Meet Nunu, a Nuclear Physics Enthusiast – a Mother & Wife

Sabtu, 28 Mei 2016 saya bertemu sahabat saya, Nuri Trianti yang baru saja menyelesaikan studi S3-nya di Fisika ITB. She is one of my best friend since our first year in ITB. Kabar gembira ini tentu menjadi ‘pelepas dahaga’ untuk Nunu-sapaan akrabnya yang sudah berjuang selama 4 tahun untuk menyelesaikan desertasinya yang berjudul “Analisis Neutronik dan Termalhidrolik pada Perancangan Reaktor Air Didih Berukuran Kecil Berumur Panjang dengan Bahan Bakar Thorium” dan sukses menjadi Doktor Nuklir di usia muda.

“You are braver than you think”, ini adalah ‘patronus’-nya Nunu untuk tetap semangat menghadapi tantangan yang ada. Bagaimana tidak, Nunu sempat menjalani Long Distance Marriage dengan suaminya yang sedang S2 di Negeri Sakura. Sebagai sahabat, saya pun terpikir untuk menulis ‘secuplik’ tentang bagaimana Nunu menyeimbangkan waktunya dalam bersekolah, melakukan tugas domestik di rumah, dan mengasuh putrinya.

Pertemuan kami di Nanny’s Pavillon terasa cukup singkat, Aisya dan Syifa cukup mobile, saya sendiri menyuapi Aisya sambil mengajaknya bermain di Playroom dan taman kecil disana. That’s why, saya memilih untuk ngobrol lebih banyak melalui e-mail.

7 bulan berselang dari pertemuan kami, kini Nunu, Syifa dan Abi-nya Syifa sudah tinggal bersama di Jepang.

Nunuuu, sekali lagi Congratulation that u finally nailed it! Keren banget siiih jadi Doktor Nuklir di usia muda. 

Makasih aiii…, Alhamdulillaah. Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam..

Denger-denger Nunu udah nge-publish 6 jurnal internasional dan ikut di 11 konferensi internasional ya? Kalau boleh tahu publikasinya tentang apa saja dan konferensinya dimana saja.

Publikasi-publikasi  tentunya berkaitan dengan penelitian selama studi S3 yang dijalani, yaitu mendesain reaktor nuklir (PLTN – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) yang berukuran kecil (30 MWt) dan berumur panjang (tanpa refueling lebih dari 30 tahun). Reaktor nuklir yang didesain berjenis boiling water reactor (BWR) berbahan bakar thorium. Dalam mendesain ini, digunakan metode komputasi, melakukan analisis secara neutronik dan termalhidrolik menggunakan bahasa pemograman berbasis FORTRAN. Dari hasil komputasi dan analisis diperoleh desain reaktor yang optimal serta memenuhi aspek-aspek keselamatan (safety).

Desain reaktor ini memiliki keunggulan yaitu ukurannya relatif kecil dan umurnya panjang (masa operasi), karena menggunakan campuran bahan bakar antara Uranium, Thorium dan material racun (burnable poisons) berupa Protactinium. Penggunaan BP dalam campuran bahan bakar menurut beberapa penelitian efektif untuk meningkatkan faktor safety reaktor, sehingga dalam penelitian ini, dilakukan pula perbandingan komposisi dan variasi jenis material BP dalam desain bahan bakar reaktor.

Selama studi S3, beberapa conference diikuti di Bali, Singapura, Thailand dan Jepang.

Konferensi ke Jepang setahun lalu pasti berkesan banget ya, karena Syifa juga ikut. Keseruan apa aja nih yang Nunu dan Syifa alami selama di perjalanan?

Pada awalnya sempat merasa berat. Karena yang di Jepang ini bukan sekadar konferensi yang biasanya hanya 2-3 hari. Kegiatan ini juga meliputi workshop dan field trip ke fasilitas PLTN di Jepang (Aomori, Fukushima, Onagawa), jadi total kegiatan selama 14 hari. Workshop dan field trip di 2016 ini merupakan yang kedua kalinya yang diikuti. Workshop di tahun 2015 dulu terpaksa meninggalkan Syifa di Indonesia. Tapi untuk 2016 ini, bertepatan suami juga sudah stay di Jepang, jadi Syifa dibawa sekalian.

