Anak Adalah Hak Prerogatif Allah – Teh Riana

Spanyol

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaykum Ibu-ibu, semoga semuanya sedang berada dalam kondisi yang paling baik ya, Ibu dan suami sehat, anak-anak pun ceria πŸ™‚

Ngomong-ngomong tentang anak, akhir-akhir ini saya seriiing banget dikasih pertanyaan,

“Kapan nambah?”,

“Udah isi lagi belum?”,

“Kasih Aisya adik atuh supaya di rumah rame. Aisya, pengen punya adik ngga?”,

“Jangan ditunda, mending sekalian banyak biar sekaligus capeknya. Emang di KB?”,

Daaaaan pertanyaan ini diulang-ulang oleh orang yang berbeda, sampai-sampai kalau ada orang yang gelagatnya udah kaya mau menanyakan hal yang sama suka saya jawab duluan.

“Belum”, ucap saya.

“Emang udah tau saya mau nanya apa?”, sahut penanya.

“Mau nanya saya udah ‘isi’ lagi atau belum, kan?”, saya tanya balik.

“Hehehe iya..”, yang nanya terkekeh.

Well, pertanyaan seputar anak tuh bisa jadi sangaaat sensitif buat beberapa orang, nggak terkecuali saya. Tapi kemudian saya berpikir mungkin saat ini Allah SWT justru sedang memberi saya kesempatan sebesar-besarnya untuk jadi ibu yang baik dan sabar buat Aisya, kalau saya sudah lolos tahap ini, mungkin Allah SWT baru akan mempercayakan saya amanah anak yang baru πŸ™‚

Nah pas banget beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBmotherhood wilayah Jakarta-Tangerang Selatan lagi bahas tentang banyaknya jumlah anak. Cerita teh Riana yang bilang kalau beliau menunggu hingga 5 tahun untuk memiliki anak pertama, dan setelahnya langsung hadir anak ke-2, disusul anak ke-3, bahkan sekarang lagi hamil anak ke-4, Wow! menginspirasi saya.

Alhamdulillah alumni Planologi ITB 2003 ini bersedia meluangkan waktu untuk berbagi tentang perjuangan beliau untuk memiliki anak selama 5 tahun, dibarengi dengan kesiapan menyambut kehadiran anak pertama, kedua, ketiga dan anak keempat yang jaraknya berdekatan.

Langsung saja ya, yuk simak obrolan saya bersama teh Riana Garniati Rahayu πŸ™‚

1. Assalamu’alaykum, teh Riana.. Nuhun yaa sudah bersedia berbagi dengan saya dan Ibu muda lainnya. Masih inget saya kan teh? Kita ketemu di playdate pas di Domino’s Pizza

Alaikumussalaam.. Iyaaa Sundari masih inget dong. Yang rumahnya di sektor 5 kan? Oya, makasih udah di add di facebook yah..

2. Alhamdulillah kalau masih inget teh πŸ™‚ long weekend kemana nih teh sama keluarga?

Kebetulan long weekend ini pas suami ambil cuti dari Portugal ke Indonesia. Jadi kita sempetin ke rumah mertua di Blitar dan pulangnya mampir ke Surabaya. Sebentar sih cutinya, gak sampai 2 minggu hiks hiks.

3. Wah baru pulang dari Surabaya ya teh, rawon-nya enak teh disana. Habis jalan-jalan, gimana kabar teteh, suami, Raya, Bita, Alma dan dede di kandungan? Sehat semua kan teh? πŸ™‚

Alhamdulillah sehaatt.. Makan bebek goreng nih kita, hehe. Traveling dengan 3 bocah memang capek, apalagi sambil hamil. Makanya diniatin banget pergi sekarang, mumpung sudah trimester 2, kondisi paling prima πŸ˜€

4. Iyaa teh, trimester 2 udah lebih stabil kitanyaa. Oia teh, waktu ketemu teh Riana pas cooking class anak-anak, saya lihatnya seneng lho. Rame banget kayanya di rumah ada 3 anak yang masih kecil-kecil. Tambah kaget pas teteh bilang lagi hamil anak keempat dan kita hanya beda 2 angkatan. Teteh nikah muda ya?

Iya, saya nikah semester 6. Sehari sebelum ultah ke 20 πŸ˜ƒ Jarak anak-anak juga memang dekat, Raya dan Bita selisih 22 bulan. Dan dari Bita ke Alma pas 3 tahun. Alhamdulillah waktu Alma 10 bulan, saya hamil lagi yang ke 4 kalinya.

