TRIP SERU ke LANGKAWI

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung

[QS. Al-Jumuah : 10]

Kalau kata mbak Trinity di film Trinity The Nekad Traveler, hari kejepit nasional itu bisa dimanfaatkan untuk liburan. Karena Senin, 27 Maret 2017 merupakan salah satu tanggal yang kejepit di antara 2 tanggal Merah, yaitu hari Ahad dan Selasa-nya hari raya Nyepi, suami saya pun berinisiatif untuk memesan tiket AirAsia ke Langkawi.

Pulau Langkawi ini saya dengar pertama kali saat bercakap-cakap dengan Mrs. Angeline diย Do Your Kid Enjoy Traveling? – Percakapan di Keretapi Tanah Melayuย Disambung dengan postingan Langkawi Skybridge di akun instagram suami, semacam gayung bersambut, beliau bilang kalau kami akan jalan-jalan ke pulau yang letaknya berbatasan dengan Satun, Thailand tersebut tahun depan. Qadarullah, Allah SWT mengabulkan keinginan suami lebih cepat, akhir Maret ini, dalam rangka Milad teman suami, kami berangkat ke Langkawi.

Bagi saya pribadi, trip ke Langkawi ini adalah salah satu perjalanan paaaling seru & hectic yang pernah saya alami. Mau tau se-SERU apa? Keep reading yaa ๐Ÿ˜‰

Flight To Langkawi : CGK – KUL – LGK

Langkawi adalah sebuah pulau yang berada di bagian utara Penang – Semenanjung Malaysia, terletak di selat Malaka dan diapit oleh Sumatera juga Thailand. Untuk sampai ke Langkawi, kami harus menaiki 2 flight, pertama penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta ke Kuala Lumpur dan dilanjutkan dengan penerbangan dari KLIA2 ke Bandara Internasional Langkawi. Kami memilih waktu penerbangan di sore dan malam hari agar suami bisa merampungkan pekerjaannya dulu di hari Jum’at.

Sampai di Terminal 2E, semuanya berjalan lancar apalagi adanya playground di ruang tunggu AirAsia membuat suasana menunggu jadi lebih asik buat Aisya. Bisa naik seluncuran dulu, main masak-masakan dan Ayah, Bunda, Tante, Om jadi costumer-nya, mewarnai di kursi belajar dan naik buaya-buayaan.

Playground anak di Terminal 2E

Begitu petugas mengumumkan untuk boarding, kami langsung berbaris untuk masuk ke dalam pesawat. Mesin pesawat mulai berbunyi, seat belt sudah terpasang, dan seperti biasa, saya memperhatikan pramugari memeragakan cara menggunakan pelampung. “Sebentar lagi bakal merasakan yang namanya critical eleven nih”, ucap saya pada suami. Seraya mengenggam tangan Aisya dan berdoa bersama, “Bismillahi tawakaltu Alalloh Laa Haula Walaa Quwwata Ilaa Billaah”, lantas Aisya meng-amin-kan.

10 menit.. 20 menit.. 30 menit.. Maskapai berwana merah-putih ini tidak juga tinggal landas. Nampaknya masih antri di belakang beberapa pesawat lainnya. Hingga total kalau dihitung, selama 70 menit kami duduk di dalam pesawat menunggu untuk take off.

Suami sudah prebooked untuk makan malam, saya dipesankan Nasi Lemak sementara suami memesan Nasi Ayam Hainan. Perut kenyang namun hati tak tenang, pasalnya flight kami yang selanjutnya waktunya berdekatan dengan jadwal landing penerbangan pertama. Duh gimana yaa, suami saya pesimis kami bisa mengejar flight ke Langkawi . . .

Disinilah ke-seru-an dimulai. Pramugara dan pramugari yang ada kemudian membantu memberi pengarahan pada kami setelah kami ceritakan mengenai penerbangan yang harus kami kejar.

Cockpit sudah menghubungi petugas di bandara KLIA2 agar diinformasikan ke bagian imigrasi bahwa ada 6 penumpang yang terkena delay dan begitu sampai di Bandar Udara Kuala Lumpur kami dipersilakan naik ke mobil jemputan. Masih ada waktu 30 menit menuju boardingย ke Langkawi. Mobil membawa kami ke eskalator menuju imigrasi, lalu kami berlari sekencang yang kami bisa, suami saya lari-lari sambil gendong Aisya, saya berlari sambil menggerek koper, yang lain juga sama. Sampai ke bagian imigrasi ternyata kami salah mengantri, beruntung ada petugas yang mengarahkan kami ke bagian imigrasi khusus transit ke Langkawi.

Sayangnya beberapa langkah sebelum sampai ke pengecekan imigrasi, ada cleaning service yang mengatakan kalau kounter imigrasinya sudah ditutup. Kami pun berlari lagi mencari kounter imigrasi lainnya. But no clue.ย Kami pun kembali ke tempat imigrasi yang kedua, dan bertanya pada penjaga di dekat situ dimana kounter imigrasi bagi penumpang yang transit dan benar saja ternyata kounter yang akan kami datangi tadi. Semua langsung bilang, “HAAAH?”,ย feel sillyย kok kami tadi percaya aja ya sama cleaning service-nya.. Hahaa..

Kounter imigrasinya memang sepi sekali. Hanya ada kami ber-enam. Antara haus dan menahan keinginan ke toilet, kami lanjut sprint untuk sampai ke gateย penerbangan ke Langkawi, beberapa orang memperhatikan kami yang lari-larian sambil gerek-gerek koper, naik turun tangga dengan cepat, sambil gendong anak lagi! udah kaya ikutan Amazing Race Asia lah! Sayang ngga ada yang videoin :))

Akhirnyaaa sampailah kami ke ruang tunggu penerbangan ke Langkawi, ngos-ngosan, keringat bercucuran DAN TERNYATA pesawat ke Langkawi DELAY juga!!! Tau gitu tadi kami rada santai jalanya.. Hahaha.. Seru rasanya berlari-lari di Bandara, berasa muda lagi (hahahaa). Sekarang setiap ada orang yang lari-lari/naik turun tangga dengan cepat di Bandara/Stasiun saya mulai paham.. Mungkin mereka juga takut ketinggalan pesawat/kereta seperti kami. Alhamdulillah kami berhasil duduk juga di penerbangan menuju Langkawi, but wait its not the end of the excitement, the fun trip has just begin..

Akibat delay, 2 kali naik pesawat dan mungkin olahraga malam, kepala saya mendadak pening beberapa saat sebelum mendarat di Langkawi. Suami sengaja membeli simcard dulu di supermarket Bandara untuk memudahkan kami mencari rute/info selama disana, harganya RM 38 untuk 5 GB lumayan banget karena difungsikan juga sebagai hotspot untuk berlima.

Berdasarkan hasil browsing, di Langkawi ini belum ada Grab, jadi kami naik taxi dan membayar RM 45 menuju homestay yang sudah kami pesan via AirBnb. Malam itu saya ingin segera rebahan agar migrain cepat hilang..

Kami masuk ke rumah yang dikelola oleh pasangan Indonesia-Belanda itu dan kaget saat masuk ke dalam karena banyak sekali turis asing yang juga menginap disana. Ternyata selain menyewakan rumah, pemiliknya juga membuka jasa couchsurfing. Bedanya para traveller ini tidur di ruang tamu dengan alas seadanya, sedangkan kami kebagian kamar (karena kami membayar).

Homestay yang berada di sebelah kiri Twin Peaks ini adalah satu-satunya homestay yang mau menerima kami karena yang lainnya fully booked.

Rupanya sedang ada Festival LIMA di Langkawi, Langkawi International Maritime and Aerospace. Pantas saja penginapan disana penuh. Saat kami datang, it was the last day of the festival. And lucky us, berkat event tersebut juga Uber mulai beroperasi disana.

Kami langsung memanfaatkan fasilitas Uber ini untuk pindahan ke homestay di dekat Pantai Cenang esok paginya ๐Ÿ™‚

Che Teh Homestay : An affordably comfortable home to stay

Che Teh Homestayย berlokasi di jalan Bohor Tempoyak, Kg. Lubuk Buaya, Temonyong, Langkawi, Kedah. Homestay ini kami pesan melalui Booking.com dengan tarif RM 200/malam, sangat terjangkau apalagi bayarnya patungan.

Homestay yang dikelola oleh Mak Cik Rozia ini sangat nyaman, di dalamnya ada 3 kamar dan tiap kamar dilengkapi dengan AC, kipas angin, meja serta cermin untuk berhias serta handuk. Ada ruang tamu dan meja untuk makan bersama juga dapur, jadi bisa masak air untuk menyeduh teh di pagi hari juga mee cup. Kamar mandinya lumayan luas, ada shower dan toilet yang bersih.

Salah satu kamar di Che Teh Homestay

Mak Cik Rozia sangat ramah, beliau tinggal berdua saja dengan suaminya, anak-anaknya yang sudah dewasa ada yang bersekolah di Kairo, Johor dan anak bungsunya dikirim ke pondok (pulang 2 minggu sekali).ย Setelah menitipkan barang kami bergegas mencari Uber ke Skycab. Katanya kalau mau ke Skycab harus pagi-pagi karena banyak yang antri. Alhamdulillah tak lama setelah order, driver yang bernama Ahmad datang menjemput kami.

Kalau driver yang mengantar kami ke Che Teh namanya Muhammad. Nah dari Abang Muhammad ini lah kami tau kalau Uber di Langkawi baru beroperasi selama 5 hari karena ada acara LIMA. Jarak dari penginapan ke Skycab lumayan jauh, meski ada penyewaan mobil matic, kalau nyetir sendiri bakal lumayan gempor juga, jadi taxi dan uber masih mending. Walau biaya taxi lebih mahal.

Di Langkawi tidak ada jam, begitu orang Malaysia menyebut macet. Pulau ini jalanannya bagus dan lengang. Di sebelah kiri jalan bisa kita lihat laut biru juga beberapa pelabuhan. Sesekali pesawat yang ikut festival LIMA konvoi di udara, kami hanya memperhatikan dari dalam mobil. Sementara beberapa warga Langkawi duduk membawa bekal menonton Air Show di pinggir jalan.

Skycab – Skybridge – 3D Art Gallery

Spotted! Aisya lari-lari happy di Skybridge dengan Daddy

Tujuan utama kami datang ke Langkawi adalah mengunjungi the famous skybridge yang juga dipakai untuk tempat syuting film Don dengan Shahrukh Khan sebagai pemeran utamanya. Begitu masuk ada figura di depan jembatan kayu bertuliskan “Oriental Village Cable Car – Selamat Datang/Welcome”, lalu kami masuk ke wahana yang luas ini.

Rame-rame naik Skycab

Kalau saya lihat wahana Cable Car ini didesain agar pengunjung bisa menikmati seluruh wahana seharian disini. Selain ada tempat makan, playground, toko souvenir, dari 1 tiket Skycab yang kami beli seharga RM 55/dewasa dan RM 40/anak itu mencakup 4 wahana : Skycab, Skydome, Skyrex dan 3D Art Gallery. Untuk memasuki kawasan Skybridge kami harus membeli tiket lagi.

Kita bahas satu-satu yaa, yang pertama kami naiki adalah Skycab. Berbeda denganย Awana Skyway Genting Highlands, Langkawi Skycab muatannya lebih kecil (maksimal 6 orang), lintasannya lebih pendek namun lebih curam, bikin lebih deg-degan kalau lihat ke bawah atau sekitar dan kita bisa lihat lautan serta gunung sekaligus. Sama seperti saat naik Skyway, Aisya mah tetap riang gembira, malah loncat-loncat kecil di dalam Skycab. Sampai di perhentian pertama kami berfoto lalu lanjut ke next stop.

Di daerah setinggi itu, mereka membangun Sky Bistro, tempat dimana kami makan burger lezat seharga RM 9,90 dan membeli brownies untuk sarapan Aisya seharga RM 10 dan es krim (RM 5) juga air mineral (RM 3). Alhamdulillah energi kami ter-charge kembali setelah makan karena kami harus turun-naik-turun-naik di nature walk untuk sampai ke Skybridge.

Tiket masuk ke Skybridge dibanrol dengan harga RM 5/dewasa dan RM 3/anak. Lagi-lagi ayah sigap menggendong Aisya karena Mami sendiri aja masih geumpeur dan ngos-ngosan (lagi). Kira-kira 15 menit kemudian kami sampai ke Skybridge. Oh don’t ask me how amazed and shaking I am, Subhanallah. Allah SWT itu Maha Canggih, Maha Keren dan Maha Indah.

