Aisya Diserbu Kelinci

‘Diserbu’, itulah kesan pertama saya saat kelinci-kelinci yang ada di Lactasari Mini Farm berlomba mendongakkan kepala untuk mendapat suapan dari Aisya.

Berbekal celemek dan kerangjang kecil berisi wortel, sosin dan sebotol susu dengan sigap Aisya melayani costumernya : Kelinci. Ya! Yang paling berani memberikan potongan wortel dan sosin ke mulut kelinci diantara Aisya, Bunda dan tante Arum adalah Aisya.

Gadis kecilku yang pemberani ini bisa dibilang suka banget sama yang namanya hewan. No wonder Aisya betah berlama-lama di kandang. Setiap pulang ke Arjasari, Aisya juga sering menarik-narik telunjuk saya, “Bunda, ayo ke kandang sapi”, ajaknya setiap pagi dan sore. Eits! jangan salah, di area kandang sapi juga banyak hewan lainnya seperti kambing, bebek, soang, ayam, burung, dan ikan. Bagi Aisya ini adalah ‘wahana’ yang attractive dan tak bosan menjelajahi kandang demi kandang di desa Pak Aki.

“Dimakan”, ucap Aisya saat kelinci-kelinci di roof top Paris Pan Java Mall itu mengunyah apa yang Aisya beri.

“Hihi, dimakan sama kelicinya”, lagi ujar Aisya tertawa tertawa geli.

The rabbits was so up and close with Aisya so she could touch their mouth when the feed them. Karena kelincinya banyak dan mereka makan dengan lahap, Aisya juga jadi semangat untuk menyuapi. Aisya juga memotong sosinnya jadi dua atau tiga bagian.

“Aisya, kenapa sosin-nya dipotongin?”, tanya saya.

“Iya, kalau enggak nanti rebutan”, jawab Aisya.

“Oh, supaya semua kelinci kebagian ya”, saya tersenyum, cerdas juga anak ini.

“Kelinciiiii, jangan rebutaaaan”, teriak Aisya sesekali saat kelinci-kelinci mengerubuti sosin di tangan Aisya.

Oh Gosh, what a priceless moments.

Bunda bahagia sekali melihat ekspresi Aisya yang antusias, semangat, dan telaten saat memberi makan kelinci-kelinci. It’s so obvious that it’s a right choice to take her here. Sebenarnya plan membawa Aisya kesini udah ada sejak beberapa waktu lalu, namun ke-pending karena letaknya yang cukup jauh dari rumah kalau ditempuh by angkot. Juga pengennya ada temen playdate gitu biar rame. Alhamdulillah hari ini tante Arum bisa ikut dan kami naik gojek supaya cepat sampai.

Belum juga habis isi keranjang, Bunda sudah tidak sabar membawa Aisya melihat kambing. Aisya berlari kecil mendekati kandang kambing, siap menyodorkan botol berisi susu ke mulut kambing. Sambutan para kambing sangatlah meriah, yang satu dan lain saling susul menyusul untuk meraih botol susu yang ditawarkan Aisya. Bahkan ada kambing yang sepertinya siap melompati pagar karena leher dan kakinya terjulur keluar demi mendapatkan setetes susu.

I pulled her back.
Simply because I’m panic! khawatir Aisyanya ketarik oleh kambing-kambingnya.

Alih-alih memberikannya pada kambing, saya menuntun Aisya kembali ke kandang kelinci yang meski ukurannya besar, namun lebih imut lah dari kambing. Dan membiarkan kelinci-kelinci tersebut taste the milk. Lalu petugasnya bilang kalau kelinci tidak diperbolehkan minum susu itu. Jadi kita balik lagi ke kandang kambing.

Tante Arum lah yang selanjutnya memberanikan diri maju dikit-dikit untuk memberikan susu pada kambing yang seem very thirsty. Tante berhasil!

It’s OK. Aku berani”, ucap tante Arum. Proving that she brave enough-not like me- dan juga meyakinkan kalau aman-aman aja kok, kambingnya nggak akan menyeruduk kita.

Karena bunda masih takut melepas Aisya, akhirnya “Bismillah”, bunda mendekat ke kandang kambing. Aisya dan Bunda memegang botol susu berbarengan. Yeay, akhirnya Aisya meminumkan susu pada kambing.

Selain kelinci dan kambing, hewan yang aktif mengeluarkan bunyi adalah sapi dan domba. Hanya ada dua sapi dan dua domba disana. Kandang sapi bersebelahan dengan kandang kelinci juga marmut. Sementara kandang domba bersebrangan dengan kandang kambing. Disana juga ada Siberian husky. Tapi kita hanya boleh memberikan makanan pada kelinci dan kambing. Selebihnya dilihat dan diajak berinteraksi dari luar kandang saja.

Aisya juga tertarik dengan saung kecil yang ada di sebelah kandang domba. Ada bangku kecil untuk duduk dan berfoto dengan background ‘Lactasari’.

“Bunda, dede renovasi dulu”,

“Rumahnya direnovasi”, kata Aisya mengitari saung kecil itu.

Oh, Aisya pasti teringat adegan di film Masha and The Bear saat mereka sedang merenovasi rumah.
Atap yang begitu dekat menstimulus Aisya untuk ‘ceritanya’ merenovasi bagian atas tersebut.

Tidak berhenti disitu, Aisya lalu duduk di bangku dan memperhatikan domba yang bermain kejar-kejaran sama di kandangnya sambil berbunyi “Mbeee, mbeee”. Tak lama petugasnya datang membawa banyak daun. Lalu hening, domba-nya khusyu menyantap hidangan siang.

“Aisya senang?”, tanya saya.

“Senang”, wajah Aisya berseri

“Mau kesini lagi kapan-kapan?”, tanya saya lagi.

“Mau”, jawabnya.

“OK, nanti kita kesini lagi ya sama Ayah. Sekarang Aisya cuci tangan dulu”, pinta saya.

Kami mencuci tangan di wastafel kemudian menukarkan tiket masuk dengan sebotol susu segar rasa cokelat. Petugasnya mengatakan, susu ini juga bisa dikonsumsi bayi, “Nggak pake bahan pengawet ko”, jelasnya.

Untuk masuk kesini, kami hanya membeli 1 tiket untuk Aisya. Harga 1 tiket adalah Rp. 60.000, sudah termasuk biaya untuk 1 orang pendamping. Tante Arum ikut masuk dan dihitung sebagai pendamping juga sehingga saya hanya perlu menambahkan Rp. 10.000 saja. Worth it lah buat dapet pengalaman yang menyenangkan bersama kelinci, kambing, sapi, domba, marmut dan Siberian husky. Kadang-kadang ada kadal yang lewat juga sih..

 

Advertisements

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s