#KaryaCeria Tips Bonding Suami-Istri

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Bonding ortu-anak? Wah udah sering dengar ya. Selain membangun bonding dengan anak, merekatkan bonding dengan pasangan juga penting lho! Not only because a happy parent will raised a happy child, hubungan baik antara suami-istri juga bisa memberikan gambaran positif bagi anak-anak kita untuk berumahtangga nantinya.

Disini saya akan cerita bagaimana saya dan suami menjaga bonding atau bahasa kerennya buhul pernikahan kami. Selamat menyimak ๐Ÿ™‚

Dear S,

Our love might not be as unconditional as a parent’s love to a child, but because it isn’t, we put more effort in trying to become better each and every day instead of being complacent and ending up taking our relationship for granted. We progress. And progress is good.

– Diana Rikasari in #88LoveLife

Jumping into marriage, membuat kebahagiaan pasangan terasa penting, its not only about me again but us, dalam pernikahan juga kita harus saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangan, berbagi bersama dan menekan ego pribadi. Contoh, saya yang pas kuliah biasa mimpin di organisasi dan kepanitiaan, biasa mengkoordinir event, membagi-bagi tugas, jadi teteh yang pendapatnya hampir selalu didengar sama adik-adik angkatan, nge-sutradarain film pendek yaa nggak jauh-jauh dari ngatur-ngatur orang lah ya, setelah menikah saya butuh adaptasi untuk menempatkan diri sebagai istri yang dipimpin suami. Adaptasinya ada kali setahun-an, dan tiap tahun saya belajar untuk bisa mereduksi sifat koleris saya. Taat, pada faktanya membutuhkan ilmu dan latihan. Pun dalam skill kerumahtanggaan seperti memasak, saya masih harus belajar. Maklum aktivis dan workholic macam saya lebih senang beraktivitas di luar rumah/kos-an. Pulang kerja, sampai kos istirahat, makan tinggal beli, malam-nya menghabiskan waktu dengan menonton film favorit di laptop, ngga ada setrikaan karena baju-baju dikirim ke laundry. Nggak jarang saya lembur hingga larut malam juga dinas keluar kota selama beberapa hari, bahkan saat weekend, sehingga kosan di Jakarta hanya jadi tempat singgah.

Ketika saya memutuskan untuk menikah, resign, dan menjadi Ibu Rumah Tangga, berbagai hal yang dulu-nya saya delegasikan saat masih bekerja otomatis harus dikerjakan sendiri. Lucu-nya saya merasa aktivitas domestik ini lebih melelahkan dan menguras pikiran ketimbang saat masih bekerja kantoran. Sayangnya masih ada beberapa pihak yang memandang sebelah mata profesi stay at home mom ini. Menurut saya, ketika seorang wanita ingin mengembalikan fitrah-nya untuk menjadi Ibu dan istri seutuhnya bagi anak dan suaminya, harusnya diberi dukungan 100% lho! Lengkap dengan berbagai fasilitas untuk meningkatkan kemampuannya untuk menjadi extraordinary mom. Seperti memasang wifi di rumah agar Ibu bisa streaming online cooking channel sehingga Ibu bisa mengasah kemampuannya ber-eksperimen di dapur seperti memasak aneka sajian nusantara, western food, memanggang berbagai cake, pizza, meracik dessert-dessert lezat. Jadi Ibu bisa menghadirkan taste of restaurant yang lebih hemat, bergizi, higienis dan lebih sehat ๐Ÿ™‚ 

Menyetok buku-buku bermutu, tentang tumbuh kembang anak, resep MPASI, psikologi suami-istri, buku Agama dan buku bacaan anak daaan masih banyak lagi, sesuai dengan kebutuhan, bakat & interest masing-masing.

Sifat-sifat saya berbanding terbalik dengan suami saya yang lihai memasak, terbiasa mencuci baju sendiri, dan suka melayani. Alhamdulillah beliau mau mengajari saya memasak, membantu saya menjemur pakaian, dan turut serta mengasuh anak kami. Suami yang di tahun pertama pernikahan lebih sering melayani saya, kini lebih menempatkan diri sebagai pemimpin bagi saya. Banyak sifat kami yang switched. Saya pun berubah menjadi lebih plegmatis.

Baik saya dan suami sama-sama belum memiliki rasa suka/sayang sebelum menikah, bermodalkan istikharah dan restu orang tua, Alhamdulillah Allah memudahkan niat baik kami untuk membangun keluarga.

