My First Flight – Travel Back to 2005

Bli : mba, dari Bandung ya?

Saya : iya

Bli : cewe Bandung cantik-cantik ya

Saya : oia?

Bli : mba namanya siapa?

Saya : Sundari

Bli : oh, pantes kaya bidadari

My First Flight – travel back to 2005

Awal tahun menjadi momen yang baik untuk memulai sesuatu yang baru. Its always good to have a flashback to see how far we’ve come. Disini saya ingin mengulas tentang kenangan masa SMA, where I fly for the very first time. 

Teringat perjalanan saya ke Medan tahun 2011 untuk mengajar matematika. Di mobil yang membawa saya bersama pengajar lain dari Medan ke Tanjung Balai, seorang pengajar Fisika bertanya pada saya, “Sudah berapa kali ke Medan?”

Saya jawab, “Ini pertama kalinya”.

Beliau lalu menggenapkan, “Oh ya, selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu”.

Namun bukan, perjalanan saya ke Medan yang sangat berkesan ini bukanlah my first flight. Penerbangan saya pertama kali adalah ke Bali, kelas 3 SMA dengan tiga orang teman lainnya. Nah dialog di atas adalah secuplik percakapan saya dengan salah satu orang asli Bali, for the first time in forever its open up my eye, “Oh menurut orang Bali, gadis-gadis di Bandung teh gareulis geuning”. 

Kami berempat (saya dan 3 teman saya) adalah teman sekelas dengan tempat duduk berdekatan. Sebangku-sebangku lah. Tiket pesawat, fasilitas hotel, jemputan, tour guide selama di Bali kami dapatkan setelah memenangkan kuis yang digelar oleh Radio Ardan Bandung 🙂 

(BIG THANKS to my highschool chairmate Sarach Diba! Because of you, this is happened).

Awalnya saya ngga akan ikut karena saya tipikal anak rumahan yang merasa lebih nyaman liburan dengan tidur di kamar hahaaa. Ibu saya lalu menyadarkan saya kalau kesempatan ini berharga. Melalui Bapak, Ibu berkata “Ini kesempatan kamu melihat dunia”.

Akhirnya saya pergi juga. 

Pertama kali naik pesawat rasanya? 

Campur aduk, excited-nya ada, cemasnya ada 🙂 lebih senang lagi saat tiba di hotel. Untuk anak SMA yang baru pertama kali nginep di Hotel Harris – yang ke Kuta tinggal jalan kaki – plus kasur empuk all in white (saya suka warna putih juga hitam), breakfast dengan banyak pilihan menu yang enak-enak lagi, daaan yang paling bikin happy adalah ada TV kabel di dalam kamar. Secara saya lagi tertarik-tertariknya sama western culture udah betah bangetlah saya nontonin film dan MTV yang menayangkan video klip Britney Spears saat itu hihihi. This is superb!

I still remember, i woke up at 4 am to pray. Saya sholat tahajud, suasananya hening dan tenang. Langit masih gelap, teman sekamar saya masih tidur. Lalu setelah menunaikan sholat subuh, sekitar jam 5 lebih, kami berjalan ke pantai. Pagi masih remang, kami tidak ingin melewatkan pertama kalinya kulit kaki menyentuh damainya ombak. Kami duduk di pinggir pantai menyambut mentari. Ketika hari kian terang, kami kembali ke Hotel untuk sarapan.

What did I pick for my first breakfast at Hotel? 

Guess what its yoghurt. Antara ingin try healthy breakfast ala ala dan karena saya suka yoghurt juga karena I want to start my breakfast with something light. Bisa ditebak dong, setelah yoghurt-nya habis, selanjutnya saya papay cereals, nasi, roti, spagheti dan hidangan lain yang ada di buffet. Sempet diliatin sama pramusaji disana, malu-malu tapi kalap. Oh ya ada satu kudapan yang enak banget, bentuknya seperti waffle dengan paduan rasa madu + telur which i never taste something like that again.

First time ke Bali kemana aja? 
Pernah nonton film-film dengan settingan Bandara kan? Nah! Begitu sampai di Bali ada tour guide dengan papan putih yang menyambut kami. Saya masih ingat, namanya Pak Wayan, beliau membawa kami keliling Bali menggunakan mobil. Dari beliau saya baru tau kalau orang Bali menyebut huruf ‘t’ sama seperti orang India. Its like ‘Kute’ for Kuta. Disini sulit yaa dijabarkan, tapi kalau ketemu langsung bisa saya contohkan 🙂

Kami mengujungi beberapa tempat selain pantai Kuta, seperti Tanah Lot, disini ada gua berisi ular putih and other myth. Deburan ombak antar bebatuan disini sangat indah, kami (yang cupu) bahkan berfoto di batu besar berlumut dengan legokan-legokan kecil berisi air. Ada yang pose-nya tiduran, nyender, memeluk 😀 

Selanjutnya kami ke Danau Beratan di Bedugul, disini lebih seru lagi, angin menerpa wajah dan rambut kami saat naik boat keliling danau. 

