Banana Bread ala Mami Jasmine

Assalamu’alaykum. Bismillah sebelum mulai menulis, mau meluruskan niat dulu. Saya mau berbagi cerita bahagia, semoga bermanfaat bagi pembaca 🙂
What is this about? Well, this is about BANANA BREAD. What so special about Banana Bread? Beside it is a kind of healthy bread because we use banana in it, I’m the one who make it! Yeaaay.

Hahaha, ketahuan deh amatirnya, bisa bikin bolu pisang aja senang banget. That’s true. Saya senang sekali, karena saya sudah berkali-kali mencoba dan seringnya gagal, bahkan pernah bolu pisang yang sudah saya imajinasikan terpanggang dengan baik di oven, keluar-keluar malah jadi kaya Ciu. Tau kan Ciu? Itu lho, aci jeung cau jadi Ciu, saya tau karena pernah memakan Ciu di Arjasari, masih belum kebayang? Okeh, ibu-ibu bisa tanya ke adik ipar saya, Bibi Sarah atau nge-google juga boleh heheCiu rasanya enak, kerasa pisan pisangnya, hanya tekstur-nya nggak seperti bolu.

Teruslah mencoba, karena kita tidak tahu, seberapa dekat kita dengan keberhasilan

Agaknya petuah ini applicable bukan hanya untuk orang yang membangun hidupnya lagi dari nol, para pejuang beasiswa, pelamar kerja, tapi juga untuk ibu-ibu macam saya yang masiiih mengasah skill di dapur. Alhamdulillah saya memiliki satu resep andalan di dunia baking, yaitu brownies. Selain mudah, cepat dan anti gagal, brownies ini kue favorit Aisya, saya dan adik saya. Namun saya ingin punya satu resep andalan lagi yang bisa dibawa saat mudik ke Bandung. Supaya Bapak Ibu saya yakin gitu, kalau anak perempuannya yang sulung ini sudah pandai masak segala macam hahaa. Ibu suka klappertaart buatan saya, adik saya suka brownies, Bapak saya? Beliau suka pisang. Pisang goreng buatan saya enak, kata Bapak. Padahal cuma pisang goreng lhooo, ah Bapak, bisa aja menyenangkan hati anaknya.

Baca juga : Tiramisu Birthday Cheesecake #HOMEMADE

Ada keinginan untuk bisa membawa oleh-oleh selain brownies buatan saya dari Bintaro ke Bandung, habisnya sudah beberapa kali saya bawanya brownies. Ya, yang saya bisa cuma itu. Akhirnya saya pun mencoba-coba bikin bolu pisang. Tapi karena kegagalan demi kegagalan yang sudah pernah saya alami, saya quit dari menjajal bikin bolu pisang. Sayang juga kan bahan-bahannya yang terbuang sia-sia.. Biasanya sih tetap dimakan ya tapi suka nggak habis.

Aaah good news banana bread yang ini ludes dalam beberapa menit sama Aisya, saya, suami dan adik ipar saya. Berarti enak dooong…

Nah, beberapa hari yang lalu, sambil nemenin Aisya main kinetic sand, ada Anna Olson di Asian Food Channel yang lagi menunjukkan cara membuat banana bread. Menarik, she make it veeery easy. Tinggal lumatkan pisang dengan garpu, tambahkan mentega cari dan telur, lalu diaduk pakai spatula. Setelah itu baru ditambahkan terigu, baking powder, gula merah dan chocochips, tinggal di-bake dan jadi deh! Waaah, saya tergiur untuk mencoba lagi.
Dengan semangat tinggi, saya langsung mengajak adik ipar dan Aisya ke Harmoni, beli pisang ambon, terigu, gula dan chocochips, mentega dan telurnya beli di warung tetangga aja. Saya pilih pisang ambon yang sudah matang, harganya Rp. 17.000-an, saya cek masih bagus, sebenarnya ada yang harganya lebih murah tapi ada beberapa bagian yang sudah busuk. Pisangnya besar-besar, hanya setengah sisir karena kami hanya keluarga kecil jadi sedikit lebih pas buat kami. Pisang ambon ini rencananya akan saya gunakan untuk bereskperimen di dapur, ngga semua, kalau ada sisa ya dimakan langsung, kebetulan Aisya lagi senang makan pisang. Dan suami saya lebih senang pisang kapok untuk digoreng mah, makannya pisang ambon-nya beli sedikit aja. 