Kami beda universitas, beda ‘lingkaran’, saya tidak terlalu mengenalnya. Namun saya ingat 4 hal yang dianjurkan oleh Rasulullah tentang kriteria mencari jodoh, yaitu : baik agama-nya, bagus rupa-nya, dari keturunan yang sholeh dan sudah memiliki penghasilan. Keempat hal ini insya Allah ada pada diri beliau.

Kami sepakat bahwa pernikahan adalah tentang membangun CINTA. Jadi rasa cinta diantara kami perlu terus ditumbuhkan, dipupuk dan dijaga setelah menikah. This is where the adventure begin. 

Apa saja sih upaya kami dalam menghidupkan cinta dalam rangka menjaga bonding/buhul pernikahan kami? Pertama-tama kita bahas dulu pengertian Buhul Pernikahan ya ๐Ÿ™‚

Apa Sih Buhul Pernikahan Itu?
Kata ‘buhul’ diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘ikatan’, jadi buhul berarti ikatan. Dan cinta membutuhkan ikatan yang kuat.

ูˆูŽู…ูู†ู’ ุขูŠูŽุงุชูู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู‹ุง ู„ูุชูŽุณู’ูƒูู†ููˆุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ู…ูŽูˆูŽุฏูŽู‘ุฉู‹ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ุฅูู†ูŽู‘ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ุขูŠูŽุงุชู ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽุชูŽููŽูƒูŽู‘ุฑููˆู†ูŽ

โ€œDan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikirโ€ [QS. Ar-Rum 21].

Berikut saya kutip mengenai arti Buhul Cinta yang disarikan dari kajian Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah (Alm) melalui tautan Buhul Cinta – Kajian Ust. Armen Halim Naro (Alm) . Beliau memaparkan bahwa,

Buhul Cinta berarti sesuatu yang dapat mengikat dua pasang kekasih sebagaimana ia juga bermakna buhul jimat yang dapat meningkatkan ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Karena tidak ada cinta yang halal kecuali cinta di dalam pernikahan.

– Ust. Armen Halim Naro (Alm)

Dengan demikian, buhul pernikahan adalah sebuah ikatan yang menguatkan pernikahan. 

Lalu upaya apa saja yang saya dan suami lakukan untuk menjaga buhul cinta ini? Saya teruskan yaa.

Tips Bonding Suami-Istri ala Kami

Rumah tangga mana sih yang nggak pernah kesandung kerikil? Awal-awalnya sih saya suka melihat kalau pernikahan tetangga, teman-teman, orang lain sangaaat harmonis. Eh, belum tau aja, begitu sharing, terutama kalau ikutan nyimak diskusi Ibu Ceria, sepertinya kasus yang dialami pasangan pasca akad-nikah punya banyak kesamaan ya ๐Ÿ™‚

Dari mulai suami yang jadi lebih pendiam setelah tinggal bersama, serba kaget setelah tau sifat asli masing-masing, mengalami baby blues setelah melahirkan, menjalani LDR, menghadapi masukan sampai kritik pedas dari orang sekitar atas pilihan hidup yang kita buat. Dan banyaaak lagi yang dialami oleh Ibu-ibu seusia saya.

Saya cenderung kurang bisa terbuka mengenai manis-asam-asin-rame rasa-nya rumah tangga saya, biasanya saya kemukakan yang bagus dan baik saja, fokus pada kebaikan membuat hidup saya lebih positif. Kalau pun cerita tantangan yang dihadapi dari tahun ke tahun, paling ke sahabat dekat saja.

This time, I’d like to open up a little bit of myself, saya ingin berbagi mengenai cara saya dan suami menjaga buhul pernikahan kami. Keep reading yaa ๐Ÿ™‚

Simple way work best, not much but effective, they are :

1. Pray (berdo’a, berdo’a dan terus berdo’a)

Insya Allah dalam sujud saya, pada do’a-do’a yang saya panjatkan selepas sholat, saya sisipkan do’a agar rumah tangga yang saya jalani hampir 4 tahun ini menjadi lebih sakinah, mawadah, warahmah.

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik

Wahai dzat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

[HR. Tirmidzi]

Saya sering berdo’a agar baik hati saya, hati suami, hati orang tua dan anak kami dilembutkan, lembutnya hati akan membuat kita lebih menjaga lisan dan perilaku kita. 

Terjaganya lisan saat berbicara dengan pasangan menjadi penting, karena kunci sukses dalam menjalin hubungan yang selanjutnya adalah komunikasi.