“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan” [HR. Muslim].

Jembatan Langit – dokumentasi pribadi

Saya bener-bener terpukau dengan kecerdasan orang yang membangun, mendesain, dan invest di pembangunan Skybridge ini. Maha suci Allah yang menciptakan akal manusia untuk berkarya. Dari ketinggian 2,300 kaki di puncak Gunung Mat Chinchang ini kita bisa melihat lautan yang biru bersih, batuan, hutan, gunung-gunung yang serba hijau dan menghirup udara bersih. Subhanallah the view is great..

Hati-hati kalau membawa anak yaa harus terus diawasi.. Alhamdulillah Aisya termasuk anak yang pemberani, she looks very happy up here :’)ย Saat berjalan kaki, jembatannya rada goyang-goyang bikin merinding, rasanya ingin cepat sampai ke ujung, untuk duduk dan beristirahat.

Ada 2 jendela kaca untuk melihat seberapa jauh dan tinggi kita berada but thats just waaay too scary for me jadi hanya suami saya dan teman-temannya yang melihat ke bawah dan berfoto disana. Sampai di ujung jembatan, kami duduk mengambil nafas panjang, mencoba rileks sambil bermain candy-karet dengan Aisya.

Disinilah tiba-tiba suami sadar kalau kamera bpro-nya raib! Kemana? No one see, malah ada teman yang bilang terakhir lihat saat sebelum jalan ke Skybridge. Suami saya pun langsung balik lagi ke kursi tempat kami dudukย ngarenghapย setelah mendaki. Ternyata tertinggal disana, Alhamdulillahnya nggak ada yang ngambil yaa ๐Ÿ™‚

Aisya the explorer

Perjalanan kembali ke Skycab terasa lebih cepat namun tetap saja saya butuh beberapa kali duduk istirahat lalu lanjut naik tangga lagi (hihihi), suami dengan sabar menunggu-mengulurkan tangan-menggengam saya agar kuat naik sampai atas lagi. Di tengah jalan saya sempat memotret Poster Geopark Langkawi.

Skycab – dokumentasi pribadi

Turun dari Skycab, kami istirahat dulu di area yang dikerubuti anak. Ada sofa disana sementara Aisya main di playground seperti anak-anak lain. Kami belum mencoba wahana lainnya seperti Skydome dan Skyrex, namun karena hari sudah siang dan lapar, kami memutuskan untuk masuk ke wahana 3D Art Gallery saja lalu naik taxi ke Cenang Mall yang berada di kawasan Pantai Cenang.

Kita tidak perlu membayar lagi untuk masuk ke 3D Art Gallery. Tapi sendal dan sepatu harus dititipkan. Ada banyak lukisan yang terlihat ‘hidup’ di dalam, kami pun berfoto di beberapa spot.

Salah satu spot foto di 3D Art Gallery

Tiba di Cenang Mall, tanpa berpikir 2 kali, Om Ubad langsung ngajak makan di The Manhattan Fish Market dalam rangka birthday lunch, and sooo happy 29th birthday uncle! Semoga rizkinya makin lancar, tambah soleh, dan sukses dalam hubungan asmaranya tahun ini. Amiin *BIGGREEN* Selepas makan siang, saya mengusullan agar istirahat ke homestay dulu. Tiduran, mandi, ambil power bank suami yang ketinggalan, baru sore-nya ke pantai hunting sunset.

Pantai Cenang – Langkawiย 

Ada alasan kenapa pulau ini dinamakan Langkawi dengan simbol burung elang, ternyata memang ada beberapa burung elang yang terbang di sekitaran pantai dengan pasir putih lembut ini.

Suami udah kepengen minum air kelapa di pinggir pantai, eh nggak ada, jadinya beli milo dan air mineral aja. Sementara suami saya memesan minuman, Aisya melepas sendal dan berlari ke arah pantai. Saya sempat panik lalu mengejar Aisya. Terakhir kali main ke Ocean Park, Aisya hanya berani kecipak kecipuk di pinggir dan takut sama ombak. But this time..

I was beyond grateful dan surprised, Aisya langsung ambil posisi ternyaman di pinggir pantai dan menikmati semilir angin sore serta ombak yang datang bergulung-gulung menerpa tubuh mungilnya. Aisya bahkan berjalan mendekati air hingga setengah tubuhnya terendam air. Nggak trauma saat kelelep dan air pantai-nya keminum sedikit, Aisya hanya tertawa sambil bilang, “Airnya asin, Mami. Aku mau air pantai yang rasanya manis, Mami”.

Hahahaa.. Ya Allaaah polosnya anak-anak.. Alhamdulillaah Mami seneeeng banget lihat Aisya senang.

Karena ngga bawa alat main pasir, sepatu ayah ditimbun deh sama pasir

Sore itu Aisya, Mami, dan Ayah semuanya main air, main pasir, kejar-kejaran, mengayunkan Aisya satu-dua-tiga ke udara dan menyambut ombak sambil berdiri di pinggir pantai. Subhanallah walhamdulillah Allohuakbar. Thank you for giving us this happiness Ya Allah. Thank you hubby, to take us here..

Sebetulnya ada banyak pulau yang bisa dijelajahi di Langkawi, ada wisata mangrove, geoforest dan lain-lain tapi berhubung besoknya kami akan melanjutkan jalan-jalan di Kuala Lumpur, jadi di Langkawi hanya sehari semalam saja.

Nah besoknya kami melanjutkan perjalanan dengan ferry ke Perlis dan harusnya langsung nyambung naik bis ke Kuala Lumpur. Harusnyaa yaa.. WHAT HAPPEN? Ke-SERU-an apalagi yang kami alami selama di perjalanan? Banyak banget deh, find out hereย Trip SERU Langkawi – Kuala Lumpur

Thanks for reading and visiting my blog, semoga pengalaman seru ini bermanfaat yaa ๐Ÿ™‚

Hilangkan Pemicunya

Salah satu cara menjadi Ibu bahagia alias always stay positive and happy di depan anak adalah dengan menjauhi/menghindari/menghilangkan pemicu dari hal-hal yang membuat kebahagiaan kita tergoyahkan.

If its come from social media then let’s follow people who give positive influence to us and unfollow people who throwing ‘crap’ to our face. 

Hidup anak kita terlalu berharga untuk jadi sarana pelampiasan kekecewaan, kegalauan, ke-amburadul-an emaknya karena tersulut emosi-emosi yang datangnya dari luar diri ibu.

Betul banget, kata-kata mbak Jayaning Hartami yang bilang, “It takes a village to support a Mother“. Buat jadi ibu yang baik itu, kita perlu banyaaaak sekali dukungan, bacaan-bacaan bermutu yang konstruktif, keluarga yang stand by us, teman-teman yang mendorong kita jadi Ibu yang lebih baik lagi. But not all people understand this..

Sudah jelas mood seorang Ibu dipengaruhi oleh perasaan-perasaan terdalamnya, eh ada aja orang usil yang shake the bottle.

Biarlah..

Hidayah itu hak Allah, Allah yang memilih hamba yang mana  untuk dikasih hidayah. Allah sang pemilik hati, Allah yang membolak-balikan hati manusia. Bukan kita..

Semoga orang-orang dengan mulut-mulut usil diberi hidayah oleh Allah agar lebih lembut hati & lisannya. Amiin

Splash! Di Ocean Park BSD & AEON Mall

Ibu-ibu tinggal di Jakarta/Tangerang Selatan dan butuuuh banget express gateway sama anak-anak? 
Ke Ocean Park BSD City aja, tempatnya asik banget buat main air, wahana-nya juga lengkap jadi anak dan bapak-ibunya juga bisa ikut main ๐Ÿ™‚

Ticketing

Harga tiket masuk ke OP terhitung lebih murah saat weekdays tapi kalaupun datang saat weekend, kita bisa memanfaatkan promo buy 1 get 1 untuk pembelian dengan kartu kredit BCA dan Mandiri. Berikut harga tiket masuk Ocean Park BSD ter-update :

1. Tiket Weekday Rp. 55.000/orang

2. Tiket Weekend Rp. 95.000/orang

Alhamdulillah suami saya pengguna kartu kredit Bank Mandiri dan tinggi Aisya paaas banget di 90 cm, jadi dengan membayar Rp. 95.000 kami dapat 2 tiket dan 1 free pass.

How To Get There?
Taman air ini beralamat di CBD Area, Jalan Pahlawan Seribu, Lengkong Gudang, Tangerang Selatan. No telepon (021) 5370009.

Ada beberapa alternatif transportasi yang bisa kita gunakan untuk sampai ke CBD Area ini. Kami sudah 2 kali main air di Ocean Park. Yang pertama, kami naik grabcar langsung ke Ocean Park dan sengaja menginap di Hotel Santika yang bersebelahan dengan Mall Teras Kota. Dari Ocean Park ke hotelnya tinggal jalan kaki, deket kok.

Yang kedua kami memilih naik KRL dari stasiun Pondok Ranji – Rawa Buntu. Lalu melanjutkan perjalanan dengan angkot. Jarak dari stasiun KRL ke Area CBD hanya 2 Km, banyak angkot berwarna hijau yang nge-tem di pinggir jalan, karena jaraknya lumayan dekat kami memutuskan untuk naik angkot saja. Setelah turun, kami harus menyebrang dan jalan kaki sekitar 500 meter ke kawasan wisata air di BSD City ini.

Untuk bapak/ibu yang membawa kendaraan pribadi juga bisa banget, jalanan relatif lengang saat weekend.

Wahana Anak, Keluarga & Adrenaline Junkie di Ocean Park BSD City

Di OP ini ada banyak wahana yang wajib dicoba, antara lain :
1. Kolam Arus

Hal pertama yang suami lakukan begitu masuk adalah menyewa ban dan mengajak kami ke kolam arus. Rasanya seperti arum jeram di arus yang lebih tenang, dangkal dan arusnya tidak terlalu deras. Aman yaa untuk anak, sayangnya Aisya nangis waktu keguyur air terjun yang ada di terowongan buatan, hihi.

2. Kolam Ombak

Kolam berlatar castle yang cukup luas ini mengeluarkan ombak 1 jam sekali. Ada bel penanda yang berbunyi setiap ombak akan diluncurkan. Pengunjung akan berbondong-bondong menggiring ban-nya dan menikmati ayunan ombak sambil duduk/tiduran di atas ban pelampung. 

Saya memilih bermain ombak di pinggir, Aisya senang berkejaran dengan ombak.

3. Splash Town

Splash Town adalah wahana untuk anak dengan dekorasi warna-warni, lucu-lucu, ada perosotan, air mancur, gurita, mini castle, dan ember-ember yang menumpahkan air. Aisya, saya dan suami sangat senang main disini.

4. Wahana untuk adrenaline junkie

Bagi penyuka permainan yang memicu adrenalin, bisa naik ke Slide n Fun, basically ini perosotan raksasa dengan tinggi 15 meter dan panjang 96 meter. Main perosotannya sambil duduk di atas ban ya. Suami saya naik ini, saya engga.. Takut.. Hehe

Ada lagi Racer Slide, perosotan yang lurus dan curam dengan 4 pilihan jalur berbeda warna. Permainan lain yang layak dicoba adalah Flying Fox dan Giant Swing – melompat di trampolin besar. 

Fasilitas Di Ocean Park BSD City

Sebelum masuk ke area Ocean Park, petugas akan memakaikan gelang dan memeriksa tas kita. Kalau ketahuan membawa makanan/minuman dari luar akan disita, lalu petugas akan memberikan kita nomor pengambilan bekal kita tersebut saat pulang.

But dont worry karena di kawasan Ocean Park ada banyak kedai dan pramusaji yang keliling menawarkan makanan. Di sela-sela bermain air, kami memesan nasi goreng, tempe mendoan, tahu bulat dan es teh manis untuk dimakan bersama.

Kalau kita butuh uang cash, pastikan sebelum masuk mampir dulu ke ATM yang ada di sebelah loket pembelian tiket ya. Disana ada beberapa mesin ATM.

