Cici, Itikaf Bareng Duo Bocil Butuh ‘Strong Why’.

Barangsiapa yang shalat pada malam Lailatul Qadr karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni”,
[HR. Bukhari Muslim]

10 hari terakhir di bulan Ramadan adalah momen yang sangat spesial. Hampir seluruh umat muslim di dunia ‘mengencangkan ikat pinggang’, berburu-mencari-menanti dengan harap akan Malam Lailatul Qadr.

Itikaf menjadi magnet tersendiri, siapa sih yang tidak ingin berlama-lama di Masjid, tilawah, mendengar kajian, sholat dan melakukan ibadah lainnya, making an intimacy with Allah?

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” [QS. Al-Qadr : 1-5].

Bagaimana dengan mom with babies, apakah visible untuk Itikaf sehari-semalam penuh? Bagaimana mengantisipasi anak-anak kita yang mungkin berlarian, menyemarakkan Masjid dengan suara-suara mereka atau bahkan kebosanan? Apa saja yang perlu kita siapkan jika membawa balita Itikaf?

Frikza Etsia Pramadina, sahabat saya akan berbagi pengalamannya Itikaf bersama duo bocil, Ahmad (3,5 tahun) dan Ibrahim (1,5 tahun).

 

Bagi Cici, Ramadan adalah..

Salah satu sayang Allah untuk kita. Allah datangkan bulan mulia di antara bulan-bulan lainnya. Bulan yang penuh keutamaan dan keistimewaan. Di saat surga itu begitu mahal, Allah datangkan bulan ramadhan, bulan obral pahala.

Apakah Ahmad sudah belajar shaum?

Ahmad sedikit banyak tahu tentang shaum, yaitu menahan diri. Kalau ingin makan, tahan sampai adzan maghrib dst. Belum minta Ahmad shaum sih. Hanya tanya aja, Ahmad mau shaum? Kadang jawab iya kadang nggak. Kalau jawab nggak, kami bilang,

“iya Ahmad masih kecil jadi belum wajib shaum”, gitu. Semoga nggak keliru ya.

Boleh di share pengalaman itikaf bareng Ahmad dan Ibrahim sampai tahun ini?

Pengalaman i’tikaf bareng duo bocil, dulu pas Ahmad setaun dan Ibrahim di kandungan, udah di bawa. Tahun depan-nya Ahmad 2 tahun-an dan ibrahim masih bayi.

Sekarang Ahmad 3,5 tahun dan Ibrahim 1,5 tahun. Jadi pertama kali itu pas Ibrahim masih bayi ya agak berat karena Ahmad masih ‘ibu oriented‘ dan Ibrahim masih bergantung banget sama Cici. Heboh, ngantuk, ngerasa gampang abis batre 😀

Tapi ya dijalani aja karena dari awal kan memang maunya i’tikaf dan ajak anak i’tikaf.

Do they enjoy stay in Masjid all day long?

Semoga ya…Karena kami usahain banget anak nggak tertekan dan malah punya kesan negatif dengan masjid dan berdiam di masjid.

Kalau malam mah pada tidur, paling bayi sesekali bangun. Siang berpetualang! abi dan ibunya cari cara gimana amalan harian tercapai tapi hak pengasuhan anak tetap terpenuhi. Sejujurnya

Cici ngerasa dengan i’tikaf justru jadi lebih padat berisi. Baik untuk yang dewasa maupun anak-anak. Secara amaliah ibadah  lebih terkondisikan. Anak-anak juga ketemu banyak media belajar baru.

Persiapan dan bekal apa saja yang harus dilakukan/dibawa saat mengajak Balita kita Itikaf di Masjid?

Pertama, niat dan tujuan i’tikaf.

Strong why itu paling penting kalau menurut Cici, karena tiap tahun akan ketemu kondisi yang berbeda. Selama strong why-nya dapet, insyaAllah Allah antarkan pada how-nya.

Hehe, abstrak ya? kalau yang teknis :

  1. Make sure masjid yang mau dituju ramah anak, mudah akses untuk sahur dan berbuka dan programnya bagus.
  2. List barang-barang yang harus dibawa, khusus untuk anak-anak, kami bawa mainan dan buku yang sudah mereka pilih untuk dibawa i’tikaf juga makanan ringan, roti dan makanan berat lainnya jikalau kami sulit menemukan makan siang untuk mereka.