2. Komunikasi 

Rasulullah saw bersabda, “Aku menjamin rumah di pinggir surga bagi orang yang menghindari perdebatan sekalipun ia benar, dan aku menjamin rumah di tengah surga bagi orang yang menghindari dusta walaupun dalam keadaan bercanda, dan aku menjamin rumah di puncak surga bagi orang yang baik akhlaknya [HR. Abu Daud].

Ada yang lucu dari gaya komunikasi saya dan suami, meski kami berdua sanguin, sama-sama suka memimpin, supel dan sering dibilang memiliki interpersonal yang baik oleh teman-teman, when it comes to our home, kami malah sering canggung, ragu untuk berbicara karena khawatirnya pasangan salah menangkap apa yang kita utarakan, jadinya kami lebih sering memendam perasaan dan saling mengalah. Ternyata ngobrol sama kekasih hati itu ngga semengalir kalau ngobrol sama sahabat yaa. Perasaan ini unik deh.. Ada bagus dan tidaknya sih pola komunikasi kami. Bagusnya, kami jarang arguing, debating. Sayangnya, artikel yang saya baca bilang kalau ‘arguing‘ dengan pasangan itu sesekali perlu, asal punya tujuan yang jelas dan ngga pake esmosi yang mengeluarkan lava yaa (saya nggak bermaksud mengompori teman-teman untuk men-debat pasangan ya) *peace

Nah tetap, pakem utama saya adalah hadist riwayat Abu Daud di atas, sebisa mungkin saya menghindari yang namanya berdebat, kalau menyampaikan pendapat, pikiran dan unek-unek juga dengan bahasa yang ahsan. Menghindari komentar-komentar yang tidak diperlukan, termasuk ngga mudah mengeluh sama suami. Bapak saya bilang, “Dalam pernikahan carilah jalan yang paling baik, bukan ngotot merasa paling benar. Mengalah untuk menang”.

Kadang saya tergelitik buat meluapkan unek-unek in one time, ini kurang baik ya! Bagusnya kita bisa ngobrolin apa-apa yang ada di pikiran dan hati kita. Tapi liat timing-nya juga, penting banget memperhatikan bahasa tubuh pasangan, kalau doi lagi kelihatan capek banget pulang kerja, jangan langsung diberondong oleh berbagai pertanyaan/pernyataan, alih-alih dapat perhatian, malah respon suami jauuuh dari yang kita harapkan. Menahan diri beberapa hari masih okey, kalau momen-nya lagi enak, santai, dan lagi ketawa-tawa baru deh saya sampaikan sambil rada heurey, begitu juga suami saya.

3. Saying, “I love you”

Mungkin beberapa orang merasa bilang, “I love you” ke suami/istri itu rada alay yaa. Getek-getek gimanaa gitu kalau suami saya nge-whatsapp trus ngetik “I love you“, ini waktu kami masih LDR, atau upload foto saya dan Aisya dengan caption, “Sampai ketemu lagi dua bidadariku”. 

Hati saya senang tapi masih gengsi membalasnya, sampai saya sadar kalau ber-sweetsweet ria sama pasangan halal itu berpahala. Mulailah saya juga sering saying, “I love you too”.

Dan sekarang sih, saat lagi menyampaikan pendapat, saya dan suami suka menyelipkan kata “Aku sayang kamu, makannya aku ngomong begini”. 

Kalimat ini membuat saya dan suami tahu kalau kita ingin pasangan kita jadi lebih baik/sadar kalau kita melakukan kesalahan dan mau memperbaiki diri/merasa diingatkan karena pasangan sayang sama kita. Menjaga perasaan pasangan agar tetap right on track lah. 

Oia! Untuk memuluskan komunikasi antara kami saya sering buka-buka buku psikologi pria dan wanita, beberapa acuan saya adalah Men Are From Mars Women Are From Venus karya John Gray, Ph.D, dari sini saya lebih tau perbedaan psikologis pria dan wanita, juga bagaimana seharusnya kita merespon/menyikapi perbedaan yang ada agar hubungan makin harmonis. Bagi saya penting sekali untuk mengenali diri dan psikologi kita sendiri sambil kita juga berusaha memahami psikologi dasar pasangan kita. 