Dan setiap kali saya ke tempat berenang/wahana air, kenyamanan toilet/tempat mandi juga penting banget. Alhamdulillah tempat bilasnya tertutup, bersih dan lumayan bagus. Dilengkapi dengan ruang ganti. Toiletnya juga bersih dan tempatnya terpisah dari tempat mandi.

Sayangnya di Ocean Park ngga ada kolam air hangat seperti di The Jungle Water Adventure Bogor, but I still prefer Ocean Park, selain lebih dekat, htm-nya affordable, fasilitasnya enak dan terutama kebersihannya terjaga ๐Ÿ™‚

Weekend gateway? Yuk kesini! Tapi kalau nggak mau ribet nyemplung ke air dan anak kita ingin main di air mancur, mending ke AEON Mall BSD City aja. 

AEON Mall BSD City

AEON Mall BSD City adalah Mall Jepang yang ada di Indonesia. Beberapa daya tarik dari AEON Mall BSD City adalah adanya food culture, air mancur mini yang akses-nya gratis dan diperuntukkan bagi anak-anak serta Sakura Light Tunnel. 
1. Food Culture

Di Food Culture, kami membeli beberapa sushi dan air mineral, lalu duduk menyantapnya bersama pengunjung lain. Suasana di food culture ini sangat ramai sehingga kita harus paboroboro menempati meja dan kursi yang terlihat kosong. Saya kebagian nyari tempat dan suami saya mencari makanan.

Ada 2 varian sushi seharga Rp. 40.000 dan Rp. 30.000 yang kami beli, dan 1 pack takoyaki seharga Rp. 25.000. Yumm itadakimasu..

2. Mini Air Mancur 

Air mancur di AEON Mall BSD City ini baru dinyalakan pada pukul 12.00 (lewat sedikit lah), setelah kira-kira setengah jam akan mati dan menyala kembali pada pukul 14.00 terus menerus hingga malam. Saat kami tiba disini beberapa anak sudah bersiap masuk ke arena air mancur, saya, Aisya dan suami bergantian menemani Aisya main air disini ๐Ÿ™‚ 

Air mancurnya ngga tinggi, keluar dari beberapa lubang dari area yang berbentuk lingkaran, diiringi musik dan lampu warna warni, bikin anak senang khaaan.

3. Sakura Light Tunnel

Ini merupakan replika Sakura Light Tunnel yang ada di Jepang, it looks good at noon, and even better at night, bikin kita berasa ada di terowongan yang bersinar! Let’s take a photo ๐Ÿ˜‰

Ok Moms, ready to spend a weekend in BSD City?  Let’s play to Ocean Park & AEON Mall ๐Ÿ™‚
 

Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Rini Inggriani, biasa saya sapa Rini adalah alumni ITB jurusan Farmasi dan Profesi Apoteker. Satu angkatan dengan saya, anak kami pun lahirnya hanya terpaut 2 hari. Umar lahir tanggal 16 Januari dan Aisya lahir tanggal 18 Januari di tahun yang sama, tahun 2014 ๐Ÿ™‚

Iseng-iseng nge-google, muncul nama panggilan “Inggi” dan “Nisrina Mumtaz” untuk Rini, waaah jangan-jangan ini nama pena beliau! Ternyata benar, Rini pernah menggunakan nama-nama ini dalam blog lawas-nya juga saat menjadi kontributor artikel.

Kalau dalam 3 buku yang sudah beliau terbitkan, nama yang digunakan tetap Rini Inggriani, S.si, Apt kok ๐Ÿ™‚ Saya harus belajar banyak nih dari Ibu muda yang tengah hamil anak kedua ini agar lebih produktif berkarya dari rumah.

Langsung saja yuk, kita simak seni-nya menulis dan menerbitkan buku sambil mengasuh anak juga aktif di organisasi ITSAR ala Mbak Inggi!

Assalamu’alaykum Rini ๐Ÿ˜Š Gimana kabar Umar, Rini, Suami dan calon adiknya Umar?

Wa’alaikumussalaam. Alhamdulillah, Ndari, baik-baik.Doakan sehat selalu ya.. ๐Ÿ˜Š

Sekarang Umar sudah 3 tahun ya? Kalau dede bayi di kandungan sudah menginjak trimester berapa?

Iya, alhamdulillah Umar udah 3 tahun. Kalau yang kedua, ini trimester 2 akhir, masuk 27 weeks, Ndari ๐Ÿ˜Š

Wah udah 6 bulan yaa, hasil USG terbaru perempuan atau laki-laki lagi nih dede-nya? ๐Ÿ˜Š

Insyaallah yang ini perempuan

Alhamdulillaaah sepasang ya. By the way, Rini juga biasa dipanggil Inggi, ya?

Iyaa Ndari, sama Nisaul sebenernya. Soalnya *Nisaul tau, di rumah, panggilan Rini sama Ayah, ya Inggi.. Sekarang kadang kalau nulis di beberapa web gitu (kontributor artikel), memang pakai nickname nya Inggi. Duluu banget, pernah punya nama pena, tapi pas masih kuliah sih, namanya Nisrina Mumtaz..๐Ÿ˜

*yang ingin tau siapa Nisaul, semoga saya bisa menghadirkan sosok beliau di Cerita Ibu Muda ya ๐Ÿ™‚

Waaah, kalau gitu aku ikutan manggil “Mba Inggi”, ya? Suka deh sama nickname-nya. Selain menjadi kontributor artikel di web, mbak Inggi juga sudah menerbitkan 3 buku ya?

Iya, Alhamdulillah sudah meluncurkan 2 buku antologi dan 1 buku solo.

Salah satu buku yang ditulis Mbak Inggi berjudul “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi”. Nah untuk buku Antologi-nya lebih ke fiksi/non-fiksi? 

Buku yang pertama adalah antologi pertama. Judulnya “Perempuan-perempuan Ganesha”. Ini buku antologi tentang 18 perempuan yang kuliah di ITB. Bercerita tentang masa-masa saat kuliah di ITB, atau pasca kampusnya. Dimana perkuliahan di ITB membawa dampak bagi kehidupannya. Penulis buku ini beda-beda angkatannya. Seneng banget bisa diajak proyek buku ini. Seperti batu loncatan yang memang sudah Allah sediakan ๐Ÿ˜Š 

Buku ini terbit di tahun 2014, bulan Februari, ga lama setelah melahirkan anak pertama yaitu Umar.. ๐Ÿ˜
Buku kedua, sekaligus buku solo perdana.. Judulnya “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi”. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) bulan Februari 2016. Buku ini bercerita tentang seluk beluk kuliah di jurusan Farmasi. Mulai dari apa yang harus dipersiapkan saat mau masuk jurusan Farmasi, ritme perkuliahan di Farmasi dan apa saja yang akan dipelajari, juga dihadapi, dan kehidupan pasca kampusnya. Oh iya, sama ada testimoni dari alumni Farmasinya. Biar lebih mengena hehe. Buku ini juga jadi sebuah rekor buat diri sendiri. Dari dulu, memang punya satu keinginan. Minimal selama hidup punya satu buku yang ditulis sendiri.. Kenapa? Karena ingin setidaknya jika wafat kelak, ada satu karya yang bisa saya tinggalkan untuk masyarakat. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Minimal bagi saya dan pembacanya ๐Ÿ˜

Buku ketiga adalah antologi kedua, judulnya “Anak-Anak Kolong Langit”. Ini bercerita tentang perjuangan saat kita menempuh pendidikan. Ada yang bercerita bagaimana perjuangan menghadapi kesulitan ekonomi, atau culture shock saat menjalankan pendidikan di luar negeri, dan lain-lain. Buku ini terbit sekitar bulan April 2016, ga lama setelah buku kedua terbit. Alhamdulillah.. menjadi penyemangat juga buat terus menulis ๐Ÿ˜Š

Baca juga : Cerita Iie Ramadan – Melahirkan – Kuliah Gratis di Swedia

Wiii keren bangeeet ๐Ÿ˜ Barakallah yaa. Oia, untuk buku solo Mbak Inggi kan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU), bagaimana dengan 2 buku Antologi-nya? Apakah diterbitkan oleh penerbit mayor/indie?

Kalau 2 buku antologinya diterbitkan sama penerbit indie, Ndari.Tapi kalau untuk ISBN, buku antologi ke-2 sudah ada ISBN nya, sedangkan yang pertama belum ada ISBN nya.

Buku antologi pertama, “Perempuan-perempuan Ganesha” diterbitkan oleh Nulis Buku. Dan untuk antologi yang kedua, “Anak-anak Kolong Langit” diterbitkan oleh Gelaran Jambu Daar El Fikr di Kediri. Yang ngurusin ke penerbit ada bagiannya, jadi saya tinggal tau jadi buku cetaknya aja..๐Ÿ˜

Dari menentukkan ide – menulis – hingga naskahnya siap diterbitkan, prosesnya gimana Mbak Inggi?

Kalau proses standarnya sih, setelah dapat ide, kita coba buat outlinenya dulu. Outline ini yang akan memandu kita dalam menyelesaikan naskah, lalu kita selesaikan naskah sesuai outlinenya. Setelah selesai, lakukan self editing. Setelah itu baru kita bisa cari penerbit yang kira-kira sesuai dengan naskah kita. Nonfiksi atau fiksi baiknya tetep ada outline, meskipun kalau outline untuk fiksi lebih fleksibel ya, tapi tetep berfungsi untuk menjaga agar cerita kita ga nge-blur kemana-mana. Itu standarnya.

Kalau pas buat naskah untuk antologi kemarin, memang saya ga pake outline karena ceritanya based on true story jadi udah kebayang saat menulisnya, dan ending-nya gimana. Cenderung pendek juga, sekitar 5-6 halaman. Beda kalau menulis novel yang jumlah halamannya bisa sampai ratusan. 

Untuk buku solo tentang farmasi, rini dapet infonya dari grup Indscript Creative. Ini salah satu agen penulis.Jadi, peluang-peluang menulis buku, bisa dapat dari sana juga selain kita kirim ke setiap penerbit ya. Jadi kemarin ada peluang dari Gramedia Pustaka Utama untuk berkontribusi dalam serial kuliah jurusan apa, dan Farmasi belum ada yang buat, jadi saya coba kirim outline-nya dan Alhamdulillah di acc. Kalau ini, sebelum dikasih ke penerbit, ada editor internalnya dulu.

Wiii keren! Tahapannya banyak banget yaa ternyata hihi. Apakah Mbak Inggi ada jadwal khusus untuk menulis dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merampungkan 1 naskah?

Ada Ndari, biasanya minimal banget 1 jam untuk menulis tiap harinya. Biasanya nulis di blog, tapi akhir-akhir ini belum nulis di blog lagi, karena ada deadline yang lain ๐Ÿ˜

Kalau waktu untuk menyelesaikan naskah relatif ya, ga ada waktu patokannya.Waktu menyelesaikan buku yang Farmasi itu, dikasih deadline untuk menyelesaikan naskah 2 minggu ๐Ÿ™ˆ

Tapi, karena nonfiksi, dan sudah ada outline nya yang fix, dan beberapa data awal sudah ada, Alhamdulillah kekejar. Itupun dengan di awal, nulis hanya bermodalkan tablet, karena saat pekan pertama deadline itu, kita lagi pergi ke luar pulau

Kalau untuk naskah antologi kemarin, bisa cepet kalau sudah ada bayangannya, 1-3 hari sudah dengan editing karena panjang tulisan juga ga banyak ya.

Nah, yang lagi belajar sekarang itu menulis novel..๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™Š Jujur, buat saya menulis fiksi itu challenging banget. Target di tahun ini, Insya Allah ingin coba menulis novel. Cuma kadang suka mentok, dan tergoda buat nulis nonfiksi lagi.

Baca juga : Meet Nunu, a Nuclear Physics Enthusiast, a Mother & Wife

Subhanallah, saya makin terkesima nih! semoga Novel perdana-nya rilis tahun ini ya, Amiin. Nah trus kalau lagi writer block, apa yang Mbak Inggi lalukan supaya semangat menulis muncul kembali?

Iyaa.. writer’s block ini sering banget hinggap… Hiks ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… Kalau lagi di posisi ini, selalu balik lagi ke azzam ingin menjadi orang yang bermanfaat dan punya sesuatu yang bisa diwariskan kelak. 

Harapan saya, tulisan yang saya buat dapat menjadi amal unggulan di hadapan Allah SWT.

