Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Rini Inggriani, biasa saya sapa Rini adalah alumni ITB jurusan Farmasi dan Profesi Apoteker. Satu angkatan dengan saya, anak kami pun lahirnya hanya terpaut 2 hari. Umar lahir tanggal 16 Januari dan Aisya lahir tanggal 18 Januari di tahun yang sama, tahun 2014 πŸ™‚

Iseng-iseng nge-google, muncul nama panggilan “Inggi” dan “Nisrina Mumtaz” untuk Rini, waaah jangan-jangan ini nama pena beliau! Ternyata benar, Rini pernah menggunakan nama-nama ini dalam blog lawas-nya juga saat menjadi kontributor artikel.

Kalau dalam 3 buku yang sudah beliau terbitkan, nama yang digunakan tetap Rini Inggriani, S.si, Apt kok πŸ™‚ Saya harus belajar banyak nih dari Ibu muda yang tengah hamil anak kedua ini agar lebih produktif berkarya dari rumah.

Langsung saja yuk, kita simak seni-nya menulis dan menerbitkan buku sambil mengasuh anak juga aktif di organisasi ITSAR ala Mbak Inggi!

Assalamu’alaykum Rini 😊 Gimana kabar Umar, Rini, Suami dan calon adiknya Umar?

Wa’alaikumussalaam. Alhamdulillah, Ndari, baik-baik.Doakan sehat selalu ya.. 😊

Sekarang Umar sudah 3 tahun ya? Kalau dede bayi di kandungan sudah menginjak trimester berapa?

Iya, alhamdulillah Umar udah 3 tahun. Kalau yang kedua, ini trimester 2 akhir, masuk 27 weeks, Ndari 😊

Wah udah 6 bulan yaa, hasil USG terbaru perempuan atau laki-laki lagi nih dede-nya? 😊

Insyaallah yang ini perempuan

Alhamdulillaaah sepasang ya. By the way, Rini juga biasa dipanggil Inggi, ya?

Iyaa Ndari, sama Nisaul sebenernya. Soalnya *Nisaul tau, di rumah, panggilan Rini sama Ayah, ya Inggi.. Sekarang kadang kalau nulis di beberapa web gitu (kontributor artikel), memang pakai nickname nya Inggi. Duluu banget, pernah punya nama pena, tapi pas masih kuliah sih, namanya Nisrina Mumtaz..😁

*yang ingin tau siapa Nisaul, semoga saya bisa menghadirkan sosok beliau di Cerita Ibu Muda ya πŸ™‚

Waaah, kalau gitu aku ikutan manggil “Mba Inggi”, ya? Suka deh sama nickname-nya. Selain menjadi kontributor artikel di web, mbak Inggi juga sudah menerbitkan 3 buku ya?

Iya, Alhamdulillah sudah meluncurkan 2 buku antologi dan 1 buku solo.

Salah satu buku yang ditulis Mbak Inggi berjudul “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi”. Nah untuk buku Antologi-nya lebih ke fiksi/non-fiksi? 

Buku yang pertama adalah antologi pertama. Judulnya “Perempuan-perempuan Ganesha”. Ini buku antologi tentang 18 perempuan yang kuliah di ITB. Bercerita tentang masa-masa saat kuliah di ITB, atau pasca kampusnya. Dimana perkuliahan di ITB membawa dampak bagi kehidupannya. Penulis buku ini beda-beda angkatannya. Seneng banget bisa diajak proyek buku ini. Seperti batu loncatan yang memang sudah Allah sediakan 😊 

Buku ini terbit di tahun 2014, bulan Februari, ga lama setelah melahirkan anak pertama yaitu Umar.. 😁
Buku kedua, sekaligus buku solo perdana.. Judulnya “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi”. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) bulan Februari 2016. Buku ini bercerita tentang seluk beluk kuliah di jurusan Farmasi. Mulai dari apa yang harus dipersiapkan saat mau masuk jurusan Farmasi, ritme perkuliahan di Farmasi dan apa saja yang akan dipelajari, juga dihadapi, dan kehidupan pasca kampusnya. Oh iya, sama ada testimoni dari alumni Farmasinya. Biar lebih mengena hehe. Buku ini juga jadi sebuah rekor buat diri sendiri. Dari dulu, memang punya satu keinginan. Minimal selama hidup punya satu buku yang ditulis sendiri.. Kenapa? Karena ingin setidaknya jika wafat kelak, ada satu karya yang bisa saya tinggalkan untuk masyarakat. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Minimal bagi saya dan pembacanya 😁