Alhamdulillaah, Syifa sangat kooperatif mulai dari persiapan keberangkatan dan saat penerbangan ke Jepang. Salah satu hobinya Syifa memang jalan-jalan, jadi untungnya dia tidak rewel sepanjang trip. Kemudian yang menarik, karena kami hanya berdua sementara bawaan kami banyak (sekalian bawa perlengkapan untuk stay di Jepang bersama suami untuk jangka panjang), mungkin ada yang iba sehingga ada beberapa penumpang lain yang membantu membawa barang-barang.

Secara keseluruhan, kami menikmati perjalanan ini. Apalagi bagi Syifa, ini kesempatan untuk melepas kangen dengan Abinya. Abinya mengajak Syifa jalan-jalan dan membelikan Syifa mainan kesukaannya.

Ini juga bukan kali pertama Syifa ikut menemani umminya conference, lain waktu Syifa juga pernah menemani saat mengikuti conference di Bali dan Singapura.

Dari sekian banyak Kelompok Keahlian (KK) di Fisika, apa yang membuat Nunu memilih Fisika Nuklir sebagai konsentrasi studi?

Ini seperti pertanyaan saat lulus SMA dulu lalu pilih program studi Fisika ITB (sebenarnya cita-cita sejak kecil ingin menjadi dokter, apa daya Allah belum mengijinkan). Dulu hampir semua teman dekat bertanya-tanya kenapa pilih program studi Fisika ITB, seperti yang kita tau banyak anak-anak SMA yang tidak suka dengan Fisika. Padahal hampir setiap gerak-gerik kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari yang namanya hukum-hukum Fisika.

Memutuskan untuk memilih nuklir, awalnya memang ragu, karena saat itu sedikit saja mahasiswa yang masuk kelompok keahlian nuklir (kalau sekarang sudah cukup banyak), selain itu, bidang ini cukup sulit, perlu kemampuan teoritik dan komputasi yang cukup kuat. Terlebih ke-nuklir-an di negara kita belum berkembang dengan baik. Namun, karena sudah ‘terhipnotis’ dengan luar biasanya energi nuklir, serta kemanfaatan yang akan membawa kemaslahatan bagi masyarakat banyak, maka pilihan ini menjadi mantap. Sambil terus memegang keyakinan bahwa suatu saat Indonesia akan membutuhkan energi nuklir untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya serta demi kemajuan bangsa, dan saat dibutuhkan kami para ahli nuklir sudah siap sedia.

Apakah menjadi ilmuan merupakan your biggest goal in life?

Yup, exactly. Sebenarnya selain ingin menjadi dokter, pilihan cita-cita waktu TK dulu adalah menjadi pengajar. Namun sekarang setelah merasakan ‘indahnya’ riset, jadi ketagihan juga..hehe. Semakin penasaran dengan apa yang bisa kita temukan melalui penelitian. Ke depannya semoga bisa mengajar sambil riset, aamiin.. mohon do’anya.

Nunu inget ngga? Pas SMA Nunu pengen banget ke Jepang. Now that u live in Japan, isnt it like a dream come true?

Iya Ai masih ingat banget. Pada perjalanan hidup, terbiasa untuk fokus dan segala puji bagi Allah, apa yang dicita-citakan kemudian terwujud. Tentu saja tidak terlepas dari do’a orang tua juga dukungan dari keluarga. Suami juga senantiasa mengajak untuk terus berusaha meraih apa yang menjadi cita-cita kami bersama. Juga selalu berfikir bahwa pada kondisi yang kita hadapi sekarang ada skenario yang terbaik yang Allah berikan, tinggal bagaimana respon kita terhadap skenario yang Allah berikan ini. Ketika kita menerima, bersyukur dan bersabar, maka kondisi apapun yang Allah skenariokan akan terasa berkah. Mohon do’anya yaa..semoga bisa istiqamah..

Ada rencana Postdoc? Kalau iya, proses perubahan visa dari dependent ke employee-nya mudah ngga disana?

Ya, Alhamdulillaah. Saat ini sudah menerima acceptance untuk menjalani postdoctoral di JAEA (Japan Atomic Energy Agency) mulai April 2017 hingga Maret 2020. Alhamdulillaah.. 

