnya jadi mudah tersinggung.

Akhirnya si kecil beranjak remaja juga 🙂

Walhasil, saya pun cuma senyum dan tidak jadi merespon adik saya dengan kemarahan juga. Hanya sedikit teasing, “Mandi ya kaaa..”, dan beranjak ke kamar saya.

Lumrahnya, atau saya tidak bisa memungkir, memang saya ingin banyak dimaklumi dan di mengerti dg kondisi kehamilan saya. Namun, begitulah, tidak semua orang paham psikologi ibu hamil.

Dan lebih lagi, di saat kita menuntut orang lain untuk memahami kita, biasanya bumeranglah yg terjadi. So, its best to be there for other..

Meski sulit, saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa, apa-apa yg tersaji di hadapan kita merupakan kondisi terbaik. Siapa sih bumil yg tidak membutuhkan perhatian lebih?

Namun, disinilah letak pembelajarannya. Persiapan menjadi seorang Ibu, dimana pastinya saat menjadi seorang Ibu, kita tidak lagi bisa selfish.

Ada suami dan anak yg harus dilayani. Apalagi mungkin saja, sedang hamil pula, sudah ada anak juga dan suami. Latihan, untuk tantangan yg lebih besar.

Pada kajian parenting, saya menangkap apa yg nara sumbernya sampaikan.

“Tidak ada Ibu yg sempurna, yg cantik, bisa segala macam, mahir melayani suami & anak, serta berpenghasilan puluhan juta per bulan”,

“Tidak ada Ibu yg sempurna. Tapi, kita bisa berusaha menjadi Ibu yg baik”.

Begitu katanya.
Sekali lagi, “BERUSAHA, jadi Ibu yg baik”. 🙂

Dan satu hal lagi yg terpatri dalam ruang dengar saya, beliau mengatakan..

“Jadi Ibu itu harus sabar. Kalau anak tidak belajar sabar dari Ibunya, maka dari siapa lagi?”,

Mungkin kata SABAR itu, untuk yg belum mempunyai 4 anak dg keunikan masing-masing terdengar “Oh, ok. Saya bisa”. Namun, setelah bercakap-cakap dg teman saya yg anaknya sudah akan berjumlah dua, ternyata.. “Sampai sekarang, itu doa wajib saya, yaitu jadi Ibu yg sabar”.

Nah, korelasinya dg apa yg saya alami adalah, tidak mungkin seseorang bisa meraih kesuksesan tanpa usaha.

Untuk menjadi pribadi yg sabar, saya perlu latihan. Latihan itu ya dari sekarang. Berusaha untuk mengerti orang di sekitar saya..

Hm.. saya mungkin sedikit banyak terbayang, kesabaran seperti apa sih yg nanti diperlukan setelah bayi lahir.

Yang tergambar di benak saya saat ini adalah ya tadi. Saat menjadi seorang Ibu, kita tidak lagi bisa semau gue. Egois, selfish. Ada kepentingan anak yg harus kita dahulukan.

Well, seperti sekarang..
Saya tidak bisa mengabaikan tendangan-tendangan bersejarah di rahim saya.

Adek mau apa? Mau bunda makan? Mau bunda elus-elus? Mau dibacain asmaul-husna? Atau pengen bunda olahraga? 😀

Ektrimnya, ketika sedang tidur malam, ia menendang agar saya ke toilet karena ruang geraknya semakin sempit akibat kandung kemih yg penuh dan menekan-nekan zona ketuban huniannya.

OK. Bunda bangun nak..
Latihan terjaga malam hari saat baby harus diberi ASI 2 jam sekali 😀

Di atas semua latihan kesabaran ini, bunda ingin bilang.. “Thanks for giving me happiness, and make me a better I am, mija. Mommy loves you”.

:*

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s