Suami juga sering ngasih semangat, terus aja menulis, sampai nanti, insyaallah akan ada buah dari keistiqomahan itu… 
Pernah ikut grup menulis, ada yang bilang, membaca itu membuat kita mengenal dunia, dan menulis, membuat kita dikenal dunia. Meskipun memang tujuan menulis bukan buat dikenal ya, tapi spiritnya, untuk berbagi.

Sharing is caring… ๐Ÿ˜Šโ˜บ

Jadi setiap menulis kita harus selalu meluruskan niat ya Mbak Inggi? karena nantinya akan ada PR pemasaran buku yang kita buat. Kalau keinginan kita berkarya ya fokus disitu gitu ya.. Klo fokus kita menghasilkan uang dengan menerbitkan buku, beda lagi niatnya ya? 

Iya Ndari, yang kerasa sama saya, niat itu penting banget dan bisa jadi cara kita buat bangkit kalau lagi dilanda males, dan lain-lain. 

Kalau fokusnya menghasilkan uang dari menulis buku, ya berarti kita ada target untuk buat buku best seller, pembacanya juga semakin banyak, artinya kebermanfaatannya pun insyaallah jauh lebih banyak. Tapi di sisi lain, kalau kejarannya adalah menghasilkan uang, bisa juga kita terjebak arus, misal dengan menulis apa yang orang suka, dicari penerbit, bahkan dengan mengorbankan idealisme kita misalnya… Kalau fokus ke karya, sharing, dan terus menulis, idealisme nya akan bertahan, insyaallah.

Waaah filosofinya keren :’) Sedikit curhat, saya masih kesulitan mencari waktu untuk menulis. Ada kala-nya pas ide lagi muncul langsung dicatat di aplikasi WP di smartphone. Beberapa kali menunggu anak saya tidur di malam hari baru menulis, imbasnya saya baru tidur pukul 1 pagi. Mbak Inggi ada tips untuk saya?

Sebenernya sama kok, saya juga kadang masih kesulitan mencari waktu buat menulis yang bener-bener pas, karena di rumah fokus utamanya memang menyelesaikan peran sebagai istri dan ibu dulu ya. Apalagi dengan anak yang balita yang masih sangat butuh diperhatikan dan didengarkan.

Biasanya suka membuat to do list setiap harinya. Ga detail tapi berisi hal-hal pokok yang ditargetkan untuk diselesaikan hari itu, termasuk menulis minimal sekali. Kalaupun ga bisa karena kondisi badan yang akhir-akhir ini suka mudah lelah, ya ga dipaksain juga jadinya. Masuk ke to do list besok lagi… 

Yang Ndari lakukan, saat ada ide langsung catat di smartphone itu udah bagus. Jangan biarkan ide menghilang begitu saja, tanpa terekam ๐Ÿ˜ 

Kalau ada deadline, biasanya saya komunikasikan sama suami. Izin untuk lebih banyak pegang gadget dan gantian suamu main bareng Umar, kalau Umar belum tidur. Saya biasanya memang meminimalisir pegang gadget kalau ada suami.

Baca juga : Kamu Lulusan ITB? Ko jadi Ibu Rumah Tangga?

Nah bicara tentang peran sebagai Ibu & istri, apa sih yang membuat Mbak Inggi memilih menjadi Ibu Rumah Tangga, padahal Mbak Inggi lulusan Farmasi dan profesi Apoteker ITB?

Pada awalnya memang setelah melahirkan, baru memutuskan untuk resign karena memang ritme kerja di RS dan ada shift malam. Punya newborn, kalau kerja shift malam, siapa yang ngurus nanti? hehe. Meskipun saat itu masih tinggal bareng ortu dulu, saya dan suami sepakat untuk tidak menitipkan anak pada kakek neneknya. Kalaupun hire khadimat, bayi newborn kan malam hari masih cenderung sering bangun ya, ga jamin juga ada yang mau begadang untuk mengurus anak.. jadi dipilihlah resign.. 

Dan sampai sekarang masih memilih di rumah.. karena apa? Semakin banyak belajar, ternyata memang semakin banyak yang tidak saya ketahui. Semakin banyak belajar tentang parenting, jadi tersadarkan bahwa amanah anak ini bukan hal yang main-main. Alhamdulillah sekarang diberi kesempatan di rumah, ya disyukuri. Karena saya hanya ingin bisa menjawab kelak, saat Allah bertanya tentang bagaimana amanah anak ini saya tunaikan.Bukan berarti ibu bekerja tidak menunaikan amanah dengan baik ya. Tapi, saya mungkin bukan tipe yang sanggup sabar menghadapi anak setelah bekerja di luar seharian.

Anak dititipkan dalam kondisi fitrah. Dan semoga kelak ketika kembali pada Allah pun, tetap dalam fitrahnya, menjadi hamba yang bertaqwa dan jelas, itu bukan perkara yang mudah ya. Jadi, ini ikhtiar saya sekarang. 

Perjuangan saya saat ini ya di rumah, tentu berbeda dengan kondisi ibu-ibu yang lain ya… ๐Ÿ˜Š

Baca juga : #KaryaCeria Tips Bonding Suami – Istri

Dari semua perkembangan Umar, kapan fase yang paaaling berkesan buat Mbak Inggi?
Semua fase pertumbuhan anak pastilah berkesan ya buat seorang ibu. Anak yang tadinya kecil, bayi, belum bisa apa-apa, semakin hari semakin banyak perkembangannya. Alhamdulillah, amazing banget ya.
Yang paling berkesan kalau dulu ngerasanya pas Umar mulai belajar jalan. Jadi reminder juga buat mengingat hidup yang udah diamanahin sama Allah.Kalau sekarang sih, suka amaze kalau Umar suka ngingetin tentang Allah, hehe. Anak mah masih fitrah sekali ya…
Hal-hal so sweet yang Umar lakuin banyak banget, hehe. Tipe anak yang perhatian, cukup perasa juga. Misal, waktu awal-awal mual muntah, Umar suka bilang, “Ummi udah belum muntahnya, biar umar yang siram muntahnya..” ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Suka mijitin juga, dan sigap ngasih kebutuhan Umminya.

Wooow melting dengernya :’) pasti Umar merasa sayang sekali sama Mbak Inggi ya. Kalau sounding ke Umar tentang calon adiknya, gimana?

Sounding nya kalau umar insyaallah mau punya adik, adiknya masih di dalam perut sama kaya Umar dulu. Diajak buat ikut ke dokter, merasakan gerakan adiknya dalam perut, ngajak ngobrol, dan lain-lain. Jadi lebih sering bilang sayang ke Umar, hehe.. karena ga mau Umar ngerasa ada saingan nantinya…๐Ÿ˜…

Iyaa penting banget ya ungkapan sayang dari orang tua ke anak ini, supaya nanti setelah adiknya lahir Umar juga sayang sama adiknya ๐Ÿ™‚ Oia Umar juga sering diajak camping ya? Pernah lihat foto Umar lagi ikut camping ITSAR

Iya, Umar pernah diajak camping 2x… Dua-duanya di M-Camp ITSAR ๐Ÿ˜

Anaknya survival ya Umar, by the way ITSAR itu apa mbak Inggi?

ITSAR itu LSM yang bergerak di bidang pembinaan remaja muslim usia SMP. Saya dan suami memang turut aktif dan fokus di pembinaan organisasi Rohani Islam SMP. Masing-masing sekolah biasanya memiliki ekskul Rohis/DKM dan saat ini ada beberapa SMP di Bandung yang udah bareng di ITSAR. Biasanya kita ada pertemuan buat bahas agenda apa aja yang mau kita lakukan dan evaluasi… ๐Ÿ˜ Dulunya ITSAR ini forum aja, forum alumni-alumni yang peduli dengan pembinaan remaja. Jadi alumni beberapa SMP ini kumpul buat gerak bareng karena merasa kalau gerak sendiri akan lebih sulit dan lebih lambat untuk mencapai tujuan. Nah, alhamdulillah tahun 2015 lalu udah jadi LSM..

Jadi ITSAR itu seperti induk dari beberapa rohis SMP dan program-program rohis di breaking down dari mind map/blue print ITSAR ya?

Iya ndari… Seperti itu.. tapi setiap rohis SMP yang bareng kita, punya agenda internalnya juga di sekolahnya masing2…ITSAR juga memfasilitasi kegiatan gabungan rohis2 tsb, misal Camping ITSAR atau biasa disebut MCamp (Muslim Camp), ada LKO ITSAR, pelatihan mentor, futsal bareng, dll… Jadi adik2 kenal sama teman2 dari rohis smp lain..

Di ITSAR ini Mbak Inggi dan suami jadi pembina-nya?

Kalau suami jadi ketua ITSAR, Rini sih bendahara. Tapi kita ya merangkap-merangkap semua..๐Ÿ˜†Hehe, ya jadi pembina juga… Konseptor juga…

Baca juga : Uma Hani, Istri Dokter Yang Membangun Interdependency Dengan Suami

Menginjak usia 3 tahun Umar pasti makin pintar yaa, aktivitas apa aja nih yang biasa dilakukan di rumah? ๐Ÿ˜Š lihat di instagram @riniinggriani kayanya tematik banget ya..

Kalau di rumah kadang masih random juga sih, berusaha ngikutin lesson plan nya Sabumi. Tapi, kadang kalau lagi ga bisa ngikutin, apa yang ada aja. Umar suka pengen buat sesuatu dari buku 365 kreasi seru atau 365 kreasi kertas dan karton karya Fiona Watt. Disitu banyak banget yang bisa dibuat, jadi kalau ga ada ide, bisa ambil dari situ. Umar juga otomatis ambil buku dan bilang, mau buat apa hari ini Ummi? Atau kita searching printable yang sesuai dengan usia Umar ๐Ÿ˜

Apakah menurut Mbak Inggi, kumpulan Cerita Ibu Muda yang saya post di blog ini bisa menjadi sebuah buku? Jika ya, apa yang harus diperbaiki hingga layak terbit, termasuk ke penerbit mana sebaiknya sebagai pemula?

Iyaaa Ndari, kumpulan Cerita Ibu Muda ini bisa banget jadi buku. Karena sekarang memang tema yang lagi banyak dicari berkisar tentang wanita, parenting, ibu-ibu muda yang menginspirasi dan tema-tema sejenis.

Untuk penerbit, sebenarnya kalau mau menunggu, ke penerbit mayor lebih enak ya, karena tanpa modal. Cuma konsekuensi-nya lama di waktu menunggunya. Kalau mau yang agak cepat, bisa ke penerbit indie.

Sebenernya penerbit mayor/indie sama saja ya kalau memang tujuan kita menerbitkan buku untuk menyebarkan inspirasi dan ide kita. Banyak buku yang indie atau self publishing, tapi penjualannya juga lebih oke dari yang diterbitkan oleh penerbit mayor.

Terakhir, dimana kami bisa membeli/mendapatkan ketiga buku mba Rini? 

Buku “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi” bisa diperoleh di Gramedia, buku Perempuan-perempuan Ganesa, bisa search di nulisbuku.com, dan buku Anak-anak Kolong Langit, bisa hubungi saya aja.. ๐Ÿ˜

Oke, mbak Inggi, Alhamdulillah semua pertanyaan sudah terjawab ๐Ÿ™‚ terimakasih atas waktu dan kesediaannya berbagi ya. Sebenarnya dari obrolan kita, saya tidak hanya belajar tentang menulis dan menerbitkan buku tapi juga tentang kepedulian terhadap dunia remaja. Subhanallah, salut sama perpaduan Mbak Inggi dan suami yang sama-sama passionate sama pembinaan remaja muslim karena fase remaja juga merupakan fase penting dalam tumbuh kembang anak.

Barakallah ya, semoga karya-karya mbak Inggi menjadi amal jariyah, terwujud naskah novel-nya tahun ini dan kehamilan keduanya lancar hingga persalinan. Amiin.

Daaan, terimakasih sudah membaca, hope you all get many inspiration from here. Let’s share ๐Ÿ™‚

Baca juga Cerita Ibu Muda lainnya :

Cici, Itikaf Bareng Duo Bocil, Butuh ‘Strong Why’

“I Love Abu Dhabi”, Cerita Nana Jadi Mama Auran Plus Resep Easy Baking

Cita & Cinta Audia Kursun (Indonesia-Turki)

Confession of A #30Yo Mami

Me-Time Versi Mami Jasmine

Setiap manusia membutuhkan ruang untuk diri sendiri, baik untuk merenung, beristirahat, meraih semangat kembali, maupun mengilangkan stress, tak terkecuali seorang Ibu rumah tangga seperti saya. Sebagai Mami dari Jasmine, bisa dikatakan kalau saya nempel 7 hari 24 jam termasuk berpelukan saat tidur dengan putri saya sejak ia lahir hingga saat ini, ketika usia Jasmine menginjak 3 tahun.

