Jalan-jalan ke Kuala Lumpur & Melaka 4 Hari

Kuala Lumpur-Melaka in my eyes

I miss blogging, so I come up with this story.

 

Malaysia again?
Ya! Bukan kali pertama kami mengunjungi Negeri Jiran ini. 2 tahun lalu, saya dan suami babymoon ke Kuala Lumpur, namun saya hanya sempat mengunjungi Petronas Twin Tower saja. Saat itu saya cukup lelah sehabis jalan-jalan di Singapura dengan kondisi kehamilan 5 bulan dan MRT yang membawa kami di KL tingkat kepadatannya hampir sama dengan busway di Jakarta pada jam berangkat kantor (dorong-dorongan pula). Well that’s giving me bad memory about Malaysia.

Nah, pada tanggal 2-3 Mei 2016 minggu lalu, suami saya mengambil cuti dan kembali mengajak saya, kali ini bersama Aisya, putri kecil kami yang baru saja menginjak usia 2 tahun melancong ke Malaysia. Travelling bersama anak merupakan pengalaman baru bagi saya. Prinsipnya, barang yang dibawa tidak boleh terlalu banyak dan kami packing se-efisien mungkin. Bekal untuk Aisya juga kami siapkan, in case Aisya akan sulit beradaptasi dengan masakan Malaysia dan kami bisa sekalian ngemil di perjalanan. Pakaian orang tua dan anak disimpan di dalam koper besar, suami membawa ransel dan Aisya membawa koper kecil berisi snack juga susu.

I love airport. Sudah lama sekali saya tidak menginjakan kaki di Bandara. Ada kebahagiaan tersendiri berjalan di lorong panjang sambil mendorong koper dan mengamati banyaknya orang yang lalu lalang di Bandara, dengan anak-anak mereka, bersama pasangan, maupun sendirian. Jadi ingat, salah satu pengalaman yang berkesan buat saya adalah ketika tengah malam berangkat ke Bandara Soekarno Hatta dari Bandung dengan tujuan Medan. Langit masih gelap saat pesawat yang saya naiki take off. Di dalam pesawat, kami menempatkan Aisya di kursi tengah, memakaikannya seat belt, dan tak lama Aisya pun terlelap. Ia tidur sepanjang penerbangan dan baru bangun saat landing. Padahal kami sudah antusias untuk mempelihatkan awan-awan yang berada di kiri-kanan jendela pada Aisya, but that’s a good thing that she sleep during her first flight.

I should say, pengalaman kedua berlibur ke Malaysia leaving me with beautiful memories. What I really like is the people hospitality. The Malaysian are really friendly and helpful. They were smile to us, saying “Hai” and talk to my daughter (bahkan ada yang ‘ujug-ujug’ mengelus kepala Aisya saat kami berjalan). Orang-orang giving their seat to us when we entered the bus, dan bahkan saat kami menunggu kedatangan bus pun ada yang mengajak kami mengobrol. This make me feel so warm.

Another things that I like is the food (I like india-food) and the transportation. MRT that we took comes every 5 minutes and it’s not so crowd inside, so we still get a seat. Alhamdulillah.

Kami memiliki dua tempat yang akan kami eksplor selama di Malaysia, yaitu Kuala Lumpur dan Melaka. Rencananya kami akan berkeliling di Kuala Lumpur, kemudian hari ke-dua berangkat ke Melaka, hari ke-tiga bermain di Genting Highland dan hari ke-empat kembali ke Jakarta.

Senin sore, kami tiba di Kuala Lumpur dan hujan turun sesaat setelah kami check in di Pacific Express Hotel. Beruntung Hotel tempat kami menginap dekat dengan Central Market, memenuhi hak perut, kami pun berlari kecil ke Pasar Seni tersebut dan naik ke lantai dua, tempat food court. Suami memesan Tom Yam sementara saya yang sedari di Pesawat mengidam-idamkan Nasi Lemak memutuskan untuk mengicip-icip saja kuah Tom Yam dari mangkok suami dan memesan nasi lemak agar Aisya juga menyantap lezatnya masakan khas Malaysia tersebut. Ternyata, Aisya belum begitu tertarik untuk makan berat, dan kami memberinya pudding. Aisya lebih tertarik untuk berjalan-jalan dan naik turun tangga mengitari Central Market, walhasil saya menyuapi Aisya sambil mengejarnya.

Pasar Seni/Central Market ini mirip seperti Pasar Baru di Bandung namun lebih tertata, lebih bersih juga rapi. Gerai-gerai yang ada disini mostly menjual karya-karya seni seperti lukisan, cinderamata, berbagai oleh-oleh khas Malaysia seperti cokelat, oat choho, permen. Ada penjual pakaian, pashmina, batu giok, dan masih banyak lagi. Jelas ini bukan pasar yang menjual sayuran dan daging.

