Belajar Jadi Ibu & Have Fun dengan Anak

Kalau diminta menggambarkan kondisi saat ini, saya pikir, tepatnya saya sedang belajar menjadi seorang Ibu. A better mom. The happy-cheerful-positive mother.

Predikat Ibu yang serta merta melekat pada wanita yang baru saja melahirkan tidak lantas menjadikan kita-kaum hawa langsung expert dalam segala hal yang berhubungan dengan anak. Bukan berarti instantly kita menjadi orang tua yang super keren juga. Ada banyak adaptasi yang harus dilakukan, bahkan terkadang new mom harus bergelut dengan baby blues.

Tapi bagaimana pun, whether the people around us pay attention or not, seorang Ibu diharapkan menjadi sosok yang serba bisa, wonder woman, multitasking and so on and so forth. Kuat! Mungkin inilah harapan banyak orang pada seorang Ibu. Kuat dari segi mental, tenaga, pikiran, spiritual.

Somehow, mother have to overcome their inner problems, dan muncul ke permukaan sebagai seorang Ibu yang penuh kasih sayang dan senyuman.

Menjadi seorang ibu bukanlah perkara mudah, that’s why lebih tepat kalau saya sebut, proses yang saya jalani saat ini adalah belajar menjadi seorang Ibu. Kata belajar meringankan guilty feeling yang terkadang muncul saat kita melakukan sesuatu yang menurut kita tidak seharusnya dilakukan pada anak, baik dari segi psikologis, pemenuhan gizi, saat anak sakit, jatuh, keseleo dan lain-lain. Some parent take it so hard and blame themselves for unable being nice all the time to their kids. However, Ibu juga manusia biasa yang bisa merasa bahagia, sedih, butuh me time.

The word belajar memberikan ruang yang cukup banyak bagi para ibu untuk memandang diri mereka sendiri sebagai manusia biasa yang sedang melakukan research terhadap diri mereka sendiri-anak-suami-lingkungan sekitar mereka, studying and applying what their learn, termasuk memaklumi dan belajar memaafkan saat kita sebagai Ibu melakukan beberapa kesalahan dalam proses pengasuhan anak.

Nah, dalam proses pengasuhan anak, kita juga harus aktif bermain/menghabiskan waktu bersama anak, as it’s written by Bruce Perry,

children-dont-need-more-things-bruce-perry-life-quotes-sayings-pictures

 

Terlebih lagi, dalam hadist dikatakan,

“Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla” [HR Abu Daud dan At Tirmidzi].

Dalam Islam, bermain, menemani anak beraktifitas, dan melakukan banyak hal untuk menyenangkan hati anak kita, seperti bergurau dan bercanda dengan anak kita merupakan suatu bentuk ibadah yang memiliki pahala yang tinggi di sisi Allah. Subhanallah walhamdulillah.

Bermain dengan anak ini juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Jabir berkata,

Aku mengunjungi Rasulullah Saw yang waktu itu sedang berjalan merangkak ditunggangi oleh Hasan dan Husain Ra. Beliau mengatakan, ‘Sebaik-baik unta adalah unta kalian, dan sebaik-baik penunggang adalah kalian berdua.” [HR. Thabarani]

Hasan dan Husain Ra adalah cucu Rasulullah. Hadits di atas memperlihatkan akhlak Rasulullah sebagai seorang kepala Negara dan Rasul yang bersifat lembut dan suka bermain dengan anak.

So, parent, get down on the floor and let’s spend time with our kids!

Waktu favorit saya pribadi bersama Aisya antara lain saat :
1. Bermain bersama Aisya
2. Menyuapi Aisya

Jujur, saya mendapat banyak energi positif dan kebahagiaan saat saya bermain, menghabiskan waktu dengan Aisya, pay fully attention to her-ga nyambi masak/nyapu/ngepel/pegang gadget, creating a toddler project that require team work between me and Aisya. Well, do many constructive things and also playful that grows her smile, excitement and enthusiasm makes me feel really good.

Tidak dipungkiri ada waktu-waktu saya membiarkannya menonton acara kartun atau bermain mandiri saat saya harus menyelesaikan ‘tugas domestik’. Balik lagi ini mah perkara manajemen waktu dan akhir-akhir ini mulai terbesit keinginan untuk membuat jadwal.

Jadwal dimana saya harus ‘bekerja’, -pekerjaan di rumah tidak bisa diabaikan toh? A comfort house is the clean one-, time when I need my daughter to understand and be cooperative with me when there are things to be done at home.

