#Memesonaitu Menjaga Lisan Kita

lisan2

Biasanya saya sedikit takut untuk jujur dalam tulisan saya, lebih disebabkan karena saya takut kehilangan teman-teman, dikritik dan dibully. Tapi semoga tulisan saya kali ini bisa diambil positifnya, dan memberi inspirasi bagi yang membaca.

Arti #Memesonaitu Bagi Saya

Bismillahirrahmaanirrahiim, maaf ya kalau jadi curhat sedikit. Saya sedang belajar menjadi Ibu yang baik, termasuk berhati-hati bicara dengan anak saya, karena seperti kata pepatah, “Children are great imitator, so give them something good to imitate”. Bakal terasa sakitnya ketika anak-anak kita sudah dewasa nanti dan mereka meniru atau menyerap kebiasaan buruk kita sebagai orang tua. Di sisi lain, saya juga seorang manusia biasa yang sedang berjuang melawan sisa-sisa apa yang para ibu sebut ghost of parenting sekaligus struggling to be a better me. Faktanya? Makin besar anak saya, stok kesabaran saya mulai menipis, makin berharap ia cepat paham, mulai menuntut anak saya untuk cekatan saat membereskan mainannya, meminta ia untuk lebih memahami saya, padahal jelas-jelas saya sebagai orang dewasa yang seharusnya lebih memahami dunia anak-anak, karena saya sudah melewati masa kanak-kanak, ya kan?

#memesonaitu menjaga lisan saya dari berkata-kata yang kasar

Dari semua sikap yang paling saya sesali adalah kalau saya marah pada anak saya, tapi semarah-marahnya saya pada putri kecil saya yang berusia 3 tahun, sebisa mungkin saya tidak mengeluarkan sumpah serapah dan kata-kata yang kasar. Kalau iman saya lagi bagus biasanya saya tarik nafas dan mencoba untuk duduk, istigfar, menghindari anak saya barang sebentar ke kamar, me-rem mulut saya begitu ingat hadist riwayat Thabrani ini, “Laa taghdob walakal jannah” yang artinya “Jangan marah, maka bagimu surga”.

Baca juga : Laa Taghdob – Menahan Amarah

By the way, kenapa ya limit kesabaran saya menurun akhir-akhir ini? Sebetulnya hal ini wajar ya, saya juga suka bertanya pada teman-teman saya apakah mereka pernah marah pada anaknya? Dan mereka jawab, “Ya pernahlah”, wajar karena seiring bertambahnya usia anak saya ia makin lincah, nggak bisa diem kalau di rumah, makin kritis yang kalau dikasih tahu balik nanya atau kalau tidak sesuai dengan logikanya ya anak saya nggak bisa langsung sepakat dengan apa yang saya katakan. Bagus, cerdas, mungkin saya saja sebagai Ibu-nya yang harus lebih mengasah skill dalam managemen emosi dan menambah ilmu pengetahuan saya tentang segala sesuatu. Gemes gitu kaaan anak yang masih kecil energinya besar banget dan dipakai untuk mengeksplor berbagai hal setiap harinya.

“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat,
akan tetapi orang yang kuat adalah
yang mampu menahan jiwa-nya ketika marah”
[HR. Bukhari Muslim]

I’m not angry all the time, kalau all the time mah kayak Hulk atuh ya, saya hanya marah ketika saya jenuh, terlalu lelah dan saat pikiran saya terganggu oleh beberapa hal, makannya salah satu cara agar saya nggak tersulut emosi adalah menghilangkan pemicunya. Misal nih, kalau pikiran saya mulai diracuni oleh komentar-komentar miring orang lain di sosial media tentang saya, berarti sudah waktunya bagi saya untuk detox socmed. Kalau tersulutnya emosi saya karena kerjaan rumah belum kelar dan lantai yang sudah di pel langsung dipenuhi oleh mainan anak saya kemudian memori masa kecil saya tiba-tiba datang melanda, ya saya harus bisa… bisa apa ya? Bisa menangis dulu sejenak mungkin, hehe, supaya lega dan nggak bikin anak saya menjadi sasaran pelampiasan kegalauan saya.