Saya juga mempelajari tentang gaya komunikasi pria yang lugas, tegas, dan berterus terang sementara wanita menggunakan kalimat yang lebih panjang dengan prolog sebelum menyampaikan poin penting yang mau dibicarakan karena wanita cenderung merasa nggak enakan dalam Why Men Don’t Listen And Women Can’t Read Maps karya Allan dan Barbara Pease, dijelaskan juga bahwa wanita lebih sering meminta pendapat pada pasangannya untuk menguatkan keputusan yang dibuatkan, lucunya pertanyaan seperti ini malah membuat pria bingung, dalam pikiran mereka kalau sudah bulat keputusannya, mengapa perlu pendapat orang lain? Hal ini disebabkan pria lebih sering berdiskusi dengan diri sendiri dalam memutuskan sesuatu dan bukan dengan orang lain. This really open up my eyes. Di buku ini juga diceritakan kalau pria benci kritik. Ketika berbuat salah, seorang pria menganggap dirinya gagal karena tidak sanggup mengerjakan kewajibannya dengan benar, this make them even harder to say sorry. Makannya kalau suami bikin salah, let them make it up rather than asked them to say sorry ๐Ÿ˜‰

Wanita lebih sering menggunakan kata “Bisa ngga?”, sementara pria menggunakan kata “Mau ngga?”, ketika meminta tolong. Coba cek deh, betul nggak hasil penelitian ini? ๐Ÿ˜‰

Buku lainnya yang menjadi acuan saya dalam berumahtangga adalah Perkawinan Idaman karya Syaikh Mahmud Al-Mashri, buku ini bisa dibilang pedoman saya setelah Al-Qur’an tentunya. Cara Islam memandang pernikahan sangat sakral dan semua aktivitas yang dilakukan dalam pernikahan bernilai ibadah, menyapu, mengepel, menyediakan makanan yang halal bagi keluarga, memberikan tempat tinggal dan pakaian yang layak bagi istri dan anak, bahkan memasang sprei sebagai alas tidur saja berpahala di mata Allah SWT. Kehidupan rumah tangga, nampaknya akan lebih manis jika akhirat menjadi tujuan kita. Dalam buku ini, masih berhubungan dengan psikologi wanita juga, Syaikh Mahmud Al-Mashri menuliskan hadist riwayat Bukhari berikut ini,

“Berbuat baiklah pada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik”.

Dan betapa bagi wanita, kata-kata lembut yang manis dan pujian dari suami terkadang lebih berharga dari emas dan berlian (yaa kalau diberi dua-duanya lebih happy lagi yaq *winkwink ).

Satu lagi buku yang menjadi pelengkap referensi saya, yaitu Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A. Fillah dan Kompromi Dua Hati karya psikolog Adriana S. Ginanjar.

Mendekati 4 tahun, tepatnya setelah setahun tinggal serumah, fyi sebelumnya kami tinggal bersama ortu, pernah juga ngontrak sebelum lahiran dan setelah melahirkan saya sempat LDR Bandung-Jakarta dengan suami, Alhamdulillah komunikasi hati kami jauh lebih berkembang, baper-baperan mulai bisa diminimalisir, beranjak ke saling memaklumi, karena tiap hari ketemu juga selalu re-charge rasa cinta ya. Lebih memahami perbedaan gaya bahasa yang kami gunakan. Masih berusaha saling mengerti dan memberi sikap terbaik dari yang pasangan inginkan. Kalau lidah masih kelu buat menunjukkan kata-kata cinta, biasanya saya masak yang enak, suami pulang kantor bawa bingkisan atau mengekpresikan cinta dengan bahasa tubuh.

4. The power of hug & kiss

Adriana S. Ginanjar, konselor perkawinan yang berpengalaman selama 20 tahun mengatakan, “Jika komunikasi verbal lebih sering menyebabkan pertengkaran, lebih baik tingkatkan kualitas komunikasi nonverbal. Bersikaplah manis pada pasangan, lebih banyak tersenyum, dan tunjukkan sikap positif”.

As for us, its hugging and forehead kiss.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, saya sun tangan kanan suami dan suami akan mencium kening dan pipi saya. Pulang kantor kami sempatkan berpelukan. Manfaat pelukan ini banyak sekali lho, my heart feel so warm everytime we hug, not only with my husband but also my daughter. Seringnya kami pelukan bertiga ๐Ÿ™‚

Untuk manfaat berpelukan bisa lihat di gambar ini ya.

Gambar diambil dari https://steptohealth.com/power-of-hugs/

5. Spend some quality time

Momen travelling yang jadi quality time andalan kami ini pernah saya jabarkan di Do Your Kid Enjoy Travelling?

Disana saya menuliskan, “In some case, travel make us trapped in a situation where gadget cannot be our partner to โ€˜talkโ€™ anymore, mostly in a place where no wifi and no signal. And this situation giving us a chance to have an actual conversation, the one with eye contact and ear to hear”.

