Mami Aisya Belajar Positive Parenting dari Mami-nya Rudy Habibie

“Maaamiii”, panggil Aisya.

“Maaamiii’, panggilnya lagi.

“Iya sayang”, saya senyum.

Mendengar Aisya memanggil saya ‘Mami’, jadi ingat film Rudy Habibie yang kami tonton pada hari Sabtu lalu. Rudy, -sapaan akrab Pak BJ Habibie kala kecil- juga memanggil ibunya ‘Mami’. Wah sama ya dengan Aisya hehe..

Aisya berlari kecil di pinggir jalan, menggengam 4 bungkus permen di tangannya, dua untuknya dan dua lagi untuk tantenya. Aisya sudah mandi dan rapi sekali pagi-pagi, ayahnya memandikan Aisya saat saya memasak. Beres memasak, saya juga ikut bersih-bersih, ngga mau kalah dengan Aisya.

“Mana Aisya, Yah?”, tanya saya pada suami, ketika keluar toilet.

“Pergi sama Tante dan Om”, jawab suami santai.

Whaaatttt? Bohong ya? Masa ikut olahraga? Kemana? Ke Sabuga? Kalau kenapa-napa di jalan gimana? ko ngga bilang siiih? Kan bisa ketok pintu kamar mandi, kasih tau kalau mau ikut”, dengan panik saya bombardir suami dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Ke Monumen di Unpad. Ih, Bunda khawatir banget. Ngga akan apa-apa ko”, komentar suami.

“Tadi Aisya-nya yang pengen ikut, orang ke ayah juga bilang gini,

 ‘Ayah jangan kesini (motor), dede mau berangkat sama Tante dan Om’”, tambahnya.

“Yak an, seenggak-nya bisa ketok-ketok pintu toilet dan minta izin sama Bunda sebelum berangkat”, timpal saya.

“Takut ngga Bunda izinin kalau dikasih tahu dulu”, suami ketawa jahil.

‘Hhhh.. Ya Insya Allah Aisya bakal baik-baik saja’, batin saya.

 Saya menunggu dan mengestimasi waktu yang tepat untuk menelepon adik-adik saya, estimasi waktu dimana mereka sudah beres olahraga dan makan bubur di dekat Telkom Japati, tempat kami biasa makan kalau sudah jalan santai disana.

“Mas, lagi makan bubur?”, telfon saya.

“Iya mba”, jawabnya sambil mengunyah.

“Aisya ngga kenapa-napa?”, tanya saya.

“Engga mba”, jawab adik.

“Aisya makan bubur juga ngga?”, tanya saya lagi.

“Iya mba”, jawabnya lagi.

Saya tutup teleponnya, lega karena Aisya juga diajak sarapan bubur sama Mas Doko dan Tante Arum. Sekalian juga titip Mas belikan kulit pangsit di supermarket untuk bikin pisang-cokelat goreng ala Eceu Uun di Arjasari. Kalau Piscok atau pisang aroma biasanya pakai kulit lumpia, di Stand Ceu Uun yang ada di SD Al-Huda Arjasari, piscok-nya dibalut kulit pangsit, jadinya lebih kriuk dan bergelembung. Suka aja. Pengen bereksperimen. Kebetulan di rumah Akung ada pisang ambon dan Nutella.

Di warung ada sih pisang nangka, di rumah juga ada pisang tanduk, both udah kematengan banget. Meski Bapak dan suami saya suka overcooked banana, sayaprefer pisang ambon aja, yang masih segar dan manis-nya pas. Iya di lidah saya hehe.. But hey, I bet they’ll like it!

“Bun, bingung nih ayah di rumah, ngga ada Aisya sepi”, keluh suami tiba-tiba.

Hm, benar juga ya, biasanya kalau ada Aisya rumah jadi rame banget dan ada aja yang Bunda lakukan sama Aisya. Hihi sekarang Aisya sudah besar, udah ngga nempel-nempel terus sama Bunda. Dari yang selalu Bunda gendong sampe Bunda tuturin kalau Aisya jalan-jalan, main sama teman, berkunjung ke rumah orang lain, karena khawatir Aisya jatuh, kejeduk, memastikan Aisya makan, posesif deh Bunda, dan sekarang Aisya udah bisa jalan-jalan bebas sama Tante dan Om.

Sambil menunggu Aisya pulang, saya memutuskan untuk menuangkan apa terngiang-ngiang di kepala saya pasca menonton film Rudy Habibie. Sabtu setelah menempuh perjalanan Bandung-Purworejo PP dengan kemacetan luar biasa, saya, suami, om dan tante pergi ke bioskop. Tante Arum sebenarnya ingin menonton Sabtu Bersama Bapak, saya antara Finding Dory atau Rudy Habibie. Antrian yang panjang membuat saya duduk saja sambil menemani Aisya yang tidur lelap sedari kena angin sepoi di motor.

Ternyata pilihan akhir jatuh pada 4 tiket Rudy Habibie.

Saat menonton, banyak sekali adegan yang membuat saya menangis.

Banyak hal yang baru saya ketahui, seperti saya baru tahu kalau Pak BJ Habibie lahir kemudian dibesarkan saat penjajahan Jepang masih berlangsung. Saat itu pesawat tempur sering mengudara dan meledakkan beberapa tempat. That’s why Rudy Habibie kecil menolak saat Papi-nya memotivasi Rudy Habibie untuk membuat pesawat.