Sangat ingin menambah wawasan dan mengasah ilmu yang diperoleh lebih dalam lagi. Sebelumnya pernah menyampaikan ke promotor-promotor ketika S3 bahwa ada rencana untuk melanjutkan postdoctoral. Beliau-beliau (para promotor) memberikan motivasi dan menyarankan untuk mulai mencari lowongan. Penelusuran di web JAEA di bulan Juli 2016 ternyata menunjukkan adanya lowongan untuk penerimaan postdoctoral researcher, kemudian Agustus 2016 coba kirim aplikasi, lalu pada pertengahan Oktober dipanggil untuk seleksi berupa presentasi dan interview dengan user. Hingga akhirnya awal November 2016 dinyatakan lolos seleksi. 

Untuk perubahan visa pun mudah, saya dibantu oleh divisi personalia JAEA untuk mengurus perubahan status visa ini.

Lagi musim apa nih di Jepang? dan bagaimana kultur disana? 

Saat ini masuk musim dingin ai… Kultur masyarakat Jepang terkenal dengan kedisiplinan, keteraturan dan bekerja keras. Banyak orang lalu lalang terutama ketika jam pergi dan pulang kantor namun mereka sangat teratur, contohnya saat mengantri di peron subway, KRL dan terminal bus. Di samping kedisplinan dan keteraturan mereka, mereka juga ternyata sangat ramah. Sering ditegur sapa ketika berpapasan dengan mereka bahkan melambaikan tangan dan tersenyum ke Syifa.

Di Jepang juga dikenal dengan istilah ‘tatemae’, artinya orang Jepang sedapat mungkin menunjukkan sifat ramah kepada orang lain, meski mungkin pribadi mereka tidak seramah itu.

Meski demikian, kita sebagai orang asing merasa nyaman dengan sikap interpersonal mereka. Kemudian mereka juga sangat menghargai hak orang lain. Contohnya di jalan raya, para pengemudi kendaraan bermotor selalu mendahulukan kepentingan pesepeda. Pesepeda mendahulukan hak pejalan kaki. Sangat nyaman, alhamdulillaah.

Apakah Syifa sudah mulai enjoy bersekolah di Jepang?

Syifa saat ini masuk ke integrated antara kindergarten dan daycare. Karena Ummi dan Abinya akan sama-sama bekerja di siang hari, jadi Syifa ikut program yang full day. Nama tempatnya Tsukuba Ekimae Hoikuen

Pada awalnya Syifa kebingungan karena ga nyambung ketika berkomunikasi dengan sensei-nya. Itu hanya terjadi singkat saja karena teman-temannya terutama yang anak orang Jepang inisiatif untuk mengajak Syifa bermain (satu lagi kultur yang menurut saya sangat berkesan). Setelah itu Syifa merasa enjoy dan mulai bisa mengikuti program di hoikuen ini.

Di sini Syifa mulai program pukul 08.30. Diawali dengan bermain di outdoor (jika tidak hujan), lalu dilanjutkan dengan aktivitas pendidikan (mewarnai, origami, menggambar, bermain logika), kemudian saat break siang Syifa makan dan napping. Setelah itu kembali beraktivitas sampai dijemput sekitar pukul 17.00.

Di samping itu, di sini Syifa melakukan pembiasaan-pembiasaan agar mandiri. Mulai dari melepas sepatu, menyimpan sepatu dan perlengkapan sehari-hari, makan, dan beres-beres ketika akan pulang. Hasilnya, di rumah pun Syifa sudah bisa membantu membereskan pekerjaan-pekerjaan rumah.

Syifa termasuk anak yang …

Ketika di daycare di Indonesia, psikolog anak di sana pernah menyampaikan bahwa Syifa itu termasuk yang psikomotoriknya menonjol. Kami juga melihat demikian, Syifa lebih senang beraktivitas yang melibatkan gerak aktif. Di samping itu, Syifa juga cukup kritis. Sering bertanya ‘kenapa’ dan mengomentari kalau kita menyuruhnya melakukan sesuatu. Menurut kami ini bagus, karena mengasah logikanya juga.

Mainan kesukaannya LEGO dan clay/playdough. Selain itu Syifa juga suka bermain peran dan bermain di playground. Terlihat sekali kalau Syifa memang menyukai aktivitas gerak aktif apalagi outdoor.

Kalau sifat Syifa yang paling menonjol?

