The Good in Everything

Like a coin, everything that happen in our life have both sides of positive and negative perspective.

It depends on how we see the things, or.. from which view do we choose to see? The good one or the painful one?

Speaking of pain itself, pain isn’t always bad. Maybe we think or feel that it is bad for us, but sometime painful things give us more lesson about life. And usually, people who overcome painful things get stronger on the next days.

Memang butuh proses untuk akhirnya menerima bahwa dalam menyikapi hidup, kitalah yang memilih dari sisi manakah kita mau melihat. Karena pun saat kita merasa sangat bahagia, sebetulnya ada celah kesedihan disana yang tidak kita pilih untuk diambil. Begitu juga saat kita mengalami hal yang kita rasa/pikir buruk, maka kita dapat berusaha membalik pikiran kita untuk melihat dari prespektif yang lain.

Train your mind to see the good in everything.

Kurang lebih saya menerjemahkannya : latihlah pikiran Anda untuk melihat kebaikan/sisi baik dalam segala hal.

The first word is “train” atau “latihlah”. Ya, saya pikir untuk mencapai sesuatu kita memerlukan latihan. Tidak mungkin kita memiliki tekad untuk menjadi orang yang positif seketika. Latihan akan membuat kita terbiasa dan terasah.

Bekerja untuk Keluarga

Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu
Karena cinta, waktu terbagi dua
Dengamu dan rindu untuk membalik masa

[Puisi Cinta-Rangga dalam mini drama AADC]

Untuk seluruh waktu Bunda bersama Aisya.

Memang benar, cinta membagi waktu menjadi dua, dengan seseorang yang kita cinta dan kebutuhan lain yang tidak dapat dikesampingkan.

Berbeda rasanya, bekerja saat masih single dan ketika sudah memiliki anak. Sebagai seorang bunda, tentulah tangisan anak saat ditinggalkan bekerja very breath-taking. Ingin rasanya mendekapnya dan menghabiskan waktu bersama anak saja. Namun sayangnya, kita hidup dalam dunia yang meminta kita untuk tidak bersikap egois.

2 bulan ini, saya kembali mencoba beraktivitas di luar rumah. Selama bekerja, most of the time saya memikirkan anak saya. Saya berusaha mengerjakan proyek yang diamanahi kepada saya se-efektif mungkin sehingga saya masih bisa mengunjungi anak saya saat jam makan siang dan pulang tepat waktu.

Meskipun bekerja, saya ingin tetap memaksimalkan waktu dengan anak saya. Rasanya lebih baik berada dekat Aisya ketimbang mengerjakan sesuatu yang kurang efisien di kantor.

Alhamdulillah pekerjaan saya kali ini cukup fleksibel. Beruntungnya saya memiliki pimpinan yang mengutamakan keluarga. Beliau mengatakan, “Kita bekerja untuk keluarga. Oleh karena itu, jangan sampai dengan bekerja, kita mendzolimi keluarga kita. Kalau ada keperluan keluarga, boleh izin”.

Dari perkataan beliau, saya menyimpulkan, apa pun yang kita kerjakan, tujuan akhirnya adalah keluarga, Tidak lucu kalau kita bekerja keras dan ujung-ujungnya keluarga kita terabaikan, kurang mendapat perhatian atau tidak menjadi prioritas.

Family come first!

Wah, enak betul ya kalau semua pimpinan di tiap instansi berpikir begitu 🙂 namun tidak semua tempat bekerja menetapkan kebijakan yang menyenangkan seperti itu. Ya, kitalah yang beradaptasi.

Bicara soal pekerjaan, saya menyukai apa yang saya kerjakan saat ini.
This project giving me responsibility that no one else have. Sehingga hasil kerja yang saya berikan original dan saya diberikan kepercayaan penuh dalam menuntaskan pekerjaan ini.

Setelah proyek ini selesai, tentulah saya akan mencari pekerjaan lain yang hopefully better dari kerjaan saya yang dulu maupun sedang saya kerjakan saat ini. As I said, saya menyukai pekerjaan saya yang di balik layar sebagai pihak manajemen sekarang, but I dream that one day, I’ll sit in a forum and giving people the idea that I have. Inspire people with my thought. 🙂

I’m willing to change, at least to change myself into become a more responsible person.

Complain

Suka mengeluh? atau suka mengeluhkan hal-hal kecil? hehe

Menguping pembicaraan dua orang yang sedang curhat..