Kami juga melewati daerah Kintamani (daerah sejuk di Bali), disana ada pemakaman yang berundak-undak. 

Belanja di Pasar Seni Sukawati. Disini saya membeli oleh-oleh untuk adik saya (Arum), yaitu selimut tipis bergambar bulan dan bintang sampai sekarang selimut adem kombinasi warna biru-kuning ini masih awet. Kadang jadi rebutan antara Arum-Aisya-Akung, ini selimut favorit deh! Sayang sekali, ternyata selimut ini bukan khas Bali. Pemilik toko mengatakan, barang ini di re-stock oleh adiknya yang berjualan di Pasar Baru Bandung. Hihi lucu yaa, tapi ngga apa-apa udah kadung saya beli yang penting judulnya oleh-oleh dari Bali. Cheers!

Senja berubah pekat di sepanjang perjalanan menuju Jimbaran. Angin malam yang dingin tidak menyurutkan semangat kami untuk mencicipi seafood di pinggir pantai. Satu hal yang kami tanya sebelum memesan, “Ini halal, pak?”.

Kami sangat beruntung, tidak perlu jauh-jauh/merogoh uang saku untuk melihat pertunjukkan tari kecak. Malam itu, sekembalinya kami ke hotel, para penari dengan sarung kotak-kotak abu-hitam sedang membawakan tari kecak di dekat kolam renang. Mereka membentuk bundaran, tangan diangkat ke atas, tubuh mereka bergoyang ke kiri dan kanan. Sambil duduk, serempak penari-penari mengalunkan nada, ” Cak cak cak cak cak cak cak …”.

Bali 12 tahun yang lalu belum sepadat hari ini. Sering saya lihat ibu-ibu dengan rambut kepang panjang berjalan dengan pakaian tradisional Bali. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi beberapa toko yang digandrungi turis asing seperti Joger, Suffer Girl dan toko lainnya. Disana, saya menemani teman saya yang membeli dupa. 

“Buat apa dupa?”, saya penasaran.

“Dibakar, harumnya enak buat di ruangan”, jawabnya.

Lagi-lagi itu pertama kalinya saya tahu bahwa wangi dupa enak dan bisa dijadikan pengharum ruangan. 

Seminggu setelah kami pulang dari Bali (atau seminggu lebih ya), saya memutuskan untuk memakai kerudung ke sekolah. Jadi ceritanya saya dapat hidayah di Bali nih? Hmm, no I already have a thought about it before I went to Bali with my friends. 

Dulu belum ada instagram. Untuk foto kami menggunakan kamera kemudian dicetak. Album fotonya disimpan di atas lemari bersama tumpukan nostalgic highschool memory lainnya

Many years passing by I still want to come over and over again to Bali 🙂 

So, that’s the story of my first flight. Such a long time ago, old but golf. How’s your first flight experience? 

***

Baca juga :

1. Review Berry Glee Hotel Bali dan tips saat naik pesawat berdua saja dengan anak

https://sundariekowati.wordpress.com/2016/11/09/ke-bali-sama-aisya/

2. 4 Hari Jalan-jalan ke Kuala Lumpur dan Melaka  (include review Hotel, culinary, place that we visit)

https://sundariekowati.wordpress.com/2016/05/11/kuala-lumpur-melaka-4-hari/

3. Proses pembuatan paspor anak

https://sundariekowati.wordpress.com/2016/05/17/serunya-bikin-paspor-anak/

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Nashiha says:

    ngomongin ttg first flight itu seru ya ternyata.. aq malah baru tau lho Nde kl kamu pake jilbab abis dari Bali, kl tau kamu hbs dari Bali itu kumintain oleh2 lho.. hahahaha..
    mmm, kl my first flight ku kapan ya? oh iya, bulan Februari tahun 2014. pertama kalinya naik pesawat, ke Jogja (rumah kedua), dibayarin sama negara (karena DL) naik GA pula. rasanya nano-nano, antara takut sama exited banget. masih inget bgt gimana rasanya. tp kalo skrg mah, kl flight ritualnya udah pasti masuk kabin-taro barang di kompartemen atas-taro tas di bawah kaki-taro Tab, Hp sama buku di pangkuan (biar keliatan gaya)-merem, bangun2 udah landing. hahahaha…

    keep writing Nde 😘

    1. Heyy highschool friend! Hahaa.. Iya pengalaman pertama itu selalu berkesan ya 🙂 dulu mah blm jaman nge-blog jadi baru keinget-inget sekarang. Thank you for reading, I also visit your blogspot. Mari kita (lebih rajin lagi) memberi manfaat dengan menulis 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s