Sekilas tentang saya, saya adalah aktivis kampus yang cukup aktif di organisasi, pecicilan dan suka bekerja terutama karena dengan bekerja saya memiliki penghasilan. Setelah menikah, saya mantap resign namun masih beraktivitas, yaitu mengajar di Kelompok Bermain dan menjadi pemandu acara. Salah satu hobi produktif saya adalah menjadi MC/pemandu acara di berbagai acara. Sejak kuliah saya menggeluti bidang ini, saat hamil pun saya masih mengambil beberapa job MC.

Begitu Jasmine lahir, saya bertekad mengurus dan membesarkan Jasmine sendiri, tanpa dibantu ART maupun dititipkan ke day care. Sebetulnya saya pernah mengerjakan sebuah proyek selama 2 bulan sehingga Jasmine yang kala itu berusia 8 bulan harus masuk ke day care. Saya menangis setiap pagi ketika mengantarnya ke day care, rasa bersalah bercampur tidak tega membuat saya memilih untuk serius menjadi ibu rumah tangga.

Profesi baru yang saya tekuni ini ternyata tidak semudah yang saya kira. Banyak pekerjaan rumah yang saya rasa sama pentingnya dengan kerjaan di kantor, sama-sama ada deadline, ada keteraturan juga cukup menguras tenaga dan pikiran, belum lagi perihal mengelola emosi. Seperti ucapan sahabat saya yang mengatakan, โ€œKalau tidak cerdik mengelola emosi, bisa jadi saat anak kita tantrum, alih-alih menenangkan anak, Ibunya malah ikut tantrumโ€.

Itulah mengapa, seorang Ibu Rumah Tangga pun butuh yang namanya refreshing, break sejenak dari rutinitas memasak โ€“ mengurus anak โ€“ menyapu โ€“ mengepel โ€“ mencuci piring yang ada lagi ada lagi โ€“ mengucek pakaian โ€“ menjemur โ€“ menyetrika โ€“ melap debu dan sederet pekerjaan rumah lain yang tidak ada habisnya.

Bagaimana pun, saya sangat menikmati profesi baru saya ini, sebagai seorang Ibu rumah tangga, karena saya senang bermain dengan anak saya yang lincahnya luar biasa. Atau lebih tepatnya saya sangat menikmati menjadi stay at home mom di 3 tahun pertama. Tahun keempat ini sebagian diri saya mulai merasa jenuh, ingin rasanya kembali beraktivitas di luar rumah sesekali seperti nge-MC lagi atau minta cuti sehari dari tugas rumah lalu tidur atau nonton film seharian, but this just never happen.

Saya pun mulai mencari-cari celah untuk me-time, time to enjoy being with myself alone. Kalau beberapa ibu-ibu me-time-nya ke salon, dipijit atau facial, belanja online, menulis, dan lainnya, me-time versi saya sederhana banget. Jangan tertawa yaa..

Me-time versi Mami Jasmine adalah menyetrika dan memasak! Lho kok menyetrika dan memasak? Dimana metime-nya? Sebut saja ini metime colongan karena saya menyetrika sambil menonton Asian Food Channel, salah satu stasiun TV yang menghadirkan acara masak-masak. Saya suka keduanya, menyetrika dan menyimak cooking channel serta bereksperimen di dapur.

Saya senang saat momen menyetrika tiba, biasanya malam hari sekitar pukul 20.00. Saya akan meminta Jasmine masuk ke kamar dan mendengarkan ayahnya bercerita, sekaligus mengantarkannya tidur. Lalu saya akan menggelar alas dan pakaian yang sudah dijemur. Menyemprotkan pewangi ke pakaian yang akan disetrika menenangkan suasana hati, melihat kaos-kaos Jasmine yang tadinya kusut menjadi rapi seolah menguraikan keruwetan yang sempat singgah di pikiran saya, menggosok kerutan-kerutan pada lengan dan kemeja suami hingga mulus kembali menjadi terapi tersendiri bagi saya pribadi.

Sambil menyetrika saya menyetel TV kabel, tayangan favorit saya adalah Gordon Ultimate Cooking Course dan Dinner At Tiffany. Gordon Ramsay memasak dengan cepat, tidak bertele-tele, tekniknya beragam dan masakannya terlihat mudah serta lezat sekali, memotivasi saya untuk bilang, โ€œSaya bisa menghidangkan itu!โ€.

Saya juga menyukai Tiffany karena ia mengundang teman-temannya untuk makan malam bersama. Saya menyenangi acara memasak yang melibatkan perasaan, keluarga dan persahabatan. Memasak dan mengundang keluarga serta teman-teman saya ke rumah adalah hal yang ingin saya lakukan. Selama memasak, Tiffany akan mengobrol dengan teman-temannya di dapur. Teknik memasak Tiffany berbeda dengan Gordon Ramsay yang sangat ilmiah, teknik Tiffany sederhana namun beliau sering memodifikasi masakan sederhana menjadi lebih mewah dengan menambahkan atau mengganti bahan tertentu, lebih mudah untuk saya aplikasikan di rumah.

Sejujurnya, semakin sulit teknik memasaknya, saya makin tertarik. Rasanya seperti men-transfer berbagai kerumitan hidup dalam proses memasak, seperti saat mengaduk adonan, memipihkan pie crust, dan mengulek bumbu, its releasing stress. Ketika saya berhasil menghidangkan masakan yang lezat untuk keluarga, saya merasa bahagia. Ini membuat saya semangat dan siap menjalani aktivitas lainnya.

Selamat metime dan re-charge energy ibu-ibu!

Tentang Penulis

Assalamuโ€™alaykum, perkenalkan nama saya Sundari Eko Wati. Saya adalah Mami dari Jasmine (3 tahun) dan lebih sering beraktivitas di rumah. Ketertarikan saya paa bidang menulis sudah ada sejak kecil, biasanya saya menulis di buku diary. Dan sejak memiliki blog saat kuliah, saya mulai suka menerbitkan beberapa curahan pikiran dan hati saya di sundariekowati.wordpress.com

Tahun ini saya bergabung dengan grup One Day One Post For 99 Days, disinilah saya mulai rutin menulis 2 artikel per minggu, sebelumnya tidak teratur. Terimakasih sudah membaca, doakan ya agar tulisan dengan judul โ€˜Me-Time Versi Mami Jasmineโ€™ ini bisa masuk antologi 99 Me Time Stories.

 

 

#KaryaCeria Tips Bonding Suami-Istri

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Bonding ortu-anak? Wah udah sering dengar ya. Selain membangun bonding dengan anak, merekatkan bonding dengan pasangan juga penting lho! Not only because a happy parent will raised a happy child, hubungan baik antara suami-istri juga bisa memberikan gambaran positif bagi anak-anak kita untuk berumahtangga nantinya.

Disini saya akan cerita bagaimana saya dan suami menjaga bonding atau bahasa kerennya buhul pernikahan kami. Selamat menyimak ๐Ÿ™‚

Dear S,

Our love might not be as unconditional as a parent’s love to a child, but because it isn’t, we put more effort in trying to become better each and every day instead of being complacent and ending up taking our relationship for granted. We progress. And progress is good.

– Diana Rikasari in #88LoveLife

Jumping into marriage, membuat kebahagiaan pasangan terasa penting, its not only about me again but us, dalam pernikahan juga kita harus saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangan, berbagi bersama dan menekan ego pribadi. Contoh, saya yang pas kuliah biasa mimpin di organisasi dan kepanitiaan, biasa mengkoordinir event, membagi-bagi tugas, jadi teteh yang pendapatnya hampir selalu didengar sama adik-adik angkatan, nge-sutradarain film pendek yaa nggak jauh-jauh dari ngatur-ngatur orang lah ya, setelah menikah saya butuh adaptasi untuk menempatkan diri sebagai istri yang dipimpin suami. Adaptasinya ada kali setahun-an, dan tiap tahun saya belajar untuk bisa mereduksi sifat koleris saya. Taat, pada faktanya membutuhkan ilmu dan latihan. Pun dalam skill kerumahtanggaan seperti memasak, saya masih harus belajar. Maklum aktivis dan workholic macam saya lebih senang beraktivitas di luar rumah/kos-an. Pulang kerja, sampai kos istirahat, makan tinggal beli, malam-nya menghabiskan waktu dengan menonton film favorit di laptop, ngga ada setrikaan karena baju-baju dikirim ke laundry. Nggak jarang saya lembur hingga larut malam juga dinas keluar kota selama beberapa hari, bahkan saat weekend, sehingga kosan di Jakarta hanya jadi tempat singgah.

Ketika saya memutuskan untuk menikah, resign, dan menjadi Ibu Rumah Tangga, berbagai hal yang dulu-nya saya delegasikan saat masih bekerja otomatis harus dikerjakan sendiri. Lucu-nya saya merasa aktivitas domestik ini lebih melelahkan dan menguras pikiran ketimbang saat masih bekerja kantoran. Sayangnya masih ada beberapa pihak yang memandang sebelah mata profesi stay at home mom ini. Menurut saya, ketika seorang wanita ingin mengembalikan fitrah-nya untuk menjadi Ibu dan istri seutuhnya bagi anak dan suaminya, harusnya diberi dukungan 100% lho! Lengkap dengan berbagai fasilitas untuk meningkatkan kemampuannya untuk menjadi extraordinary mom. Seperti memasang wifi di rumah agar Ibu bisa streaming online cooking channel sehingga Ibu bisa mengasah kemampuannya ber-eksperimen di dapur seperti memasak aneka sajian nusantara, western food, memanggang berbagai cake, pizza, meracik dessert-dessert lezat. Jadi Ibu bisa menghadirkan taste of restaurant yang lebih hemat, bergizi, higienis dan lebih sehat ๐Ÿ™‚ 

Menyetok buku-buku bermutu, tentang tumbuh kembang anak, resep MPASI, psikologi suami-istri, buku Agama dan buku bacaan anak daaan masih banyak lagi, sesuai dengan kebutuhan, bakat & interest masing-masing.

Sifat-sifat saya berbanding terbalik dengan suami saya yang lihai memasak, terbiasa mencuci baju sendiri, dan suka melayani. Alhamdulillah beliau mau mengajari saya memasak, membantu saya menjemur pakaian, dan turut serta mengasuh anak kami. Suami yang di tahun pertama pernikahan lebih sering melayani saya, kini lebih menempatkan diri sebagai pemimpin bagi saya. Banyak sifat kami yang switched. Saya pun berubah menjadi lebih plegmatis.

Baik saya dan suami sama-sama belum memiliki rasa suka/sayang sebelum menikah, bermodalkan istikharah dan restu orang tua, Alhamdulillah Allah memudahkan niat baik kami untuk membangun keluarga.

Kami beda universitas, beda ‘lingkaran’, saya tidak terlalu mengenalnya. Namun saya ingat 4 hal yang dianjurkan oleh Rasulullah tentang kriteria mencari jodoh, yaitu : baik agama-nya, bagus rupa-nya, dari keturunan yang sholeh dan sudah memiliki penghasilan. Keempat hal ini insya Allah ada pada diri beliau.

Kami sepakat bahwa pernikahan adalah tentang membangun CINTA. Jadi rasa cinta diantara kami perlu terus ditumbuhkan, dipupuk dan dijaga setelah menikah. This is where the adventure begin. 

Apa saja sih upaya kami dalam menghidupkan cinta dalam rangka menjaga bonding/buhul pernikahan kami? Pertama-tama kita bahas dulu pengertian Buhul Pernikahan ya ๐Ÿ™‚

Apa Sih Buhul Pernikahan Itu?
Kata ‘buhul’ diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘ikatan’, jadi buhul berarti ikatan. Dan cinta membutuhkan ikatan yang kuat.

ูˆูŽู…ูู†ู’ ุขูŠูŽุงุชูู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู‹ุง ู„ูุชูŽุณู’ูƒูู†ููˆุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ู…ูŽูˆูŽุฏูŽู‘ุฉู‹ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ุฅูู†ูŽู‘ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ุขูŠูŽุงุชู ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽุชูŽููŽูƒูŽู‘ุฑููˆู†ูŽ

โ€œDan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikirโ€ [QS. Ar-Rum 21].