Buku ketiga adalah antologi kedua, judulnya “Anak-Anak Kolong Langit”. Ini bercerita tentang perjuangan saat kita menempuh pendidikan. Ada yang bercerita bagaimana perjuangan menghadapi kesulitan ekonomi, atau culture shock saat menjalankan pendidikan di luar negeri, dan lain-lain. Buku ini terbit sekitar bulan April 2016, ga lama setelah buku kedua terbit. Alhamdulillah.. menjadi penyemangat juga buat terus menulis 😊

Baca juga : Cerita Iie Ramadan – Melahirkan – Kuliah Gratis di Swedia

Wiii keren bangeeet 😍 Barakallah yaa. Oia, untuk buku solo Mbak Inggi kan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU), bagaimana dengan 2 buku Antologi-nya? Apakah diterbitkan oleh penerbit mayor/indie?

Kalau 2 buku antologinya diterbitkan sama penerbit indie, Ndari.Tapi kalau untuk ISBN, buku antologi ke-2 sudah ada ISBN nya, sedangkan yang pertama belum ada ISBN nya.

Buku antologi pertama, “Perempuan-perempuan Ganesha” diterbitkan oleh Nulis Buku. Dan untuk antologi yang kedua, “Anak-anak Kolong Langit” diterbitkan oleh Gelaran Jambu Daar El Fikr di Kediri. Yang ngurusin ke penerbit ada bagiannya, jadi saya tinggal tau jadi buku cetaknya aja..😁

Dari menentukkan ide – menulis – hingga naskahnya siap diterbitkan, prosesnya gimana Mbak Inggi?

Kalau proses standarnya sih, setelah dapat ide, kita coba buat outlinenya dulu. Outline ini yang akan memandu kita dalam menyelesaikan naskah, lalu kita selesaikan naskah sesuai outlinenya. Setelah selesai, lakukan self editing. Setelah itu baru kita bisa cari penerbit yang kira-kira sesuai dengan naskah kita. Nonfiksi atau fiksi baiknya tetep ada outline, meskipun kalau outline untuk fiksi lebih fleksibel ya, tapi tetep berfungsi untuk menjaga agar cerita kita ga nge-blur kemana-mana. Itu standarnya.

Kalau pas buat naskah untuk antologi kemarin, memang saya ga pake outline karena ceritanya based on true story jadi udah kebayang saat menulisnya, dan ending-nya gimana. Cenderung pendek juga, sekitar 5-6 halaman. Beda kalau menulis novel yang jumlah halamannya bisa sampai ratusan. 

Untuk buku solo tentang farmasi, rini dapet infonya dari grup Indscript Creative. Ini salah satu agen penulis.Jadi, peluang-peluang menulis buku, bisa dapat dari sana juga selain kita kirim ke setiap penerbit ya. Jadi kemarin ada peluang dari Gramedia Pustaka Utama untuk berkontribusi dalam serial kuliah jurusan apa, dan Farmasi belum ada yang buat, jadi saya coba kirim outline-nya dan Alhamdulillah di acc. Kalau ini, sebelum dikasih ke penerbit, ada editor internalnya dulu.

Wiii keren! Tahapannya banyak banget yaa ternyata hihi. Apakah Mbak Inggi ada jadwal khusus untuk menulis dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merampungkan 1 naskah?

Ada Ndari, biasanya minimal banget 1 jam untuk menulis tiap harinya. Biasanya nulis di blog, tapi akhir-akhir ini belum nulis di blog lagi, karena ada deadline yang lain 😁

Kalau waktu untuk menyelesaikan naskah relatif ya, ga ada waktu patokannya.Waktu menyelesaikan buku yang Farmasi itu, dikasih deadline untuk menyelesaikan naskah 2 minggu πŸ™ˆ

Tapi, karena nonfiksi, dan sudah ada outline nya yang fix, dan beberapa data awal sudah ada, Alhamdulillah kekejar. Itupun dengan di awal, nulis hanya bermodalkan tablet, karena saat pekan pertama deadline itu, kita lagi pergi ke luar pulau

Kalau untuk naskah antologi kemarin, bisa cepet kalau sudah ada bayangannya, 1-3 hari sudah dengan editing karena panjang tulisan juga ga banyak ya.