Mengenal Jenis-jenis Pisang

Nah ini Pisang Kepok yang dibikin Piscok

Mumpung lagi ngobrolin tentang pisang, kita bahas yuk beberapa jenis pisang (yang saya tahu ya) dan paling enak dibikin apa dengan pisang tersebut.

1. Pisang ambon/pisang raja/pisang sunpride cocok sekali dijadikan bahan untuk membuat bolu pisang. Donal Sekan mengatakan kalau pisang yang ada titik-titik hitamnya malah lebih bagus buat dimasukkan ke adonan ketimbang yang mulus. Ketiga pisang ini juga bisa dimakan langsung, tapi saya paling sering makan pisang ambon dan pisang raja. Di supermarket ada ketiga pisang ini, tapi saya pilih pisang ambon karena dari beberapa food blogger yang saya baca, pisang ambon ini best buat bolu pisang. CMIIW.

2. Pisang Kepok & pisang Nangka

Nah pisang Kapok dan pisang Nangka ini enak banget kalau dijadikan pisang goreng, saya pernah membeli pisang Kapok seharga Rp. 35.000 banyak banget dan habis digorengin terus. My hubby is a banana fritters lover. Pisang goreng ini biasanya saya goreng untuk cemilan di pagi hari sebelum suami berangkat ke kantor/sore hari saat suami baru pulang. Kalau pisang nangka lebih sering saya beli ketika di Bandung dan menghidangkan pisgor nangka ini untuk Bapak saya. Sebagai variasi, kalaupun nggak saya goreng pakai tepung, pisang kapok/pisang nangka ini bisa dipanggang pakai mentega lalu dibikin piscok, sajikan di atas piring, taburkan parutan keju dan meses/sprinkles lalu tuang susu kental manis. Semua sukaaa.

3. Pisang Tanduk

Pisang jenis ini sering nongkrong di dapur saya pas Ramadan. Biasanya saya kolak pakai santan, jadi kolak pisang untuk berbuka. Selain dibikin kolak, pisang tanduk bisa juga digoreng, yang mendekati busuk malah lebih enak pas digoreng (kata Bapak dan suami saya).

Oke, itulah 6 jenis pisang yang suka saya konsumsi. Ada lagi yang mau menambahkan? Leave your comment below yaa.

Baca juga : Resep Praktis Baked Potato Wedges

Resep Banana Bread ala Mami Jasmine

Banana Bread fresh from the oven

Setelah pisang ambon dan bahan-bahan lain lengkap, esoknya saya mulai eksekusi. Sabtu pagi saya mengajak Aisya dan adik ipar untuk membantu saya bikin bolu pisang. Aisya selalu senang mengambil andil ketika kami membuat kue/kukis. 

“Aisya yang kupas kulit pisangnya, Mam”, pinta Aisya.

Bibi Sarah membantu Aisya menghaluskan pisang dengan garpu, sementara saya berusaha mengingat kembali tayangan Anna Olson di kepala saya sambil menuangkan terigu dan baking powder ke dalam mangkok. Saya ambil mangkok berisi pisang dan gantian meminta Aisya mengaduk campuran terigu dan baking powder dengan whisk. Saya masukkan mentega leleh ke dalam pisang yang sudah lumat, dan menambahkan 1 butir telur. Saya minya Aisya menambahkan gula dan garam, lalu mencampurkan adonan kering ke adonan basah. Terakhir, saya aduk semua menggunakan spatula dan dimasukkan ke dalam oven.