Berikut saya kutip mengenai arti Buhul Cinta yang disarikan dari kajian Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah (Alm) melalui tautan Buhul Cinta – Kajian Ust. Armen Halim Naro (Alm) . Beliau memaparkan bahwa,

Buhul Cinta berarti sesuatu yang dapat mengikat dua pasang kekasih sebagaimana ia juga bermakna buhul jimat yang dapat meningkatkan ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Karena tidak ada cinta yang halal kecuali cinta di dalam pernikahan.

– Ust. Armen Halim Naro (Alm)

Dengan demikian, buhul pernikahan adalah sebuah ikatan yang menguatkan pernikahan. 

Lalu upaya apa saja yang saya dan suami lakukan untuk menjaga buhul cinta ini? Saya teruskan yaa.

Tips Bonding Suami-Istri ala Kami

Rumah tangga mana sih yang nggak pernah kesandung kerikil? Awal-awalnya sih saya suka melihat kalau pernikahan tetangga, teman-teman, orang lain sangaaat harmonis. Eh, belum tau aja, begitu sharing, terutama kalau ikutan nyimak diskusi Ibu Ceria, sepertinya kasus yang dialami pasangan pasca akad-nikah punya banyak kesamaan ya ๐Ÿ™‚

Dari mulai suami yang jadi lebih pendiam setelah tinggal bersama, serba kaget setelah tau sifat asli masing-masing, mengalami baby blues setelah melahirkan, menjalani LDR, menghadapi masukan sampai kritik pedas dari orang sekitar atas pilihan hidup yang kita buat. Dan banyaaak lagi yang dialami oleh Ibu-ibu seusia saya.

Saya cenderung kurang bisa terbuka mengenai manis-asam-asin-rame rasa-nya rumah tangga saya, biasanya saya kemukakan yang bagus dan baik saja, fokus pada kebaikan membuat hidup saya lebih positif. Kalau pun cerita tantangan yang dihadapi dari tahun ke tahun, paling ke sahabat dekat saja.

This time, I’d like to open up a little bit of myself, saya ingin berbagi mengenai cara saya dan suami menjaga buhul pernikahan kami. Keep reading yaa ๐Ÿ™‚

Simple way work best, not much but effective, they are :

1. Pray (berdo’a, berdo’a dan terus berdo’a)

Insya Allah dalam sujud saya, pada do’a-do’a yang saya panjatkan selepas sholat, saya sisipkan do’a agar rumah tangga yang saya jalani hampir 4 tahun ini menjadi lebih sakinah, mawadah, warahmah.

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik

Wahai dzat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

[HR. Tirmidzi]

Saya sering berdo’a agar baik hati saya, hati suami, hati orang tua dan anak kami dilembutkan, lembutnya hati akan membuat kita lebih menjaga lisan dan perilaku kita. 

Terjaganya lisan saat berbicara dengan pasangan menjadi penting, karena kunci sukses dalam menjalin hubungan yang selanjutnya adalah komunikasi.

2. Komunikasi 

Rasulullah saw bersabda, “Aku menjamin rumah di pinggir surga bagi orang yang menghindari perdebatan sekalipun ia benar, dan aku menjamin rumah di tengah surga bagi orang yang menghindari dusta walaupun dalam keadaan bercanda, dan aku menjamin rumah di puncak surga bagi orang yang baik akhlaknya [HR. Abu Daud].

Ada yang lucu dari gaya komunikasi saya dan suami, meski kami berdua sanguin, sama-sama suka memimpin, supel dan sering dibilang memiliki interpersonal yang baik oleh teman-teman, when it comes to our home, kami malah sering canggung, ragu untuk berbicara karena khawatirnya pasangan salah menangkap apa yang kita utarakan, jadinya kami lebih sering memendam perasaan dan saling mengalah. Ternyata ngobrol sama kekasih hati itu ngga semengalir kalau ngobrol sama sahabat yaa. Perasaan ini unik deh.. Ada bagus dan tidaknya sih pola komunikasi kami. Bagusnya, kami jarang arguing, debating. Sayangnya, artikel yang saya baca bilang kalau ‘arguing‘ dengan pasangan itu sesekali perlu, asal punya tujuan yang jelas dan ngga pake esmosi yang mengeluarkan lava yaa (saya nggak bermaksud mengompori teman-teman untuk men-debat pasangan ya) *peace

Nah tetap, pakem utama saya adalah hadist riwayat Abu Daud di atas, sebisa mungkin saya menghindari yang namanya berdebat, kalau menyampaikan pendapat, pikiran dan unek-unek juga dengan bahasa yang ahsan. Menghindari komentar-komentar yang tidak diperlukan, termasuk ngga mudah mengeluh sama suami. Bapak saya bilang, “Dalam pernikahan carilah jalan yang paling baik, bukan ngotot merasa paling benar. Mengalah untuk menang”.

Kadang saya tergelitik buat meluapkan unek-unek in one time, ini kurang baik ya! Bagusnya kita bisa ngobrolin apa-apa yang ada di pikiran dan hati kita. Tapi liat timing-nya juga, penting banget memperhatikan bahasa tubuh pasangan, kalau doi lagi kelihatan capek banget pulang kerja, jangan langsung diberondong oleh berbagai pertanyaan/pernyataan, alih-alih dapat perhatian, malah respon suami jauuuh dari yang kita harapkan. Menahan diri beberapa hari masih okey, kalau momen-nya lagi enak, santai, dan lagi ketawa-tawa baru deh saya sampaikan sambil rada heurey, begitu juga suami saya.

3. Saying, “I love you”

Mungkin beberapa orang merasa bilang, “I love you” ke suami/istri itu rada alay yaa. Getek-getek gimanaa gitu kalau suami saya nge-whatsapp trus ngetik “I love you“, ini waktu kami masih LDR, atau upload foto saya dan Aisya dengan caption, “Sampai ketemu lagi dua bidadariku”. 

Hati saya senang tapi masih gengsi membalasnya, sampai saya sadar kalau ber-sweetsweet ria sama pasangan halal itu berpahala. Mulailah saya juga sering saying, “I love you too”.

Dan sekarang sih, saat lagi menyampaikan pendapat, saya dan suami suka menyelipkan kata “Aku sayang kamu, makannya aku ngomong begini”. 

Kalimat ini membuat saya dan suami tahu kalau kita ingin pasangan kita jadi lebih baik/sadar kalau kita melakukan kesalahan dan mau memperbaiki diri/merasa diingatkan karena pasangan sayang sama kita. Menjaga perasaan pasangan agar tetap right on track lah. 

Oia! Untuk memuluskan komunikasi antara kami saya sering buka-buka buku psikologi pria dan wanita, beberapa acuan saya adalah Men Are From Mars Women Are From Venus karya John Gray, Ph.D, dari sini saya lebih tau perbedaan psikologis pria dan wanita, juga bagaimana seharusnya kita merespon/menyikapi perbedaan yang ada agar hubungan makin harmonis. Bagi saya penting sekali untuk mengenali diri dan psikologi kita sendiri sambil kita juga berusaha memahami psikologi dasar pasangan kita. 

Saya juga mempelajari tentang gaya komunikasi pria yang lugas, tegas, dan berterus terang sementara wanita menggunakan kalimat yang lebih panjang dengan prolog sebelum menyampaikan poin penting yang mau dibicarakan karena wanita cenderung merasa nggak enakan dalam Why Men Don’t Listen And Women Can’t Read Maps karya Allan dan Barbara Pease, dijelaskan juga bahwa wanita lebih sering meminta pendapat pada pasangannya untuk menguatkan keputusan yang dibuatkan, lucunya pertanyaan seperti ini malah membuat pria bingung, dalam pikiran mereka kalau sudah bulat keputusannya, mengapa perlu pendapat orang lain? Hal ini disebabkan pria lebih sering berdiskusi dengan diri sendiri dalam memutuskan sesuatu dan bukan dengan orang lain. This really open up my eyes. Di buku ini juga diceritakan kalau pria benci kritik. Ketika berbuat salah, seorang pria menganggap dirinya gagal karena tidak sanggup mengerjakan kewajibannya dengan benar, this make them even harder to say sorry. Makannya kalau suami bikin salah, let them make it up rather than asked them to say sorry ๐Ÿ˜‰

Wanita lebih sering menggunakan kata “Bisa ngga?”, sementara pria menggunakan kata “Mau ngga?”, ketika meminta tolong. Coba cek deh, betul nggak hasil penelitian ini? ๐Ÿ˜‰

Buku lainnya yang menjadi acuan saya dalam berumahtangga adalah Perkawinan Idaman karya Syaikh Mahmud Al-Mashri, buku ini bisa dibilang pedoman saya setelah Al-Qur’an tentunya. Cara Islam memandang pernikahan sangat sakral dan semua aktivitas yang dilakukan dalam pernikahan bernilai ibadah, menyapu, mengepel, menyediakan makanan yang halal bagi keluarga, memberikan tempat tinggal dan pakaian yang layak bagi istri dan anak, bahkan memasang sprei sebagai alas tidur saja berpahala di mata Allah SWT. Kehidupan rumah tangga, nampaknya akan lebih manis jika akhirat menjadi tujuan kita. Dalam buku ini, masih berhubungan dengan psikologi wanita juga, Syaikh Mahmud Al-Mashri menuliskan hadist riwayat Bukhari berikut ini,

“Berbuat baiklah pada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik”.

Dan betapa bagi wanita, kata-kata lembut yang manis dan pujian dari suami terkadang lebih berharga dari emas dan berlian (yaa kalau diberi dua-duanya lebih happy lagi yaq *winkwink ).

Satu lagi buku yang menjadi pelengkap referensi saya, yaitu Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A. Fillah dan Kompromi Dua Hati karya psikolog Adriana S. Ginanjar.

Mendekati 4 tahun, tepatnya setelah setahun tinggal serumah, fyi sebelumnya kami tinggal bersama ortu, pernah juga ngontrak sebelum lahiran dan setelah melahirkan saya sempat LDR Bandung-Jakarta dengan suami, Alhamdulillah komunikasi hati kami jauh lebih berkembang, baper-baperan mulai bisa diminimalisir, beranjak ke saling memaklumi, karena tiap hari ketemu juga selalu re-charge rasa cinta ya. Lebih memahami perbedaan gaya bahasa yang kami gunakan. Masih berusaha saling mengerti dan memberi sikap terbaik dari yang pasangan inginkan. Kalau lidah masih kelu buat menunjukkan kata-kata cinta, biasanya saya masak yang enak, suami pulang kantor bawa bingkisan atau mengekpresikan cinta dengan bahasa tubuh.

4. The power of hug & kiss

Adriana S. Ginanjar, konselor perkawinan yang berpengalaman selama 20 tahun mengatakan, “Jika komunikasi verbal lebih sering menyebabkan pertengkaran, lebih baik tingkatkan kualitas komunikasi nonverbal. Bersikaplah manis pada pasangan, lebih banyak tersenyum, dan tunjukkan sikap positif”.

As for us, its hugging and forehead kiss.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, saya sun tangan kanan suami dan suami akan mencium kening dan pipi saya. Pulang kantor kami sempatkan berpelukan. Manfaat pelukan ini banyak sekali lho, my heart feel so warm everytime we hug, not only with my husband but also my daughter. Seringnya kami pelukan bertiga ๐Ÿ™‚

Untuk manfaat berpelukan bisa lihat di gambar ini ya.

5. Spend some quality time

Momen travelling yang jadi quality time andalan kami ini pernah saya jabarkan di Do Your Kid Enjoy Travelling?

Disana saya menuliskan, “In some case, travel make us trapped in a situation where gadget cannot be our partner to โ€˜talkโ€™ anymore, mostly in a place where no wifi and no signal. And this situation giving us a chance to have an actual conversation, the one with eye contact and ear to hear”.

Suatu kali saya melihat instagram teman saya yang mem-post foto dengan caption “I wish I could be my husband handphone”, muahahaa..