Kemudian waktu saat saya full fokus dan konsentrasi pada pemenuhan kebutuhan Aisya, seperti bermain, mengajarinya sesuatu, melakukan proyek-proyek sederhana antara ibu-anak. Kadang dalam proses memasak yang easy, saya melibatkan Aisya, atau membuatkan dummy-nya. Aisya terbiasa membantu saya membuat pancake, Aisya biasanya mengaduk adonan, memasukan terigu sesendok demi sesendok ke dalam mangkuk, menuangkan susu cair dan terakhir, beberapa hari yang lalu, Aisya meminta izin pada saya untuk memecahkan telur sendiri sebelum dicampurkan ke dalam adonan. Off course, saya memperbolehkannya. Bahkan Aisya kini tertarik menyalakan kompor dan memegang teflon pancake-nya. Ini dalam pengawasan penuh ya.

Di lain waktu, saya akan memberinya pisau plastik dan memintanya untuk mengiris tempe/pisang/papaya sebagai life learning activity. Segala hal yang berhubungan dengan life learning activity sebenarnya sangat menarik untuk dilakukan, karena selain fun, enjoyable, anak kita mempelajari sesuatu yang bisa menjadi bekal saat ia harus benar-benar melakukannya in real life, -bukan simulasi. Life learning activities yang pernah saya lakukan dengan Aisya adalah mengajaknya menyiram tanaman bersama, melibatkan Aisya dalam membuat kudapan, memotong buah dengan pisau plastik untuk disantap oleh kami, menyendokkan es krim untuk dijadikan toping pada irisan buah.

Pada dasarnya Aisya tertarik dengan beberapa hal yang saya lakukan. Saat saya menyapu, Aisya akan bilang, ”Dede mau nyapu”. Saat saya mengepel lantai, Aisya akan meminta saya untuk bergantian mengepel lantai. Pun saat saya sedang merendam pakaiannya, ia ingin turut mengucek-ucek pakaiannya sendiri dan dengan happy, mengatakan “Nda, dede cuci baju sendiri”.

Saya tidak pernah meminta Aisya menjemur pakaiannya, namun ketika saya melakukannya, Aisya juga memilah-milah pakaiannya dan menjemurnya di bagian paling bawah tempat jemuran kami. Pardon me for many “jemuran” words that I use here.

Permainan yang paling disukai Aisya adalah aktivitas yang memungkinkannya mengkoordinasikan semua organ tubuhnya, seperti jalan-jalan, bersepeda, main di taman-amusement playground-giant playground, Aisya suka sekali memanjat, bahkan di perosotan pun Aisya suka memanjat ke atas. Same thing happened at home. Di rumah Mbah yang terletak di Bandung, kami suka menggelar kasur lipat dengan salah satu sisinya berada di atas sofa, sedemikian sehingga bentuknya mirip perosotan dan Aisya akan memanjat ke sofa-tumpukan bantal di atas sofa-meluncur/meloncat di slide buatan tersebut.

Ada satu lagi permainan yang digemari Aisya, ini lucu, simple but very interesting for her. Aisya suka main seprei. Saat Akung-nya memasang sprei untuk kasur lipat. Serta merta Aisya akan berlari sambil bilang “Tunggu! Tunggu!”.

Aisya masuk ke bawah sprei dan.. mereka tertawa bersama, permainan ini dilakukan berkali-kali sampai Aisya lelah tertawa. Yap! Kadang tidak butuh tempat/barang mahal untuk membuat anak kita bahagia. That’s why saya mulai suka membuat karya dengan Aisya dari reuse-able stuff, seperti Koran, kalender yang sudah tidak terpakai, kardus-kardus belanja yang menumpuk di gudang, kotak susu/makanan untuk pot tanaman, dan lain-lain.

Kami juga memperkenalkan Aisya pada buku-buku, dari mulai serial edukatif lungsuran tante Arum dan Om Doko yang disimpan apik oleh Uti, buku mewarna, dan buku baru  dengan ikut arisan buku yang lagi hits saat ini.

Terakhir, pengennya punya jadwal rutin untuk me-time, baik melakukan hobi atapun private time with Allah. Get re-charged.

Menjadi orang tua, bagi saya pribadi, layaknya berusaha mengalahkan ego diri sendiri. Mungkin ada kebiasaan kita yang kurang cocok jika terus dipelihara selama kita menjadi orang tua. If we want our children to be a better version of us, then we first have to do the change. Bisa dibilang, ‘menyamakan suhu’. Betul, kita bisa memfasilitasi anak kita, lebih bagus lagi kita bisa menjalankan visi-misi bersama.

