DO YOUR KID ENJOY TRAVELING? – Percakapan di Keretapi Tanah Melayu 

Travel is learning that the journey is as memorable as the destination

 Ika Natassa – Critical Eleven

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Banyak orang berpergian, sedikit yang menuliskan catatan perjalanan. Di era digital ini, people prefer to upload their activities in instagram, path, facebook, twitter, u name it! Sometime no caption, saking banyaknya.

Awalnya saya juga lebih senang meng-unggah foto di instagram, selain simpel, terkadang sebuah foto mampu menceritakan banyak hal yang kata-kata terlalu terbatas untuk mendeskripsikannya. 

Lalu bagaimana kalau saya lupa detail-detailnya? Setiap orang ingin mengenang sesuatu yang indah saat menua kan? Atau sesederhana agar anak saya bisa mengingat-ingat kembali kemana saja orang tua-nya membawa Aisya di masa kecil. A Milestone.

Menuliskan rekam jejak juga bisa menjadi referensi bagi teman-teman lain yang mungkin ingin pergi ke destinasi yang kita kunjungi. Lengkap dengan rekomendasi penginapan, pilihan dan tarif transportasi, tempat makan, dan cerita-cerita lainnya yang mewarnai perjalanan kita.

Travel quote di paragraf paling atas mengingatkan saya untuk mencatat kejadian-kejadian kecil bersejarah yang saya alami ketika traveling. Kadang destinasi wisata-nya tidak terlalu ‘wah’ tapi hubungan antar manusia yang terjalin selama perjalanan itulah yang membekas di hati kita.

Bagi saya, percakapan singkat di ladies coach Keretapi Tanah Melayu dengan Angeline –  Ibu asal Australia berusia 50 tahunan -membawa saya pada renungan yang lebih dalam. 

“Travel is the simple chance of re-inventing ourselves at new places where we are nobody but a stranger”, lagi saya kutip dari novel Critical Eleven yang sedang diadaptasi menjadi film lebar dengan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai pelakon utama-nya.

DO YOUR KID ENJOY TRAVELING?

Mrs. Angelie : Do your kid enjoy traveling?

Saya : Hmm, actually it feels like we a bit forcing her to go to some places that we want to visit

Mrs. Angeline : Have u go to bird park?

Saya : no, not yet

Saya : But yesterday we went to Taman Tasik Perdana and play in a giant playground, so i think it pay the guilty pleasure

Mrs. Angeline : yea.. Yea.. 

Mrs. Angeline : I kinda miss the time when my children are still little. We used to take them to the zoo, bird park, places like that. Now that they are all grown up, I kinda miss that time..

Saya : How old are they?

Mrs. Angeline : one 18 and one 16

Saya : Why didn’t they come with you?

Mrs. Angeline : They just coming back from traveling from China, so I don’t think that they are interested in Malaysia. Because its China, you know..

Mrs. Angeline : My husband and I came here because we never been to Malaysia, so we think, yea let’s come here

Mrs. Angeline : Where you from?

Saya : Indonesia

Mrs. Angeline : O yea, we’ve been to Bali. Because it near from Australia, and its beach, that’s the only place I ever visit in Indonesia..

Saya : yea.. Many tourist there

Mrs. Angeline : Oh! you should go to Langkawi, we went there. Its a beautiful place. Traveling is good for children, they can learn new culture

Sepuluh kata terakhir yang beliau ucapkan sambil tersenyum ke Aisya ini membuat saya menggali lebih dalam tujuan traveling..

THE IDEA OF TRAVELING

Kapan saya mulai akrab dengan kata ‘traveling‘? 

Jawabannya adalah sejak menikah.

Mungkin karena suami bertekad mengunjungi 30 provinsi di Indonesia. Mungkin juga karena beliau sering mengajak saya jalan-jalan ke tempat-tempat yang lagi nge-hits, mencicipi menu di restoran yang baru buka, ifhar jamaai sama temen-temennya di Hotel, – which I never tried that with my friends before -, traveling ke Bali, Singapura, Malaysia. Bahkan saudara kami sampai bilang, “Kalian udah kaya mudik aja ya, setahun sekali ke Malaysia”.

Mungkin Malaysia dengan nasi lemak, tom yum, roti-roti india, nasi goreng thailand, Beryls chocolate, mee cup, milo sejuk, teh tarik dan keramahannya merupakan destinasi terjauh yang bisa kami tempuh abring-abringan untuk saat ini. I know some people would rather visit Bangkok yang culture-nya lebih ‘kaya’, or maybe Japan tetangga pun bilang, “Kuala Lumpur itu ngga ada bedanya sama Jakarta”.

Betul. Padat, pejalan kaki dimana-dimana. Jam 8 malam, suara sepatu beradu, orang-orang bergerombol naik eskalator. Pulang untuk esok pagi berangkat lagi. They were busy working for living.

Tempat wisata? Beberapa wahana malah buatan, bukan wisata alam yang memukau seperti pantai-pantai di Flores, Labuan Bajo, Raja Ampat, Bali, Wakatobi, Green Canyon Pangandaran, bukan pula pegunungan seperti Bromo, Rinjani, Kebun Buah Mangunan di Yogyakarta, entah ada atau tidak Lodge seperti di Bandung, kami belum mengeksplor semua tempat.