“Makan, makan”, ucap seorang penjual cokelat. Beliau juga mengajak Aisya bersalaman sembari berkata “Assalamu’alaykum”, dan membuat saya merasa kurang enak karena tidak membeli barang yang ia jual.

“Waaah, sedapnya”, komentar pedagang yang lain saat saya menyuapkan pudding ke mulut Aisya. Sedangkan penjaga toko yang lain senyum-senyum dan memetikkan jarinya untuk mendapatkan perhatian Aisya. How nice.

Turn out, pada Rabu malam sebelum kami pulang keesokan harinya, saya membeli sebungkus cokelat untuk adik saya dan Silk shawl untuk ibu saya di Pasar Seni ini. Selebihnya, kami membeli oleh-oleh di Mydin.

Setelah hujan reda, kami berjalan ke Terminal bus dan mencari bus kearah KLCC Suria atau lebih dikenal dengan Petronas Twin Tower. Di Kuala Lumpur ada dua macam bus yang beroperasi, yaitu bus berbayar dan bus tidak berbayar. We choose to going around with GO-KL cause it’s simply free.

Kami melewatkan hari pertama di Kuala Lumpur dengan befoto di kawasan Petronas, Aisya senang sekali bermain di air mancur yang ada di depan menara kembar. Pertunjukkan air mancur di Lake Symphony KLCC Park menjadi penutup yang indah malam mini. The fountain was dancing blended with the music.

Di Malaysia, ada perbedaan waktu yang cukup signifikan dengan waktu di Indonesia Bagian Barat. Adzan dzuhur berkumandang sekitar pukul 13.00. Pada pukul 18.00, biasanya langit Jakarta meredup, namun disini masih terang benderang. Sholat shubuh disini dilakukan pada pukul 6 pagi.

Aktivitas di Kuala Lumpur (juga Melaka) mulai “hidup” sekitar pukul 9 pagi. Saya perhatikan, di jam-jam ini orang-orang mulai berlalu lalang di jalan. Ada juga bapak-bapak dengan baju kurung dan jenggot berwarna oranye berjalan sambil membawa tasbih dan berdzikir sepanjang jalan. Ada pula yang memakai sarung dan kopiah. Mungkin mereka baru pulang dari masjid. Beberapa perempuan india dengan anak mereka berjalan beriringan, segerombolan wanita bercadar berjalan bersama pria-nya. Banyak pula turis asing yang saya temui disini namun tidak berbicara dalam bahasa inggris, not sure from where.

Wisata kuliner saya Selasa pagi ini dimulai dengan Beef Murtabak yang disediakan dengan Kari dan kuah lada hitam. Suami memililh sarapan dengan Nasi Lemak, dan kami pesankan Tossai -roti india yang tipis, not really crunchy and taste like Bandros– untuk Aisya. Aisya cukup menikmati potongan Murtabak dan Tossai-nya, Untuk minumannya, kami memesan Milo cold dan hot tea.

Rampung dengan sarapan, kami pun melanjutkan perjalanan ke Melaka. Untuk sampai ke Melaka, terlebih dulu kami naik MRT ke Terminal Bersepadu Selatan. MRT ini datang setiap 5 menit sekali, sehingga waktu menunggunya tidak lama. Terminal Bersepadu Selatan adalah terminal bus yang lebih terlihat seperti bandara kecil. Terminalnya sangat bersih dan tertata, cukup luas dan banyak bangku tersedia bagi para penunggu bus. Kami membeli tiket seharga 10 RM dan masuk ke dalam bus yang dipadati oleh turis-turis dan warga Malaysia yang akan berkunjung ke Melaka Heritage City. It takes two hours to get there.

Melaka dikenal sebagai salah satu World Heritage City. Di kota yang panas ini terdapat “Red Building”/“Dutch Building”, yaitu bangunan berwarna merah yang dibangun oleh pemerintah Belanda pada jaman dahulu. Di kawasan Stadthyus ini juga terdapat Queen Victoria Fountain, St. Paul Church, dan Kapal besar yang bisa kita masuki.

Kami memilih untuk menyantap makan siang dan istirahat sebentar di The Explorer Hotel Melaka (Rate 180rb/night). Di hotel ini ada mini playground-nya, sehingga Aisya bisa bermain-main disana untuk mengisi waktu luang. Sore harinya kami mendaki bukit kecil di Stadthyus untuk sampai ke St. Paul Church yang merupakan gereja pertama dan tertua di Melaka. The view above is amazing and the Church is now considered as a historical building. Di depan Chapel tua ini berdiri patung Pendeta Francis Xavier yang tangan kanannya hilang and gone forever. Disinilah tiba-tiba Aisya bilang..

“Daisy..”,
“Daisy, kamu dimana?”,
“Daisiiiiiiiiii”,
begitu panggilnya.

“Aisya, siapa Daisy?”, tanya saya penasaran.