Nah, yang lagi belajar sekarang itu menulis novel..πŸ™ˆπŸ™Š Jujur, buat saya menulis fiksi itu challenging banget. Target di tahun ini, Insya Allah ingin coba menulis novel. Cuma kadang suka mentok, dan tergoda buat nulis nonfiksi lagi.

Baca juga : Meet Nunu, a Nuclear Physics Enthusiast, a Mother & Wife

Subhanallah, saya makin terkesima nih! semoga Novel perdana-nya rilis tahun ini ya, Amiin. Nah trus kalau lagi writer block, apa yang Mbak Inggi lalukan supaya semangat menulis muncul kembali?

Iyaa.. writer’s block ini sering banget hinggap… Hiks πŸ˜…πŸ˜… Kalau lagi di posisi ini, selalu balik lagi ke azzam ingin menjadi orang yang bermanfaat dan punya sesuatu yang bisa diwariskan kelak. 

Harapan saya, tulisan yang saya buat dapat menjadi amal unggulan di hadapan Allah SWT.

Suami juga sering ngasih semangat, terus aja menulis, sampai nanti, insyaallah akan ada buah dari keistiqomahan itu… 
Pernah ikut grup menulis, ada yang bilang, membaca itu membuat kita mengenal dunia, dan menulis, membuat kita dikenal dunia. Meskipun memang tujuan menulis bukan buat dikenal ya, tapi spiritnya, untuk berbagi.

Sharing is caring… 😊☺

Jadi setiap menulis kita harus selalu meluruskan niat ya Mbak Inggi? karena nantinya akan ada PR pemasaran buku yang kita buat. Kalau keinginan kita berkarya ya fokus disitu gitu ya.. Klo fokus kita menghasilkan uang dengan menerbitkan buku, beda lagi niatnya ya? 

Iya Ndari, yang kerasa sama saya, niat itu penting banget dan bisa jadi cara kita buat bangkit kalau lagi dilanda males, dan lain-lain. 

Kalau fokusnya menghasilkan uang dari menulis buku, ya berarti kita ada target untuk buat buku best seller, pembacanya juga semakin banyak, artinya kebermanfaatannya pun insyaallah jauh lebih banyak. Tapi di sisi lain, kalau kejarannya adalah menghasilkan uang, bisa juga kita terjebak arus, misal dengan menulis apa yang orang suka, dicari penerbit, bahkan dengan mengorbankan idealisme kita misalnya… Kalau fokus ke karya, sharing, dan terus menulis, idealisme nya akan bertahan, insyaallah.

Waaah filosofinya keren :’) Sedikit curhat, saya masih kesulitan mencari waktu untuk menulis. Ada kala-nya pas ide lagi muncul langsung dicatat di aplikasi WP di smartphone. Beberapa kali menunggu anak saya tidur di malam hari baru menulis, imbasnya saya baru tidur pukul 1 pagi. Mbak Inggi ada tips untuk saya?

Sebenernya sama kok, saya juga kadang masih kesulitan mencari waktu buat menulis yang bener-bener pas, karena di rumah fokus utamanya memang menyelesaikan peran sebagai istri dan ibu dulu ya. Apalagi dengan anak yang balita yang masih sangat butuh diperhatikan dan didengarkan.

Biasanya suka membuat to do list setiap harinya. Ga detail tapi berisi hal-hal pokok yang ditargetkan untuk diselesaikan hari itu, termasuk menulis minimal sekali. Kalaupun ga bisa karena kondisi badan yang akhir-akhir ini suka mudah lelah, ya ga dipaksain juga jadinya. Masuk ke to do list besok lagi… 

Yang Ndari lakukan, saat ada ide langsung catat di smartphone itu udah bagus. Jangan biarkan ide menghilang begitu saja, tanpa terekam 😁 

Kalau ada deadline, biasanya saya komunikasikan sama suami. Izin untuk lebih banyak pegang gadget dan gantian suamu main bareng Umar, kalau Umar belum tidur. Saya biasanya memang meminimalisir pegang gadget kalau ada suami.

Baca juga : Kamu Lulusan ITB? Ko jadi Ibu Rumah Tangga?

Nah bicara tentang peran sebagai Ibu & istri, apa sih yang membuat Mbak Inggi memilih menjadi Ibu Rumah Tangga, padahal Mbak Inggi lulusan Farmasi dan profesi Apoteker ITB?