Suatu kali saya melihat instagram teman saya yang mem-post foto dengan caption “I wish I could be my husband handphone”, muahahaa..

Jaman sekarang ini, fenomena orang-orang lebih asik ‘ngobrol’ sama smartphone memang seriiiing ditemui. Saya sendiri berusaha nggak sering pegang hp di depan anak, because she don’t like it, hehe. Perasaan anak saya kurang lebih sama dengan saya yang merasa dicuekin saat ngajak suami ngobrol. Kok kayaknya itu android lebih seru ya? Bikin ketawa-ketawa, kadang mukanya jadi serius, trus mesem-mesem sendiri, tiba-tiba teriak goaaal! Oh ternyata lagi lihat Persib main. 

Nah momen-momen traveling ke tempat yang minim sinyal itu menteralisir addiction to gadget. That time, we could really feel real interaction ๐Ÿ™‚

Sebisa mungkin dan sesibuk apa pun, luangkan waktu untuk quality time, entah itu sekedar nitipin anak kita sama ortu/mertua/adik/baby sitter trus kita boncengan berdua ke pasar, sholat berjamaah dan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan suami yang membuat hati kita makin terpaut karena iman, matikan lampu saat anak udah tidur dan nonton film di Joox berdua, terakhir kami nonton Filosofi Kopi lhoo, so sweet kan! Pernah juga sama-sama nyimak kajian Aa Gym di youtube, bisa juga dengan liburan bareng termasuk traveling ke tempat-tempat yang bikin bonding antara suami-istri-anak makin rekat.

6. Membesarkan anak bersama

Alhamdulillah Allah SWT segera mengamanahi saya bakal anak beberapa minggu setelah menikah.

I must say, kehadiran anak mengokohkan pondasi kami. Membuat hidup kami lebih terarah dan berarti. Meredakan emosi yang sempat bergemuruh dan terkadang membuat kami malu sendiri. Aisya, gadis kecil yang mengeluarkan sisi-sisi lembut, positif, lucu, keibuan dan kebapakkan dari diri kami.

Yang tadinya lagi ngambek-ngambekan, anak tiba-tiba manggil, jadi main bareng lagi deh. Pernah saya lagi nangis lalu suami sengaja mendudukan anak di pangkuan saya, kata beliau ini cara jitu meredakan tangisan saya. Hahaa..

Pernah juga pas suami lagi bete, lalu anak kami nyeletuk “Daddy ngga bole gitu sama Mami, Daddy harus baik sama Mami”, trus suami jadi ketawa-ketawa mendengar permintaan anak saya. 

7. Memberi ruang untuk MeTime 

Sebagai mahluk sosial yang memiliki hubungan dengan Allah SWT, dengan diri sendiri, dengan orang lain. Kita butuh waktu sendiri, baik untuk merenungkan berbagai hal, reinvent ourselves, mengevaluasi keberjalanan hidup, memikirkan masa depan, re-charging spirit, me-refresh otak, releasing stress, menghibur diri sendiri, menyusun plan-plan yang mau digapai di masa depan dan banyak lagi.

Metime ini versinya beragam, ada yang dengan rawis-rawis dan nge-goreng bala-bala dan anak diasuh suami dulu, bisa dengan mengalokasikan waktu khusus untuk menyalurkan hobi, ngumpul bareng sahabat-sahabat, baca buku di perjalanan pulang kerja, mendengarkan kajian/menghadiri majelis ta’lim dan anak tidak ikut, merajut/main game saat anak tidur, nge-blog, atau seperti saya yang menyetrika sambil nonton TV tanpa diganggu siapa pun, hihi, biasanya saya setrika malam hari saat anak saya bermain di kamar dengan ayahnya, dan saya menyetrika di ruang tamu.

Nyetrika dengan tenang sambil nonton food channel. Ntah kenapa saya senaaang menyetrika baju, menyemprotkan pewangi dan menggosok lipatan-lipatan yang kusut menjadi rapi kembali. Senang aja gitu, rapi, wangi, apalagi sambil lirik-lirik TV, cari-cari inspirasi resep masak, saya suka banget lihat teknik yang berbeda, hidangan lama yang dimodifikasi, cara chef-chef-nya memotong sayur dan bahan-bahan, bikin adonan dan memasaknya. Metime ini memberi saya 2 benefit sekaligus, setrikaan beres dan dapat ide masak baru ๐Ÿ™‚

Kalau suami saya lagi nonton sport news, pertandingan badminton dan bola, gantian saya dan anak yang main di kamar, supaya Ayah bisa fokus nonton dulu. Kadang kami juga suka bertemu sahabat-sahabat kami meski hanya sebentar. 