Baca juga : Chewy Cookies Karya Aisya – Baked With Kid

Saya tidak tahu pasti berapa lama proses pemanggangannya, setelah 15 menit saya lihat ke dalam oven kok ngga ada perkembangan ya? Ah mungkin harus lebih lama dipanggangya, saya tinggal lagi. Ketika saya cek kembali, dan saya coba tusuk, sudah nggak ada sisa adonan di tusukannya sih.. Tapi nampak belum matang. Saya perhatikan kompornya, LHO API-NYA PADAM. Ternyata gas-nya habis, maaaaak alamat gagal (lagi) atuh ini mah. 

‘Yah, udah ini mah, moal janten bolu-na’, batin saya.

Adik ipar saya lalu keluar dengan motornya, membeli gas. Dan beliau bilang, “Masukkan lagi aja teh, siapa tahu matang”.

Yaa, tidak ada salahnya mencoba, saya masukkan lagi bolu-boluan pisangnya, hoping it will work out like I expected. Karena saya tidak tahu kapan tepatnya api-nya mati, mungkin after 5 mins or 10 mins? Dan ragu banget, akhirnya setelah 15 menitan dipanggang ulang saya angkat saja. Matang, enak, habis juga sama semua, Aisya juga suka. But, not like a banana bread nor Ciu, muffin juga bukan, apa yaa namanya? . . 

Sore harinya, saya buka lagi beberapa video di youtube, mencari-cari, what did I miss? Saya melihat satu teknik dan teknik lainnya, ada yang pakai mixer, ada yang telurnya 3, ada yang pakai glaze, ada yang dicampur yoghurt. But you know, I just want to know the basic, a classic banana bread. Dan video Ultimate Banana Bread! by Donal Skehan nampaknya sangat relevan bagi saya yang menginginkan resep dan teknik yang sederhana untuk membuat dream of making a banana bread come true. 

Hari ini, tepatnya Ahad pukul 11.00, setelah sholat Dhuha dan berdo’a pada Allah, “Please please Ya Allah, gimme your guidance, please lemme succeed this time, please lemme at least have 1 more baking recipe that I can serve to my family”, lalu saya ke dapur, meletakan Otang Kuning kesayangan di atas kompor dan mulai mempraktekan apa yang Donal Sekhan ajarkan, kali ini tanpa dibantu Aisya maupun Bibi. I need to be alone. Bismillah..

Berbeda dengan resep Anna Olson yang menggunakan mentega leleh, Donal Skehan -dalam video-nya menggunakan mentega suhu ruang yang tidak dilelehkan. Dan entah mungkin saya salah lihat pada tayangan Bake With Anna Olson, ternyata telur yang digunakan itu 2 butir. Selebihnya saya gabungkan bahan-bahan yang ada di kedua tayangan tersebur dan setelah 55 menit memanggang di Otang, TARAAAA Banana Bread-nya jadi!! Alhamdulillah :’)

Allah has perfect timing, never early, never late. It takes a little patience and it takes a lot of faith. But its worth the wait

Yap, Allah SWT has a perfect timing, even in baking. Alhamdulillah this time I finally made it! Saya happy karena kali ini berhasil, therefore saya mau bagi-bagi resep bolu pisang ala saya yaa. Ready?

Beberapa bahan yang saya gunakan, mentega Blue Band & Gulaku ada di dapur

Alat dan Bahan

1. Pisang Ambon ukuran besar 2 buah

2. Mentega suhu ruang 2 Sdm

3. Gula pasir 2,5 sdm

4. Gula merah 1 sdm

5. Garam sejumput

6. Tepung terigu serbaguna 5 sdm 

7. Baking powder 1 sdt

8. Telur 2 butir suhu ruang

9. Chocochips

10. Mangkok 2 buah

11. Spatula

Cara Memasak

Saya membagi bahan basah dan bahan kering ke dalam 2 mangkok, yaitu mangkok-A dan mangkok-B. Mangkok-A berisi bahan basah sementara mangkok-B berisi bahan kering. Berikut ini langkah-langkahnya :

1. Masukkan 2 sdm penuh mentega suhu ruang ke dalam mangkok-A, lalu tambahkan 2,5 sdm gula pasir dan 1 sdm gula merah, aduk rata menggunakan spatula.