Jaman sekarang ini, fenomena orang-orang lebih asik ‘ngobrol’ sama smartphone memang seriiiing ditemui. Saya sendiri berusaha nggak sering pegang hp di depan anak, because she don’t like it, hehe. Perasaan anak saya kurang lebih sama dengan saya yang merasa dicuekin saat ngajak suami ngobrol. Kok kayaknya itu android lebih seru ya? Bikin ketawa-ketawa, kadang mukanya jadi serius, trus mesem-mesem sendiri, tiba-tiba teriak goaaal! Oh ternyata lagi lihat Persib main. 

Nah momen-momen traveling ke tempat yang minim sinyal itu menteralisir addiction to gadget. That time, we could really feel real interaction ๐Ÿ™‚

Sebisa mungkin dan sesibuk apa pun, luangkan waktu untuk quality time, entah itu sekedar nitipin anak kita sama ortu/mertua/adik/baby sitter trus kita boncengan berdua ke pasar, sholat berjamaah dan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan suami yang membuat hati kita makin terpaut karena iman, matikan lampu saat anak udah tidur dan nonton film di Joox berdua, terakhir kami nonton Filosofi Kopi lhoo, so sweet kan! Pernah juga sama-sama nyimak kajian Aa Gym di youtube, bisa juga dengan liburan bareng termasuk traveling ke tempat-tempat yang bikin bonding antara suami-istri-anak makin rekat.

6. Membesarkan anak bersama

Alhamdulillah Allah SWT segera mengamanahi saya bakal anak beberapa minggu setelah menikah.

I must say, kehadiran anak mengokohkan pondasi kami. Membuat hidup kami lebih terarah dan berarti. Meredakan emosi yang sempat bergemuruh dan terkadang membuat kami malu sendiri. Aisya, gadis kecil yang mengeluarkan sisi-sisi lembut, positif, lucu, keibuan dan kebapakkan dari diri kami.

Yang tadinya lagi ngambek-ngambekan, anak tiba-tiba manggil, jadi main bareng lagi deh. Pernah saya lagi nangis lalu suami sengaja mendudukan anak di pangkuan saya, kata beliau ini cara jitu meredakan tangisan saya. Hahaa..

Pernah juga pas suami lagi bete, lalu anak kami nyeletuk “Daddy ngga bole gitu sama Mami, Daddy harus baik sama Mami”, trus suami jadi ketawa-ketawa mendengar permintaan anak saya. 

7. Memberi ruang untuk MeTime 

Sebagai mahluk sosial yang memiliki hubungan dengan Allah SWT, dengan diri sendiri, dengan orang lain. Kita butuh waktu sendiri, baik untuk merenungkan berbagai hal, reinvent ourselves, mengevaluasi keberjalanan hidup, memikirkan masa depan, re-charging spirit, me-refresh otak, releasing stress, menghibur diri sendiri, menyusun plan-plan yang mau digapai di masa depan dan banyak lagi.

Metime ini versinya beragam, ada yang dengan rawis-rawis dan nge-goreng bala-bala dan anak diasuh suami dulu, bisa dengan mengalokasikan waktu khusus untuk menyalurkan hobi, ngumpul bareng sahabat-sahabat, baca buku di perjalanan pulang kerja, mendengarkan kajian/menghadiri majelis ta’lim dan anak tidak ikut, merajut/main game saat anak tidur, nge-blog, atau seperti saya yang menyetrika sambil nonton TV tanpa diganggu siapa pun, hihi, biasanya saya setrika malam hari saat anak saya bermain di kamar dengan ayahnya, dan saya menyetrika di ruang tamu.

Nyetrika dengan tenang sambil nonton food channel. Ntah kenapa saya senaaang menyetrika baju, menyemprotkan pewangi dan menggosok lipatan-lipatan yang kusut menjadi rapi kembali. Senang aja gitu, rapi, wangi, apalagi sambil lirik-lirik TV, cari-cari inspirasi resep masak, saya suka banget lihat teknik yang berbeda, hidangan lama yang dimodifikasi, cara chef-chef-nya memotong sayur dan bahan-bahan, bikin adonan dan memasaknya. Metime ini memberi saya 2 benefit sekaligus, setrikaan beres dan dapat ide masak baru ๐Ÿ™‚

Kalau suami saya lagi nonton sport news, pertandingan badminton dan bola, gantian saya dan anak yang main di kamar, supaya Ayah bisa fokus nonton dulu. Kadang kami juga suka bertemu sahabat-sahabat kami meski hanya sebentar. 

Saya juga masih sering ke Bandung kalau suami dinas keluar kota (saat ini kami tinggal di Bintaro), jadi ada waktu sendiri-sendiri bagi saya dan suami untuk MeTime ๐Ÿ™‚

8. Mengucapkan 3 kata ajaib, yaitu maaf, tolong dan terimakasih saat melakukan kesalahan, meminta tolong dan berterimakasih saat pasangan melakukan hal yang kita sukai.

9. Do silly things together

Have u ever done silly things with your spouse? Kalau belum coba deh. Meskipun kita dan suami bukan pelawak, tapi do silly things together bakal sukses bikin kita ketawa bareng. And a laugh is the best cure.

Beberapa hal silly yang pernah kami lakukan di antara, main telfon-telfonan di telepon umum saat babymoon ke Singapura, nyanyi-nyanyi lagu India kesukaan saya sambil menyusuri pantai Kuta, atau begini tarik-tarikan topi di rumput. No special purpose just to have fun!

Kadang momen silly yang diabadikan seperti ini bikin saya komentar, “Wow kita alay banget ya!”, dan malu abis, tapi foto ini juga mengingatkan kalau saking jatuh cinta-nya sama pasangan, kita rela melakukan hal-hal silly bersama :))

Apa Tantangan Terbesar Dalam Menjaga Buhul Pernikahan?
Hmm, apa ya? Alhamdulillah 4 tahun ini belum ada kerikil yang terlalu berarti. Semoga tetap istiqomah dalam ketaatan pada Allah, sehingga hati kami senantiasa terpaut satu sama lain.

So far, tantangannya ada di perbedaan gaya bicara, pilihan kata, intonasi dan cara menyampaikan kalimat. Sebagai laki-laki yang biasa bicara apa adanya, dengan nada sesama pria yang tidak selembut nada bicara wanita ke wanita, saat suami saya meminta sesuatu, bertanya, atau memberi saran kadang bikin saya baper. Dan Allah seolah mengirimkan suami saya agar sifat saya berubah, keluar dari comfort zone. Allah SWT menyatukan dua insan dengan kepribadian yang berbeda, saya dengan tutur kata yang lebih lembut, melankolis, sedikit inferior complex, dan lebih nyaman bicara dalam bahasa inggris dipasangkan dengan suami saya yang outfront, loud, fast, dominant, daaan lebih sering bercakap-cakap dalam bahasa Sunda dengan teman-temannya.

Di awal pernikahan, suami sempat mengira saya marah ketika mengungkapkan sesuatu menggunakan English, sementara saya merasa aneh saat suami ngobrol dengan saya dalam bahasa Sunda. Kesannya beliau menganggap saya temannya, padahal saya memang teman hidupnya ya. Bodor deh!

Saya tertawa saat pertama kali tahu suami berpikir saya marah kalau ngomong pakai American-English, padahal saya sama sekali ngga marah, justru karena I could deliver a message well in this language. Dari suami juga saya banyak belajar kosakata dan pelafalan dalam bahasa Sunda yang membantu saya nyarios sama Mamah mertua dan ponakan-ponakan di Arjasari, Banjaran.

In the present time, Alhamdulillah kemampuan bahasa Inggris suami meningkat. Beliau mulai sering dan PD menggunakan bahasa Inggris saat bercengkrama bersama anak kami dan juga saya. In this case, saya juga mengajari anak saya bahasa Inggris, agar kami nyambung dan hopefully impian untuk sekolah lagi ke Europe dilancarkan oleh Allah. Amiin.

Tantangan lain adalah rasa cemburu yang mampir saat suami saya terlihat akrab dengan sahabat-sahabat perempuannya. I know they came before me, tapi bukankah Aisyah. ra saja jealous sewaktu istri Rasulullah yang lain mengirimkan makanan padahal Nabi Muhammad saw sedang berada di rumah Aisyah. ra, artinya? Cemburu itu wajar dialami wanita. 

Saya dan suami termasuk orang yang senang bergaul dengan banyak orang, kami juga ngga terlalu membeda-bedakan teman pria atau wanita. Hang out bareng yaa nggak apa-apa. Bedanya saya dan sahabat-sahabat pria saya mulai menjaga jarak setelah saya menikah, saya ingin lebih menghargai kehadiran suami saya, menghormati beliau, dan menjauhkan beliau dari rasa cemburu terhadap teman laki-laki yang sempat akrab dengan saya. Teman laki-laki saya pun seolah paham tanpa harus saya jelaskan, mereka mundur teratur. Sementara saya lihat, suami masih tetap sering berinteraksi dengan sahabat wanitanya meski tidak sedekat dulu.

Saya pernah membaca bahwa bagi pria, teman-teman itu penting. Pria selalu membutuhkan kawanan untuk membicarakan kemenangan-kemenangan mereka, dan hal-hal berbau ‘perburuan’ yang dirasa kurang pool kalau dibicarakan dengan istri. Bagi suami anak-istri adalah tanggungjawab mereka, its something serious, sehingga seorang suami membutuhkan pembicaraan yang lebih kocak dengan teman-temannya. Not all the time, just some time.


Cara Mengatasi Kerikil Dalam Pernikahan Dan Mengokohkannya

Saya akan menjabarkan upaya pengokohan tali pernikahan berdasarkan dua tantangan di atas ya.

1. Memuluskan Komunikasi Dengan Suami, Membaca Buku Agama dan Buku Psikologi

Setelah mencoba berkomunikasi dan ujungnya tidak seperti yang diharapkan, saya mulai berinteraksi dengan buku-buku psikologi. These books really help me to understand.

Dalam Islam kita mengenal urgensi ilmu sebelum amal,

ุงูŽู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู 

Ilmu dahulu sebelum berkata dan berbuat” [HR. Bukhari].

So, saya menyarankan agar pasangan suami-istri membekali diri masing-masing dengan ilmu, termasuk ilmu agama dan psikologi. Dengan membaca buku, mengetahui perbedaan yang ada, menemukan akar permasalahan, observasi pribadi tentang masa kecil pasangan, gaya bicara di keluarganya, cara suami berinteraksi dengan teman-temannya, membantu saya untuk lebih memahami pesan dan sikap suami, terutama ngga se-baper dulu sebelum tahu seni berkomunikasi dan menyikapi pasangan. Lebih baik lagi jika para orang tua membekali anak mengenai ilmu dan skill yang dibutuhkan sebelum anak-anaknya dinikahkan. Seperti pesan Asma binti Kharijah Al-Farzari pada putrinya ketika menikah, dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta,

“jadilah engkau bumi baginya, maka ia akan menjadi langit bagimu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya dia akan menjadi tiang untukmu. Dan jangalah engkau meremehkannya, karena dia akan membencimu dan janganlah engkau menjauh darinya karena dia akan melupakanmu.

Bila dia dekat denganmu, maka dekatkanlah dirimu, bila dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya dan matanya. Janganlah dia mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah dia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik”.

Pesan seorang Ibu yang sangaaat berguna bagi anak perempuannya yang baru saja memulai babak baru dalam hidupnya. 

Untuk kalimat yang saya bold di part “.. bila dia menjauhimu maka menjauhlah darinya”, menurut saya ini berhubungan dengan waktu suami masuk ‘gua’/metime. Suami masuk gua adalah istilah yang John Gray gunakan ketika suami butuh metime.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, beberapa buku yang sering saya baca adalah Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A. Fillah, Kompromi Dua Hati karya psikolog Adriana S. Ginanjar, Men Are From Mars Women Are From Venus karya John Gray, Ph.D, Perkawinan Idaman karya Syaikh Mahmud Al-Mashri, Why Men Don’t Listen And Women Can’t Read Maps karya Allan dan Barbara Pease.

2. Menepis Cemburu

Cemburu ditepis? Rada-rada mustahil ya, karena ini bumbu cinta yang suka datang tiba-tiba. Rasa cemburu ini terkikis saat saya dan suami sudah tinggal bersama, saat intensitas kebersamaan kami lebih banyak, ketika suami akhirnya meyakinkan tidak perlu ada yang saya cemburui, karena sayalah yang hidup bersama beliau, juga dengan mengetahui segala hal yang sudah beliau lakukan untuk keluarga yang sedang kami bangun ini. Waktu, tenaga, harta yang beliau tabung dan berikan untuk menggapai cita-cita kami. Beliau yang sedia memandikan putri kami, bermain, membacakan buku, menyisir rambut, main masak-masakan dengan anak kami membuat saya semakin percaya bahwa beliau sangat mencintai kami.