Call me ‘katrok’ but here.. I found many people from various culture. Banyaknya turis yang mengunjungi Malaysia juga bukti kalau ada sesuatu disini yang membuat mereka datang.. Ini semacam nyicil..

Pas kemarin jemput Om di kampus ITB, saya bilang ke Aisya, “Mami dulu sekolah disini”.

“Waktu kecil Mami sekolah disini?”, sekarang Aisya gantian nanya, “Mami mau sekolah lagi ngga?”,

Reflek saya jawab, “Mau dek”, tapi pelan. 

Saya ingat kamus Oxford yang saya baca pertama kali, keren kelihatannya, buka-buka untuk melihat pronounciation dari kata-kata yang saya pelajari. A rehearsel sebelum mengikuti lomba story telling di UPI – saat saya masih SMP. Dibantu Harry Potter, kosakata dan pelafalan saya bertambah bagus, tekniknya adalah setiap kalimat yang diucapkan Harry/Hermione/Ron saya repeat, bahkan saya sempat mengajari teman saya how to tell a story with a teatrical act. Mungkin bakat teatrikal Aisya ‘turun’ dari saya. Kamu boleh kok ikutan casting film kalau ada peran yang kamu inginkan, kalau udah besar, KALAU KAMU MAU.. 

U could be everything that u want Aisya, I’m not gonna force you to fulfiil the dreams that I can’t achieve back then 🙂

And so, dari SMP itulah saya ingin sekolah di Oxford, setengah-setengah sih percaya dirinya. 

Saat membaca pengumuman SPMB dan nama saya tertera di pilihan pertama kemudian memulai hari pertama saya dengan taplok, teman-teman yang jadi juara umum di sekolahnya, anak olimpiade dan sederet prestasi kece-nya di rangkaian OSKM, lalu duduk di kelas menyimak mata kuliah Kalkulus, Aljabar Linear, mempelajari Complex Analysis, berjuang memahami apa itu maximum likelihood methods, “Ngapain kita (me)naksir kalau peluangnya sedikit?”, gitu analoginya kalau diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari. 

Saya paling suka integral, diferensial dan limit. “If a limit of an integral goes from zero to infinity, that would be?”, ini kalimat favorit saya dari dosen Kalkulus di kelas. Saya sering menirukannya, enakeun ngomongnya hihi..

Hingga akhirnya Estimasi Permeabilitas Pada Reservoar Terbatas Menggunakan Ensemble Kalman Filter menjadi pengantar final saya menuju wisuda Sarjana Science, I realize that its the best prestige I could present to my parent. That time.

Allah has lead me here.. 15 tahun setelah saya pengen tapi angin-angin-an buat sekolah ke Europe, sampai saat ini ibarat hamil, saya masih mengidam-idamkan untuk pergi kesana. Sekedar menemani suami ambil master di Belanda/Swedia juga boleh.. Saya ikut-ikut community college-nya atau course-nya aja. That would be fine 🙂 yang terpenting Aisya dan Ayah sekolah di LN. Amiiin Ya Allah.

Ya jadi buat saya, kemana pun suami tiba-tiba memberitahu saya kalau beliau sudah booked tiket untuk traveling and we should pack then go, saya syukuri. Alhamdulillah bisa punya waktu yang benar-benar berkualitas bertiga. 

TRAVELING IS A QUALITY TIME

In some case, travel make us trapped in a situation where gadget cannot be our partner to ‘talk’ anymore, mostly in a place where no wifi and no signal. And this situation giving us a chance to have an actual conversation, the one with eye contact and ear to hear.

Somehow, traveling kini menjadi bagian dari hidup saya, yang dulunya lebih milih tidur dan nonton film sebagai sarana liburan. 

Definisi traveling dari asalnya hanya tok jalan-jalan bergeser menjadi quality timeThe time we spent with our children is treasure. Sangat menarik saat bu Angeline mengatakan, “Now that they are all grown up, I kinda miss that time”.Anak kita cepat sekali bertambah usia-nya. Manfaatkan momen kanak-kanak mereka sebaik-baiknya. Ibu Angeline rindu mengajak anak-anaknya tamasya ke kebun binatang! As simple as that..

Invest your best in your children. Be there while you can, make everyday count, for the time you’ll miss them.. When they are all grown up and…

U may fill the dots with your own thought 🙂

Melihat banyaknya anak muda yang traveling dengan backpaker mereka, saya tidak yakin apakah mereka masih highschool tapi sepertinya iya, ditambah Ibu Angeline yang menceritakan kalau anak-anaknya traveling ke China sementara beliau dan suaminya jalan-jalan ke Malaysia, membuat saya bertanya-tanya, off course I didn’t ask for further more, rasanya kurang sopan yaa baru kenal udah nanya macem-macem. 

Padahal saya ingin tahu how they manage it?

Akhirnya saya menjawab pertanyaan itu sendiri. Mungkin dari kecil anak-anaknya dilatih menabung. Like, save your money to travel, traveling will make you rich by experiencing new things and learn new culture, mungkin begitu wejangan orang tuanya.