“Rudy jangan bikin pesawat tempur, Rudy bikin pesawat yang bisa mempertemukan orang dari jarak yang jauh”, begitu kira-kira kalimat yang saya ingat.

Dan Pak Habibie sudah memiliki miniature pesawat sejak kecil. Beliau menunjukkan ketertarikan pada pesawat sejak kecil and please imagine this, orang tuanya sudah menanamkan kepercayaan pada Pak Habibie kecil di jaman tersebut kalau Pak Habibie akan mampu membuat pesawat. What a great parent!

Papi pak Habibie meninggal saat beliau masih duduk di kelas 2 SD, meninggalkan sang istri beserta ke-8 anaknya. Pak Habibie sendiri merupakan anak ke-4 dari 8 bersaudara.

Fakta selanjutnya yang mengejutkan saya adalah, ternyata paspor Pak Habibie berwarna hijau saat berkuliah di Jerman. It’s mean, beliau bersekolah dengan biaya sendiri, bukan ikatan dinas/dibiayai Negara. Kebayang ya how expensive the tuition fee that time, even up until now kalau kita bayar sendiri..

Hal ini membuat saya kepo berbuah kagum dengan sosok Mami Pak Habibie. Nama lengkap beliau adalah Raden Ajeng Tuti Marini Puspowardojo. Wanita asal Yogyakarta yang menikah dengan Alwi Abdul Jalil Habibie ini terus berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti kemana suami membawanya. Singkat cerita (sebenarnya panjang), setelah Pak Alwi wafat.. pada akhirnya Mami Pak Habibie pindah ke Bandung beserta ke-8 anaknya, setelah sebelumnya Pak Habibie sendiri telah merantau terlebih dahulu untuk bersekolah di SMP 5 Bandung. Mami Pak Habibie mengembangkan beberapa usaha di Bandung, dari mulai bisnis kos-kosan hingga ekspor-impor. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Mami Pak Habibie ini tidak jarang menyetir cukup jauh, seperti Bandung-Jakarta sendirian untuk me-running bisnisnya dan menyekolahkan anak-anaknya. Termasuk menyekolahkan Pak Habibie hingga ke luar negeri.What kind of business that could pay a tuition fee? It must be big!

Mami Pak Habibie adalah wanita yang tegar, tidak mudah menyerah dan punya visi yang kuat sehingga beliau semangat sekali membangun bisnis yang sukses mengantarkan ke-8 anaknya menuju masa depan yang terbaik. What an inspiration, a mother with a vision!

Kalau dilihat dari filmnya, Mami Pak Habibie juga tipe orang tua yang menghargai proses. Di situasi Indonesia yang baru merdeka, sempat mengalami krisis moneter, beliau tidak menuntut anak-anaknya segera lulus-bekerja dan membantunya. Atau bagian ini tidak diceritakan seluruhnya karena fokus filmnya adalah tentang Pak Habibie. At least dari sepenggal kisah Pak Habibie, kita bisa melihat kalau Mami Pak Habibie sangat sabar mendukung studi Pak Habibie.

I don’t know if she ever imagine that her son will become one of influential person in the world.

That’s a kind of amazing parenting story.

Papi Mami Pak Habibie put their believe in Habibie that he could create a plane since Pak Habibie was a little kid.

Ini yang patut saya contoh sebagai seorang Ibu, yaitu menanamkan kepercayaan pada anak, bahwa she can do her dreams. Mengatakan betapa istimewanya dia dan kesediaan saya mensupportnya. Kepercayaan yang kita tanamkan pada anak di golden age tersebut akan menumbuhkan kepercayaan dirinya dan iya akan merasa bahwa dirinya berharga, baik, bisa dan istimewa. Hal ini memotivasi anak untuk percaya diri dalam menangani berbagai tantangan yang menerpanya kelak.

Raising Aisya like raising hope. 
Maybe I should’ve name her ‘Hope’.

Beberapa kali, in desperate time, diperlihatkan sisiinsecure Pak Habibie yang sangat manusiawi, sebagai penyeimbang bahwa orang sesukses beliau bukan tanpa masa-masa sulit. Beliau menangis saat merasa gagal, saat homesick. Menelepon Mami-nya untuk secara implisit mencari tahu apakah uang bulanan sudah terkirim? That time Pak Habibie belum makan dan sedang lapar sekali.

Hampir setiap menghadapi masalah, Pak Habibie menangis dan berdoa dalam shalatnya..

Yes, that’s the right thing to do when we are at a low point..
we are so.. fragile..

Kenapa tidak? Kalau orang sekeren Pak Habibie saja menangis, berdoa, meminta dalam shalat-nya. Bersimpuh dan menengadahkan tangan pada-Nya,why can’t we also do that?

Kadang ada keruwetan dunia yang tidak cukup logis untuk dipecahkan dengan problem solving.

We need Allah. 
Tidak ada yang mustahil bila Allah sudah berkehendak.

I have always believe, di balik orang sukses, pasti ada orang tua yang menanamkan kepercayaan pada anak-anaknya, ada team/sahabat yang solid. Ada istri/suami yang menopang kepercayaan yang telah diberikan orang tua.

Bagi saya, sosok Mami Pak Habibie adalah salah satu sosok yang menerapkan positive parenting.


And so does his Papi, who said


Lihat mata air itu,
kamu harus jadi seperti mata air itu, Rudy. 
Lihatlah jika mata airnya jernih, pasti sekelilingnya akan jernih. 
Namun jika mata airnya keruh, di sekelilingnya pun akan jadi jelek.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s