Bukan apa-apa, ketika kecil, saya biasa di-bully oleh anak-anak nakal, mereka tidak hanya memukul dan menendang saya tapi juga mengata-ngatai saya dengan kata yang ada unsur binatang-nya, maaf saya tidak bisa menyebutkannya disini. Begitu pun orang dewasa, ada saja yang ngomong menggunakan bahasa hewan ketika emosi, yea, I thought people would only use sarcasm when they are out of control and stressed out. Alhamdulillah, saya nggak tergerak sama sekali untuk mengulangi perkataan kasar anak-anak nakal dan orang dewasa tipe ini, tapi juga saya nggak sanggup kalau sekarang setelah menjadi Ibu, bertemu dengan orang tipe ini sering-sering.

Alangkah kagetnya saya, bukan karena saya naif tapi karena saya memang lebih sering beraktivitas di rumah dan ketika naik angkot, ada dua orang remaja berseragam SMA yang dengan santainya ngobrol di angkot sambil di akhir tiap kalimat yang mereka ucapkan ada imbuhan kata-kata dengan unsur binatangnya.

‘Apa mereka nggak lihat ya disini ada anak kecil? Gimana kalau anak saya dengar terus ngikutin?’,

‘Mereka belajar apa sih di sekolah sampai bicaranya seperti itu?’,

‘Gimana perasaan orang tua dan gurunya kalau tahu mereka ngobrol se-enteng itu menggunakan bahasa binatang?’,

Pertanyaan-pertanyaan yang agak sinis ini sontak muncul dari benak saya, reflek gitu. Pantas saja sahabat saya pernah bilang kalau dia lebih memilih naik kendaraan pribadi ketimbang transportasi umum karena ada kemungkinan kita ketemu orang dengan gaya bicara yang berbeda dan memungkinkan diserap oleh anak kita, perokok yang asapnya bakal sedikit terhisap oleh anak kita, dan lain-lain. Ini membuat saya sadar bahwa saya sebagai seorang Ibu harus bisa menjadi filter pertama bagi anak saya. At least saya tidak bicara seperti itu, tidak ngomong kasar dan tidak bicara menggunakan bahasa yang ada unsur binatangnya.

Baca juga : Belajar Jadi Ibu & Have Fun Dengan Anak

Lebih mengejutkan lagi bagi saya karena ternyata beberapa anak sekolah hingga kuliah, beberapa ya, nggak semua, bahasanya nggak terkontrol dengan baik. Rasanya pengen bilang, “Kalian masih ngomong pakai bahasa binatang? Hellooow, ini tahun 2017 lhooo!”, come on guys, I thought it was so yesterday. Saya pikir kata-kata kasar macam ini tinggal sejarah yang tertimbun bersama kenangan pahit masa kecil saya. Saya pikir kata-kata yang ada unsur binatangnya itu sudah nggak nge-tren lagi sekarang.

Orang yang mengenyam pendidikan itu diharapkan bisa memiliki tutur kata yang lebih sopan daripada orang yang tidak seberuntung kita, yaitu bersekolah. Orang tua mengirim anaknya sekolah tinggi-tinggi itu karena mereka berharap anaknya jadi lebih baik dari mereka, memberi kontribusi yang lebih baik termasuk berbahasa dengan santun. Orang yang berilmu diharapkan mampu belajar membedakan mana yang baik dan buruk, bukan malah terbawa arus. Sudah tahu jelek kok diikuti? Begitu analoginya.

Tapi saya pun nggak bisa sekonyong-konyong menyalahkan generasi-Y ini, sekolah nggak bisa jadi satu-satunya parameter baik/buruknya tingkah laku dan lisan seseorang, bagaimana pun lingkungan tempat kita beraktivitas sangat berpengaruh terhadap sikap, kebiasaan dan gaya bahasa kita. Bisa jadi mereka seperti itu karena lingkungan tempat mereka dibesarkan mendukung mereka untuk bisa bebas bicara menggunakan bahasa yang ada unsur binatangnya. Ya dengan siapa kita bergaul bakal sedikit banyak mempengaruhi kita. Atau mungkin awalnya mereka korban seperti saya, buruknya mereka menyerap bulat-bulat, menganggap orang yang bicara kasar punya power to control others, kayak keren gitu pengen dianggap gaul. Inilah kenapa kita harus hati-hati dalam bicara, kita nggak pernah tahu apa efeknya bagi orang lain yang mendengar, salah-salah mereka malah ngikutin kan? Bukannya jadi amal jariyah, perkataan kasar yang diucapkan malah menambah timbangan amal buruk di akhirat nanti.