Saya juga masih sering ke Bandung kalau suami dinas keluar kota (saat ini kami tinggal di Bintaro), jadi ada waktu sendiri-sendiri bagi saya dan suami untuk MeTime ๐Ÿ™‚

8. Mengucapkan 3 kata ajaib, yaitu maaf, tolong dan terimakasih saat melakukan kesalahan, meminta tolong dan berterimakasih saat pasangan melakukan hal yang kita sukai.

9. Do silly things together

Have u ever done silly things with your spouse? Kalau belum coba deh. Meskipun kita dan suami bukan pelawak, tapi do silly things together bakal sukses bikin kita ketawa bareng. And a laugh is the best cure.

Beberapa hal silly yang pernah kami lakukan di antara, main telfon-telfonan di telepon umum saat babymoon ke Singapura, nyanyi-nyanyi lagu India kesukaan saya sambil menyusuri pantai Kuta, atau begini tarik-tarikan topi di rumput. No special purpose just to have fun!

Kadang momen silly yang diabadikan seperti ini bikin saya komentar, “Wow kita alay banget ya!”, dan malu abis, tapi foto ini juga mengingatkan kalau saking jatuh cinta-nya sama pasangan, kita rela melakukan hal-hal silly bersama :))

Apa Tantangan Terbesar Dalam Menjaga Buhul Pernikahan?
Hmm, apa ya? Alhamdulillah 4 tahun ini belum ada kerikil yang terlalu berarti. Semoga tetap istiqomah dalam ketaatan pada Allah, sehingga hati kami senantiasa terpaut satu sama lain.

So far, tantangannya ada di perbedaan gaya bicara, pilihan kata, intonasi dan cara menyampaikan kalimat. Sebagai laki-laki yang biasa bicara apa adanya, dengan nada sesama pria yang tidak selembut nada bicara wanita ke wanita, saat suami saya meminta sesuatu, bertanya, atau memberi saran kadang bikin saya baper. Dan Allah seolah mengirimkan suami saya agar sifat saya berubah, keluar dari comfort zone. Allah SWT menyatukan dua insan dengan kepribadian yang berbeda, saya dengan tutur kata yang lebih lembut, melankolis, sedikit inferior complex, dan lebih nyaman bicara dalam bahasa inggris dipasangkan dengan suami saya yang outfront, loud, fast, dominant, daaan lebih sering bercakap-cakap dalam bahasa Sunda dengan teman-temannya.

Di awal pernikahan, suami sempat mengira saya marah ketika mengungkapkan sesuatu menggunakan English, sementara saya merasa aneh saat suami ngobrol dengan saya dalam bahasa Sunda. Kesannya beliau menganggap saya temannya, padahal saya memang teman hidupnya ya. Bodor deh!

Saya tertawa saat pertama kali tahu suami berpikir saya marah kalau ngomong pakai American-English, padahal saya sama sekali ngga marah, justru karena I could deliver a message well in this language. Dari suami juga saya banyak belajar kosakata dan pelafalan dalam bahasa Sunda yang membantu saya nyarios sama Mamah mertua dan ponakan-ponakan di Arjasari, Banjaran.

In the present time, Alhamdulillah kemampuan bahasa Inggris suami meningkat. Beliau mulai sering dan PD menggunakan bahasa Inggris saat bercengkrama bersama anak kami dan juga saya. In this case, saya juga mengajari anak saya bahasa Inggris, agar kami nyambung dan hopefully impian untuk sekolah lagi ke Europe dilancarkan oleh Allah. Amiin.

Tantangan lain adalah rasa cemburu yang mampir saat suami saya terlihat akrab dengan sahabat-sahabat perempuannya. I know they came before me, tapi bukankah Aisyah. ra saja jealous sewaktu istri Rasulullah yang lain mengirimkan makanan padahal Nabi Muhammad saw sedang berada di rumah Aisyah. ra, artinya? Cemburu itu wajar dialami wanita. 

Saya dan suami termasuk orang yang senang bergaul dengan banyak orang, kami juga ngga terlalu membeda-bedakan teman pria atau wanita. Hang out bareng yaa nggak apa-apa. Bedanya saya dan sahabat-sahabat pria saya mulai menjaga jarak setelah saya menikah, saya ingin lebih menghargai kehadiran suami saya, menghormati beliau, dan menjauhkan beliau dari rasa cemburu terhadap teman laki-laki yang sempat akrab dengan saya. Teman laki-laki saya pun seolah paham tanpa harus saya jelaskan, mereka mundur teratur. Sementara saya lihat, suami masih tetap sering berinteraksi dengan sahabat wanitanya meski tidak sedekat dulu.