Pada awalnya memang setelah melahirkan, baru memutuskan untuk resign karena memang ritme kerja di RS dan ada shift malam. Punya newborn, kalau kerja shift malam, siapa yang ngurus nanti? hehe. Meskipun saat itu masih tinggal bareng ortu dulu, saya dan suami sepakat untuk tidak menitipkan anak pada kakek neneknya. Kalaupun hire khadimat, bayi newborn kan malam hari masih cenderung sering bangun ya, ga jamin juga ada yang mau begadang untuk mengurus anak.. jadi dipilihlah resign.. 

Dan sampai sekarang masih memilih di rumah.. karena apa? Semakin banyak belajar, ternyata memang semakin banyak yang tidak saya ketahui. Semakin banyak belajar tentang parenting, jadi tersadarkan bahwa amanah anak ini bukan hal yang main-main. Alhamdulillah sekarang diberi kesempatan di rumah, ya disyukuri. Karena saya hanya ingin bisa menjawab kelak, saat Allah bertanya tentang bagaimana amanah anak ini saya tunaikan.Bukan berarti ibu bekerja tidak menunaikan amanah dengan baik ya. Tapi, saya mungkin bukan tipe yang sanggup sabar menghadapi anak setelah bekerja di luar seharian.

Anak dititipkan dalam kondisi fitrah. Dan semoga kelak ketika kembali pada Allah pun, tetap dalam fitrahnya, menjadi hamba yang bertaqwa dan jelas, itu bukan perkara yang mudah ya. Jadi, ini ikhtiar saya sekarang. 

Perjuangan saya saat ini ya di rumah, tentu berbeda dengan kondisi ibu-ibu yang lain ya… 😊

Baca juga : #KaryaCeria Tips Bonding Suami – Istri

Dari semua perkembangan Umar, kapan fase yang paaaling berkesan buat Mbak Inggi?
Semua fase pertumbuhan anak pastilah berkesan ya buat seorang ibu. Anak yang tadinya kecil, bayi, belum bisa apa-apa, semakin hari semakin banyak perkembangannya. Alhamdulillah, amazing banget ya.
Yang paling berkesan kalau dulu ngerasanya pas Umar mulai belajar jalan. Jadi reminder juga buat mengingat hidup yang udah diamanahin sama Allah.Kalau sekarang sih, suka amaze kalau Umar suka ngingetin tentang Allah, hehe. Anak mah masih fitrah sekali ya…
Hal-hal so sweet yang Umar lakuin banyak banget, hehe. Tipe anak yang perhatian, cukup perasa juga. Misal, waktu awal-awal mual muntah, Umar suka bilang, “Ummi udah belum muntahnya, biar umar yang siram muntahnya..” 😁😁😁 Suka mijitin juga, dan sigap ngasih kebutuhan Umminya.

Wooow melting dengernya :’) pasti Umar merasa sayang sekali sama Mbak Inggi ya. Kalau sounding ke Umar tentang calon adiknya, gimana?

Sounding nya kalau umar insyaallah mau punya adik, adiknya masih di dalam perut sama kaya Umar dulu. Diajak buat ikut ke dokter, merasakan gerakan adiknya dalam perut, ngajak ngobrol, dan lain-lain. Jadi lebih sering bilang sayang ke Umar, hehe.. karena ga mau Umar ngerasa ada saingan nantinya…πŸ˜…

Iyaa penting banget ya ungkapan sayang dari orang tua ke anak ini, supaya nanti setelah adiknya lahir Umar juga sayang sama adiknya πŸ™‚ Oia Umar juga sering diajak camping ya? Pernah lihat foto Umar lagi ikut camping ITSAR

Iya, Umar pernah diajak camping 2x… Dua-duanya di M-Camp ITSAR 😁

Anaknya survival ya Umar, by the way ITSAR itu apa mbak Inggi?

ITSAR itu LSM yang bergerak di bidang pembinaan remaja muslim usia SMP. Saya dan suami memang turut aktif dan fokus di pembinaan organisasi Rohani Islam SMP. Masing-masing sekolah biasanya memiliki ekskul Rohis/DKM dan saat ini ada beberapa SMP di Bandung yang udah bareng di ITSAR. Biasanya kita ada pertemuan buat bahas agenda apa aja yang mau kita lakukan dan evaluasi… 😁 Dulunya ITSAR ini forum aja, forum alumni-alumni yang peduli dengan pembinaan remaja. Jadi alumni beberapa SMP ini kumpul buat gerak bareng karena merasa kalau gerak sendiri akan lebih sulit dan lebih lambat untuk mencapai tujuan. Nah, alhamdulillah tahun 2015 lalu udah jadi LSM..