Saling percaya adalah satu hal yang beliau minta dari saya. 

3. Mendekatkan diri pada Allah, bergaul dengan orang-orang baik yang memberi pengaruh positif. Jika perlu, ikut seminar-seminar pernikahan.

Kalau boleh saya simpulkan, cara agar buhul pernikahan semakin kuat adalah memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT. Seperti ucapan Bunda Kaska dalam Kulwap Sama Bunda Kaska Tentang Suami Istri 

“Ingatlah bahwa ujian pernikahan itu bukan bersabar saat semuanya menyenangkan. Tapi bersabar saat keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yang semua itu akan mudah dijalani jika IMAN kita baik”.

Semua hal dalam pernikahan akan terasa mudah dijalankan saat keimanan kita dalam kondisi yang baik ๐Ÿ™‚ Berdoa, bersabar, saling mendukung, mencari metode komunikasi yang paling nyaman dengan pasangan, mengalokasikan waktu berkualitas bersama dan re-charge ruhiyah secara berkala.

Sebagai penutup, saya akan kutip pesan Bapak saya (lagi) dari Confession Of A #30Yo Mami , 

โ€œTwo people who are not meant to be together, however close they are, Allah will separate them. And two people who are meant to be together, however far they are, however high the mountain is, no matter how windy the road is, Allah will let them find a way to be unitedโ€. 

Wallahualam bishowab.

Sekian dulu sharing tips menjaga bonding suami istri ala keluarga kami. Semoga pembaca dapat mengambil manfaat dari apa yang saya tulis dan saya berdo’a agar Allah SWT menguatkan buhul pernikahan kita semua, sakinah mawadah warahmah hingga jannah. Amiin.

Confession Of A #30Yo Mami

My interest has always been singing and dancing. I began dancing since I was in elementary school, doing ballet. At a very young age I already perform at theater Baranang Siang. I guess from that moment, my heart tied up with stage.
I always love being in a stage, stared by many eyes. Either I dance, singing or MC-ing. I don’t like make up, but when it come to dance, I’ll put on the best. It was on junior high school when I change my interest from a balle dancer into a traditional dancing. I like the music, gamelan, karawitan, and exploring various kind of traditional dances that Indonesia owns. My fave that time is Tari Merak which I perfom in Landmark along with other participants and was very memorable to me cause it shows in TV.

My interest in traditional dancing has lead me to be the chief of LISES SMA 5 Bandung. LISES stand for Lingkup Seni Sunda. I do both karawitan, – since I fall for the music too – and dancing.

Then I stop.

I choose to hijrah when I’m about to graduate from Highschool. I suddenly have a will to wear hijab. Its the calling inside me and I think that it a must, after reading this ayat..

O Prophet, tell your wives and your daughters and the women of the believers to bring down over themselves [part] of their outer garments. That is more suitable that they will be known and not be abused. And ever is Allah Forgiving and Merciful 

[QS. Al-Ahzab : 59]

How about singing? I become more serious about singing by joining a vocal group, having an amateur band with my friends, singing The Cranberries and taking vocal course. Also! I participated in many singing competition during my highschool time.
This was one of my weird day when a university student came to me and asked whats my goal in life. I confidently answered, “I want to be a singer. Isn’t it obvious?”.

“No, that’s not your dream. You’ll be a great mother one day”, his reply made me jaw drop!

Not only I’m not really into kids but also, singing is my A-list that time, plus, “Who wants to be in marriage?”, that was my thought that time, cause as a teenager I still searching for freedom.

Besides singing and dancing, I also involved in Story Telling competition and once in a blue moon, modelling – not bad though, I made it to finalist.

One day on my 3rd year, I started to learn about Islam more through mentoring. But all these time I already stunned by the soft-hearted akhwat-akhwat DKM Al-Furqon SMA 3 Bandung whose mosque is at the top of our Highschool. 

I just cameback from Bali, when I decided to cover up my hair, my chest, my body with veil and long dress. I cried the moment I entered the class.. It took 17 years for me to know about this ayat, I feel so late to do this, I’m afraid I can’t be who I was, but a friend who care to me because of this deen convince me that I do the right thing.

Its never late to change..

So I started a new life, I didn’t dance anymore. I only sing in front of females in public and sometime with male friends and friends who knows I like singing and fine with it..

TRUE FRIENDS CARE ABOUT OUR AKHIRAH

Nowdays I’ve been thinking and also grateful to Allah by sending me friends who are not only kind, friendly, care and stay with me with my ‘uniqueness’, but also they always remind me to be a good person. They forgive me for the silly things I did, be with me at my lowest point and still accept me when I need their presents..

Alhamdulillah.

PUBLIC SPEAKING JOURNEY

I’ve been speaking – not writing – in english since I was at junior highschool. I took a course, I join English Competition, mostly story telling and began speaking english to my friends at highschool. At college, I assume that most people understand english, so I speak english to anyone.

My dear friend who are former announcer at Antassalam Radio Bandung contacted me, saying that she will resign from the radio and pick me to replace her seat, announcing at English News Programme on the Islamic-Dangdut-based radio located in Antapani. Wow! Its not far from my home, I could reach that place by ojek. And so I signed thw contract and dig in my broadcasting talent for a year. I really like being a radio announcer, moreover when your listener give a call and we could give them a lil chit chat. Some of them will share their worries, sadness, listening to their stories enrich me, grow my symphaty.

But then I have to focus on my Final Project, and a year is enough for me, I’m willing to expand my public speaking carrier in MC-ing.

Hosted for International Conference on Biomathematics 2007 has open up my way to be a Master of Ceremony in many other international event, include the International Retro Night by the International Students of ITB. In search for a better income, I learn to MC-ing in bahasa Indonesia and taking many other events, dare myself to try many ways of MC-ing. From a formal conference, to a talkshow and finally wedding MC ๐Ÿ™‚

At college I met specific people who are expert in photography and cinematography. Soon this become my new toys. I installed adobe premier, try making short movies, advertisement, shooting, cameraming, directing, editing that takes patience and made me loss my weight because I edited one film in 4 days. Lack of sleep and too much excited. I like directing the most, taking scenes and editing. I like to cut whats not appropriate to be shown and match the songs when the scenes fade. 

My lecture was questioning whether I am a math student or not when she checked that no mathematical software in my laptop. I realize that I have to put this aside and put more attention on my study if I want to graduate. That was my 5th year.

And again, one of my senior told me, “Sundari, you have many talents and interest. Pick one, you cannot pursue all”.

I didn’t notice. I still believe that I could do many things in a row, include blogging.

Once I’m having S.Si beside my name, and the reality asking me to earn more certain amount of money for living. I drop all of my interest. I stopped arranging radio programme at Salman Digital Radio 2.0 and no one has ever live it up again after I left, they tried but can’t hold long enough, maybe this is the reason why Salman choose to launch a TV. They made a breakthrough, film Iqro is on Cinema this year!

I worked for Kemenristek Dikti as a temporary employee. I’m lucky enough cause I still get an MC job during my time here. And for almost 2 years, I also tried to running a business with my friends. It doesnt give us a significant result. So after changing many business, I stopped (again).

At 2012, I tried to apply for Master Degree in UK. I send my IELTS certificate along with resume, letter of motivation, my transcript, and recommendation letter from my dearest lecture to some universities. I applied for Public Relation and Political Economy. I was more interested in Public Relation.

Alhamdulillah it finally meet my requirements, I get and offer letter and Letter of Acceptance from Liverpool Hope University. The next step is looking for the scholarship. It takes time.. I postponed.. 

Realizing that my age has turn to 25, I change my priority. I have to get married first then I could re-think about going abroad, to my dream land – Europe – and taking a higher education. 

I met the man who loves me to the bone at the end of the year 2012. We were friends but not so close cause we study in different university and he is 2 years younger than me. I know him from the Salman Radio where he contributed as one of the announcer the time I left it.

“Would u marry me?”, he asked on the seminar we attended. I was surprise because I didn’t really know this guy, we met couple times but just that.

His answer to my question of why he proposed me sounds light and funny, he said, ” You pretty and you were math student”.

What kind of phylosophy is that.. Haha..

He explain to me that he always would want to have a wife that graduated from Mathematics, hopping that his children will be as smart as the mother. Oh I tricked you..

Our process is very simple and having less drama. After the serious talk we made, we do istikharah and we visit both of our family to disscus about the marriage plan.

I remember this words that my dad whisper to me, “Two people who are not meant to be together, however close they are, Allah will separate them. And two people who are meant to be together, however far they are, however high the mountain is, no matter how windy the road is, Allah will let them find a way to be united”. 

Alhamdulillah Allah SWT made everything so easy, both family agreed and we get marry 5 months later. This made me believe that he is the one ๐Ÿ™‚

Now here I am, 5 years after the sacred vow, typing while my 3 years old – talkactive – energic – daughter – fall asleep. Alhamdulillah she grow up well :’)

I remember this line from Glee – a drama musical movie whose Sarah Jessica Parker featured in the season 5. She said, “This age is the best time to re-invet ourselves”.

The word RE-INVET OURSELVES catched my heart. Its like a BAM BAM BAM!

I collected the memories that I have, experience that I’ve been through, my milestone, talents, interest, dreams, conversation that I make with people who saying things that turn out to be true.

I am a mother now. Do I want to be a great mom? YES I WOULD. 

“Once a woman become a mother, she stopped being a picture and start being a frame”.

Please gimme guidance to be a better Mom everyday ya Allah..

And where do all my passion fly? Out of nowhere.. Nowdays, I did’nt dance but I could teach my Aisya one or two moves. My playlist has changed from Pop/Pop Alternative into children songs that I happily sing with my baby. The last time I hold mic to host an event is when I was on 5 months pregnancy. And the macro photography which I really fond of was just history, I didn’t hunt photos with digital camera or borrowing my friend DSLR like I used to again. And film? Oh does Viva Video counted? I play with it to make documentary videos of my sweetest girl couple times..

I devoted myself to take care of my child by myself. It comes from within. 

But then.. Then I see some people who growing up..

At times, it is very painful to see how people you’ve known before growing from zero to hero, while I seem sink from Hero to Zero. Sometime I miss that ‘stage’, the fans, be a sanguin girl who taaaaalks all the time and do whatever she wants. Watching marathon movies at night, ah! but my life now is more interesting than a movie ๐Ÿ˜€

Re-invent ourselves..

Lately I’ve been remembering about all great things I achieved before today. Could it happen again? Will I have my glory again? 

Lately I’ve been thinking, maybe its time to discover what I’m really into and focus on one passion right now..

What would that be? I’m still searching. This time, I hope I could have a longer lasting succeed.

Nothing GREAT comes EASY. It take a little patience and lots of faith. But Allah always has perfect timing.

Dear me, do not compare your beggining to someone else middle. 

โ€œBe confident. Too many days are wasted comparing ourselves to others and wishing to be something we arenโ€™t. Everybody has their own strengths and weaknesses, and it is only when you accept everything you are -and arenโ€™t- that you will truly succeedโ€ – (anonymous)

Jarak yang kita tempuh mungkin berbeda, waktu yang kita butuhkan mungkin lebih lama, keep moving forward, make a progress! Jangan menyerah, meski satu detik lagi t’lah usai. 

Note : Tulisan ini saya ikut sertakan dalam Giveaway Ruang Baca dan Tulis dengan tema Perempuan yang Menginspirasi dalam rangka memperingati International Woman’s Day. Semoga refleksi diri saya ini bisa menginspirasi para perempuan untuk bisa fokus pada salah satu impiannya dan gigih meraihnya. Juga bagi para Ibu agar bisa menemukan ‘mutiara’ dan mendukung anaknya dalam mengasah bakat/minatnya sedari kecil. Terakhir bagi para wanita se-usia saya yang mungkin mengalami ke-galau-an, post power syndrome, dan kebingungan lainnya, you are not alone Mom, bersama-sama mari kita bangun kepercayaan diri, belajar lagi, mencoba menggali passion baru. Remember, its never too late to set up a new goal in our life. Let’s re-invent ourselves ๐Ÿ™‚

Much much love.