Periang dan suka berbagi. Mudah dekat dengan orang, selama orang tersebut ramah dan mau mendekati Syifa.

Oia, Nunu sering bilang kalau Syifa punya ‘cheat dayBoleh dijelaskan?

Kami punya kebijakan untuk tidak memberikan anak permen, eskrim dan permainan gadget selama weekdays. Tujuannya untuk mendisiplinkan dan mengondisikan agar kegiatan rutin di sekolahnya tidak terganggu. Tapi di weekend, karena memang permen dan eskrim adalah salah satu kesukaannya, kami mengizinkan Syifa untuk memakannya. Kemudian Syifa di weekend juga diizinkan untuk bermain gadget, tentu dengan porsi yang sewajarnya.

Apa yang paling berkesan di hari pertama Syifa sekolah? 

Sempat nangis, tapi hanya 5 menit di hari pertama sekolah, setelah dijemput Syifa ditanya kenapa di sekolah menangis? Syifa bilang ga nyambung apa yang Syifa ucapkan ke sensei-nya dan sebaliknya. Hal berkesan lainnya, teman-teman Syifa inisiatif untuk mengajak berkenalan dan bermain. Ini yang membuat Syifa ga nangis terlalu lama di hari pertamanya sekolah.

Apa yang Nunu lakukan untuk menenangkan Syifa kalau lagi tantrum?

Di usianya yang ke-4 ini memang sudah sangat jarang tantrum, tidak sesering ketika masih berusia 2-3 tahun. Kalaupun terjadi, paling didiamkan saja, kadang di atas kasur. Tidak lama Syifa akan mendekat dan memeluk sambil bilang, “Aku sayang Ummi.”

Kita flashback sedikit yaa saat suami mulai S2 di Jepang dan Nunu masih menyelsaikan S3 di Indonesia. Bisa diceritakan ngga bagaimana cara Nunu menyeimbangkan waktu untuk studi, melakukan tugas domestik di rumah dan mengasuh Syifa?

Ketika masih S3, Syifa juga sudah ikut daycare di lokasi yang berdekatan sekali dengan kampus. Jadi saya berangkat ke kampus sekalian mengantar Syifa ke daycare kemudian pulang dari kampus sambil menjemput Syifa pulang. 

Tugas-tugas domestik dikerjakan tanpa kesulitan karena Syifa cukup mandiri di rumah. Selain itu terkadang asyik bermain ketika sepupunya datang ke rumah saat weekend, waktu yang pas untuk mencuci dan memasak.

Secara psikologi memang tidak mudah bagi Syifa untuk terpisah sementara dengan Abi-nya, di minggu-minggu awal, Syifa masih kerap mengigau memanggil-manggil Abi-nya. Wajar mungkin ya, selama ini Syifa cukup dekat dengan Abi-nya. 

Tantangan baru saat itu adalah menjalani peran sebagai Ibu dan Ayah sekaligus. Peran Ibu sudah terbiasa dilakukan selama ini, namun untuk mengantikan peran Ayah sementara, lumayan harus putar otak untuk kreatif cari permainan yang seru, yang sering kali Syifa lakukan dengan Abi-nya. Alhasil selama di rumah tidak pernah mengerjakan pekerjaan kampus sama sekali, semua pekerjaan dioptimalkan saat di kampus.

Skill apa saja yang terasah ketika menjalani Long Distance Marriage dengan suami?

Skill nyetir mobil. Karena kepepet agar bisa antar jemput Syifa ke daycare dan berangkat ke kampus akhirnya bisa nyetir setiap hari, biasanya mengandalkan Abi-nya Syifa tentu. Padahal beberapa hari sebelum saya ditinggal suami ke Jepang, saat latihan nyetir pernah nabrak tembok garasi rumah dan hasilnya body mobil harus direpair selama 2 minggu di bengkel. Tapi Alhamdulillaah setelah itu tidak pernah mengalami apa-apa selama LDM dengan suami.

Selain itu, segala macam urusan rumah tangga yang biasa dilakukan suami mulai terbiasa dilakukan, mulai dari angkat galon aqua, urusan tagihan listrik, pajak, dan sebagainya.