“..mungkin kita merasa kalau diri kita paling sensitif, namun yang kita tidak mau, barangkali ada orang lain yang lebih sensitif di sekitar kita, hanya saja mereka diam, tidak menunjukkan emosi mereka. Bukan berarti orang yang diam itu tidak sensitif..”

“..sehingga keputusan yang kita ambil dalam sebuah tindakan, kalau bisa menyenangkan untuk kedua pihak, bukan untuk kita saja, namun juga orang lain..”

Kesimpulan singkat sekelebat pembicaraan yang saya dengar dengan tidak sengaja ini, berarti orang-orang yang tidak egois memikirkan keinginan mereka sendiri itu sudah bersikap benar.

*wink*

No matter how, there’s always a challenge to conquer.

Beautiful Words

“Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun.
Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu”.
(Ali bin Abi Thalib)

Semakin kita menua (jika kita menyadari bahwa usia kita berkurang), kita akan berada di satu titik transisi, baik kita menolak atau menerimanya. Transisi yang menghadapkan kita pada hidup yang lebih serius dari hidup yang sebelumnya kita jalani.

Pada titik ini, yang terjadi pada variatif usia, kita dapat memilih, akankah kita berusaha bertransformasi menjadi pribadi yang lebih bijak atau tetap mempertahankan kebiasaan lama dan menua dengan eforia.

Penuaan adalah keniscayaan, Kedewasaan adalah pilihan.

Orang yang bijaksana, seringkali berhati-hati dalam bicara. Bukan untuk mendapatkan pujian, namun untuk kebaikan hatinya sendiri. Mungkin orang bijak sudah mulai berpikir bahwa segala tindakan dan perkataannya akan dihisab di yaumil akhir nanti, sehingga sebisa mungkin berbicara saat diperlukan, dengan topik yang sangat penting dan bahasa yang efektif.

Speak only when your words are more beautiful than your silence
(Imam Ali bin Abi Thalib)

Bagi orang dengan kedewasaan tertentu, kalimat ini menjadi sebuah paduan dalam berbicara. Kita berbicara hanya jika apa yang kita ucapkan lebih indah dari diamnya kita. Menghindari pembicaraan yang memungkinkan adanya pihak yang tersakiti, apalagi pembicaraan yang tidak penting yang hanya akan menambah daftar amal buruk kita dan menggerogoti kita tanpa kita sadari.

Menjadi bijak juga berarti banyak melakukan observasi, mendengarkan, tanpa mengomentari kecuali bila diminta, mengalah. Mengalah untuk menang. Untuk menang dari ego diri kita sendiri yang ingin didengar, diikuti, dimengerti, dan ditaati. Kita yang ingin mengalahkan diri kita sendiri dan menjadi pemenang atas diri kita.

Sunbathing-Picnic!

Hari itu, minggu pagi, cuaca yang cerah menggoda untuk kami menjemur badan di bawah sinar matahari.  Ibu saya (neneknya Aisya) menggelar karpet dan memasang payung lalu memanggil kami semua untuk berkumpul di garasi.

Saya membawa sarapan saya dan bubur Aisya ke garasi, juga cemilan-cemilan kecil. Bergabunglah bersama saya, Aisya, ayah Aisya, Arum (tante Aisya), Om Aisya dan nenek Aisya. Berkumpulah kami semua pagi itu di karpet merah menyantap hidangan pagi dan menikmati natural vitamin D dari matahari.

I suprised that it could be so fun!
Sambil makan kami mengobrol, ngalor ngidul, tidak satu tema. Saya lebih banyak mengajak Aisya bicara sambil menyuapinya, suami saya chit chat dengan Arum mengenai info apa yang sedang update saat ini, dan Om Aisya sebentar-sebentar mengajak Aisya bermain.

We laugh together!
Meskipun kami tertawa atas aktivitas masing-masing yang tidak terhubung namun terintegrasi di garasi tersebut, rasanya sangat menyenangkan, rileks, dan ringan. A good laugh always connected to a delightful feeling.

Ketika matahari makin meninggi, nenek Aisya meletakkan payung di belakang Aisya agar ia terlindung dari teriknya.

Ahaha, saya masih ingat betapa lucunya kegiatan pagi itu. Semacam piknik sederhana di halaman rumah, ide yang bagus, apalagi ada makanan dan candaan.

Our little picnic.
Piknik yang sangat berkualitas dan low cost.

A quality-family time doesnt always have to be a trip to an expensive place but it depens on how each member of the family anjoy a good time together. We cannot buy happiness, we could create it. We could give happiness to each other 🙂
Worth to try people!