Saya pernah membaca bahwa bagi pria, teman-teman itu penting. Pria selalu membutuhkan kawanan untuk membicarakan kemenangan-kemenangan mereka, dan hal-hal berbau ‘perburuan’ yang dirasa kurang pool kalau dibicarakan dengan istri. Bagi suami anak-istri adalah tanggungjawab mereka, its something serious, sehingga seorang suami membutuhkan pembicaraan yang lebih kocak dengan teman-temannya. Not all the time, just some time.


Cara Mengatasi Kerikil Dalam Pernikahan Dan Mengokohkannya

Saya akan menjabarkan upaya pengokohan tali pernikahan berdasarkan dua tantangan di atas ya.

1. Memuluskan Komunikasi Dengan Suami, Membaca Buku Agama dan Buku Psikologi

Setelah mencoba berkomunikasi dan ujungnya tidak seperti yang diharapkan, saya mulai berinteraksi dengan buku-buku psikologi. These books really help me to understand.

Dalam Islam kita mengenal urgensi ilmu sebelum amal,

ุงูŽู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู 

Ilmu dahulu sebelum berkata dan berbuat” [HR. Bukhari].

So, saya menyarankan agar pasangan suami-istri membekali diri masing-masing dengan ilmu, termasuk ilmu agama dan psikologi. Dengan membaca buku, mengetahui perbedaan yang ada, menemukan akar permasalahan, observasi pribadi tentang masa kecil pasangan, gaya bicara di keluarganya, cara suami berinteraksi dengan teman-temannya, membantu saya untuk lebih memahami pesan dan sikap suami, terutama ngga se-baper dulu sebelum tahu seni berkomunikasi dan menyikapi pasangan. Lebih baik lagi jika para orang tua membekali anak mengenai ilmu dan skill yang dibutuhkan sebelum anak-anaknya dinikahkan. Seperti pesan Asma binti Kharijah Al-Farzari pada putrinya ketika menikah, dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta,

“jadilah engkau bumi baginya, maka ia akan menjadi langit bagimu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya dia akan menjadi tiang untukmu. Dan jangalah engkau meremehkannya, karena dia akan membencimu dan janganlah engkau menjauh darinya karena dia akan melupakanmu.

Bila dia dekat denganmu, maka dekatkanlah dirimu, bila dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya dan matanya. Janganlah dia mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah dia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik”.

Pesan seorang Ibu yang sangaaat berguna bagi anak perempuannya yang baru saja memulai babak baru dalam hidupnya. 

Untuk kalimat yang saya bold di part “.. bila dia menjauhimu maka menjauhlah darinya”, menurut saya ini berhubungan dengan waktu suami masuk ‘gua’/metime. Suami masuk gua adalah istilah yang John Gray gunakan ketika suami butuh metime.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, beberapa buku yang sering saya baca adalah Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A. Fillah, Kompromi Dua Hati karya psikolog Adriana S. Ginanjar, Men Are From Mars Women Are From Venus karya John Gray, Ph.D, Perkawinan Idaman karya Syaikh Mahmud Al-Mashri, Why Men Don’t Listen And Women Can’t Read Maps karya Allan dan Barbara Pease.

2. Menepis Cemburu

Cemburu ditepis? Rada-rada mustahil ya, karena ini bumbu cinta yang suka datang tiba-tiba. Rasa cemburu ini terkikis saat saya dan suami sudah tinggal bersama, saat intensitas kebersamaan kami lebih banyak, ketika suami akhirnya meyakinkan tidak perlu ada yang saya cemburui, karena sayalah yang hidup bersama beliau, juga dengan mengetahui segala hal yang sudah beliau lakukan untuk keluarga yang sedang kami bangun ini. Waktu, tenaga, harta yang beliau tabung dan berikan untuk menggapai cita-cita kami. Beliau yang sedia memandikan putri kami, bermain, membacakan buku, menyisir rambut, main masak-masakan dengan anak kami membuat saya semakin percaya bahwa beliau sangat mencintai kami.

Saling percaya adalah satu hal yang beliau minta dari saya. 

3. Mendekatkan diri pada Allah, bergaul dengan orang-orang baik yang memberi pengaruh positif. Jika perlu, ikut seminar-seminar pernikahan.