5. Saya suka baca blog teteh lho, tulisan teteh ciamik banget, judulnya juga eye catchy kayanya saya harus belajar banyak dari teteh nih. Di theibrahimsfamily.com juga ada tulisan suami teteh yang dipublish di media Spanyol ya teh?

Makasih udah mampir ke blog saya… Iya betul, itu suami nulis The Spanish Muslim Society And The Future Of Islam In Europe : A Good Bye Letter From An Indonesian Brother untuk media islam milik komunitas muslim di Granada dan Sevilla.

Sebelumnya, syukur kepada Allah kami sudah diberi kesempatan 8 tahun tinggal di Eropa. 5 tahun di Gothenburg, Swedia dan 3 tahun berikutnya di Sevilla, Spanyol. Selama di Swedia, kami sudah terbiasa hidup dengan banyak muslim lainnya. Ada yang dari Somalia, Bosnia, juga jazirah Arab seperti Iran, Irak, dan lain-lain. Karena Swedia memang aktif menerima pengungsi/pencari suaka sejak dulu.

Begitu pindah ke Spanyol, ternyata cukup sulit menemukan komunitas muslim. Kontras dengan sejarah mereka di masa lalu, kejayaan Islam hanya tinggal jejak sejarah. Kebanyakan muslim di Spanyol pun pendatang sebagaimana Swedia. Rata-rata dari Maroko. Suatu waktu, kami menemukan “masjid” yang lebih dekat dengan rumah. Dan setelah beberapa kali lebih dalam mengenal komunitasnya, ternyata sebagian besar dari mereka adalah pribumi!

Orang-orang yang bernama depan Ibrahim, Yasin, Isa, Khadijah, Aziza, tapi bermarga Hernandez, Nieto, Martinez, dan lain-lain. Yang lebih menakjubkan para muslim/mah berusia 20-30an ini bahkan beberapa memang sudah terlahir muslim.

Lalu mulailah kami berinteraksi lebih dekat dengan beberapa di antaranya.

Alkisah di tahun 70-80an, banyak pemuda/i Spanyol yg menganut gaya hidup hippies lalu menemukan muara dalam keIslaman melalui jalur tasawuf. Mereka ini lah cikal bakal komunitas Islam pribumi yang sempat hilang tak berbekas sejak 8 abad yang lalu. Awalnya hanya di Granada lalu meluas ke Sevilla. Mereka-mereka ini kemudian melahirkan generasi kedua yang secara keimanan sangat luar biasa. Para pecinta dzikir yang sebagian di antaranya bahkan hafidz quran.

Interaksi kami makin intens karena saat ini, mereka sedang berupaya membangun masjid yang layak di Sevilla. Sebelumnya, sudah berdiri masjid Granada yg berusia 14 tahun. Masjid ini adalah masjid pertama di Eropa yang dibangun oleh komunitas pribumi. Biasanya masjid di Eropa memang merupakan masjid komunitas dari negeri-negeri pendatang seperti Turki, Bosnia, dan lain-lain. Proses pembangunannya pun penuh liku hingga 20 tahun lamanya. Saat ini komunitas di Sevilla sedang bekerjasama melalui penggalangan donasi dari beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, termasuk Indonesia.

Baca juga : Belajar Menulis & Menerbitkan Buku Dari Mbak Inggi

6. Subhanallah, mendengar cerita teteh bikin saya merinding. Patut kita contoh ya ghirah muslim-muslim di Spanyol! By the way, jadi teh Riana ini baru pindah ke Indonesia lagi setelah tinggal di Eropa 8 tahun?

Betul, semangatnya muslim/ah disana luar biasa walau berada di tengah keterbatasan, bikin kita malu dan makin semangat, belajar banyak deh saya.

Iyaaa, kami merantau 8 tahun. Saya balik Juli kemarin, suami masih lanjut merantau ke Portugal. Per Januari ini setelah 10 tahun hidup bersama, akhirnya kita LDR-an. Memutuskan gak ikut dulu dan tinggal di Indonesia sama anak-anak karena kita concern ke pendidikan mereka, terutama agama.

7. Anak-anak lahir disana juga, teh?

Yang pertama dan kedua, Raya dan Bita lahir di Gothenburg, Swedia. Yang ketiga, Alma, lahir di Sevilla, Spanyol.