“Itu kucing yang tadi ada disini”, jawab Aisya.

“Oh, u name the cat Daisy? How cute!”, ucap saya takjub.

What a progress that she gave a name to a cat.

Malam harinya, kami menyusuri Sungai Melaka menggunakan Cruise.
This is what I also like from the Journey, Aisya got a chance to ride on various vehicle such as train, bus, car, and a cruise. Four in a row!

Rabu pagi, seperti biasa pukul 09.00, kami sarapan pagi di depan Hotel dan kembali ke Kuala Lumpur. Nah, ada kejadian lucu saat kami sarapan disini. Kami memesan milo dingin pada brother yang datang ke meja kami.

“Brother, I want hot milo one and iced milo one”, ucap suami.

“Ok”, balasnya, tak lama ia kembali ke meja kami.

” No iced milo”, katanya sambil menggelengkan kepala.

“Oh, kalau milo dingin?”, suami mencoba mencari kata pengganti.

” Milo dingin? No”, dia tampak bingung.

“Itu apa?”, suami menunjuk pesanan tamu lain yang sedang mengaduk gelas berisi milo.

” Oh, milo sejuk?”, sang brother tersenyum, paham maksud suami saya.

Saya dan suami ikut terseyum gemas, ‘oh ternyata disebutnya milo sejuk kalau disini’, batin kami.
Hari sudah siang saat kami tiba di KL, langsung saja kami serbu Restoran India untuk makan siang. Siiang ini saya mencoba Roti Naan, Roti Naan adalah Roti Arab yang berbentuk bulan dan kita bisa memilih isian di dalamnya, saya pesan yang Cheese-Naan. Roti Naan dengan isian keju. Sempat ditawari Chicken Tandori Naan, Roti Naan dengan isian potongan daging ayam, but I prefer the cheese one for me and Aisya. Sementara suami mengambil sendiri Nasi Biriyani dan lauknya, ternyata Aisya suka dengan Biriyani ini, I thought it would be too spicy for her. Kami juga membungkus Mee Ayam untuk dibawa ke Hotel.

Seharusnya kami melanjutkan jalan-jalan kami ke Genting Highland. Butuh waktu 3 jam untuk sampai ke Genting Highland. Setelah dipikir matang-matang, ada baiknya kami meluangkan waktu untuk membeli oleh-oleh saja sore ini dan beristirahat karena besok pagi kami harus bersiap pulang ke Jakarta.

Kami meng-cancel kunjungan ke Genting Highland (maybe next time) dan berjalan kaki di sekitaran Kuala Lumpur, mengunjungi Kuala Lumpur City Galery, Dataran Merdeka Kuala Lumpur dan Mydin. So here’s the issue about Mydin, Mydin tersohor sebagai supermarket yang mirip dengan Supermarket Mustafa di Singapura. Mydin merupakan salah satu pusat oleh-oleh di Kuala Lumpur yang harga jualnya bisa mencapai setengah harga jual di tempat lain alias murah. Our trolley was full with chocolate for our family and relatives. Namun ada satu cokelat Malaysia kesukaan adik saya yang tidak saya temukan di Mydin dan kami menggantinya dengan yang mirip-mirip.

Sepulang dari Mydin, kami beristirahat dulu sambil berenang dan menikmati senja yang semakin pekat di Roof Top hotel tempat kami bermalam. Kemudian kami  makan malam di Central Market dengan menu Pattaya, nasi goreng Thailand yang dibalut dengan telur dadar untuk saya dan Aisya. Setelah makan Aisya sempat muntah –hanya sedikit-, mungkin karena masuk angin dan kecapaian berganti-ganti kendaraan non-stop dari hari pertama juga jadwal yang padat. This is important! Selalu siapkan baju ganti anak di ransel yang kita bawa selama jalan-jalan dengan catatan kopernya disimpan di hotel, karena bisa jadi anak kita tiba-tiba masuk angin, muntah, berkeringat, bajunya ketumpahan makanan, dan lainnya sehingga kita harus cekatan mengganti bajunya.

Kami bergegas ke hotel dan menuruni tangga menuju ground floor Central Market where my husband found out, “Bun, ini ada cokelat yang Arum suka. Sayang tadi kita sudah beli banyak cokelat di Mydin ya”.

Let’s buy one”, ucap saya pada suami.

Masih tentang cokelat, di Bandara kami mencoba free-sample cokelat yang persis dengan cokelat kesukaan adik saya but its more yummy! Bisa ditebak dong, though its more expensive, suami saya membeli sekotak cokelat Berryl’s rasa tiramisu tersebut.

So, I think this is what I can share from our short trip in Kuala Lumpur and Malaysia. I hope reader could enjoy my writing and may this stories giving benefit to us. Travelling is just something new for me. Let’s have more vacation Aisya and ayah! Peace out.

Thank your for reading.

Advertisements

6 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s