Jadi ITSAR itu seperti induk dari beberapa rohis SMP dan program-program rohis di breaking down dari mind map/blue print ITSAR ya?

Iya ndari… Seperti itu.. tapi setiap rohis SMP yang bareng kita, punya agenda internalnya juga di sekolahnya masing2…ITSAR juga memfasilitasi kegiatan gabungan rohis2 tsb, misal Camping ITSAR atau biasa disebut MCamp (Muslim Camp), ada LKO ITSAR, pelatihan mentor, futsal bareng, dll… Jadi adik2 kenal sama teman2 dari rohis smp lain..

Di ITSAR ini Mbak Inggi dan suami jadi pembina-nya?

Kalau suami jadi ketua ITSAR, Rini sih bendahara. Tapi kita ya merangkap-merangkap semua..πŸ˜†Hehe, ya jadi pembina juga… Konseptor juga…

Baca juga : Uma Hani, Istri Dokter Yang Membangun Interdependency Dengan Suami

Menginjak usia 3 tahun Umar pasti makin pintar yaa, aktivitas apa aja nih yang biasa dilakukan di rumah? 😊 lihat di instagram @riniinggriani kayanya tematik banget ya..

Kalau di rumah kadang masih random juga sih, berusaha ngikutin lesson plan nya Sabumi. Tapi, kadang kalau lagi ga bisa ngikutin, apa yang ada aja. Umar suka pengen buat sesuatu dari buku 365 kreasi seru atau 365 kreasi kertas dan karton karya Fiona Watt. Disitu banyak banget yang bisa dibuat, jadi kalau ga ada ide, bisa ambil dari situ. Umar juga otomatis ambil buku dan bilang, mau buat apa hari ini Ummi? Atau kita searching printable yang sesuai dengan usia Umar 😁

Apakah menurut Mbak Inggi, kumpulan Cerita Ibu Muda yang saya post di blog ini bisa menjadi sebuah buku? Jika ya, apa yang harus diperbaiki hingga layak terbit, termasuk ke penerbit mana sebaiknya sebagai pemula?

Iyaaa Ndari, kumpulan Cerita Ibu Muda ini bisa banget jadi buku. Karena sekarang memang tema yang lagi banyak dicari berkisar tentang wanita, parenting, ibu-ibu muda yang menginspirasi dan tema-tema sejenis.

Untuk penerbit, sebenarnya kalau mau menunggu, ke penerbit mayor lebih enak ya, karena tanpa modal. Cuma konsekuensi-nya lama di waktu menunggunya. Kalau mau yang agak cepat, bisa ke penerbit indie.

Sebenernya penerbit mayor/indie sama saja ya kalau memang tujuan kita menerbitkan buku untuk menyebarkan inspirasi dan ide kita. Banyak buku yang indie atau self publishing, tapi penjualannya juga lebih oke dari yang diterbitkan oleh penerbit mayor.

Terakhir, dimana kami bisa membeli/mendapatkan ketiga buku mba Rini? 

Buku “Kuliah Jurusan Apa? Farmasi” bisa diperoleh di Gramedia, buku Perempuan-perempuan Ganesa, bisa search di nulisbuku.com, dan buku Anak-anak Kolong Langit, bisa hubungi saya aja.. 😁

Oke, mbak Inggi, Alhamdulillah semua pertanyaan sudah terjawab πŸ™‚ terimakasih atas waktu dan kesediaannya berbagi ya. Sebenarnya dari obrolan kita, saya tidak hanya belajar tentang menulis dan menerbitkan buku tapi juga tentang kepedulian terhadap dunia remaja. Subhanallah, salut sama perpaduan Mbak Inggi dan suami yang sama-sama passionate sama pembinaan remaja muslim karena fase remaja juga merupakan fase penting dalam tumbuh kembang anak.

Barakallah ya, semoga karya-karya mbak Inggi menjadi amal jariyah, terwujud naskah novel-nya tahun ini dan kehamilan keduanya lancar hingga persalinan. Amiin.

Daaan, terimakasih sudah membaca, hope you all get many inspiration from here. Let’s share πŸ™‚

Baca juga Cerita Ibu Muda lainnya :

Cici, Itikaf Bareng Duo Bocil, Butuh ‘Strong Why’

“I Love Abu Dhabi”, Cerita Nana Jadi Mama Auran Plus Resep Easy Baking

Cita & Cinta Audia Kursun (Indonesia-Turki)

Confession of A #30Yo Mami

Advertisements

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s