8. Nyambung tentang anak-anak, beberapa waktu lalu di grup WhatsApp ITBMH Jaktangsel kan ngebahas tentang anak ya teh, saya sempat baca isi chat teh Riana yang bilang kalau baru dikasih anak pertama oleh Allah SWT setelah menikah selama 5 tahun and after that, justru dimudahkan banget untuk punya anak sama Allah ya teh? 

Betul, alhamdulillah… Makin menguatkan saya bahwa Allah lah Yang Maha Tahu, kapan dan bagaimana segala sesuatunya harus terjadi. 5 tahun pertama pernikahan kami masih berdua saja, 5 tahun berikutnya sudah bertiga. Dan sekarang di tahun ke 11, alhamdulillah sedang menanti yang keempat.

9. Subhanallah :’) Boleh flashback sebentar nggak teh ke masa-masa menunggu kehadiran buah hati yang pertama?

Setahun setelah menikah, saya lulus kuliah. Saat itu beberapa teman, kerabat, mulai bertanya-tanya kapan saya mau punya momongan. Padahal sejak awal kami tidak pernah menunda. Lalu setelah lulus, kami mulai full hidup bersama di Bintaro. Pertanyaan-pertanyaan dari sekeliling pun makin ramai. Saya dan suami juga mulai periksa ke dokter.Tidak ada masalah dengan suami, sementara saluran tuba saya saat itu agak mampet di satu sisi. Setelah fisioterapi, semuanya pun normal.

Tahun kedua pernikahan, tentu saja pertanyaan “kapan” tidak pernah surut, malah makin banyak. Alhamdulillah Allah memberi saya kekuatan. Setiap ada yang bertanya, selalu saya amin-kan sebagai doa. Tapi tentu manusiawi, kadang ada malam-malam di mana saya menangis di pelukan suami. Tanpa saya tahu, suami ternyata makin giat mendaftar berbagai beasiswa S3 ke luar negeri. Selain memang sudah cita-citanya, ada alasan lain yang tidak saya sangka. Ia ingin menjauhkan saya dari tekanan sekitar mengenai anak yang tidak kunjung hadir.

Beasiswa ke Swedia pun dia dapatkan. Kami lalu sepakat untuk memaksimalkan apa yg ada di hadapan kami saat ini. Suami lalu memulai studi S3, dan tahun berikutnya saya menyusul S2 di kampus yang sama. We then took all the opportunities that we got. Kami jalani semua semaksimal mungkin, agar tak ada waktu kami yang sia-sia. Saya hampir selalu ikut kemana suami pergi jika ada seminar/konferensi di luar, juga sempat mengambil kuliah lapangan di Kenya, Afrika selama 2 bulan dgn ridho suami. Jika ada rezeki, kami juga menikmati liburan berdua saja. We lived our life to the fullest! 

Di sisi lain, doa-doa tidak berhenti kami panjatkan. Kami tetap berkonsultasi dengan ustadz di Indonesia, menjalankan amalan-amalan yang diyakini bisa mempermudah kami untuk memperoleh keturunan.

Sampai sepulangnya saya dari Kenya, kami lalu memutuskan untuk juga mendaftar program bayi tabung.

Rangkaian tes sudah kami lakukan. Saat itu sudah hampir 5 tahun kami menikah. Terpotong liburan musim panas, kami pun mudik ke Indonesia sambil menunggu progres berikutnya.

Dua minggu dari Indonesia, saya iseng mencoba testpack, yang selama ini teronggok dan mendekati masa kadaluarsa. Tidak ada ekspektasi, benar-benar sekedar mencoba.

Tak disangka, keluar lah garis dua yang selama ini kami tunggu-tunggu. Saat itu saya baru saja sahur di hari ke-27 Ramadhan. Saya lalu menangis sejadi-jadinya. Dalam sujud subuh, tidak henti-hentinya saya bersyukur.

Siang harinya, Rumah Sakit menelepon menanyakan jadwal program berikutnya. Saya katakan kalau saya hamil, dan dari seberang sana bisa saya dengar suara suster yang berkali-kali memberikan selamat…

Baca juga : Ngobrol Sama Iie Dari Mulai Melahirkan, Ramadan Dan Kuliah Gratis Di Swedia

10. Alhamdulillah ya teh, Allah always has a perfect timing :’) Nah, anak kedua, ketiga dan keempat ini kan jaraknya berdekatan ya teh, bagaimana teteh menyiapkan diri untuk menyambut amanah dari Allah yang datangnya beruntun ini?