Sebagai seorang Ilmuan, menurut Nunu seberapa penting pendidikan (tinggi) bagi seorang Ibu? Baik ibu bekerja, Mother-preneur maupun Ibu Rumah Tangga?

Hmm.. Menurut Nunu, pendidikan bagi seorang Ibu itu penting.

Peran sebagai Ibu sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak yang selanjutnya akan menjadi generasi penerus bangsa. 

Peran sebagai istri tentu penting juga, suami butuh support dan pengingat saat sedang berkarir serta memimpin keluarga, dibalik lelaki yang hebat terdapat wanita yang hebat (tentu ini berlaku untuk sebaliknya).

Melihat kehidupan anak-anak jaman sekarang kok rasanya jauh berbeda dengan kehidupan kita saat masa kanak-kanak dulu. Seorang Ibu harus serba tahu dan update, agar perannya tidak terkikis oleh kerasnya kehidupan zaman sekarang.

Alangkah bahagianya anak-anak kita jika dididik oleh seorang ibu yang smart

Nunu sendiri baru merasakan dididik (dibimbing) oleh seorang lulusan S3 saat di bangku kuliah.

Mohon do’anya yaa, sangat berharap semoga Nunu bisa mendidik Syifa serta adik-adikya kelak untuk menjadi anak-anak yang shaalih/shaalilah, berilmu, berguna bagi agama & ummat.Serta bisa mengemban amaanah sebagai Ibu dan istri yang shaalilah.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. Ohya satu lagi Ai, selain sebagai Ibu &istri. Tentu peran kita sebagai anak juga tidak akan pernah lepas.

Jangan lupa tetap berbakti kepada orang tua.

Biar bagaimana pun berkat bimbingan, didikan, dan do’a dari orang tua lah kita bisa sampai di sini..

Terakhir, apa pesan Nunu untuk Ibu muda lainnya?

Terus berkarya.. selagi kita masih bisa, selagi masih ada kesempatan, selagi masih sehat dan muda. Terkadang suka iri lihat ibu rumah tangga yang bisa full bersama dengan anak-anaknya. Tapi ini sekaligus memaksa untuk lebih kreatif berjuang mengisi peran ibu yang optimal di samping urusan-urusan di luar rumah. Di rumah kita akan tetap menjadi seorang Ibu dan istri, maka usahakan selesaikan pekerjaan luar rumah di luar rumah saja. Selalu minta izin kepada suami atas apa yang akan kita lakukan, keberkahan Allah akan turun lewat ridha suami.

Jangan lupa terus bersyukur kepada Allah.. semakin kita bersyukur maka Allah akan melipatkan nikmat bagi kita..

Pada kondisi apapun kita berada, kemampuan apapun yang kita miliki, maka terdapat sedekah yang harus kita keluarkan dari setiap sendi-sendi tubuh kita. Salah satu rasa syukur yang paling baik adalah dengan berbagi rasa syukur tersebut dengan orang lain yang membutuhkan.

***

Waaah, pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan terjawab juga oleh Ummi super sibuk ini. Jujur membaca jawaban-jawaban dari Nunu bikin saya speechless. Satu kata buat Nunu : Inspiring!

Terimakasih banyak yaa Nunu sudah sharing pengalaman hidup yang insya Allah memberi inspirasi untuk kita semua. Barakallah, semoga ilmu-mu semakin bermanfaat, sukses Postdoctoral-nya dan bisa jadi ibu serta istri yang luar biasa untuk keluarga. Amiin.

Nanti kita reunian lagi di Bandung yaa 🙂

Jazaakillah khairan jazaa.

***

Yuk baca Cerita (inspiratif) Ibu Muda lainnya :

1. Cerita Iie : Melahirkan, Ramadan dan Kuliah Gratis di Swedia

2. Cici, Itikaf Bareng Duo Bocil Butuh ‘Strong Why’

3. Kamu Lulusan ITB? Kok Jadi Ibu Rumah Tangga?

4. “I Love Abu Dhabi”, Cerita Nana Tentang Jadi Mama-nya Auran dan Resep Simple Baking

5. Belajar Jadi Ibu dan Have Fun Dengan Anak

6. Uma Hani : Istri Dokter Yang Membangun Interdependency Dengan Aba Fatiha

7. Cita dan Cinta Audia Kursun (Pasangan Indonesia-Turki) 

 

Advertisements

4 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s