“Ah nggak asik lo, anak muda jaman sekarang kan ngomongnya gini”,

“Serius amat sih hidup lo”,

Pernah banget dikomentarin seperti ini sama beberapa orang, awalnya saya kepikiran, siapa sih yang nggak ingin diterima dalam lingkaran pertemanan dan dianggap asik buat diajak ngobrol maupun hang out? BUT WAIT, nggak asiknya karena apa nih? Karena saya kurang suka nge-gosip? Karena saya kurang update sama berita artis tanah air masa kini? Karena saya nggak lihai untuk ghibah? Karena saya bener-bener nggak bisa mengeluarkan kata-kata yang ada unsur binatangnya?

Mau dianggap asik sama siapa sih? Sama segelintir orang yang menganggap kelompok mereka gaul atau dianggap ASIK SAMA ALLAH SWT?

#Memesonaitu Menjaga Lisan

Senang sih ya kalau bisa dianggap asik sama Allah SWT dan juga semua orang, tapi sayangnya kita nggak bisa mempertahankan beberapa teman kita yang mungkin frekuensinya sudah agak berbeda dengan kita.

lisan3

I’m a mother now, saya ingin anak saya memiliki hidup yang lebih baik dari saya, termasuk menjaga telinganya dari kata-kata yang tidak dibutuhkan oleh otak dan hatinya, seperti kata-kata yang ada unsur binatangnya. Saya tidak bisa mengontrol apa yang orang lain akan bicarakan di hadapan anak saya, bagaimana percakapan antara teman-temannya saat ia mulai bersekolah nanti, obrolan penumpang dengan penumpang lain di kendaraan umum, di pasar, di mall, di jalan, dimana pun anak saya akan beraktivitas nantinya. Saya tidak akan selalu bisa menjaganya seperti sekarang karena ia akan terus tumbuh berkembang. Tapi seminimal-minimalnya, saya sebagai Ibunya akan menjadi filter pertama baginya dalam menyaring kata-kata yang baik dan buruk. Dan sebaik-baik perkataan adalah yang mengajak kita kepada kebaikan.

I’m a mother now. Segala sesuatu yang saya lakukan bakal memberi pengaruh pada anak saya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Saya seorang Ibu yang katanya, semua perkataan saya akan jadi do’a untuk anak saya.

#memesonaitu menjaga lisan saya

Ya, bagi saya, #memesonaitu adalah menjaga lisan saya dari perkataan yang kasar, dari pembicaraan yang kurang berguna, dan dari pendengaran anak saya. Sekali lagi, saya bukan sok suci, justru saya ingin menjadi lebih baik dihadapan Allah SWT, ini dalam rangka belajar dan buat saya #memesonaitu belajar untuk menjaga lisan saya.

Nah, bagaimana nih agar makin memesona dengan lisan yang terjaga?

Seorang Ibu akan lebih memancarkan pesonanya saat tutur katanya lemah lembut, pilihan kata-nya baik, penyampaiannya menyenangkan dan menenangkan. Hal-hal seperti inilah yang dirindukan dari sosok seorang Ibu, sebagai Ibu pembelajar kita tidak boleh menyerah, terus berlatih agar lisan kita makin terjaga. Ada beberapa cara nih agar lisan kita makin memesona, yaitu :

  1. Mendekatkan diri pada Al-Qur’an dan hadist
  2. Bergaul dengan orang-orang yang lembut hatinya dan perkataanya, sehingga kita termotivasi untuk menjaga lisan juga
  3. Menghadiri majelis ilmu, membaca artikel-artikel seputar urgensi menjaga lisan baik dari buku maupun situs-situs di internet
  4. Berlatih untuk berbicara dengan lembut dan sopan di hadapan semua orang, terutama anak kita, pikirkan dulu baik-baik sebelum mengungkapkan segala sesuatu
  5. Senantiasa berdo’a kepada Allah SWT agar hati-pikiran-lisan kita dijaga dari perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat

    “If everyone is pleased with you and Allah is not, what have you gained? And if Allah is pleased with you, but no one else is, what have you lost?” 