Contoh : kita ingin anak kita hafidz Qur’an, kita dapat memperdengarkannya tilawah Al-Qur’an setiap hari di waktu-waktu tertentu. Kita juga ikut mencontohkan, turut mengaji di hadapannya dan mengulang ayat-ayat Qur’an secara langsung. Ustadz Yusuf Masyur mengatakan, ulanglah bacaan Al-Fatihah sebanyak 5 kali menjelang anak kita tidur. Insya Allah Surat Al-Fatihah tersebut akan memasuki alam bawah sadarnya dan anak kita akan lebih mudah menghafalnya. Ajarkan satu surat/doa dulu, sampai ia benar-benar paham dan hafal, barusan diajari surat/doa-doa lainnya.

Hal lainnya, jika ingin anak kita fasih berbahasa asing, selain mengikutkannya kepada bimbel/les bahasa, sebagai orang tua, kita juga dapat dengan aktif mengajaknya berkomuniasi dalam bahasa yang sedang anak kita pelajari. Tidak perlu exactly at the same level with them, setidaknya ‘nyambung’ saat diajak bicara. Tiap orang tua pasti menginginkan anaknya, lebih baik dari dirinya.

Kalau soal kesabaran, itu menjadi PR seumur hidup yang tingkatannya terus menanjak. Apalagi kalau anak manis, lucu, pintar, soleh/solehah kita mendadak masuk ke fase trouble two. Jika tidak pandai mengelola emosi, bisa-bisa orang tua ikutan tantrum.

Memang mungkin orang tua ikut tantrum saat anak tantrum?
Mungkin banget!

Inilah pentingnya ilmu sebelum amal. Saat ini informasi mengenai psikologi anak dan parenting sudah banyak. Bekali diri kita, sempatkan membaca/mendengar/ikut seminar dan diskusi agar tidak salah langkah dalam menangani sikap-sikap anak. Ingat efek domino, children reflect what they saw. They tend to copying us, the parent and people around them. Anak merekam tindakan kita.

Saya sendiri ikut grup-wassap yang memfasilitasi bahasan tentang anak dan parenting. That’s help. Selain mendapatkan ilmu, kita juga tahu bahwa we are not alone, banyak Ibu-ibu lain yang memiliki pengalaman yang kurang lebih sama dengan kita. Saling menyemangati, tukar informasi seputar tempat-tempat yang asik-hemat-nyaman untuk hang out anak-anak. Plus, bisa playdate kalau kebetulan domisilinya dekat.

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan [harta mereka] baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan [kesalahan] orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” [QS Ali ‘Imran:134].

At a stressful time, parent throw an anger to their children.

Marah itu manusiawi, kita adalah individu yang dipengaruhi oleh banyak faktor/situasi. Akan lebih baik jika kita dapat mengontrol amarah (note to myself). Ada yang menyarankan agar kita take time, menjauh dari anak sebentar, berada di ruangan yang berbeda, setelah tenang kita kembali menemui anak kita. Usahakan anak tidak menghirup aura kontra-positif dari ibunya.

“Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebut dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki,” [HR. Tirmidzi 2021, Abu Dawud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad 3/440].

Hadist di atas seolah membenarkan bahwa setiap orang punya waktu-waktu dimana emosinya akan meledak, namun bagi mereka yang mampu menahan diri though they can show it off, Allah akan memberi ganjaran yang luar biasa. Jihad melawan hawa nafsu.

Salah seorang Ustadz juga pernah menyinggung perihal bakti anak. Bakti anak pada kita kelak, juga ditentukan oleh bagaimana kita bersikap pada anak kita sejak usia dini. Mengenai bakti anak ini, dalam suatu majelis Rasulullah mengingatkan para sahabat-sahabatnya,

“Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah ‘Azza wa Jalla memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.”

Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?”

Nabi Menjawab, “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” [HR Abu Daud]

Sabda Rasulullah di atas poinnya cukup jelas :
1. Saat anak kita sedang tumbuh berkembang dan belajar melakukan sesuatu, hargailah usahanya walaupun kecil.
2. If they make mistake, accept it. Tell them it’s not something good. Let’s not do it again. Give warm hug, forgive them, forgive each other and tell them that as a parent, we believe that they will not make the same mistake. They could be a better person.
3.
Tidak terlalu banyak/tinggi menuntutnya dan selalu do’akan yang terbaik untuk anak kita.
4. Do not cross the line. Jangan memaki dengan makian yang membuat hatinya terluka. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada anak yang sering dimaki oleh orang tua-nya sendiri?

Sangatlah penting bagi orang tua untuk dapat mengenali sifat anaknya dengan baik, salah satu caranya adalah dengan sering berinteraksi secara langsung dengan sang anak. We know them, they know us, both side can communicate well, so hopefully the good environment rise from here.

Ramadan adalah bulan yang tepat untuk melatih poin kesabaran. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi, lebih sabar, pengertian dan bijak. Amin.

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan jiwanya ketika marah,” [HR. Bukhari 6114, Muslim 2609].

 

 


 

 

 

 

Advertisements

4 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s