Kalau boleh saya simpulkan, cara agar buhul pernikahan semakin kuat adalah memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT. Seperti ucapan Bunda Kaska dalam Kulwap Sama Bunda Kaska Tentang Suami Istri 

“Ingatlah bahwa ujian pernikahan itu bukan bersabar saat semuanya menyenangkan. Tapi bersabar saat keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yang semua itu akan mudah dijalani jika IMAN kita baik”.

Semua hal dalam pernikahan akan terasa mudah dijalankan saat keimanan kita dalam kondisi yang baik ๐Ÿ™‚ Berdoa, bersabar, saling mendukung, mencari metode komunikasi yang paling nyaman dengan pasangan, mengalokasikan waktu berkualitas bersama dan re-charge ruhiyah secara berkala.

Sebagai penutup, saya akan kutip pesan Bapak saya (lagi) dari Confession Of A #30Yo Mami , 

โ€œTwo people who are not meant to be together, however close they are, Allah will separate them. And two people who are meant to be together, however far they are, however high the mountain is, no matter how windy the road is, Allah will let them find a way to be unitedโ€. 

Wallahualam bishowab.

Sekian dulu sharing tips menjaga bonding suami istri ala keluarga kami. Semoga pembaca dapat mengambil manfaat dari apa yang saya tulis dan saya berdo’a agar Allah SWT menguatkan buhul pernikahan kita semua, sakinah mawadah warahmah hingga jannah. Amiin.

Advertisements

21 Comments Add yours

  1. yam bunda rayyn says:

    wah ini kembali mengingatkan, terimakasih telah berbagi bunda, sakina mawaddah wa rahmah. amin

  2. Yunita Sari says:

    sweet, adem, ayem.. semoga selalu bisa menjaga bonding dengan suami dan putrinya mbak. inspiratif banget tulisannya ๐Ÿ™‚

    1. Alhamdulillah, Amiin, terimakasih sudah mampir mba ๐Ÿ™‚

  3. Yeni says:

    Wah bunda terima kasih sudah mengingatkan. Kami pun berusaha membangun bonding yang seperti bunda sarankan. Saya jug benar2 belajar memahami suami. Apalgi kami taaruf yang sebelumnya tak pernah kenal apalagi ketemu sama se x. Prosesnya cepat. Allhamdulilah sekali saya atas pernikahan saya ๐Ÿ˜ƒ

    1. Ada teman yg bilang, mau taaruf ataupun pacaran lama, proses adaptasi setelah menikah sama-sama butuh waktu Bun ๐Ÿ™‚ apalagi yang belum kenal sama sekali sebelumnya yaa mungkin butuh waktu untuk saling mengenal lebih dalam setelah menikah, setiap tahunnya hingga akhir hayat. Makasi udah berkunjung Mba Yeni, satu hal yg saya percayai, semakin dekat kita pada Sang Pemilik Hati, semakin Allah mengeratkan cinta suami-istri ๐Ÿ™‚

  4. Inspiring banget nih mba buat yang belum nikah ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

    1. Assalamu’alaykum Echa, Alhamdulillah klo bermanfaat yaa ๐Ÿ™‚ thanks for visiting my blog. Salam kenal yaa.

      1. Waalaikumsalam, salam kenal juga mba, ditunggu tulisan inspiratif lainnya, kita satu grup di KMO 3 ๐Ÿ™๐Ÿ˜Š

      2. Oiaa? ๐Ÿ™‚ mba Ecca sudah ngepublish buku yaa, ingin bikin buku jg tp masih nyari ide ttg apa hehe.

      3. Iya alhamdulillah mba, hasil duet dgn ka rihan, memang awal ingin nulis buku pasti kebingungan ide pdhal bahan byk ya mba sebenarnya ๐Ÿ˜Š

      4. Waaah hebat, barakallah ya mba ๐Ÿ™‚ ke penerbit indie/mayor?

      5. Mayor mba, insyaAllah mba juga menyusul, semangat mba ๐Ÿ’ช๐Ÿ˜‰

      6. Waah trimakasih spirit positifnya ya mba ๐Ÿ™‚ semoga menular ke saya

      7. Tulisan mba sundari beragam, wah tinggal buat mind map jd buku deh tinggal sesuai selera fiksi atau nonfiksi ๐Ÿ˜‰

      8. Wah makasih sarannya ya mba ๐Ÿ™‚ mba juga smoga bs terus berkarya yaa

      9. InsyaAllah mba ๐Ÿ™๐Ÿ˜Š

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s