    Okey, demikian sharing mengenai #memesonaitu versi saya. Yuk pancarkan pesona kita sebagai wanita dengan menjaga lisan 😉

    Baca juga : Beautiful Words

    Tulisan ini saya ikut sertakan pada Lomba Blog Pancarkan Pesonamu

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Advertisements

    Canon EOS 750D Untuk Pak Irfan

    Langkawi 2

    Foto saat traveling ke Pulau Langkawi

    “Fan, apa kata sandi Hotspot lu?”, tanya teman suami dalam perjalanan menuju penginapan di Langkawi.

    “11mei2013”, jawab suami.

    “Itu tanggal pernikahan gue”, jelas beliau.

    Saya yang duduk di belakang suami dan temannya langsung ngerasa ‘cesss’, wah segitunya suami mengingat tanggal pernikahan kami, bikin saya senyum-senyum sendiri.

    “Your relationship to your husband may be the only marriage book your children ever read. What lessons will they take with them when they leave home?” – Jennifer Flanders.

    Saya pernah dengar kalau anak-anak lebih suka melihat interaksi yang sehat antara kedua orang tuanya, karena, orang tua yang bahagia akan membesarkan anak dengan bahagia dan hubungan baik antara kedua orang tua bisa memberikan gambaran tentang bagaimana anak kita akan berumahtangga nantinya. Mau tidak mau kenangan-kenangan masa kecil bersama orang tua ini akan tertanam di alam bawah sadar mereka, jika dalam pernikahan kita memberikan banyak nilai positif, besar kemungkinannya anak kita pun memiliki visi yang positif saat membangun keluarga nantinya. Itulah mengapa, saya dan suami senantiasa meluangkan waktu untuk merekatkan ikatan hati kami, supaya rasa sayang diantara kami terus tumbuh, efeknya akan terasa sama orang sekitar, terutama oleh anak saya, Aisya.

    Baca juga : #KaryaCeria Suami-Istri Bonding Tips

    Kalau ditanya siapa yang lebih saya sayang? Wah agak sulit ya jawabannya, karena buat saya Aisya dan suami saya itu sepaket. Saya sayaaang banget sama Aisya, juga sayang banget sama Ayah Aisya. Kalau analoginya bagi suami saya, Aisya lahir dari rahim saya, sehingga hal ini membuat suami sangat menyayangi saya, begitu pula bagi saya, saya sayang banget sama suami saya karena tanpa kehadiran beliau, Aisya tidak akan ada, kan terbentuknya janin berawal dari pertemuan ovum dengan sperma. Ya, saya sangat menyayangi suami saya, sampai-sampai saya agak posesif sama beliau, kalau nggak diperhatikan saya pundung, kalau suami lebih akrab sama gadget suka cemburu, cemburu itu tanda cinta kan? Hehe.

    Saya duduk disamping pria yang memiliki nama lengkap Irfan Ramdani – dan biasa disapa ka Irfan ini – pada seminar bisnis yang diselenggarakan oleh Ippho Santosa bulan Desember 5 tahun yang lalu, alih-alih bicara tentang strategi agar bisnis kita lancar, motivator sekaligus pengusaha ini malah menganjurkan agar pesertanya menikah dulu, “Menikahlah maka kamu akan kaya”, begitu ucapnya, mengacu pada ayat berikut ini.

    “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin), dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Allah Maha Mengetahui” [QS. An-nur : 32].

    Mungkin pria yang duduk di sebelah saya langsung termotivasi dengan kata-kata Ipphoright sehingga beliau langsung mengajak, “Nikah yuk!”.