2. Pecahkan 2 butir telur lalu tambahkan ke mangkok-A, aduk rata lalu sisihkan. Telurnya suhu ruang ya, kalau asalnya disimpan di kulkas, ambil dan diamkan dulu sebentar hingga suhu telurnya jado suhu ruang (bukan suhu kulkas). 

3. Di mangkok-B, tuang tepung serbaguna sebanyak 5 sdm penuh, 1 sdt baking powder, dan sejumput garam, aduk hingga tercampur semua menggunakan garpu/sendok.

4. Tuang adonan kering di mangkok-B ke mangkok-A, aduk menggunakan teknik aduk-lipat hingga semua tercampur rata, don’t over mix yaa. Nah disini saya agak tegang karena adonannya jadi lebih padat dari yang saya harapkan, tapi setelah ditambahkan pisang jadi lembut kembali adonannya.

5. Kupas 2 buah pisang ambon berukuran besar (bisa juga dengan 3 pisang ukurang kecil), haluskan menggunakan garpu di mangkok-B (setelah adonan basahnya dituangkan ke mangkok-A ya, supaya menghemat wadah). Bisa juga diatas talenan/wadah terpisah. Tidak perlu terlalu halus yaa.

6. Tuangkan pisang yang sudah dihaluskan ke dalam mangkok-A, tambahkan Chocochips secukupnya lalu aduk rata menggunakan spatula dengan teknik aduk-lipat, sampai semua tercampur saja. Sampai disini konsistensi adonannya terlihat seperti adonan pancake, saya berpikir mungkin seharusnya menambahkan terigu lagi agar adonannya lebih padat, tapi tidak saya lalukan dan lanjut ke langkah-8.

7. Tuang adonan bolu pisang ke dalam loyang yang sudah diolesi mentega dan terigu di sekelilingnya (bisa juga dialasi menggunakan baking paper, begini lebih praktis).

8. Ratakan permukaannya dengan menggoyangkannya ke kiri dan kanan.

9. Panaskan oven tangkring dengan api tinggi, 5 menit kemudian masukkan adonan ke dalam oven, kecilkan apinya sedikit ke api sedang.

10. Panggang selama 55 menit, angkat dan tiriskan.

Sebetulnya ada beberapa pendapat mengenai lamanya waktu memanggang, depends on the oven itself kayaknya, saya menggunakan otang dan membukanya sekali untuk merubah posisi and it still fine Alhamdulillah (semoga perlakuannya sama yaa untuk oven listrik). Total waktu yang saya butuhkan 55 menit agar matang sempurna, cirinya adalah bagian atas bolu berwarna cokelat tua dan ketika ditusuk tidak lengket. Namun ada juga yang berpendapat 40-50 menit cukup, awalnya saya mau menggenapkan sampai 60 menit tapi khawatir gosong. Jadi saya matikan api-nya di menit ke-55. Next time I’ll try to make it 60 mins with 2-and-a-half big banana 🙂

Untuk mengeluarkan bolu pisang dari loyang, saya harus menunggu sampai panasnya hilang dulu, this way is easier. Untuk memotongnya juga harus hati-hati, lebih baik gunakan pisau yang tajam dan pelan-pelan saat memotongnya. Secangkir teh tarik hangat menjadi pelengkap saat saya menyantap homemade banana bread ini.

Thanks for reading, semoga bermanfaat yaa 😉

*note : Akhirnya saya bikin juga untuk dibawa ke Bandung, dan kali ini pakai 2 pisang + setengah pisang, dan gulanya nambah gula merah 1 sdm lagi dari resep awal. Daaan rasa pisangnya lebih terasa, lebih manis, lebih enak. 

Advertisements

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s