Kalau Masjid yang Cici pilih untuk Itikaf?

Ini udah tahun ke-5 dan sempet ganti-ganti masjid.

Paling suka, berkesan, alhamdulillah yang saat ini. Mungkin karena anak-anak juga udah lebih besar ya. Tapi secara 3 point itu alhamdulillah pas banget.

Ramah banget sama anak, bahkan diakomodir dan tiap peserta saling dukung untuk pengasuhan anak. Disediakan mainan, bahkan untuk makan siang anak bisa ambil dari makan sahur.

Di sini juga peserta ada target amalan yaumiyan jadi lebih semangat aja gitu itikafnya ^^

Kegiatan apa saja yang Ahmad dan Ibrahim lakukan saat Cici sedang beribadah?

Ahmad mah udah besar ya, jadi seringnya main ^^ nggak banyak ke Cici. Paling sesekali, minta dibacain buku atau hal-hal semacam minta perhatian lainnya. Ibrahim yang masih nempel.

Jadi kalau dijadwal biasanya :

  • 00.00 – 07.00 : bangun-amaliah pribadi.
    Ibrahim kadang bangun saat itu, tapi nempel aja, nggak minta main atau jalan-jalan.
  • 07.00-11.00 : ikhlaskan untuk anak-anak waktunya.
    Nemenin anak saat minta main, jalan-jalan, bacain buku, dsb. Kalau bisa sambil murajaah atau setoran.
  • 11.00-13.00 : biasanya Ibrahim tidur, jadi bisa balasin chat hehe. Masih ada yang diurusin juga soalnya.
  • 13.00-18.00 : setengah-setengah antara target amalan pribadi  dan anak.
  • 18.00-21.00 : fokus lagi untuk anak aja, kecuali sesekali bisa nyambi.
  • 21.00-00.00 : amaliah pribadi, kadang tidur juga 😀

Apakah Cici dan suami bergantian menjaga anak/berbagi tugas selama Itikaf?

Kalo kami secara khusus nggak ada pembagian jam. Di saat cici ngerasa mulai ngga mampu lagi (he he, bahasanya..), minta tolong ke suami untuk handle.

What do u wish on Idul Fitri?

Pengabulan (ada istilah ini ga ya? :D) .
Harapan agar Allah menerima, mengabulkan, setiap permohonan ampunan, menerima sujud, ruku’, sholat kita, shaum kita..

Bagaimana jika ibu dengan balita tidak memungkinkan untuk berangkat Itikaf ke Masjid?

Pertama, wanita itu dikasih keistimewaan sama Allah.
Disebutkan dalam hadist, jika seorang wanita sholat lima waktu (nggak disebut sholat sunahnya), shaum di bulan Ramadan (nggak disebut shaum sunnahnya), dan menjaga dirinya, maka ia bisa masuk surga dari pintu manapun. Sementara, hanya Abu Bakar di kalangan sahabatlah manusia selain wanita yang dijanjikan Rasulullah bisa masuk surga dari pintu mana pun.

Kebayang kan amalan Abu Bakar segimana? yang katanya kalau ditimbang dengan gunung Uhud tetap akan lebih berat timbangan kebaikan Abu Bakar. Atau jika seluruh kebaikan manusia di muka bumi ini digabung, tetap kebaikan Abu Bakar lebih berat.

Tapi wanita, dengan 3 hal di atas bisa mendapat jaminan yang sama dengan Abu Bakar.

Jadi untuk kami, perkara ajak anak itikaf itu bukan sekedar karena ingin Qiyamul Lail enak akhirnya memaksakan diri ajak anak itikaf. Kenikmatan ibadah kan bukan sekedar dari yang tampak itu. Tapi lebih ke nilai dan budaya keluarga yang ingin kami bangun.

Ramadan yang semarak dengan Qur’an, mengkondisikan anak pada lingkungan positif, dan menjadikan itikaf sebagai sebuah kebiasaan.

Nah  itu dia pengalaman itikaf bersama bocil dari Cici, nuhun ya atas sharing-nya, semogan tulisan ini bermanfaat bagi para ibu yang ingin membawa serta anaknya itikaf ke masjid.

Jadi lebih semangat buat Itikaf nih! Jazaakumullah Khairan Katsira.

Selamat Itikaf Cici, Gamma, Ahmad dan Ibrahim.

 

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Inda chakim says:

    Selamat dan semangat beri’tikaf yak. Bismillah. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s