    Ketika saya tanya apa alasan pria yang baru saja lulus kuliah ini mengajak saya menikah dengannya, jawabannya benar-benar bikin saya tertawa. Mau tau apa alasannya?

    1. Karena saya cantik, Alhamdulillah kalau alasan yang ini bikin saya kesengsem bahagia
    2. Karena saya kuliah jurusan Matematika, nah alasan macam apa ini?

    Pria mana yang menjadikan ‘kuliah jurusan Matematika’ menjadi salah satu kriteria dari calon istri idamannya? pria itu yaa suami saya sendiri, ternyata beliau ingin sekali berkuliah di jurusan Matematika, sudah dua kali ikut SNMPTN belum lolos juga, akhirnya ia berdo’a pada Allah SWT agar istrinya nanti dari jurusan Matematika, hahaha lucu yaa. Di sisi lain, saya sendiri berharap memiliki suami yang usianya lebih muda dari saya, alasannya sederhana saja, supaya nanti kalau saya sudah tua, suami saya yang usianya lebih muda ini bakal masih kuat mengurus saya, hahaha padahal nggak gitu juga yaa. Bagaimana pun prosesnya, Alhamdulillah Allah SWT mengabulkan do’a kami. Suami saya akhirnya menikah dengan saya yang lulusan Matematika dan suami saya pun berusia dua tahun lebih muda dari saya.

    Kalau boleh jujur, saya menyayangi Pak Irfan – suami saya ini, karena beliau memberi saya banyak kebahagiaan setelah menikah, seperti membelikan saya kue ulang tahun saat saya Milad – seneng aja gitu karena sebelum menikah suka beli sendiri, senang juga karena bisa memeluk dan mengekspresikan cinta dengan pasangan halal saya (kalau sama pasangan yang nggak halal kan dosa ya, kalau sama suami sendiri jadi berpahala), membuat saya belajar banyak hal baru dalam hidup seperti memasak dan managemen rumah tangga, sifat humoris beliau bikin saya sering tertawa, terus Pak Irfan suka ikut-ikut mandiin – memakaikan baju – menyisir bahkan mengucir rambut Aisya – ini bikin saya makin jatuh cinta sama beliau, suami juga sering mengajak saya wisata kuliner – nggak heran sekarang saya gemuk, termasuk memberi kejutan berupa tiket pesawat untuk traveling ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Ya! Suami saya sukaaaa sekali traveling, bisa dibilang saya juga mulai ketularan sekarang hahaha.

    Baca juga : Trip Seru Ke Pulau Langkawi

    Waktu kami berkunjung ke Malaysia awal Januari 2017 ini, saya bertemu banyak sekali anak-anak muda yang traveling hanya dengan menggendong ransel besar di punggung mereka, saya juga sempat mengobrol dengan seorang Ibu asal Australia yang traveling berdua saja dengan suaminya karena anak-anak baru pulang traveling dari Tiongkok. Itu bikin saya merenung, selama ini saya kemana saja ya? Coba kalau semasa muda saya mengumpulkan uang untuk jalan-jalan, eh tapi saya sadar kalau saya memang bukan tipe orang yang suka jalan-jalan, kadang rasa sedih datang setelah menghabiskan sejumlah uang, “Kenapa nggak saya tabung atau investasikan saja ya uangnya?”, begitu suara penyesalan dari hati saya.

    Dan perasaan-perasaan seperti ini akhirnya bikin saya nggak pernah kemana-mana, paling ke Kepulauan Seribu saat kuliah dan ke Yogyakarta saat dalam rangka studi banding dari sekolah, sama ke Bali dengan teman sebangku di SMA, itu pun karena kami memenangkan kuis. Ah, rasanya ingin memenangkan kuis atau lomba lagi, tapi bukan untuk saya, melainkan untuk suami saya, ingin menghadiahkan ini nih Canon EOS 750D yang jadi salah satu produk terlaris di Kamera, Video Kamera dan Drone Elevenia

    canon

    Nyambung lagi ke hubungan traveling dengan keinginan saya untuk menginvestasikan uang, dalam kajian rumah-tangga yang pernah saya ikuti, Teh Patra, senior saya di kampus yang anaknya sudah 5 bilang kalau, “Traveling itu investasi”.