Setelah hadir anak pertama, kami memutuskan untuk tidak menggunakan KB medis. Karena toh riwayat kami untuk punya keturunan juga tidak mudah dan usia pernikahan kami juga sudah masuk tahun ke-6. Jadi kami menjaga dengan semampu kami.

Selain itu, dulu saya pernah berkeinginan kalau anak pertama dan kedua berjarak dua tahun. Keinginan yang sebenarnya tidak pernah diterjemahkan dalam bentuk doa, tapi Allah dengan Maha Kuasa nya mengabulkan. Jadi lah saya melakoni nursing while pregnant sejak Raya berusia 13 bulan. Alhamdulillaah Allah juga memberi kemudahan hingga akhirnya Raya menyapih dirinya sendiri di usia 21 bulan, 3 minggu sebelum Bita lahir.

Prinsip saya, ASI adalah hak anak, maka selama koridor 2 tahun yang dianjurkan, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya juga fokus pada pikiran positif dan bukan pada penyesalan meski Raya tidak bisa tuntas menyusu.

ASI selama 2 tahun memang hak anak, tapi pemberian anak dari Allah juga adalah rezeki yang sudah tertulis di lauhul mahfudz. Allah tidak pernah salah dan saya selalu percaya bahwa DIA akan selalu menggariskan sesuatu sebagaimana kemampuan hambaNya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah menjalani segala sesuatunya dengan sebaik dan semampu saya. Untuk anak ketiga ini juga benar-benar rezeki yang kami syukuri. Bisa dibilang, kehadiran Alma adalah satu-satunya yang kami “rencanakan”.

Baca juga : Home Treatment Untuk Bayi Dengan Berat Rendah (BBLR)

Saat itu kami sudah dalam proses berangkat haji dari Spanyol. Di mana tidak ada larangan bagi ibu hamil untuk berhaji. Lalu saya pikir, jika ingin lancar dalam berhaji sebaiknya saya berangkat dalam keadaan hamil trimester dua, di mana segala sesuatunya sedang nyaman-nyamannya. Maka berhitung lah kami di saat-saat yang ditentukan beberapa bulan sebelum jadwal keberangkatan. Ternyata Allah dengan segala kebaikannya mengabulkan keinginan kami. Saya pun berhaji dalam keadaan hamil Alma 4 bulan.

Kalau mengingat itu kembali, sungguh saya malu… Betapa Allah dengan rahasiaNya mengabulkan keinginan-keinginan kami yang bahkan belum tereja dalam doa. Untuk anak ke-4, awalnya saya sempat mixedfeeling.

Tapi lalu mencoba bermuhasabah, mengingat proses dari Raya, Bita, ke Alma hingga akhirnya sampai pada titik kepasrahan bahwa anak adalah hak prerogatif Allah. Dia Yang Maha Tahu.

11. Momen apa yang membuat teteh akhirnya sampai pada perenungan bahwa kehadiran anak dalam sebuah keluarga merupakan hak prerogatif Allah?

Sebenarnya kalau momen pastinya, nggak ada. Tapi sejak test pack ke-4 yang positif, saya terus curhat dengan suami yang saat itu sudah di perantauan.
Mendengar dia yang tetap tenang dan selalu bersyukur, membuat saya juga mencoba mencari jawaban untuk ketenangan.

Saya flashback kembali ke memori saat tak henti berjuang mendapatkan Raya. Juga mengingat kembali betapa Allah kemudian memberi jawaban atas keinginan-keinginan kami atas anak setelahnya. Jadi ketika kemudian saya diberi amanah ke-4 saat Alma anak ke-3 kami masih 10 bulan, maka ini adalah surprise dari-Nya. Sebuah hadiah, yang tidak perlu saya tunggu, karena Allah yang lebih tahu kapan saat yang terbaik.

Ini lah hak-Nya, tinggal bagaimana kami berusaha menjalankan kewajiban terhadap-Nya dengan sebaik-baiknya. When it is the time, it’s gonna be the best time. Bahkan Bunda Aisyah RA aja gak punya anak, padahal menikah sejak muda. Jadi memang ada rahasia Allah yang mungkin kita gak tau saat ini ya…

Kalau dipikir-pikir lagi, semua itu kan pertanyaan yang kita tidak bisa jawab melainkan Allah. Jadi kalau nanya kaya gitu, sama aja mempertanyakan ketetapan Allah gak sih? ☺