Dan harusnya orang yang sering traveling itu makin wise ya. Kan udah mingle with different kind of culture and people. Harapannya punya growth mindset dan bijak dong seperti not judge easily, talk wisely, act properly..

If not..

SO WHAT TRAVELING DO TO YOU?

Kalau traveling ngga bikin kita (minimal saya) belajar hal baru atau jadi lebih ‘terbuka’ pikirannya, rugi dong?

Teh Patra, super teen moms yang menikah di usia 17 tahun dan melahirkan anak pertamanya di usia 18 tahun dan anaknya ini sekarang lagi kuliah di Melon Carneige University Qatar dan dia juga mengulas tentang Ummi-nya yang sukses mendidik 6 anaknya padahal nikahnya masih terbilang remaja dan lagi bahkan Teh Patra-nya studi sampai S2. And their family still stick together up until now..

Buat yang mau nikah dini bisa berguru sama beliau ya 🙂

“Buat saya traveling itu investasi“, ucap Teh Patra saat mengisi taklim alumni pascasarjana ITB beberapa tahun lalu di CC Barat.

Investasi itu sejatinya menghubungkan kita pada sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang. Atau membuat kita makin kaya. Kaya akan pengalaman, kaya akan budaya, kaya raya.

Bukannya ngga mungkin, kita kenalan sama orang baru, lanjut ngobrol seru, ada timbal balik dan tau-tau dia mau ngajak kerjasama. Flight yang awalnya hanya rekreasi naik pangkat jadi perjalanan bisnis. Meski skala-nya masih kecil ya ngga apa-apa tho..

Koneksi sekenceng wifi ini pastinya harus dipupuk, dimulai dari sapa menyapa, senyum, ngajak ngobrol, bertukar pengalaman, merekomendasikan tempat baru, seperti saat Ibu Angeline mencetuskan kata “Langkawi”, saya jadi tahu destinasi wisata lain yang bisa saya kunjungi kalau tahun depan ada rizki buat jalan-jalan ke Malaysia lagi.

Siapa tahu obrolan asik berbuah nomor cantik, bisa kontak-kontakan, janjian ketemu lagi, traveling bareng, jadi ‘keluarga’ pas kita jalan-jalan ke negara dia atau seperti saya bilang, you guys create something together 🙂

Memperlebar sayap kita.

Ada satu pertanyaan pada diri saya sendiri sih, yaitu, “Apakah traveling membuat saya lebih beriman?”

Traveling yang suami saya senangi ini adalah sesuatu yang baru bagi saya. 

Tentunya saya belajar dari traveling-traveling sebelumnya. Ada kalanya charger saya ketinggalan di hotel, saya nyadarnya di rumah.. 

Pernah juga saat malam-malam naik Cruise menyusuri Melaka River Side, saya khilaf nggak bawa celana panjang buat Aisya. Waktu itu agak ripuh di kamar, saya unpack barang, masuk-masukin bekal dan buru-buru pencet lift ke bawah karena sudah ditunggu rombongan. 

Dua kejadian di atas membuat saya berani mengaktivasi fungsi sweeping, iya kaya waktu jurit malam pas osjur trus senior-nya sweeping takut-takut ada yang tertinggal. As a couple we are a team! So check and remind the other to re-check.

Alhamdulillah up until now, managemen traveling keluarga kami membaik 🙂 berkat do’a-do’a keluarga dan teman-teman semua. Semoga makin membaik. Amiin Ya Rabb.

Sekarang saya senang me-manage barang-barang yang akan dibawa, menyiapkan bekal, nge-checklist apakah semua sudah masuk koper?
Membagi-bagi mana yang bagusnya masuk ke ransel kecil, perlu bawa minum refiil dari hotel atau engga, ancang-ancang back up baju Aisya kalau-kalau kenapa-napa di penerbangan jadi diselipin juga di tas bekal. 

Paspor dipegang siapa? Siapa yang nanti dorong koper dan siapa yang gendong Aisya? Ayah pesan makan apa, Bunda makanannya mau yang mana? Saling coba. Pesan satu minum untuk bertiga, biar romantis.. (Hemat..hemat..buat beli oleh-oleh).

Nge-pack dan misah-misahin mana oleh-oleh buat kantor, tetangga, buat di Bandung dan buat ke Arjasari. Saya jadi suka aja. Simple yaa tapi butuh managemen yang baik juga 🙂

Saya bersyukur, Aisya start it earlier. Alhamdulillah wa syukurillah and thanks to hubby. 

Traveling is good for children, they can learn new culture – Mrs. Angeline

As good as this sentence, traveling with good intention suppose to bring all the excitment and a joy of exploring new places into a better level.

Level of wisdom, level of behaving, and level of our iman…

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung 

[QS. Al-Jumuah : 10]

I will support my husband and my children to travel to some places. May all the journey we made unite us as one, and become a more sakinah mawadah warahmah tiil Jannah. Amin.

Terimakasih sudah membaca 🙂 jika dirasa bermanfaat silakan di-share.

Advertisements

9 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s