    Bu Angeline yang mengobrol dengan saya di Keretapi Tanah Melayu dalam perjalan menuju Batu Caves juga mengatakan kalau traveling itu bagus, dengan traveling kita akan menjadi kaya akan pengalaman juga bisa mempelajari kultur dan budaya dari tempat-tempat yang kita kunjungi lalu menceritakannya ke saudara, teman bahkan anak cucu kita nanti, “Wah kakek nenek keren ya sudah keliling dunia, kami senang mendengarkan cerita kakek dan nenek, kalau sudah besar kami mau traveling juga seperti kakek nenek”, pasti senang banget ya kalau bisa menginspirasi cucu kita seperti ini.

    Ini menyadarkan saya kalau uang yang kita tabung dan dipakai untuk traveling tidak menjadi sia-sia karena kita menggantikannya dengan pengalaman berharga, berkenalan dengan warga lokal dan orang asing – kadang silaturahim berawal dari sini, mencoba berbagai makanan yang unik (jangan lupa pastikan ke-halal-annya ya), dan mengunjungi tempat-tempat yang seru di daerah/Negara yang kita kunjungi.

    Baca juga : Do Your Kid Enjoy Traveling? – Percakapan Di Keretapi Tanah Melayu

    Mengabadikan momen-momen saat traveling ini juga jadi penting, baik untuk mengulasnya di blog – bikin pembaca merasakan serunya perjalanan kita, atau memajangnya di atas rak buku sebagai kenang-kenangan, bisa juga dengan mengumpulkannya lalu bikin cerita tentang tempat-tempat traveling yang sudah kita kunjungi, dan diterbitkan menjadi sebuah buku, menambah manfaat bagi diri orang lain dan tentunya menjadi amal jariyah bagi diri kita sendiri. Selama ini kami selalu memotret menggunakan handphone, meski kualitas HP suami saya sangat bagus tapi mengambil foto menggunakan kamera akan terasa lebih puas, lebih tajam, pencahayaanya bisa diatur, ada pilihan untuk foto makro, relatif ngga goyang jadi fotonya nggak blur, secara keseluruhan lebih bagus, untuk bisa selfie pun bisa disimpan di tempat yang agak jauh dari kita, pakai timer dan nggak perlu pakai tongsis yang kadang bikin tangan kita kejepret sedikit.

    Traveling nggak lengkap tanpa foto, dan untuk menghasilkan kualitas foto yang bagus diperlukan kamera yang keren juga. Oleh karena itu, dalam rangka menyambut syukuran pernikahan kami yang keempat bulan depan, tepatnya 11 Mei 2017, saya ingin memberikan kamera tipe Canon EOS 750D dari katalog http://www.elevenia.co.id/ctg-kamera untuk menemani suami saya traveling kemana-mana. Traveling bersama saya tentunya, tuh kaaan saking cintanya saya pengen ikut kemana pun suami saya pergi hehehe. Kamera tipe ini cocoook sekali untuk dibawa traveling oleh suami saya, selain desainnya yang klasik dan ukurannya tidak terlalu besar sehingga memudahkan untuk dibawa kemana saja, kabarnya Canon EOS 750D ini menampilkan sensor CMOS 24,2 megapiksel, dan didesain secara khusus untuk fotografer biasa yang memerlukan kualitas gambar yang unggul juga menawarkan kebebasan kreatif melalui fitur barunya – 19 titik AF semua tipe silang dan filter kreatif serta Hybrid CMOS AF III baru (sumber http://www.canon.co.id). Waaah, dengan kamera ini hasil jepretan suami saya bakal jadi lebih spektakuler dong!

    Bismillah, doakan yaa semoga kamera Canon EOS 750D ini bisa hadir di meja kerja suami dan menjadi kado terindah bagi suami tersayang di hari jadi pernikahan kami bulan Mei nanti. Amin…

     

     

    *Tulisan ini saya sertakan dalam Lomba Blog Cerita Hepi Elevenia, yuk ikutan juga 🙂