Apalah saya ini dibanding yang Maha Tahu. Jadi berusaha menjalankan setiap skenario-Nya sebaik-baiknya aja 😊

Baca juga : Suami-Istri Bonding Tips #KaryaCeria

12. Pertanyaan terakhir, dengan anak yang hampir 4 banyaknya, teteh masih sempat Me-Time ngga? Hehe..

Hehe, alhamdulillah me time saya gak susah-susah. Asal dibiarin sendirian depan laptop, nulis-nulis juga saya udah seneng. Mungkin karena Raya juga cepat dewasa, punya adik sejak kecil, jadi dia sudah bisa lumayan membantu… Bisa bersihin Bita kalo lagi BAK. Atau ajak main Alma…

Jadi ada momen-momen di saat saya bisa leluasa pegang HP, chatting sama bapaknya di rantau. Atau nangkring depan laptop 😊

* * *

God answers prayers in 3 ways, He says yes and gives you what you want. He says no and give you something better. He says wait and give you the best.

In conclusion, Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya dan Allah SWT paling tahu kondisi kita, apa yang kita butuhkan dan sejauh mana kekuatan kita untuk mengemban amanah-Nya. Allah SWT tahu apa yang terbaik buat kita :’)

Makasi banyak buat teh Riana yang sudah mau berbagi banyak hikmah kepada saya dan pembaca lainnya. Buat teman-teman yang ingin lebih mengenal mom of Raya – Bita – Alma dan calon dede bayi yang juga seorang traveler dan blogger ini, mangga berkunjung ke theibrahimsfamily.com ya. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat. Amiiin.

Advertisements

15 Comments Add yours

  1. Fanny f nila says:

    Salut… πŸ™‚ penantian 5 thnnya terjawab manis ya.. Allah memang memberi di saat yg srlalu tepat.. Aku sendiri prnh marah dgn teman yg slalu nanya kapan mau nambah.. Tapi kebalikan dr kebanyakan org, aku memang ga pgn punya anak mba.. Dulu mikirnya 1 aja, itu jg krn kasian ama suami.. Makanya pas ditanya kpn nambah, jwbanku lgs judes :p. Tapi memang sbg manusia kita ga bisa menolak apa yg udh ditetapkan .. Ternyata malah diksh lagi anak k2.. Walo awalnya aku smpet marah, dan nangis hebat, tp lama2 kelamaan bisa trima lah.. :). Bener kok, anak itu hak Allah mau diksh ke siapa dan kapan.. Ga peduli yg menerima mau ato ga πŸ™‚

    1. Iyaa mba harus banyak2 berprasangka baik pada Allah SWT ya πŸ™‚ thanks for coming mbaa

  2. Bella says:

    Wah hebat ya.. Pasangan serasi dan bust aku kagum, sang at menginspirasi..
    Thxs sharingnya jadi tambah ilmu tentang arti kesabaran, dan iman.

    Salam kenal

    1. Salam kenal jg mba Bellaa iyaa smoga qt bs meneladani teh Riana yaa πŸ™‚ thanka for coming

  3. Yeni says:

    Iya bun selama kita hidup orang tak akan berhenti banyak bertanya pada kita. Pelajaran juga buat saya untuk berhati2 jika bertanya. Takutnya jadi menyakiti orang lain dg percayaan kita. Salam kenal ya πŸ˜ƒ

    1. Iyaa mba Yeni salam kenal juga πŸ™‚ terimakasih sudah mampir ke blog saya yaa.

  4. Sangat baik info nya, dan sangat bermanfaat. dan inspiratif.

  5. Inda chakim says:

    Iyup, anak memang hak prerogatif Allah. Salut dg ketabahan keluarga Ibrahim dlm menunggu hadinya si kecil selama 6 tahun

  6. riana says:

    Reblogged this on Keluarga Ibrahim and commented:
    Yes, we are expecting our 4th πŸ™‚

  7. Wah keren banget teh… Menginspirasi. Jangankan lima tahun ya teh.. Saya juga dikasih kosong enam bulan asa panas kuping ditanyain kapan2 wae.. Padahal memang betul itumah hak Allah, kita hanya bisa berdoa dan berusaha.
    Salam, siti member ceria

    1. ‘Alaykumussalam teh Siti πŸ™‚ iyaa saya juga banyak belajar dari teh Riana

  8. Masya Allah, saya share linknya ah teh, hehe. Nuhunn sdh diundang ^^

    1. Wah, iya mangga teh πŸ™‚ terimakasih sudah berkunjung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s